Lima tahun lalu, Adeline Wijaya dijebak oleh adik tirinya sendiri hingga keguguran dan diusir oleh suaminya, Bramantara, dalam kondisi sekarat. Semua orang mengira Adeline telah tewas di dasar jurang.Lima tahun kemudian, ia kembali ke Kota Jakarta dengan identitas baru sebagai Elena Vance, seorang desainer perhiasan kelas dunia yang genius dan kejam. Tujuannya hanya satu: menghancurkan mereka yang telah merebut kebahagiaannya.Demi melancarkan aksinya, Elena mendekati Nicholas Syailendra, CEO tertinggi di balik konglomerat nomor satu sekaligus musuh bebuyutan mantan suaminya.
Nicholas menawarkan kesepakatan: "Jadilah istriku, dan aku akan memberikan dunia untukmu membalas dendam." Namun, Elena tidak tahu bahwa di balik pernikahan kontrak itu, ada rahasia masa lalu yang jauh lebih besar yang siap menguji hatinya sekali lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Finus Ina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 35
## BAB 35: Kemarahan Singa Posesif
Denting kehancuran kristal yang hancur berantakan di atas lantai marmer Grand Ballroom masih menyisakan gaung kepanikan yang membungkam atmosfer seluruh ruangan. Cairan lengket sampanye membasahi sutra hitam gaun malam The Midnight Empress milik Elena Vance, merembes di sekitar bahu kiri dan leher jenjangnya.
Ratusan pasang mata tamu undangan kelas atas menahan napas mereka secara serempak. Kilatan kamera media internasional yang semula tenang, kini mendadak menyala liar tanpa ampun laksana badai blitz, membidik kekacauan fisik yang baru saja meledak di jalur jalan sang Nyonya Muda.
"Nyonya Muda! Maafkan saya! Saya tidak sengaja bersenggolan dengan meja!" pelayan pria muda yang menjatuhkan nampan itu langsung menjatuhkan lututnya di atas pecahan kristal, berteriak histeris dengan wajah yang dibuat-buat ketakutan setengah mati.
Namun, sebelum pelayan itu sempat meraih ujung gaun Elena untuk berpura-pura membersihkannya, sebuah cengkeraman tangan kekar yang sangat kuat mendadak mencengkeram kerah pakaian pria itu.
Sret!
Nicholas Syailendra menarik tubuh pelayan itu hingga berdiri paksa di udara. Amarah dan rasa panik yang luar biasa besar seketika meledak di dalam dada sang penguasa kota. Sepasang mata elangnya menyala merah penuh tirani amarah yang teramat sangat—memancarkan aura membunuh yang begitu pekat, sanggup membekukan seluruh aliran darah di dalam ruangan. Nicholas yang selama ini dikenal sebagai pria dingin tanpa emosi, kini bertindak laksana monster posesif yang siap mengobarkan perang terbuka demi melindungi areaku.
Bugh!
Nicholas menghempaskan tubuh pelayan itu ke atas lantai marmer dengan satu hantaman kasar, membuat tubuh pria muda itu terkapar lemas di samping pecahan kristal yang tajam. "Yan! Serahkan bajingan ini ke tim keamanan. Aku tidak peduli siapa yang membayarnya di belakang pesta ini... pastikan seluruh keluarganya didepak keluar dari Kota Jakarta sebelum fajar menyingsing!" raung Nicholas, suaranya yang berat menggelegar penuh wibawa tirani penguasa tertinggi.
"Baik, Tuan Besar!" Yan membungkuk takzim, langsung memberi isyarat kepada empat pengawal pribadi berbadan besar untuk menyeret pelayan sabotase itu keluar dari ballroom laksana menyeret tumpukan sampah yang membusuk.
Di barisan kursi VIP depan, Albert Syailendra tidak membiarkan kehancuran rencana pertamanya menghentikan langkah kelicikannya. Pria paruh baya berjas wol abu-abu itu melangkah maju dengan ketenangan kalkulatif yang teramat sangat, memegang selembar tisu kain sutra putih bersih di tangannya.
