NovelToon NovelToon
Ponsel Dewa Si Reno

Ponsel Dewa Si Reno

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Komedi / Romansa
Popularitas:299
Nilai: 5
Nama Author: Khusus Game

Berbekal ponsel hitam tanpa merek dengan AI yang sangat sarkastis, Reno mendadak menjadi peretas paling dicari oleh komplotan mafia teknologi. Di tengah pelarian yang menegangkan, Reno tidak hanya harus menghindari peluru, tetapi juga harus menahan malu karena asisten digital di ponselnya yang justru sering menjebaknya dalam situasi paling absurd

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12: Pelarian dengan Gravitasi

​Gedoran keras di pintu kamar kos Reno semakin menjadi-jadi seolah engsel besinya akan lepas dalam hitungan detik.

​Reno melompat mundur dengan kepanikan luar biasa, kakinya tersandung sebelah celana jins yang baru setengah ia lepaskan.

​Tubuh kurusnya jatuh terduduk di atas lantai tegel, membuat ponsel hitam di tangannya hampir terlempar jauh membentur lemari.

​"Buka pintunya sekarang juga, atau kami akan menghancurkan kayu busuk ini menjadi serpihan kecil!"

​Suara bariton yang sangat mengancam terdengar dari balik pintu, membawa nada perintah yang sama sekali tidak bisa dibantah oleh siapa pun.

​Reno berusaha berdiri dengan tergesa-gesa, namun pergelangan kakinya masih terjerat kuat oleh lipatan celana jins pudar yang sangat sempit.

​{Aku harus segera keluar dari ruangan sempit ini sebelum mereka benar-benar merobohkan satu-satunya jalan pelarianku yang tersisa.}

​||||

​Ujung sepatu pantofel berbahan kulit keras menendang kenop pintu dengan kekuatan penuh, mematahkan slot grendel tipis itu seketika.

​Daun pintu kayu tersebut terpelanting terbuka secara kasar, membentur dinding kamar dengan suara debuman yang sangat memekakkan telinga.

​Tiga orang pria berbadan sangat kekar dalam balutan jas hitam rapi melangkah masuk, memblokir seluruh akses keluar secara sempurna.

​Reno tidak membuang waktu sedetik pun untuk berpikir, ia langsung melemparkan guling kusamnya tepat ke arah wajah pria terdepan.

​Serangan dadakan yang konyol itu memberikan jeda waktu sepersekian detik bagi Reno untuk menyelip kabur melewati celah tubuh mereka yang besar.

​Ia berlari menyusuri lorong panjang lantai dua apartemen kosan itu, melompat-lompat panik karena celana jinsnya masih tersangkut mengikat pergelangan kaki kanannya.

​"Kejar bajingan tengik itu, jangan sampai dia lolos membawa mesin prototipe berharga jutaan dolar milik Bos besar kita!"

​Suara derap langkah sepatu kulit yang berat langsung menyusul di belakangnya, berpacu cepat membelah keheningan suasana malam yang mencekam.

​Reno mengarahkan tujuannya pada sebuah pintu besi kusam di ujung lorong, sebuah fasilitas elevator barang tua yang jarang digunakan oleh penghuni.

​Tangannya menekan tombol panggil mesin dengan gerakan brutal, berharap mesin berkarat itu berbaik hati membuka pintunya lebih cepat dari biasanya.

​Pintu besi tersebut bergeser terbuka perlahan, memberikan ruang yang cukup bagi Reno untuk segera melompat masuk ke dalam kabin yang kusam.

​||||

​Ketiga pria berjas hitam itu berhasil menyusul langkahnya, menahan pintu elevator yang hendak tertutup menggunakan kedua belah tangan mereka yang berotot.

​Mereka merangsek masuk ke dalam ruang kabin yang sangat sempit, menyudutkan tubuh kurus Reno tepat di pojok ruangan berlapis logam kotor tersebut.

​Pintu elevator akhirnya tertutup rapat, mengurung Reno bersama tiga algojo berwajah sangar yang siap menghajarnya hingga babak belur kapan saja.

​Reno menelan ludah kasarnya berkali-kali, punggungnya menempel erat pada dinding logam elevator tanpa menyisakan celah pelarian fisik sedikit pun.

​"Serahkan ponsel hitam itu secara baik-baik, atau kami akan mematahkan seluruh tulang rusukmu satu per satu di dalam ruangan kecil ini."

