Mantan agen rahasia dari sektor 7 kini kembali setelah masa tugasnya delapan tahun selesai.... Faas laki-laki pendiam yang selalu di anggap keluarganya adalah aib karena sifat pendiam nya membuat keluarga membuang Faas ke Amerika dengan dalih untuk meneruskan pendidikannya di sana, namun bertahun-tahun lamanya, menurut keluarnya ,Faas tetaplah laki-laki pendiam yang tidak bisa berbuat apa-apa,selain menghabiskan uang keluarganya, padahal di balik pendiam nya Faas , ada rahasia tersembunyi yang tidak ada satu keluarga nya yang tahu .
_
_
_
Bismillahirrahmanirrahim....
Assalamualaikum...
bertemu lagi dengan author yang suka-suka...
yuk ikuti kisahnya ... , ini kelanjutan cerita tentang Faas sebagai rekan sektor 7 shadow Midi.
semoga sukaaaaa
dan selamat membaca.... yang tidak suka tinggal skip, dan untuk yang mau mengikuti cerita ini, mohon dukungannya ya, 🥰🥰🥰🥰 terimakasih 🙏🏻
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Mendengar kata "tanpa restu", Papa Doni langsung menghela napas panjang. "Eliza, pernikahan tanpa restu keluarga besar itu jalannya akan berat, Nak. Papa tidak mau kamu masuk ke dalam keluarga yang dari awal sudah menolakmu, apalagi ada Jenita di sana yang selalu membuat hidupmu susah."
Suasana mendadak buntu. Keheningan yang tegang merayap di antara mereka. Eliza mulai berkaca-kaca, takut jika niat baiknya akan terganjal oleh restu keluarganya sendiri.
Suasana mendadak buntu. Keheningan yang tegang merayap di antara mereka. Eliza mulai berkaca-kaca, takut jika niat baiknya akan terganjal oleh restu keluarganya sendiri.
Melihat adiknya yang mulai tersedu, Maudi perlahan meletakkan putranya yang tertidur di sofa. Ia menggeser duduknya, merangkul bahu Eliza dengan lembut, lalu menatap tajam ke arah Papa Doni, Saka, dan Kakek Horison secara bergantian. Aura ketegasan seorang mantan agen Sektor 7 yang disegani perlahan keluar dari diri Maudi.
"Papa, Kak Saka, Kakek... tolong dengarkan Maudi kali ini," buka Maudi, suaranya terdengar sangat tenang namun memiliki penekanan yang mutlak, seketika merebut otoritas ruangan.
Kakek Horison mendongak. "Kamu mau bicara apa, Maudi? Kamu mendukung nekatnya saudara mu?"
"Bukan cuma mendukung, Kek. Tapi Maudi yang meminta pada Papa, Kak Saka, dan Kakek untuk menerima lamaran Faas dengan tangan terbuka, meskipun tanpa restu dari ayahnya, Husen Abrari," jawab Maudi tegas, tanpa keraguan sedikit pun.
Doni terkejut. "Maudi, kamu tahu siapa keluarga Abrari? Mereka itu keras kepala dan egois. Bahkan Husen sendiri memiliki dua istri yang tinggal satu atap .... Kenapa kamu begitu yakin?"
Maudi tersenyum tipis, sebuah senyuman penuh rahasia yang sarat akan masa lalu. "Karena Maudi sudah mengenal Faas untuk waktu yang sangat, sangat lama, Pa. Jauh sebelum dia kembali ke Indonesia, jauh sebelum ada konflik ini."
mereka semua terkejut"Maksudmu....?, kenapa tidak pernah bilang.
Maudi tersenyum "Faas sudah seperti kakak Maudi sendiri, saat di Amerika, Faas membimbing Maudi saat Maudi baru menginjakkan kaki Maudi di Amerika, saat itu Maudi baru berumur empat belas tahun dan Faas sudah senior,bahkan hampir lulus, bukan hanya Faas saja, ada teman Maudi juga yang bernama Amer saat ini masih di Amerika, kami bertiga sudah seperti saudara, dan Faas baru mulai menetap di sini karena keinginan ibunya "
Tentu saja Maudi mengenal Faas. Di dunia bawah tanah Sektor 7, Faas adalah rekan seperjuangannya, singa mematikan yang integritasnya tidak perlu dipertanyakan lagi. Maudi tahu betul seberapa murninya hati Faas, dan seberapa besarnya kekuasaan yang sebenarnya disembunyikan oleh laki-laki itu di balik wajah datarnya. Menyerahkan Eliza ke tangan Faas adalah keputusan paling aman yang pernah ada di dunia ini.
"Maudi menjamin dengan seluruh hidup Maudi, laki-laki bernama Faas itu adalah pria terbaik yang bisa menjaga Eliza," lanjut Maudi, matanya menatap Doni dengan binar keyakinan yang tak tergoyahkan. "Masalah ayahnya yang tidak merestui, itu karena mereka tidak bisa melihat permata di dalam diri Faas. Mereka mengira Faas tidak punya apa-apa, padahal kenyataannya justru sebaliknya. Percayalah pada Maudi, Pa. Jangan sangkut pautkan Faas dengan dosa-dosa Jihan atau kejahatan Jenita. Faas berbeda."
Ruang tengah itu kembali hening, namun kali ini keheningan yang sarat akan pertimbangan.