"Nicholas, tenangkan amarahmu. Ini hanyalah kecerobohan pelayan kecil di pesta selamat datangku," ucap Albert dengan nada suara yang terdengar begitu lembut namun sarat akan racun intimidasi tingkat tinggi.
Albert melangkah mendekati Elena, menyunggingkan sebuah senyuman miring yang penuh dengan kegilaan intrik. "Nona Elena... atau haruskah aku membantumu membersihkan cairan lengket ini dari kulit leher dan balik telingamu sebelum zat asam sampanye merusak riasan mahalmu?"
Dengan gerakan yang sangat cepat dan lancang, tangan kanan Albert yang memegang tisu bergerak maju, mengarah tepat ke arah daun telinga kiri Elena. Taktik Albert sangat kejam; ia sengaja memaksakan tisu tersebut untuk menyeka kulit di balik telinga Elena di depan ratusan kamera wartawan, demi menyingkap helai rambut Elena secara paksa dan membuktikan keberadaan tanda lahir mawar hitam yang ada di draf foto polaroid kuno miliknya.
Deg!
Jantung Elena Vance sempat berdegup kencang secara tidak teratur. Namun, ia tidak bergerak mundur ataupun memalingkan wajah cantiknya. Sepasang mata indahnya justru berkilat tajam memancarkan keangkuhan dingin yang mematikan. Siasat bedah laser pigmen mikro darurat yang dilakukan oleh dr. Maria di paviliun semalam kini menjadi perisai mutlak di tubuhnya.
Sebelum ujung jari Albert sempat menyentuh seujung rambut Elena, Nicholas sudah lebih dulu menggeser tubuh tegapnya yang tinggi besar. Nicholas mencengkeram pergelangan tangan kanan Albert di udara dengan kekuatan penuh yang sanggup meremukkan tulang tangan pria paruh baya itu.
Krek.
"Argh..." Albert meringis pelan, otot-otot di pelipisnya mencuat tajam menahan perih yang menyiksa dari cengkeraman tangan besi keponakannya.
"Jangan pernah berani menyentuh seujung kulit dari istri saya dengan tangan kotormu, Paman Albert," desis Nicholas rendah, suaranya begitu tenang namun sarat akan ancaman hukuman mati korporat yang mematikan. Nicholas menyentakkan tangan Albert dengan kasar hingga serigala tua dari Swiss itu terhuyung mundur dua tapak di atas lantai.
Nicholas melepaskan jas tuksedo hitam mahalnya dengan gerakan yang sangat posesif, lalu membungkus tubuh ramping Elena ke dalam kain wol mahalnya yang hangat, menutupi noda sampanye di bahu istrinya dari sorotan kamera media internasional.
Elena Vance mengambil tisu putih dari tangan Albert yang terlepas, lalu dengan keanggunan seorang ratu yang absolut, ia mengikat rambut hitam panjangnya ke atas—sengaja mengekspos seluruh bagian daun telinga kiri dan leher putih susunya secara telanjang di bawah pendar ratusan lampu kristal ballroom.
"Paman Albert," Elena memotong kesunyi ballroom dengan suara renyahnya yang terdengar begitu menusuk laksana belati. "Jika Anda begitu penasaran dengan kulit di balik telinga saya demi sebuah draf foto polaroid usang yang Anda bawa dari Swiss... silakan periksa sekarang juga di depan seluruh kamera media internasional ini. Mari kita lihat, kebohongan apa lagi yang ingin Anda pertontonkan di depan Kakek Agung malam ini."
