Elnaya Bellarose Valenzia, gadis polos yang selalu menjadi korban perundungan di Golden International School, mengalami percobaan pembunuhan misterius yang membuatnya koma.
Mengetahui hal itu, saudara kembarnya, Elnara Bellamont Valenzia, seorang bad girl yang bersekolah di luar negeri, kembali ke Indonesia untuk mencari pelaku. Dengan menyamar sebagai Elnaya, ia mulai menyelidiki rahasia di balik kejadian tersebut.
Namun di tengah pencariannya, Elnara justru menarik perhatian dua siswa paling berpengaruh di sekolah: Alaric Alden Adinata, ketua OSIS yang sempurna, dan Nathaniel Atharva Pradana, ketua geng Blaze yang terkenal sebagai bad boy.
Semakin dalam Elnara mengungkap kebenaran, semakin banyak rahasia gelap yang terkuak. Hingga ia menyadari bahwa orang yang menghancurkan hidup saudara kembarnya ternyata lebih dekat dari yang pernah ia bayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fayepey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nyari Barang Bukti
Suasana di kelas IPA 3 saat ini cukup sunyi. Eh, enggak, ralat. Suara seorang cowok bernama Jefri tiba-tiba terpekik keras hingga membuat orang-orang di sana menatapnya dengan kaget.
“HAHAHAHA! MAMPUS LO, ANJING! SALAH LAWAN KALAU SAMA GUE MAH!” teriaknya ke arah ponsel yang sedang digunakannya untuk bermain games.
Jefri terlalu fokus menatap layar sampai tidak menyadari sebuah benda melayang ke arahnya dan mendarat tepat di kepalanya.
“Aww, shit, men! Sakit, tahu!” ucapnya sambil mendongak dan mengusap kepalanya.
“Lo berisik, anjir! Enggak tahu suara lo bikin kami semua kaget, hah?” ucap Rora dengan kesal. Tatapannya tajam mengarah kepada Jefri yang masih mengelus-elus kepalanya.
“Atututu, ayang beb Roro. Jangan gitu, ih, sama Aa. Atit nih pala Aa,” ucap Jefri dengan gaya sok manja sambil memasang ekspresi memelas.
Mendengar itu, bulu kuduk Rora seketika merinding. Gadis itu mendelik horor seolah baru saja melihat sesuatu yang sangat menjijikkan.
“Najis,” ucapnya singkat.
Kemudian, Rora mengambil benda lain dari atas mejanya dan mengangkatnya seolah bersiap melempar lagi. “Berisik sekali lagi, lo! Gue lempar lo ke lantai satu!”
Jefri langsung terkejut dan sedikit menjauhkan kursinya dari meja Rora. “Alamak, seremnya!” gumamnya pelan.
Kelas itu pun kembali senyap. Beberapa murid kembali melanjutkan kegiatan mereka masing-masing. Ada yang mengobrol pelan, tidur dengan kepala di atas meja, dan ada juga yang sibuk memainkan ponsel.
Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama.
“MORNING, EVERYONE! I’M BACK!”
Suara cempreng Nara yang baru sampai kembali membuat seisi kelas terkejut. Gadis itu berdiri di ambang pintu dengan senyum lebar, seolah tidak merasa bersalah karena sudah mengagetkan semua orang.
“Anjir, lo, Naya! Bisa enggak sih lo enggak usah teriak begitu? Lo kira kami budek, hah?” semprot Rora dengan kesal untuk kedua kalinya hari itu.
Nara yang awalnya tersenyum lebar langsung terdiam. Dia menatap Rora dengan ekspresi bingung, tidak mengerti kenapa temannya itu terlihat sangat sensitif pagi ini.
“Hey, calm, girls, oke? No, no,” ucapnya dengan suara lembut sambil mengangkat kedua tangannya, mencoba menenangkan suasana.
“Kenapa sih manusia ngeselin banget hari ini?” gerutu Rora. Dia kembali menyandarkan tubuhnya ke kursi dengan wajah masam.
Asha yang duduk di sebelah Rora langsung menoleh ke arah Nara. Dia menutupi sisi mulutnya menggunakan tangan, lalu berbisik pelan agar Rora tidak mendengarnya.
“Dia lagi PMS.”
Mendengar bisikan itu, mata Nara langsung melotot penuh pengertian. Dia mengangguk-angguk kecil, seolah baru saja menemukan jawaban dari sikap galak Rora sejak tadi.
“Oh my God, baby—”
Belum sempat Nara menyelesaikan ucapannya, Rora sudah memotongnya begitu saja.
“Apa lagi sih? Bisa diam enggak!” semprot Rora sambil menoleh tajam.
