Antara mencintai atau obsesi itu beda tipis nggak sih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon My. dark, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengalaman Pertama.
Jagat terbangun saat Arina berusaha mengangkat tangannya pelan-pelan, Jagat kembali merengkuh Arina dan kembali menariknya ke dalam dekapannya. “Mau kemana?” tanyanya dengan suara serak.
“Kamu udah bangun?” tanya Arina pelan.
“Hembs.”
“Aku mau pulang.”
“Di sini aja.”
“Jagat, aku masih pakai seragam sekolah sejak tadi.”
“Kenapa nggak ganti dulu tadi?”
“Ya, soalnya tadi panik.”
“Gara-gara cowok itu?”
Arina terdiam, ini akan menjadi pertengkaran mereka lagi jika di bahas.
“Kenapa diam?” Jagat bangun dengan muka kesalnya.
“Bisa nggak sih, nggak usah di bahas lagi, iya aku salah.”
Jagat hanya tersenyum smirk, lalu melepaskan hoodie tebal yang sejak tadi membalut tubuhnya yang sedang panas.
“Kamu mau ngapain?” wajah Arina terlihat panik saat ini.
“Tidur.”
“Ngapain lepas baju?”
Jagat yang telanjang dada membuat Arina semakin panik, bekas luka cambukan itu terpampang nyata di depan mata Arina. Tapi bukan itu yang membuat fokus Arina buyar, tatapan mata Jagat menjadi sayu.
“Nggak nyaman aja,” jawab Jagat dengan ekspresi santainya.
Dia kembali merengkuh Arina dan menarik untuk kembali rebahan.
“Jagat, jangan gini,” Arina mencoba menahan tubuh Jagat.
“Kenapa?”
“Aku nggak suka,”
“Sama, aku juga nggak suka, tapi kamu lakuin terus terusan.”
“Jag- akkhh.” jari Jagat langsung menusuk inti Arina tanpa permisi. Mata Arina membola sempurna, mulutnya menganga, tubuhnya membeku saat itu juga. Jagat langsung melumat lembut bibir Arina.
“Aku udah peringatin kamu berkali-kali sayang,” tangannya terus bergerilya di bawah sana. Jagat tersenyum puas saat melihat Arina tanpa perlawanan. Tenaganya perlahan melemah begitu saja, tetapi matanya tak pernah bohong, air matanya jatuh dari ujung matanya.
Jagat sama sekali tak peduli hal tersebut, dia terus mencumbui Arina, dia menciptakan banyak tanda kepemilikannya di setiap kulit Arina yang awalnya putih mulus saat ini hampir full tanda merah.
“Ja-gat, hentikan.” suaranya bergetar hebat.
Senyuman penuh kemenangan Jagat tercetak jelas malam itu, saat Arina mencengkeram kuat lengannya, tubuhnya tegang dan bergetar hebat dalam kendali Jagat. “Akkhhhhhh…” erangnya tanpa mampu mengendalikan dirinya sendiri.
“Suka sama hukuman nya?” tanya Jagat yang saat ini kembali menarik tengkuk Arina dan memperdalam ciumannya. Arina terlihat pasrah dengan nafas yang tersengal tanpa mampu melakukan perlawanan.
Air mata Arina jatuh bercucuran begitu saja, saat lagi lagi hal yang pertama dalam hidupnya di renggut oleh Jagat, “Ja-hat, banget.” Isaknya sambil memukuli dada Jagat yang saat ini mencoba memeluknya.
“Sorry.” ucapnya dengan tenang.
Bahkan Jagat nggak menyangka kalau Arina bakalan sehisteris ini, untuk merasakan pengalaman pertamanya.
“Mau pulang.”
“Udah malem sayang.”
“Ya udah aku bisa pulang sendiri.” Arina bergegas merapikan pakaiannya yang terlihat berantakan akibat ulah Jagat.
“Ini udah jam 02.00 dini hari, kamu nggak takut, lagian nggak ada taxi atau ojek jam segini.” Jagat mencoba terus menahannya.
“Lebih menakutkan di sini.”
“Ya udah, kita ulang aja kegiatan tadi, kalau kamu nggak bisa di kasih tau.” ancam Jagat yang membuat Arina terperangah.
“NGGAK.”
“Ya udah nurut, apa kata ibu penjaga Asrama jika kamu pulang jam segini sama aku Ar, ayolah please aku nggak bakalan aneh-aneh lagi.” ucap Jagat dengan wajah seriusnya.
Arina masih terdiam pikirannya berperang saling menyerang. Dia takut keluar malam sendirian, bisa jadi hal lebih besar akan terjadi, tetapi dia juga takut tinggal di sini bersama Jagat.
“Udahlah Ar, ayo sini, aku tidur di sofa, janji nggak bakal sentuh kamu lagi.”
“Nggak, aku aja yang tidur di sofa.” kali ini Arina menjauh dan duduk di sofa.
“Di sini dingin sayang, nggak nyaman, kamu aja di kamar, kunci aja, aku di kamar satunya.” Jagat bergegas dan langsung ke kamar sebelah.
...----------------...
...“Hai, semoga suka ya, bantu Like, koment dan Vote.”...