Sinopsis
Selama delapan tahun bertahan hidup di dunia yang telah hancur akibat kiamat zombie, Lily Mahendra berjuang menghadapi kelaparan, monster, dan pengkhianatan. Namun, pada saat ia hampir mencapai harapan terakhirnya, sahabat yang paling ia percayai justru mendorongnya ke tengah gelombang zombie yang mengamuk.
Saat kematian tampak tak terhindarkan, Lily membuka mata dan mendapati dirinya kembali ke masa lalu—tepat satu minggu sebelum kiamat melanda.
Kali ini, ia tidak sendirian. Sebuah Sistem Bertahan Hidup misterius dan Ruang Dimensi yang penuh sumber daya hadir untuk membantunya. Dengan pengetahuan tentang masa depan dan kesempatan kedua yang tak ternilai, Lily bertekad mengubah takdirnya, membalas pengkhianatan yang pernah ia alami, serta melindungi orang-orang yang benar-benar layak dipercaya.
Akankah Lily mampu bertahan dan membangun kehidupan yang lebih baik di tengah kehancuran dunia? Atau akankah takdir kembali menyeretnya menuju akhir yang sama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arju na, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 26 – PINDAH LOKASI
Setelah pertarungan sengit melawan zombie level 3, tubuh Lily akhirnya mencapai batasnya. Begitu zombie itu tumbang, kesadarannya ikut menghilang. Kini ia terbaring lemah di sebuah rumah tua yang sudah lama ditinggalkan. Dindingnya retak, atapnya bocor di beberapa bagian, dan perabotan yang tersisa tampak usang. Meski kumuh, setidaknya tempat itu masih cukup aman untuk dijadikan tempat berlindung sementara.
"Ugh..."
Lenguhan pelan keluar dari bibir Lily. Kelopak matanya perlahan terbuka. Pandangannya masih buram sebelum akhirnya mulai fokus melihat langit-langit rumah yang kusam.
"Honey! Kamu sudah sadar?"
Suara penuh kecemasan langsung menyambutnya.
Mommy Grace yang sejak tadi menjaga di samping tempat tidur segera menggenggam tangan putrinya.
"Apa ada yang sakit? Bilang sama Mommy, bagian mana yang sakit?"
Lily mencoba menjawab, tetapi tenggorokannya terasa kering seperti terbakar.
"A... air..."
Tanpa menunggu lebih lama, Mommy Grace segera berlari keluar ruangan. Tak lama kemudian ia kembali membawa sebotol air yang berhasil mereka selamatkan saat meninggalkan Pangkalan B.
"Pelan-pelan saja minumnya."
Mommy Grace membantu Lily duduk, lalu menyandarkan tubuh putrinya sebelum menyodorkan botol air.
Lily meminum air itu sedikit demi sedikit. Sensasi dinginnya membuat tenggorokannya terasa jauh lebih baik.
Setelah menghabiskan beberapa teguk, Lily mengembuskan napas panjang.
"Di mana yang lainnya? Dan... kenapa kita ada di sini?"
Mendengar pertanyaan itu, wajah Mommy Grace berubah muram.
"Huft... Pangkalan B sudah hancur."
Lily langsung terdiam.
"Sekitar tujuh puluh persen bangunan pangkalan runtuh. Banyak orang meninggal akibat serangan zombie tiga hari yang lalu."
Ekspresi Lily berubah serius.
"Tapi... bagaimana aku bisa selamat dari zombie level tiga itu?"
Mommy Grace menarik napas panjang sebelum mulai bercerita.
"Sebenarnya..."
---
Flashback
"Dad! Tolong Lily! Bagaimana kalau dia terluka lebih parah!"
Mommy Grace menangis histeris sambil berusaha keluar dari rumah.
"Iya, Daddy juga ingin menolong Lily. Tapi kita harus menyusun strategi dulu."
Daddy Mike tetap berusaha tenang meski wajahnya penuh kecemasan. Ia percaya putrinya tidak akan menyerah begitu saja.
