NovelToon NovelToon
Lebih Sekadar Tante

Lebih Sekadar Tante

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Agatha soul

Bagi Arvin, Karin bukan sekadar tante dari sahabatnya. Karin adalah tempatnya pulang, tawa yang selalu ia cari, dan masa depan yang ingin ia tuju. Di saat kedekatan mereka mulai mencairkan dinding perbedaan usia, sebuah kencan tak sengaja justru membawa kembali bayang-bayang masa lalu Karin yang belum usai.
Ketika masa lalu menuntut tempatnya kembali, akankah Karin bertahan pada zona nyamannya, atau berani melangkah demi rasa yang lebih dari sekadar tante?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agatha soul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tampar gue kalau lo gak setuju

Reza terdiam cukup lama setelah mendengar penuturan panjang lebar dari Karin. Sentuhan lembut di kepalanya berhasil meredam badai di dadanya, walau rasa marah itu belum sepenuhnya hilang.

"Eja butuh waktu sendiri dulu, Tan," gumam Reza pelan, suaranya terdengar jauh lebih tenang daripada sebelumnya.

Karin tersenyum dan menepuk bahu keponakannya itu pelan. "Iya, Tante ngerti. Duduk aja dulu di sini biar adem."

Karin beranjak berdiri lalu melangkah kembali masuk ke dalam rumah. Di balik tirai, anak-anak yang sejak tadi nekat mengintip dari celah jendela depan langsung berhamburan lari tunggang-langgang kembali ke ruang tengah. Begitu pintu terbuka, pemandangan lucu langsung tersaji, Fino tiba-tiba sibuk membaca buku binder terbalik, Bima pura-pura push-up, dan para gadis mendadak sibuk merapikan bantal sofa sambil bersiul kaku. Mereka semua pura-pura tidak tahu apa yang baru saja terjadi.

Karin hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan mereka. Tepat di saat itu, pintu kamar terbuka. Arvin keluar dari sana. Pandangan mereka berdua langsung bertemu di udara.

"Arvin, Tante mau bicara sama kamu," ucap Karin, suaranya terdengar tegas namun tenang.

Arvin mengangguk tanpa ragu. "Iya, Tan."

Karin berjalan mendahului Arvin menuju ke halaman belakang. Arvin mengekor dengan langkah tegap di belakangnya.

Melihat sasaran berpindah tempat, anak-anak yang tingkat penasaran sudah mendarat di level akut langsung mengendap-endap pindah posisi. Karena pintu menuju halaman belakang memiliki kaca transparan di bagian atasnya, mereka semua langsung menempelkan wajah di sana, berdesak-desakan seperti komplotan agen rahasia amatir.

Di luar, Karin dan Arvin duduk berdampingan di atas tikar sisa makan malam tadi. Posisi duduk mereka sengaja membelakangi pintu kaca, membuat anak-anak di dalam hanya bisa melihat punggung mereka.

Di balik pintu kaca, bisik-bisik tetangga langsung dimulai.

"Kedengaran gak sih mereka ngomong apa?" tanya Bima sambil memiringkan telinganya ke kaca.

"Gak kedengaran, anjir! Tadi yang di depan aja kagak kedengaran, apalagi ini ketutup rapat!" gerutu Dito kesal.

"Kepo anjir sama cinta beda usia ini..." celetuk Elora sambil menopang dagu.

"Tapi cocok tahu!" sahut Alessa bersemangat.

"Iya, si Arvin sweet banget kalau udah jatuh cinta. Jarang-jarang liat dia bikin kopi buat cewek," timpal Aurel ikut gemas sendiri.

Sementara anak-anak di dalam sibuk bersahutan dengan teori mereka masing-masing, suasana di halaman belakang justru terasa begitu sunyi dan dingin. Angin malam berhembus pelan, menerbangkan beberapa helai rambut Karin.

Arvin melirik ke belakang sekilas lewat sudut matanya, lalu kembali menatap lurus ke depan. "Tante, anak-anak pada liatin kita dari kaca."

"Biarin aja, mereka gak bakalan denger juga apa yang kita omongin," sahut Karin santai, melipat kedua lututnya dan memeluknya erat.

Karin terdiam sejenak. Dia membiarkan keheningan malam menguasai mereka selama beberapa detik sebelum akhirnya dia memutar kepalanya, menatap langsung ke samping wajah tegas Arvin.

"Kenapa kamu suka sama Tante?" tanya Karin tanpa basa-basi, langsung menusuk ke inti masalah.

Arvin tidak langsung menjawab. Dia membalas tatapan Karin, menatap lekat-lekat manik mata wanita di hadapannya dengan sorot mata yang teramat dalam dan tajam.

"Gue juga gak tahu sejak kapan pastinya, Tan," jawab Arvin, suaranya terdengar berat dan serak di tengah keheningan malam. "Tapi yang gue tahu, di dekat Tante, gue gak perlu pura-pura jadi orang lain. Di saat semua orang cuma liat gue sebagai anak yang kaku, cuma Tante yang bisa liat kalau gue lagi luka, dan cuma Tante yang meluk gue pas lagi down."

Arvin mencondongkan tubuhnya sedikit ke arah Karin, membuat jarak di antara mereka mengikis. "Rasa suka ini bukan impulsif anak sekolahan yang lagi puber, Tan. Gue serius. Dan fakta kalau Tante lebih tua dari gue, sama sekali gak mengubah apa pun di mata gue.”