​Pria berbadan paling besar mengulurkan telapak tangannya ke depan, memberikan sebuah ancaman verbal yang terdengar sangat menjanjikan rasa sakit fisik.

​Reno menyembunyikan kedua tangannya di belakang punggung, membiarkan jari-jarinya menari cepat di atas permukaan layar sentuh ponsel misterius yang terus aktif.

​"Siri-usly, tolong lakukan sesuatu yang ajaib sekarang juga, atau kau akan segera mendapatkan pemilik baru yang perilakunya jauh lebih kejam dariku."

​Ia menggumamkan kalimat permohonan tersebut dengan suara yang sangat pelan, memastikan hanya sensor mikrofon perangkat canggihnya yang mampu menangkap frekuensi kepanikannya.

​Teks peringatan berwarna biru bergulir kilat di layar ponsel, memberikan sebuah harapan hidup yang sangat tipis di tengah situasi luar biasa mencekam ini.

​||||

​Reno menekan tombol eksekusi virtual tanpa keraguan sedikit pun, membiarkan algoritma dari masa depan itu mengambil alih kendali sistem kelistrikan bangunan.

​Sebuah sentakan mekanis yang luar biasa kasar mendadak mengguncang seluruh ruang kabin elevator, menghentikan laju turunnya secara paksa di pertengahan lantai.

​Ketiga pria berjas hitam itu terhuyung kencang ke depan, kehilangan keseimbangan awal akibat pengereman darurat yang sama sekali tidak wajar bagi sistem manapun.

​Detik berikutnya, mesin penarik kabel elevator di atap gedung bergerak naik turun dengan ritme acak yang sangat ekstrem dan tidak bisa diprediksi.

​Gaya inersia buatan yang dihasilkan oleh pergerakan acak itu berhasil menipu hukum fisika dasar secara sempurna di dalam ruangan tertutup tersebut.

​Tubuh ketiga pria kekar itu mendadak terangkat dari atas lantai logam, melayang tak terkendali seolah mereka sedang berada di ruang angkasa buatan.

​Mereka berteriak panik secara serentak, membenturkan lengan dan kaki besar mereka untuk menggapai ruang kosong demi mencari pegangan keseimbangan.

​Reno sendiri berhasil selamat dari efek melayang yang memualkan tersebut karena ia sudah memeluk sangat erat besi pegangan di sudut kabin sejak awal sabotase.

​"Apa yang terjadi dengan kotak besi rongsokan ini, sistem kendali hidroliknya pasti sudah rusak parah atau diretas dari luar!"

​Salah satu pria berjas hitam membentur bagian atas elevator dengan posisi kepala di bawah, wajah sangarnya kini berubah menjadi sangat pucat pasi menahan mual.

​Reno menatap layar ponselnya sambil tersenyum sangat lebar, melihat secara langsung bagaimana teknologi manipulasi data mampu mengalahkan kekuatan otot yang berlebihan.

​"Sepertinya keberadaan alat canggih ini jauh lebih berguna daripada sekadar mesin pengganggu lampu lalu lintas jalanan kota pada sore hari."

​Ia memuji sistem kecerdasan buatan itu dengan suara bernada lega, merasa sangat bersyukur memiliki asisten digital yang luar biasa sadis namun efektif melindungi nyawanya.

​||||

​Kabin elevator perlahan kembali melaju turun dengan kecepatan normal, sementara efek inersia buatan yang mengacaukan ruangan itu menghilang sepenuhnya dalam sekejap mata.

​Ketiga pria kekar itu jatuh berdebum keras menghantam lantai logam dengan posisi tubuh yang saling menindih satu sama lain dalam tumpukan memalukan.

​Mereka hanya bisa mengerang kesakitan sambil memegangi bagian punggung dan kepala mereka yang membentur dinding baja, tidak mampu lagi berdiri tegak untuk melawan.

​Pintu elevator akhirnya bergeser terbuka membelah bagian tengahnya di lantai dasar, menampilkan lobi apartemen kosan yang kebetulan sedang sepi dari penjagaan malam.

​Reno segera melompati tumpukan tubuh para pengejarnya dengan sangat hati-hati, berlari keluar menuju ruang terbuka menggunakan seluruh sisa tenaga di kakinya.

​Namun, langkah pelariannya langsung terhenti secara mendadak saat sepasang matanya menangkap kehadiran dua pria berjas hitam lain yang sedang berjaga di pintu masuk utama.