Namun, harapan itu langsung terguncang.
BOOM!!
Tubuh Lily terlempar menghantam bangunan pangkalan dengan keras hingga temboknya retak. Darah segar menyembur dari mulut gadis itu.
"LILYYYYY!!"
Mommy Grace menjerit histeris.
Ia hendak berlari keluar, tetapi Daddy Mike segera menahannya.
"Jangan! Terlalu berbahaya! Lily saja kesulitan menghadapinya, apalagi kamu!"
"TAPI ITU ANAKKU!"
Air mata terus mengalir di pipi Mommy Grace.
"DIA TERLUKA DI LUAR, DAN KAMU MASIH BISA TENANG? DI MANA OTAKMU, MIKE?!"
Daddy Mike mengepalkan tangan.
Bukan karena marah, melainkan karena ia juga merasakan rasa sakit yang sama sebagai seorang ayah.
Sebelum sempat menjawab, langkah kaki tiba-tiba terdengar dari arah kamar.
Tok... Tok... Tok...
Semua orang spontan menoleh.
Saat melihat siapa yang keluar, mereka membelalakkan mata.
"L-Luna...?"
Gadis kecil itu berjalan perlahan menuju pintu.
Tatapannya kosong.
Tidak ada ekspresi sedikit pun di wajahnya.
Ia terus melangkah tanpa menghiraukan siapa pun.
"Luna...?"
Lea mencoba memanggil adiknya.
Namun Luna sama sekali tidak merespons.
Sesampainya di depan pintu...
Sreet!
Luna langsung berlari ke arah Lily.
"Tidak! Luna, jangan ke sana!"
teriak Lea panik.
Namun beberapa detik kemudian wajahnya berubah pucat.
"TIDAAAK!! JANGAAAN!!"
Dari tubuh zombie level 3, puluhan sulur hitam melesat cepat menuju Lily yang sedang tak sadarkan diri.
"Kejar Luna!"
Daddy Mike segera memberi perintah.
"Evan! Alex! Athar! Cepat susul dia! Aku dan Damar akan menjaga di sini!"
"Baik!"
Ketiganya langsung berlari keluar.
Saat mereka hampir tiba...
Sulur hitam itu tinggal beberapa meter lagi mengenai tubuh Lily.
Namun tiba-tiba...
Luna mengangkat tangan kanannya.
Tatapan kosongnya tertuju lurus kepada zombie level 3.
Dalam sekejap...
Zombie itu membeku.
Seluruh tubuhnya berhenti bergerak.
Bahkan sulur-sulur hitam yang melayang di udara ikut berhenti seolah waktu telah dihentikan.
Melihat kesempatan emas itu, Athar langsung melapisi katananya dengan elemen kegelapan.
Setelah itu Athar melesat ke arah zombie level 3 itu.
"MATILAH, KAU ZOMBIE KEPARAT!"
SRAAK!!
Dengan satu tebasan bersih, kepala zombie level 3 langsung terpenggal.
Tanpa sempat melawan sedikit pun.
Begitu zombie itu mati...
Luna langsung kehilangan kesadaran.
Tubuh mungilnya roboh ke tanah.
Namun kali ini wajahnya tidak lagi sepucat sebelumnya.
Alex segera mengangkat tubuh Lily ke dalam gendongannya.
Sementara Athar menggendong Luna.
Mereka berdua berlari kembali menuju rumah.
Sesampainya di sana...
Alex segera membaringkan Lily di atas sofa.
"Oh, sayangku... bangunlah..."
Mommy Grace memeluk tubuh putrinya sambil menangis.
"Mommy mohon... bangunlah..."
Daddy Mike kemudian berkata dengan suara berat.
"Dia hanya pingsan karena kelelahan."
Pria itu menatap semua anggota keluarganya.
"Kita tidak bisa tinggal di sini lagi."
"Keadaan sudah tidak memungkinkan."