Albert Syailendra membelalakkan matanya samar karena terkejut. Matanya terkunci mati pada bagian belakang daun telinga kiri Elena yang kini terpampang nyata. Di sana, di atas kulit putih mulus yang bersih tanpa cela, tidak ada setitik pun noda, bekas luka, atau tanda lahir mawar hitam yang tersisa. Pigmen mawar hitam masa lalu itu telah dihancurkan total oleh teknologi laser milik Nicholas beberapa jam yang lalu.
Kasak-kusuk riuh seketika meledak dahsyat di antara ratusan tamu undangan konglomerat dan wartawan!
Kamera-kamera media yang sejak tadi menanti skandal, kini serempak berbalik arah, menyoroti wajah Albert Syailendra yang mendadak berubah dari tenang menjadi seputih kertas semen. Tuduhan fisik mengenai identitas palsu Elena Vance runtuh total menjadi abu di depan publik internasional.
"Nggak... nggak mungkin... tanda lahir itu tidak bisa hilang..." bisik Albert dengan lidah yang mendadak kelu, seluruh tubuhnya bergetar hebat menahan rasa malu dan kekalahan telak yang luar biasa besar di depan jajaran dewan komisaris tertinggi.
Di barisan depan, Kakek Agung Syailendra mengetukkan tongkat perak naganya ke lantai marmer dengan satu ketukan keras laksana vonis mati bagi reputasi Albert.
Tok!
"Albert! Cukup! Tindakan gilamu malam ini telah mempermalukan silsilah dinasti Syailendra di depan seluruh mitra bisnis dunia!" desis Kakek Agung dengan amarah tirani yang amat pekat. "Tuduhan fitnahmu terhadap Nyonya Muda sah Syailendra Group tidak bisa ditoleransi lagi secara hukum korporasi!"
Nicholas Syailendra menyunggingkan sebuah senyuman miring penuh pesona kemenangan yang terlihat sangat seksi namun penuh tirani. Pria itu merangkul pinggang ramping Elena begitu erat dan posesif, menariknya merapat sempurna ke dada bidangnya. "Yan, serahkan berkas laporan fitnah terbuka ini ke komite audit internal dewan keluarga. Mulai besok pagi, pembekuan aset warisan utama milik Albert Syailendra dari Swiss resmi ditandatangani oleh saya selaku CEO tertinggi."
Nicholas menggandeng erat telapak tangan Elena yang mungil ke dalam genggaman tangannya yang besar dan hangat, menuntunnya berjalan berbalik meninggalkan Grand Ballroom menembus badai jepretan kamera wartawan yang kini mengelu-elukan nama sang Nyonya Muda. Pertempuran fisik pertama melawan serigala tua dari Swiss berhasil mereka bantai dengan kemenangan mutlak mutlak di tangan aliansi maut mereka.
Namun, ketenangan pasca kemenangan itu mendadak terusik ketika malam semakin larut melintasi jam tiga dini hari. Setelah kembali ke dalam kamar tidur utama paviliun yang sunyi, Elena melepaskan jas Nicholas dari tubuhnya. Tepat saat ia berbalik hendak menuju kamar mandi, rasa mual yang luar biasa hebat mendadak menyerang ulu hatinya secara brutal.
Ugh... hoek!
Elena berlari tergesa-gesa menuju wastafel marmer, memegangi perutnya yang mendadak terasa diremas dengan sangat kejam laksana hantaman gelombang panas. Nicholas yang melihat itu langsung merangsek maju dengan wajah yang berubah pucat pasi karena panik, menangkup tubuh Elena posesif dari belakang. Elena menatap pantulan wajahnya di cermin besar dengan sepasang mata indahnya yang membelalak horor ketakutan—sebuah reaksi biologis nyata yang tidak pernah ada di dalam draf draf draf draf kontrak pernikahan kontrak di atas kertas emas mereka kini telah resmi meledak dari dalam tubuhnya sendiri. Babak baru dari kepunahan total sandiwara kehamilan palsu kini telah resmi mengunci sepasang penguasa takhta dalam sebuah ketegangan maut yang jauh lebih berdarah dan mematikan.