Demi menyelamatkan perusahaan keluarga dari kebangkrutan dan membiayai pengobatan adiknya yang kritis, Mireya terpaksa menjual kesuciannya. Ia menandatangani kontrak satu tahun untuk menjadi ibu pengganti bagi Calix David—seorang miliarder tampan berusia 35 tahun yang terkenal kejam dan sedingin es.
Pernikahan rahasia digelar, dan Mireya dikurung di mansion mewah dengan aturan ketat. Calix memperingatkannya: "Hubungan kita hanya sebatas rahim dan uang. Jangan pernah jatuh cinta kepadaku."
Namun, kepolosan Mireya perlahan mulai menggoyahkan hati sang Tuan Tsundere. Di tengah intrik konglomerat dan rahasia kelam mansion, akankah Mireya pergi setelah melahirkan sang ahli waris, atau justru berhasil memiliki hati Calix sepenuhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: Kedatangan Calix & Pengusiran Ilana dari Mansion
"Berani-beraninya kamu menyentuh milikku, Ilana!"
Suara bariton yang menggelegar seperti guntur di sore hari itu seketika memutus ketegangan di dalam paviliun. Tubuh Mireya yang limbung ke belakang akibat dorongan kasar dari Ilana tidak sempat menyentuh lantai lantai semen. Sepasang lengan kekar yang sangat familiar bergerak secepat kilat, menangkap pinggang Mireya dan menariknya erat ke dalam dekapan dada bidangnya.
Calix berdiri di sana dengan napas memburu, rahangnya mengatup rapat sempurna dengan urat-urat leher yang menegang. Tatapan matanya yang setajam elang langsung mengunci sosok Ilana dengan aura membunuh yang begitu pekat.
Namun, alih-alih bersandar pasrah mencari perlindungan, Mireya justru bergerak dengan sangat tegas. Ia melepaskan cengkeraman tangan Calix dari pinggangnya secara kasar, melangkah mundur tiga langkah untuk menjaga jarak yang lebar dari sisi suaminya. Wajah Mireya datar, sedingin es, seolah kehadiran Calix tidak memberinya rasa aman sedikit pun.
Ilana yang sempat terkejut melihat kedatangan Calix yang tiba-tiba, langsung merubah raut wajahnya menjadi pias penuh air mata buaya. Ia maju, mencoba menggapai lengan jas Calix.
"Calix! Bagus kamu sudah pulang!" tangis Ilana pecah, menunjuk Mireya dengan wajah penuh kedengkian. "Kamu harus usir wanita desa durhaka ini sekarang juga! Dia... dia sudah keterlaluan, Calix! Dia menghina Kak Zeana! Dia bilang Kak Zeana wanita bodoh yang mati sia-sia dan mengatai aku pengemis yang hanya bisa hidup dari uang belas kasihanmu! Dia tidak punya hati, Calix! Dia sengaja memancing amarahku agar aku memukulnya!"
Ilana terus meluncurkan fitnah-fitnah keji, berharap sumpah masa lalu Calix tentang mendiang kakaknya akan tersulut dan membuat Mireya ditendang keluar dari mansion detik itu juga.
Calix tidak bergerak. Ia bahkan tidak membiarkan ujung baju Ilana menyentuh jasnya. Dengan senyum sinis yang teramat mengerikan, Calix menatap Ilana lekat-lekat.
"Sudah selesai bicaranya, Ilana?" tanya Calix, suaranya teramat rendah, pelan, namun sarat akan ancaman yang mematikan.
Ilana tersentak, air matanya mendadak tertahan. "Ca-Calix? Kamu percaya padaku, kan? Dia menghina Kakakku—"
"Aku melihat semuanya," potong Calix mutlak. Ia merogoh saku celananya, menunjukkan layar ponselnya yang masih menampilkan draf rekaman CCTV real-time paviliun. "Aku melihat dari detik pertama kamu melangkah masuk ke rumah kaca ini, mendengar setiap kalimat busuk yang keluar dari mulutmu, sampai tangan kotormu itu mendorong istriku. Kamu pikir aku bodoh, Ilana?!"
Wajah Ilana seketika berubah pucat pasi, persis seperti mayat. "Calix... aku... aku hanya—"
"Keluar dari mansionku sekarang juga!" bentak Calix, suaranya menggelegar membuat Bi Ani yang baru datang memegang nampan langsung gemetar ketakutan. "Dan dengarkan ini baik-baik agar otak manjamu itu paham. Posisi Mireya di rumah ini... bukannya hanya sebatas kontrak rahim yang bisa kamu komentari seujung kuku pun! Dia adalah istri sahku! Sah secara hukum negara, agama, dan publik! Seluruh keluarga besar David dan kolega bisnisku sudah mengenalnya sebagai Nyonya Besar David!"
Calix maju satu langkah, menekan aura mengintimidasinya tepat di depan wajah Ilana yang gemetar. "Dan untuk Zeana... dia adalah masa laluku yang sudah selesai. Aku menghormati kematiannya, tapi itu tidak memberimu hak untuk bertingkah gila di rumahku. Mulai hari ini, seluruh santunan finansial dan fasilitasmu di Paris resmi aku hentikan. Doni! Seret wanita ini keluar dari gerbang, dan jangan pernah biarkan dia menginjakkan kaki di tanah keluarga David lagi!"