Karin terkekeh pelan, sebuah tawa renyah yang terdengar getir di tengah keheningan malam. Dia benar-benar tidak menyangka kalau perhatian dan sikap hangatnya selama ini justru menumbuhkan benih cinta yang begitu besar di dalam hati Arvin.

Karin mengalihkan pandangannya dari Arvin. Kedua tangannya kembali bertumpu ke belakang di atas tikar untuk menahan bobot tubuhnya, sementara matanya mendongak, menatap hamparan langit malam yang gelap.

"Arvin... perjalanan kamu itu masih panjang," ucap Karin dengan nada suara yang sengaja dibuat sedatar mungkin, menyembunyikan getaran di dadanya. "Masih banyak perempuan lain di luar sana yang seumuran dengan kamu dan menyukai kamu. Tante udah tua, Arvin."

"Apa salahnya suka sama yang lebih tua?" sahut Arvin cepat, nadanya memprotes dengan tegas, menolak mentah-mentah alasan klasik tersebut.

Karin menghela napas panjang, lalu menatap Arvin kembali. "Gak ada yang salah, sayang... Tapi kita gak bisa bersama. Reza juga bakalan gak setuju."

"Tante..." Ucap Arvin, terselip nada kekecewaan yang mendalam dari caranya memanggil Karin. Dia memutar tubuhnya penuh menghadap Karin. "Kita yang jalin hubungan itu, Tan. Bukan Reza. Gue tahu kalau Tante juga suka sama gue, kan? Tatapan mata Tante setiap kali ada di dekat gue gak bisa bohong."

Sebelum Karin sempat memprotes kalimat berani itu, Arvin tiba-tiba bergerak maju. Tangan kanannya yang hangat langsung meraih dan menggenggam erat jemari Karin di atas tikar.

"Tante... Tante mau, kan, tungguin gue sampai gue dewasa?"

Karin yang mendengar permintaan itu seketika diam terpaku. Lidahnya mendadak kelu, dan jantungnya berdegup dua kali lebih cepat.

"Biarin gue cium lo kalau lo setuju mau nungguin gue. Tampar gue kalau lo gak setuju," tantang Arvin dengan suara serak yang sangat rendah, memberikan pilihan mutlak yang membuat suasana di antara mereka berdua terbakar hebat.

Arvin tidak menunggu lama. Dia mulai mengikis jarak, bergerak semakin dekat hingga menyudutkan Karin. Tangan kirinya bergerak naik, mencengkeram tengkuk Karin dengan lembut namun posesif, lalu sedetik kemudian, Arvin mencondongkan wajahnya dan menciumnya.

Sementara itu di balik pintu kaca dapur, anak-anak yang masih setia menempelkan wajah langsung membelalakkan mata syok. Beberapa gadis bahkan spontan membekap mulut mereka sendiri menahan jeritan histeris melihat adegan sensor yang terjadi tepat di depan mata mereka.

Namun, di tengah kehebohan yang menegangkan itu, suara langkah kaki berat terdengar dari arah teras depan. Reza berjalan masuk ke dalam rumah, penampilannya sudah jauh lebih tenang setelah menghirup angin malam di luar.

Melihat kerumunan temannya menempel di pintu kaca dapur seperti cicak, Reza mengernyit heran. "Kalian ngapain pada di situ?" tanya Reza lantang.

"Anjir, si Reza!" bisik Bima panik.

Serempak, anak-anak itu langsung berbalik badan menoleh ke arah Reza. Dengan gerakan kaku dan salah tingkah, mereka buru-buru berdiri tegak menjauh dari pintu kaca.

"Nggak... gak apa-apa, Ja! Kepo aja, itu tante lo lagi ngobrol serius banget sama Arvin di luar," sahut Fino mencoba bersikap sealami mungkin.

"Oh," jawab Reza singkat, tidak menaruh curiga sama sekali. Dia melangkah melewati ruang tengah dan langsung masuk ke dalam kamar untuk beristirahat.

Di luar, Karin sama sekali tidak menggerakkan tangannya untuk menampar Arvin. Dia hanya diam, membiarkan matanya terpejam dan menerimanya yang penuh dengan perasaan menuntut sekaligus memohon. Sikap diam Karin menjadi jawaban mutlak atas tantangan yang diberikan Arvin tadi.

Arvin perlahan melepaskan ciumannya. Napasnya sedikit memburu, jarak wajah mereka masih begitu dekat hingga Arvin bisa melihat rona merah di kedua pipi Karin.

"Berarti Tante setuju mau nungguin gue," bisik Arvin, lalu sebuah senyuman manis nan tulus terkembang di bibirnya, senyuman kemenangan yang belum pernah dilihat oleh siapa pun.

Saat anak-anak di dalam dapur memberanikan diri untuk melirik kembali lewat kaca, mereka melihat Arvin sudah berdiri tegak. Ketakutan terciduk oleh Arvin, gerombolan di dapur itu langsung berhamburan bubar tunggang-langgang, berlari menyelamatkan diri kembali ke ruang tengah dan berpura-pura sibuk lagi.

1
Bunga
Karya terbaik😍semangat 💪
Agatha soul: terima kasih
total 1 replies
Bunga
Terbaik
mary dice
sepertinya ada yang mau nembak nih... lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!