NovelToon NovelToon
Mendadak Hamil

Mendadak Hamil

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mafia / Nikah Kontrak
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: gigiwww

Rubi Casandra, seorang yatim piatu yang hidup di panti asuhan, mendadak bertransmigrasi ke tubuh wanita lain yang memiliki nama sama dengannya. Ia terkejut saat mengetahui dirinya sedang hamil empat bulan dan telah menjadi istri dari Alexander Dimitri, seorang pengusaha sekaligus mafia paling ditakuti di Eropa.

Terjebak dalam kehidupan yang bukan miliknya, Rubi harus menghadapi berbagai rahasia, intrik, dan bahaya yang mengancam. Di tengah pernikahan yang terpaksa, akankah ia mampu bertahan atau justru jatuh cinta pada sang mafia yang berhati dingin?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27 Aku Akan Selalu Kembali

Ruangan yang beberapa detik lalu terasa hangat mendadak berubah tegang.

Rubi masih berdiri di dekat Alexander ketika pria itu menurunkan ponselnya perlahan.

Wajah Alexander yang biasanya tenang kini terlihat dingin.

Sangat dingin.

Tatapan matanya berubah tajam seperti seseorang yang sedang bersiap menghadapi perang.

Dan itu membuat Rubi langsung memahami satu hal.

Situasinya serius.

Sangat serius.

"Viktor ditemukan."

Kalimat itu masih terngiang di telinga Rubi.

Pria yang selama ini menjadi ancaman dalam hidup mereka akhirnya muncul.

Bukan lagi sekadar bayangan.

Bukan lagi sekadar laporan dari anak buah Alexander.

Melainkan benar-benar ditemukan.

"Di mana?"

tanya Rubi pelan.

Alexander menatapnya beberapa saat.

Seolah sedang mempertimbangkan jawaban yang harus diberikan.

"Di pelabuhan utara."

jawabnya akhirnya.

Rubi menggigit bibir bawahnya.

Meski tidak memahami dunia mafia, ia tahu pelabuhan merupakan salah satu tempat penting dalam bisnis ilegal.

Dan jika Viktor muncul di sana, berarti pria itu sedang merencanakan sesuatu.

"Apa yang akan kamu lakukan?"

Alexander tidak langsung menjawab.

Ia hanya menatap layar ponselnya yang masih menampilkan beberapa pesan masuk.

Kemudian menghela napas panjang.

"Aku harus pergi."

Jantung Rubi langsung terasa tidak nyaman.

Pergi.

Malam ini.

Saat hujan masih turun di luar.

Saat ancaman sedang berada di dekat mereka.

Namun ia juga tahu Alexander tidak mungkin mengabaikan situasi tersebut.

"Apa itu berbahaya?"

tanya Rubi.

Alexander tersenyum tipis.

Senyum yang lebih mirip usaha menenangkannya.

"Aku sudah menghadapi hal seperti ini selama bertahun-tahun."

"Itu bukan jawaban."

ucap Rubi pelan.

Alexander terdiam.

Lalu untuk pertama kalinya malam itu, pria itu mengangkat tangannya dan menyentuh pipi Rubi dengan lembut.

Gerakan sederhana.

Tetapi berhasil membuat jantung Rubi berdebar.

"Aku akan baik-baik saja."

katanya.

Namun entah kenapa Rubi tidak merasa tenang.

---

Satu jam kemudian.

Mansion Dimitri kembali dipenuhi kesibukan.

Puluhan pengawal keluar masuk.

Beberapa kendaraan hitam sudah berjajar di halaman depan.

Suasana yang biasanya tenang berubah seperti markas militer yang sedang bersiap melakukan operasi besar.

Rubi berdiri di dekat jendela lantai dua.

Memperhatikan semua aktivitas di bawah.

Perasaannya semakin tidak nyaman.

Sejak datang ke dunia ini, ia memang tahu Alexander bukan pengusaha biasa.

Namun selama ini pria itu selalu terlihat tenang.

Terkendali.

Dan jauh dari bahaya.

Malam ini berbeda.

Untuk pertama kalinya Rubi benar-benar melihat sisi gelap kehidupan Alexander.

Sisi yang selama ini berusaha dijauhkan darinya.

Tok.

Tok.

Tok.

Pintu kamar diketuk.

"Masuk."

Kepala pelayan masuk sambil membawa segelas susu hangat.

"Nyonya muda."

Rubi tersenyum kecil.

"Terima kasih."

Wanita paruh baya itu meletakkan gelas di meja.

Kemudian menatap Rubi dengan lembut.

"Tuan Muda akan baik-baik saja."

Rubi sedikit terkejut.

Seolah kepala pelayan bisa membaca isi pikirannya.

"Aku hanya khawatir."

aku Rubi.

"Itu wajar."

jawab kepala pelayan.

"Saya sudah bekerja untuk keluarga Dimitri selama puluhan tahun."

Rubi menatapnya.

"Dan?"

"Tuan Muda selalu pulang."

Kalimat itu sederhana.

Tetapi cukup membuat hati Rubi sedikit tenang.

Sedikit.

---

Di halaman mansion.

Alexander berdiri di dekat mobilnya.

Beberapa anak buah kepercayaannya sudah menunggu.

Semua bersenjata.

Semua siap bergerak kapan saja.

Namun sebelum masuk ke mobil, tatapan Alexander terangkat ke lantai dua.

Ke arah jendela kamar Rubi.

Dan benar saja.

Wanita itu berdiri di sana.

Memandangnya.

Meski jaraknya jauh, Alexander tetap bisa melihat kekhawatiran di wajahnya.