"Kita harus meninggalkan Pangkalan B sekarang juga."
Tak ada seorang pun yang membantah.
Mereka segera mengemasi barang-barang penting yang masih tersisa.
Beberapa jam kemudian...
Mereka akhirnya tiba di rumah tua yang kini menjadi tempat persembunyian sementara.
---
Flashback Selesai
"Begitulah ceritanya."
Mommy Grace mengakhiri penjelasannya.
Lily terdiam cukup lama.
"Kalau begitu... bagaimana keadaan Luna sekarang?"
"Dia sudah sadar sehari setelah kita meninggalkan pangkalan."
Senyum hangat menghiasi wajah Mommy Grace.
"Dan syukurlah... sekarang Luna kembali seperti anak-anak pada umumnya."
Mendengar itu, Lily akhirnya mengembuskan napas lega.
"Itu kabar baik."
Mommy Grace tersenyum, lalu mencium kening putrinya.
"Kalau begitu Mommy keluar dulu. Kamu istirahat saja."
"Iya, Mom."
Setelah pintu tertutup...
Keheningan kembali memenuhi ruangan.
Tiba-tiba suara yang sangat familiar terdengar di dalam kepala Lily.
DING!!
(Selamat datang kembali, Tuan Rumah.)
(Sistem sengaja membuat Tuan Rumah tertidur selama tiga hari untuk membersihkan virus zombie yang sempat masuk ke dalam tubuh Tuan Rumah.)
(Apabila proses itu tidak dilakukan, kemungkinan besar Tuan Rumah akan berubah menjadi zombie.)
Lily langsung memutar bola matanya.
"Sialan kau, Sistem."
Ia tersenyum kecil.
"Tapi... terima kasih."
"Setidaknya aku bisa istirahat selama tiga hari."
(Sama-sama, Tuan Rumah.)
(Oh iya, apakah Tuan Rumah ingin membuka hadiah misi?)
"Tentu saja."
"Buka semuanya."
DING!!
(Selamat! Tuan Rumah memperoleh sebuah Rumah Sakit lengkap dengan seluruh obat-obatan tanpa batas. Bangunan akan ditempatkan di sudut wilayah Mansion.)
(Selamat! Tuan Rumah memperoleh sebuah Laboratorium lengkap beserta resep pembasmi virus zombie. Bangunan akan ditempatkan di sebelah Rumah Sakit.)
(Selamat! Tuan Rumah memperoleh Pagar Anti-Zombie dan Anti-Niat Jahat setinggi 100 meter yang akan mengelilingi seluruh wilayah Mansion.)
(Selamat! Tuan Rumah memperoleh tiga puluh Paviliun Keluarga yang akan dibangun di samping Mansion.)
(Selamat! Tuan Rumah memperoleh sebuah Minimarket dengan persediaan barang tanpa batas. Bangunan akan ditempatkan di belakang Mansion.)
(Selamat! Tuan Rumah memperoleh 10.000.000 Poin Sistem.)
Mata Lily langsung membulat.
Hadiah kali ini benar-benar di luar dugaannya.
Rumah sakit.
Laboratorium.
Resep pembasmi virus.
Pagar pertahanan.
Paviliun.
Minimarket.
Bahkan sepuluh juta poin sistem.
Semua hadiah itu sangat berharga.
Lily tidak bisa menyembunyikan senyum lebarnya.
"Hampir mati ternyata sepadan juga..."
gumamnya pelan.
Dengan semua fasilitas itu...
Wilayah di gunung kota A bisa berkembang menjadi tempat tinggal yang benar-benar aman bagi manusia.
Lily menatap langit-langit rumah sambil mulai menyusun rencana.
"Sepertinya... sudah waktunya mengajak keluargaku pindah."
"Gunung di Kota A akan menjadi tempat yang sempurna karna semua fasilitas sudah ada di sana "
Di sanalah mereka akan memulai kehidupan baru.