Nara langsung menutup mulutnya rapat-rapat. Dia mengangguk patuh, lalu berjalan perlahan menuju tempat duduknya.
“Oke,” ucapnya pelan.
Jefri yang sejak tadi memperhatikan kejadian itu hanya menggelengkan kepala. Dia bahkan tidak berani tertawa karena takut benda lain kembali mendarat di kepalanya. Sementara itu, Asha menahan senyum sambil pura-pura sibuk membuka buku.
Kelas IPA 3 akhirnya kembali tenang, meskipun semua orang tahu ketenangan itu mungkin hanya akan bertahan beberapa menit.
Saat jam istirahat tiba, Rora memutuskan untuk pulang karena sakit perutnya semakin parah. Dia sudah tidak kuat melanjutkan sekolah, jadi sekarang hanya tinggal Asha dan Nara yang bersama.
“Kamu mau ke mana? Kok buru-buru banget makannya di kantin tadi?” tanya Asha yang ikut keluar dari kantin sambil berjalan di belakang Nara.
“Udah, lo ke sana aja, ke tempat abang lo. Gue bisa kok sendiri,” ucap Nara dengan sopan.
“Ya, kamu mau ke mana dulu?” tanyanya lagi, masih penasaran.
Nara menoleh sebentar untuk memastikan tidak ada orang lain yang mendengar pembicaraan mereka. “Gue mau balik ke belakang perpustakaan. Gue harus nyari HP Naya,” ucapnya sedikit berbisik.
“Aku ikut. Aku bantu nyarinya, ya,” tawar Asha tanpa berpikir panjang.
“Lo enggak usah ikut. Lo di sini aja,” tolak Nara.
“Aku mau ikut. Ayolah, Nay, kan kita teman,” ucapnya memohon sambil mengikuti langkah Nara yang semakin cepat.
“Aduh, lo sana aja sama abang lo. Udah, enggak apa-apa. Gue udah biasa sendiri,” ucap Nara, masih berusaha menyuruh Asha pergi.
“Enggak mau. Aku mau ikut,” jawab Asha, tetap kukuh dengan keputusannya.
Nara mengembuskan napas pasrah. “Serah lo deh.”
Mereka pun berjalan menuju semak-semak yang berada di belakang perpustakaan. Keduanya mulai mencari di sekitar rerumputan dan tumpukan daun kering, tetapi ponsel itu belum juga ditemukan. Kulit mereka bahkan habis digigit nyamuk hingga terasa gatal di beberapa bagian.
“Ada ketemu enggak di sana?” tanya Nara sambil menyingkirkan ranting yang menghalangi pandangannya.
“Enggak ada. Kamu yakin HP Naya ada di sini?” tanya Asha lagi. Tangannya sibuk menggaruk lengan yang mulai memerah karena gigitan nyamuk.
“Kan dia dijatuhin di sini. Ya, sekitar sini lah,” jawab Nara sambil terus mencari di antara semak-semak.
“Kenapa enggak lewat CCTV aja sih?” gerutu Asha.
“Kalau lewat CCTV, enggak mungkin gue pindah ke sini. Karena CCTV-nya enggak berguna, makanya gue nyamar jadi adik gue,” balas Nara.
Saat pencarian itu masih berlangsung, tiba-tiba terdengar suara seseorang berteriak dari arah belakang mereka.
“Woi! Ngapain kalian di semak-semak? Nyembunyiin ganja, ya, lo?”
Nara langsung menoleh ke belakang, begitu juga dengan Asha. Rupanya Niel baru saja datang dan berdiri tidak jauh dari mereka dengan ekspresi santai.
“Bacot lo. Kalau lo enggak mau nolongin, sana pergi,” jawab Nara ketus.
“Dih, emang lo ada urusan apaan sih? Sering banget datang ke sini,” tanya Niel sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
“Bukan urusan lo,” jawab Nara ketus lagi.
“Ini kawasan gue, jadi gue berhak tahu,” ucapnya santai.
Sementara itu, Asha hanya berdiri sambil menyaksikan pertengkaran antara sahabatnya dan calon tunangannya itu. Memang sudah seperti itu sejak dulu. Niel suka merundung Naya, sedangkan Naya sendiri tidak pernah punya keberanian untuk melawannya.
“Gue enggak nanya,” jawab Nara singkat.
Niel menatapnya beberapa saat sebelum akhirnya tersenyum tipis. “Gue akan nolongin lo, tapi dengan satu syarat.”
“Gue enggak minat,” jawab Nara lantang.
“Jadi babu gue selama satu bulan,” lanjut Niel tanpa memedulikan penolakan gadis itu.