Perasaan hangat muncul di dadanya.

Perasaan yang jarang ia rasakan.

"Aku semakin lemah."

gumamnya pelan.

Dulu ia bisa pergi ke mana saja tanpa memikirkan siapa pun.

Sekarang berbeda.

Sekarang ada seseorang yang menunggunya pulang.

Dan ternyata perasaan itu jauh lebih menakutkan dibanding menghadapi musuh.

---

Rubi yang melihat Alexander masih berdiri di bawah spontan keluar dari kamar.

Ia berjalan cepat menuju tangga.

Meski beberapa pelayan berusaha mengikutinya.

"Nyonya muda, pelan-pelan."

Rubi tidak memedulikan mereka.

Ia terus berjalan sampai akhirnya tiba di halaman depan.

Alexander yang melihatnya langsung mengernyit.

"Apa yang kau lakukan di luar?"

tanya pria itu.

"Harusnya aku yang bertanya."

balas Rubi.

Alexander menghela napas.

Wanita ini memang keras kepala.

Rubi berhenti tepat di depannya.

Untuk beberapa saat mereka hanya saling memandang.

Di tengah hujan gerimis yang masih turun perlahan.

"Kau harus hati-hati."

ucap Rubi akhirnya.

Suara wanita itu terdengar lebih pelan dari biasanya.

Alexander mengangguk.

"Iya."

"Jangan bertindak gegabah."

"Iya."

"Jangan mencari masalah."

Alexander hampir tersenyum.

"Itu sulit."

Rubi langsung memukul lengannya pelan.

Membuat beberapa pengawal menunduk menahan senyum.

Mungkin hanya Rubi satu-satunya orang di dunia yang berani melakukan itu kepada Alexander Dimitri.

---

Hening kembali menyelimuti mereka.

Namun kali ini berbeda.

Ada sesuatu yang belum diucapkan.

Sesuatu yang sama-sama mereka rasakan.

Tetapi belum berani diakui.

Rubi menatap pria di depannya.

Pria yang awalnya begitu asing.

Pria yang dulu membuatnya takut.

Namun kini menjadi orang yang paling ia khawatirkan.

Dan kesadaran itu membuat dadanya terasa sesak.

"Aku..."

Rubi menggantung kalimatnya.

Alexander menunggu.

Namun wanita itu tidak melanjutkan.

Karena ia tidak tahu bagaimana mengatakannya.

Bagaimana cara mengatakan bahwa dirinya takut kehilangan Alexander?

Bagaimana cara mengatakan bahwa pria ini sudah menjadi bagian penting dalam hidupnya?

Pada akhirnya Rubi hanya berkata,

"Pulanglah dengan selamat."

Alexander terdiam cukup lama.

Lalu perlahan mengangguk.

"Aku akan pulang."

katanya.

Tatapan mata mereka bertemu.

Dan untuk pertama kalinya, Alexander mengulurkan tangannya.

Mengusap puncak kepala Rubi dengan lembut.

Gerakan yang membuat semua orang di sekitar membeku.

Karena mereka belum pernah melihat Alexander bersikap selembut itu kepada siapa pun.

"Aku janji."

ucap pria itu.

"Aku akan kembali."

Jantung Rubi langsung berdebar.

Sementara Alexander sendiri tidak menyadari bahwa kata-kata itu terdengar seperti janji seorang suami kepada istrinya.

Janji yang sangat tulus.

---

Setelah itu Alexander masuk ke mobil.

Pintu tertutup.

Mesin kendaraan menyala.

Dan satu per satu mobil hitam mulai meninggalkan mansion.

Rubi tetap berdiri di halaman sampai kendaraan terakhir menghilang dari pandangan.

Barulah ia kembali masuk.

Namun mansion yang besar itu mendadak terasa berbeda.

Lebih sepi.

Lebih dingin.

Lebih kosong.

Seolah sebagian kehangatan rumah itu ikut pergi bersama Alexander.

---

Malam semakin larut.

Hujan kembali turun deras.

Rubi tidak bisa tidur.

Ia mencoba membaca buku.

Tidak berhasil.

Menonton televisi.

Tetap tidak bisa fokus.

Bahkan bayi dalam kandungannya terlihat lebih aktif dari biasanya.

Seolah ikut merasakan kegelisahannya.

"Ayahmu membuat kita khawatir."

bisik Rubi sambil mengusap perutnya.

Tak lama kemudian.

Petir menyambar langit.

Membuat jendela bergetar pelan.

Rubi menatap keluar.

Dan tanpa sadar berdoa.

Untuk keselamatan Alexander.

Untuk keselamatan keluarga kecil mereka.

Karena saat itu akhirnya ia mengakui sesuatu yang selama ini berusaha disembunyikan.

Ia mencintai Alexander Dimitri.

Dengan seluruh hatinya.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia takut kehilangan seseorang.

Sementara di tempat lain.

Di sebuah gudang tua dekat pelabuhan utara.

Alexander berdiri berhadapan dengan puluhan pria bersenjata.

Tatapannya dingin.

Tangannya mengepal.

Dan beberapa meter di depannya, seorang pria berambut pirang sedang tersenyum tipis.

Viktor Romanov.

Musuh yang selama ini mereka cari.

Pertemuan yang akan mengubah segalanya akhirnya dimulai.

1
Alia Chans
like + 🌹+ komen semangat thor ✍️🤭





kalo sempat mampir ya thor🤭😉
wulaniii
gais jangan lupa like dan komen kalo bisa nonton iklanya 🤭🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!