Arka selalu mengira air mata adalah tanda kelemahan—sampai dia menyadari air matanya bisa membuka pintu menuju masa lalu.
Setiap kali kesedihannya mencapai titik paling dalam, dunia di sekelilingnya luntur, dan ketika dia membuka mata lagi, dia sudah berada di hari yang berbeda—hari-hari sebelum ibunya tiada. Bagi Arka, ini adalah keajaiban yang selama ini dia doakan: kesempatan untuk mengubah segalanya, untuk membuat ibunya tetap hidup.
Tapi waktu tidak memberi tanpa mengambil.
Setiap kali Arka mengubah satu detik di masa lalu, satu orang dari masa depannya menghilang—bukan mati, tapi terhapus, seolah tak pernah ada. Sahabat yang selalu ada untuknya. Seseorang yang dia cintai. Bahkan dirinya sendiri, versi demi versi, mulai memudar dari dunia yang dia kenal.
Arka harus memilih: berhenti sekarang dan menerima kehilangan yang sudah terjadi, atau terus melangkah lebih jauh ke masa lalu—mempertaruhkan semua yang tersisa—demi satu pelukan terakhir dari ibunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hyouketsu no Namie , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pilihan Kedua
Bau detergen manis dan kayu lembap memenuhi indra Arka sebelum dia membuka mata.
Dia tahu bau ini. Dia tahu sebelum melihat apa pun—kamar lamanya, dinding kuning pudar, stiker kartun yang separuh terkelupas.
Tapi kali ini, ada yang berbeda. Cahaya yang masuk dari jendela lebih terang—siang hari, bukan pagi.
Arka bangun, melihat tangannya. Kecil lagi. Tapi kali ini, dia merasa lebih sadar, lebih siap—dia sudah pernah melalui ini.
Dia berlari ke cermin. Wajah anak kecil yang sama, mata yang sama—lelah, terlalu sadar untuk usianya.
Tapi kali ini, dia tidak tahu *kapan* dia berada.
Dia berlari ke jendela, melihat kalender di ruang tengah lewat pintu yang terbuka sedikit. Tanggal yang terlihat: 2 September.
September. Bukan Maret.
Arka mencoba mengingat—tanggal 2 September, tahun yang sesuai dengan usianya sekarang (8 tahun)... apa yang terjadi pada tanggal itu?
Dan kemudian dia mengingat. Tanggal itu—dalam dunia yang baru, dunia di mana ibunya hidup—adalah hari ketika keluarga Pak Hartono pindah ke kompleks mereka. Arka mengingatnya karena, di "dunia lama" (sebelum perubahan pertama), keluarga itu tidak pernah jadi tetangga mereka—mereka tinggal di kompleks yang berbeda.
Tapi sekarang—di dunia di mana ibunya hidup—Pak Hartono dan keluarganya pindah ke rumah di seberang jalan mereka. Dan anak perempuan Pak Hartono...
Arka tersentak.
Nadia.
Nadia adalah anak Pak Hartono.
Arka terduduk di lantai kamarnya, mencoba mencerna informasi ini. Kekuatannya membawanya ke titik ini—hari ketika keluarga Nadia pindah ke kompleks mereka—karena ini adalah titik di mana "rantai kebetulan" yang menghubungkan Arka dan Nadia dimulai.
Jika dia ingin mencegah kematian Nadia hari ini—di masa depan, beberapa belas tahun dari sekarang—mungkin dia perlu memastikan sesuatu terjadi (atau tidak terjadi) di hari ini, hari ketika fondasi hubungan mereka pertama kali terbentuk.
Tapi Arka tidak tahu detail apa pun tentang hari ini. Dia hanya tahu fakta besarnya: keluarga Hartono pindah hari ini.
Dia berjalan keluar kamar, mencari ibunya. Ibunya sedang di dapur, seperti biasa, dan menyapanya dengan senyum hangat yang sama.
"Eh, udah bangun? Tadi siang kamu tidur lama banget, sayang. Capek main, ya?"
"Ma," kata Arka, mencoba bertanya dengan nada sewajar mungkin, "ada yang baru pindah ke seberang rumah, ya?"
Ibunya mengangkat alis, terkejut. "Lho, kok kamu tau? Tadi pagi mereka baru dateng. Kamu liat dari jendela?"
Arka mengangguk pelan, menyembunyikan kelegaan—dia berada di hari yang tepat.