“GUE BILANG GUE ENGGAK MINAT!” teriak Nara kesal, lalu langsung pergi dari sana meninggalkan Asha dan Niel.
“Eh, Naya!” teriak Asha. Namun, Nara tidak menoleh sama sekali dan terus berjalan menjauh.
Asha kemudian menatap kesal ke arah cowok di hadapannya. “Kamu sih, pergi kan dia jadinya,” gerutu cewek itu.
“Lah, kok gue? Kan gue udah baik tadi,” balas Niel, merasa tidak bersalah.
“Baik kamu enggak bermutu,” ucap Asha ceplas-ceplos.
Niel terdiam sebentar mendengar jawaban itu, sedangkan Asha kembali menatapnya dengan curiga. “Terus kamu di sini mau ngapain? Mau ngerokok lagi, ya, kamu?” tanyanya dengan tatapan tajam.
Melihat wajah kesal gadis itu, Niel malah terkekeh santai. “Kalau iya, kenapa, hm? Marah, ya, Cantik?” ucapnya menggoda.
“Kan udah aku bilang, berhenti ngerokok,” ucap Asha kesal.
“Gue mau-mau aja sih, asalkan diganti sama bibir lo,” ucap Niel sambil menunjuk bibir gadis yang berdiri di depannya itu.
Asha langsung menatapnya dengan wajah tidak percaya. “Sinting,” ucapnya sebelum pergi meninggalkan tempat itu.
Niel hanya terkekeh sambil memandangi punggung Asha yang semakin menjauh. “Kenapa sih cewek kalau cantik, galaknya galak banget?” ucapnya sendirian.
Di sisi lain, Nara berjalan menuju lift dengan wajah kesal. Langkahnya sedikit menghentak karena masih teringat ucapan Niel tadi.
“Gue enggak bisa lakuinnya pas jam sekolah. Gue harus cari cara lain,” gumamnya sendirian.
Tangannya terasa sangat gatal karena gigitan nyamuk tadi. Kulit di lengannya mulai memerah akibat terus digaruk. Sesampainya di depan lift, Nara menempelkan kartu aksesnya, lalu masuk setelah pintunya terbuka.
Namun, sebelum pintu lift tertutup sempurna, pintu itu kembali terbuka dan menampilkan seorang cowok yang berdiri di depannya. Alden berjalan santai masuk ke dalam lift, membuat Nara terdiam.
Keduanya sama-sama tidak berbicara. Hanya suara mesin lift yang terdengar samar di antara mereka. Sesekali Alden melirik cewek di sebelahnya yang terus menggaruk lengannya.
“Kenapa?” tanya Alden akhirnya.
Mendengar itu, Nara mendongak dan menoleh ke samping. “Enggak apa-apa,” jawabnya biasa saja.
Namun, Alden tentu saja tidak langsung percaya. Dia memegang bahu Nara dan membalikkan tubuh cewek itu agar menghadap ke arahnya. Saat itulah dia bisa melihat satu lengan gadis itu sudah memerah.
“Ini kenapa?” tanyanya. Ada sedikit nada khawatir di dalam suaranya.
“Digigit nyamuk. Gatal nih,” ucap Nara sambil kembali ingin menggaruk lengannya.
“Jangan digaruk terlalu kasar, nanti luka,” ucap Alden sambil menjauhkan tangan Nara dari lengannya.
Benar saja, sudah ada beberapa luka kecil di kulitnya akibat terus digaruk. Alden memperhatikannya dengan dahi sedikit berkerut.
“Tuh, lihat. Habis ngapain sih?” tanyanya penasaran.
“Habis nyari barang bukti di belakang perpustakaan. Siapa tahu ada petunjuk,” jawab Nara.
Kini, lengannya bukan hanya terasa gatal, tetapi juga mulai hangat dan perih. Nara meringis kecil sambil meniup-niup kulitnya.
“Panas banget,” adunya.
Tanpa banyak bicara, Alden langsung menekan tombol lift menuju lantai satu.
“Kok balik lagi sih ke lantai satu?” protes Nara saat melihat angka di atas pintu lift berubah turun.
“Obatin dulu tuh tangan di UKS,” ucap Alden santai, tetapi nadanya tidak memberi ruang untuk dibantah.
“Enggak usah, gue enggak apa-apa,” tolak Nara.
“Gue temenin, dan jangan nolak,” peringat cowok itu tegas.
Mendengar perkataan Alden, Nara akhirnya memilih diam. Dia hanya menunduk sambil memperhatikan lengannya sendiri, sedangkan Alden tetap berdiri di sampingnya sampai pintu lift terbuka di lantai satu.