"Calix! Tidak! Kamu tidak bisa melakukan ini padaku! Kak Zeana—!" jerit Ilana histeris saat Doni dan dua pengawal berbadan kekar langsung mencengkeram lengannya, menyeretnya pergi dengan paksa melewati pekarangan paviliun.
Setelah suasana kembali hening, Calix mengembuskan napas panjang, mencoba meredakan emosinya yang membakar dada. Ia menoleh ke arah Mireya, mengira gadis itu akan menunjukkan sedikit rasa tersentuh, terima kasih, atau setidaknya kelegaan karena dirinya telah dibela secara mutlak dan dipilih di depan masa lalunya.
Namun, dugaannya meleset total. Mireya tetap berdiri di tempatnya dengan posisi mendekap kedua tangannya di dada. Sepasang mata bulatnya menatap Calix dengan pandangan yang teramat hampa, dingin, dan seperti tidak peduli sama sekali dengan semua drama pengusiran yang baru saja terjadi.
Mireya membalikkan badannya tanpa suara, berjalan menuju kanvas lukisnya, mengambil kain penutup, lalu menutup lukisan wajah Calix itu dengan rapat.
"Mireya," panggil Calix, langkahnya mendekat, mencoba meraih tangan istrinya. "Kamu... tidak apa-apa? Bajingan kecil itu tidak melukaimu, kan?"
Mireya menarik tangannya sebelum Calix sempat menyentuhnya. "Aku tidak apa-apa, Tuan Calix. Terima kasih atas draf pembelaan hukum publiknya yang luar biasa tadi. Permisi, aku mau kembali ke kamar."
Tanpa menunggu balasan, Mireya berjalan melewati Calix begitu saja dengan langkah yang tenang namun berjarak. Sikap dingin yang kembali pekat itu membuat hati Calix mendadak terasa dihantam rasa sakit yang teramat perih. Pria itu terpaku di tempatnya selama beberapa detik, sebelum matanya tidak sengaja menangkap sudut kanvas yang sedikit terbuka.
Calix menyibak kain penutup itu. Dan jantungnya berdesir hebat saat melihat lukisan dirinya sendiri yang sedang memegang mangkuk bakso dipenuhi detail guratan warna yang teramat indah dan penuh perhatian.
"Dia... melukisku?" gumam Calix, rasa tidak rela kehilangan binar mata Mireya membuatnya langsung berbalik dan mengejar langkah istrinya yang sudah menaiki anak tangga menuju kamar utama.
"Mireya! Tunggu! Kita belum selesai bicara!" teriak Calix sembari membuka pintu kamar dengan kasar.
Mireya yang sedang mengganti kardigannya menoleh pelan, wajahnya tampak lelah. "Tuan Calix, tolong keluar. Aku minta waktu untuk sendiri dulu sore ini. Pikiranku sedang penuh."
Kata-kata 'minta waktu untuk sendiri' adalah hal yang paling dibenci dan ditakuti Calix saat ini, karena itu berarti Mireya akan mengunci jiwanya rapat-rapat di dalam sangkar dingin yang tidak bisa ia jangkau. Namun, mengingat peringatan Dokter Januar tentang risiko stres tinggi pada rahim Mireya, Calix terpaksa menahan egonya. Ia takut jika ia memaksa, fisik Mireya akan kembali tumbang seperti di desa kemarin.
Calix mengatupkan rahangnya rapat-rapat, menatap Mireya dengan pandangan frustrasi yang mendalam. "Satu jam, Mireya. Hanya satu jam. Setelah itu kamu harus turun untuk makan malam denganku." Calix berbalik dan membanting pintu kamar dari luar.
Ketegangan dan kedinginan mansion mewah itu kini mulai terasa kembali secara nyata, bahkan jauh lebih mencekam dari hari-hari sebelumnya. Hubungan yang sempat menghangat di warung bakso pinggir jalan kemarin sore, kini kembali membeku menjadi seonggok es batu akibat bayang-bayang masa lalu yang di bawa Ilana.
Saat makan malam tiba, suasana di meja makan panjang terasa seperti kuburan. Calix berkali-kali mencoba membuka obrolan, membuang gengsi-nya demi mencairkan suasana.
"Mireya, sup iga ini bagus untuk tensi darahmu. Makanlah yang banyak," ucap Calix, meletakkan sepotong daging ke piring Mireya.
Mireya hanya mengangguk samar tanpa suara, lalu menyuapnya pelan.
"Mireya, besok perlengkapan sulam sutra yang baru akan dikirim ke paviliun. Kamu bisa menggunakannya bersama Bi Ani," ucap Calix lagi, matanya menatap penuh harap.
Lagi-lagi, Mireya hanya memberikan anggukan kepala yang kaku tanpa mengeluarkan sepatah kata pun dari bibir manisnya. Segala pertanyaan dan perhatian yang dilontarkan Calix malam itu hanya diterima dengan keheningan dan gerakan tubuh yang berjarak, menegaskan bahwa jiwa Mireya kini telah kembali mengunci diri di balik tembok kepasrahan kontrak rahim yang teramat dingin, meninggalkan Calix dalam siksaan rasa bersalah dan penyesalan yang kian merajam dadanya.
semangat terus ya Thor...