"Mama kenalan sama mereka?"
"Belum, sih. Tapi kayaknya sore ini mau ada acara kumpul-kumpul kecil buat nyambut mereka—Pak RT yang ngajak. Kamu mau ikut?"
Arka mengangguk cepat. "Mau, Ma. Aku ikut."
Sore itu, di halaman rumah Pak RT, beberapa keluarga berkumpul—anak-anak berlarian, orang dewasa mengobrol sambil makan kue-kue kecil. Arka berdiri agak menjauh, mengamati sekeliling, mencari sosok yang familiar.
Dan dia menemukannya.
Seorang anak perempuan, mungkin berusia tujuh atau delapan tahun, berdiri di pinggir, terlihat malu, memegang ujung baju ibunya.
Nadia.
Lebih kecil, lebih pendiam dari yang Arka kenal—tapi matanya sama. Mata yang dia kenal, mata yang dia cintai.
Arka mendekat, jantungnya berdebar dengan cara yang berbeda dari sebelumnya—bukan ketakutan akan masa depan, tapi sesuatu yang lebih dekat dengan... harapan yang rapuh.
"Hai," kata Arka, mencoba terdengar seperti anak kecil biasa. "Kamu yang baru pindah, ya?"
Nadia kecil mengangkat wajahnya, menatap Arka dengan ragu, lalu mengangguk pelan.
"Aku Arka," katanya, mengulurkan tangan—gestur yang aneh untuk anak sekecil itu, tapi dia tidak peduli. "Rumahku di seberang. Kalau kamu mau, kita bisa main bareng."
Nadia kecil menatap tangan itu, lalu wajah Arka, dan untuk pertama kalinya, tersenyum kecil—senyum malu, tapi tulus.
"Aku Nadia," katanya, menjabat tangan Arka dengan ragu.
Dan di momen itu—momen sederhana, dua anak kecil berkenalan di tengah acara kumpul-kumpul kompleks—Arka merasakan sesuatu yang aneh. Bukan rasa lega karena "berhasil mengubah sesuatu." Tapi rasa yang lebih dalam: dia baru saja menciptakan—atau memperkuat—ikatan yang akan tumbuh selama belasan tahun ke depan, ikatan yang akan menjadi salah satu hal paling berharga dalam hidupnya.
Tapi dia juga tahu—jika ikatan ini diperkuat hari ini, di titik paling awal, mungkin itu akan mengubah jalan cerita mereka berikutnya. Mungkin mereka akan jadi teman sejak kecil, bukan bertemu lagi nanti sebagai orang dewasa. Mungkin jalan hidup mereka akan terjalin lebih erat, lebih awal—cukup erat untuk mengubah keputusan-keputusan kecil yang nantinya menentukan: apakah Nadia akan berada di jalan itu, di waktu itu, di hari kecelakaan itu.
Arka tidak tahu apakah ini akan berhasil. Tapi untuk pertama kalinya, dia melakukan perjalanan waktu bukan dengan rencana detail—hanya dengan harapan, dan dengan keyakinan bahwa persahabatan yang tumbuh lebih lama, lebih dalam, mungkin akan membawa Nadia ke jalan yang berbeda di masa depan.
Hari itu berlalu dengan Arka dan Nadia kecil bermain bersama—petak umpet, kelereng, hal-hal sederhana yang seharusnya menjadi masa kecil normal.
Menjelang malam, ketika orang tua mereka memanggil untuk pulang, Nadia kecil menatap Arka dengan mata berbinar.
"Besok main lagi, ya?" tanyanya.
Arka mengangguk, tersenyum—senyum yang tulus, meski di baliknya tersimpan beban yang tidak akan pernah dipahami oleh anak sekecil ini.
"Besok," kata Arka. "Dan besoknya lagi. Dan besoknya lagi."
Nadia kecil tertawa, berlari pulang, melambai dari kejauhan.
Arka berdiri sendirian di tengah halaman yang mulai gelap, menatap rumah barunya Nadia—rumah yang lampunya mulai menyala satu per satu, menandakan keluarga baru yang mulai menetap.
Dia menutup matanya, merasakan kelelahan yang familiar mulai merambat—kelelahan emosional yang biasanya memicu perjalanan kembali.
"Kembalikan aku," bisiknya, "ke dunia di mana Nadia masih hidup. Tolong."
Dunia mulai bergetar lagi.