Saka menatap adiknya, Maudi, dengan saksama. Sepanjang hidupnya, Saka tahu bahwa Maudi tidak pernah salah dalam menilai orang. Jika Maudi yang terkenal dingin dan waspada sampai berani menjamin dengan taruhan hidupnya, artinya laki-laki bernama Faas ini benar-benar bukan orang sembarangan.
Kakek Horison perlahan melepaskan pegangan pada tongkatnya, lalu mengembuskan napas lega. "Kalau Maudi yang menjamin... Kakek tidak punya alasan untuk menolak. Kakek restui."
Papa Doni memandang Eliza yang kini menatapnya dengan mata berkaca-kaca penuh harapan, lalu beralih pada Maudi yang mengangguk mantap. Doni tersenyum, rasa berat di dadanya perlahan meluap. "Baiklah. Jika Maudi sudah berkata begitu, Papa percaya. Katakan pada Faas, Eliza... pintu rumah Daneswara selalu terbuka untuknya. Biarkan dia datang ke sini, kita hadapi ini bersama sebagai keluarga."
"Aaaah! Terima kasih, Papa! Terima kasih, Maudi, Kak Saka, Kakek!" pekik Eliza kegirangan. Sifat manjanya langsung keluar, ia memeluk Maudi dengan sangat erat sembari menyembunyikan wajahnya yang kembali merona merah.
Maudi mengelus punggung Eliza sembari melirik ke arah jendela, senyum penuh arti tersungging di bibirnya.... Ia melihat suaminya yang sedang asyik menggendong Ridwan yang ingin turun ke rumput tapi Rasya tidak memperbolehkan dan lebih memilih untuk tetap menggendongnya, membuat wajah Ridwan masam.
Setelah pembicaraan serius selesai, mereka kembali ke aktivitas nya seperti biasa, bekerja dan hanya meninggalkan kakek Harison bersama Maudi dan kedua cicitnya di kediaman Daneswara yang megah,
____
Malam itu, kediaman keluarga Daneswara dipenuhi oleh kehangatan yang kontras dengan suasana mencekam di mansion Abrari. Sesuai janjinya, Faas datang sendirian. Ia tampil gagah dengan kemeja hitam yang sangat pas di tubuhnya, membawa kotak kecil berisi cincin yang sederhana namun tampak berkelas.
Di ruang tamu, hanya ada Papa Doni, Saka, Kakek Horison, Maudi, Rasya dan Eliza yang duduk dengan jantung berdegup kencang.
Tanpa basa-basi khas pebisnis yang sering dilakukan orang-orang kaya, Faas langsung berlutut di hadapan Kakek Horison dan Papa Doni. Ia tidak membawa rombongan atau barang seserahan yang berlebihan, hanya ketulusan yang terpancar dari tatapan matanya yang teduh.
"Saya Faas Abrari. Saya datang tidak untuk membawa kekayaan keluarga saya, tapi saya membawa diri saya sendiri, masa depan saya, dan janji untuk menjaga Eliza dengan nyawa saya," ucap Faas mantap.
Kakek Horison yang sedari tadi menatap Faas dengan lekat, tiba-tiba memecah keheningan dengan sebuah keputusan yang mengejutkan. "Saya tidak mau mengulur waktu, Faas. Anak muda sekarang banyak godaannya. Saya minta kamu segera nikahi Eliza. Semakin cepat, semakin baik."
Semua orang terbelalak, kecuali Maudi yang hanya tersenyum tipis. Faas sendiri tampak terkejut sesaat, namun kemudian ia menunduk dalam, merasa sedikit bersalah.
"Kek, Papa... sebelumnya saya mohon maaf sebesar-besarnya," suara Faas berubah sedikit lirih. "Jika pernikahan ini dilakukan sekarang, mungkin saya tidak bisa menghadirkan keluarga besar saya. Hanya Ibu dan saudara kembar saya, Yolanda, yang akan hadir. Ayah saya... beliau mungkin tidak akan memberi restu."
Eliza, yang sedari tadi menahan napas, tiba-tiba memotong dengan suara yang nyaring dan polos, "Aku gak apa-apa, Kak Faas! Mau di KUA saja pun aku mau. Yang penting aku cepat jadi istri kak Faas."
Pfyyyytttttt!
Hahahaha!
Tawa Saka pecah seketika, diikuti tawa Papa Doni yang lepas. Bahkan Kakek Horison memukul tongkatnya ke lantai dengan tawa yang puas. "Lihat itu, Faas! Adikku sudah tidak sabar rupanya," ejek Saka sembari menepuk bahu Faas dengan akrab.
Eliza yang baru sadar dengan apa yang diucapkannya langsung menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, wajahnya merah padam karena malu.
"Baiklah," Kakek Horison mengangguk mantap. "Kalau begitu, kita sepakati. Pernikahan akan diadakan di kediaman Daneswara dalam waktu satu minggu lagi. Hanya kerabat dekat kita saja. Tidak perlu pesta mewah, yang penting sah di mata hukum dan agama"
Malam itu, keputusan diambil. Faas merasa beban di pundaknya seolah terangkat. Di rumah ini, ia tidak dianggap sebagai pengangguran atau anak tak berguna. Ia dianggap sebagai laki-laki yang berhak meminang Eliza, bahkan keluarga Daneswara sendiri tidak menanyakan pekerjaan atau jabatan ia saat ini.