​{Kelompok mafia teknologi ini benar-benar tidak main-main, mereka sudah mengepung ketat seluruh perimeter bangunan dari segala titik akses keluar yang memungkinkan.}

​Reno segera memutar arah pelariannya ke koridor sayap kiri, menerobos masuk dengan paksa ke dalam sebuah kamar kosong di lantai dasar yang pintunya kebetulan sedikit terbuka.

​||||

​Ia menendang pintu kamar itu hingga tertutup rapat lalu menguncinya dari dalam, mendengar langkah kaki tambahan mulai berlarian mendekat menyusuri lobi luar.

​Pandangannya langsung bergerak memindai seluruh ruangan, lalu tertuju pada sebuah jendela kaca berukuran sedang yang terbuka separuh ke arah luar.

​Jendela kusam tersebut berbatasan langsung dengan sebuah gang sempit berbatu kerikil yang berada di sisi samping bangunan utama, menawarkan jalur pelarian alternatif yang sempurna.

​Reno melompat naik ke atas ambang jendela dengan gerakan serabutan, berusaha mengeluarkan seluruh bagian tubuhnya secepat mungkin sebelum para pengejarnya berhasil mendobrak masuk.

​Bagian atas tubuh beserta pinggangnya berhasil lolos melewati bingkai kayu jendela, menjorok ke arah luar menyambut jalur pelarian yang bebas hambatan.

​Namun, nasib buruk kembali menyapanya ketika celana jins yang sedari tadi melilit pergelangan kakinya tiba-tiba tersangkut sangat kuat pada engsel besi tua pelindung jendela.

​Gedoran keras kembali terdengar berdentum menghantam pintu kamar dari arah koridor dalam, menandakan bahwa waktu pelariannya hanya tersisa dalam hitungan detik yang krusial.

​"Patahkan saja gagang pintunya, bocah pencuri itu pasti terjebak di dalam ruangan ini dan tidak memiliki jalan keluar logis lagi!"

​Reno menarik kakinya secara paksa dengan kekuatan penuh, namun bahan kain jins tebal itu menolak untuk mengalah pada tarikan keras yang ia berikan.

​Ia benar-benar tidak memiliki pilihan lain yang lebih cerdas selain melepaskan kedua telapak kakinya secara total dari sisa jeratan lubang celana panjangnya.

​Reno membiarkan celana berbahan denim pudar kesayangannya itu tertinggal menyangkut di bingkai jendela sebagai bayaran mahal untuk sebuah tiket kebebasan dari kejaran mafia.

​Tubuhnya meluncur jatuh bebas ke arah bawah, mendarat di atas jalanan aspal berbatu di gang sempit dengan bunyi benturan yang cukup menyakitkan area lutut.

​Reno segera bangkit berdiri mengabaikan rasa perih, membersihkan sisa kotoran dari kedua telapak tangannya sambil memastikan ponsel hitam super canggihnya masih aman tergenggam.

​Sebuah perasaan janggal yang luar biasa mendadak menyelimuti seluruh bagian bawah tubuhnya saat ia mulai memposisikan postur tubuhnya untuk berdiri tegap.

​Pemuda berkemeja kotak itu menundukkan kepalanya secara perlahan, menatap ngeri ke arah kedua kaki kurusnya yang kini sama sekali tidak lagi tertutupi oleh lapisan kain tebal apa pun.

​{Tamatlah sudah sisa-sisa kehormatan diriku pada hari ini, aku benar-benar baru saja melarikan diri ke tengah jalanan kota tanpa menggunakan penutup kaki sama sekali.}

​Reno berdiri mematung di gang sempit tersebut dengan lutut bergetar, menyadari kenyataan pahit bahwa ia kini menjadi buronan berbahaya yang nyaris telanjang bulat.

​Celana boxer pendek bermotif buah stroberi merah yang sangat mencolok itu menjadi satu-satunya benteng terakhir yang menutupi harga diri seorang peretas dadakan paling sial di dunia.

1
M Amir
kurang greget aghhh
Khusus Game: gigit...kurang gereget mah.
total 1 replies
Aisyah Suyuti
good
Dragonovic#
let's gooooo
semoga happy ending thor jangan bad ending im already tired for bad ending
Khusus Game: siappp. Abang first komen, LANGSUNG SAJA, ACC.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!