"Seribu tahun lalu, aku adalah puncak dari segala ilmu pedang. Kini, aku hanyalah sampah yang dihina oleh keluargaku sendiri."
Ling Chen adalah seorang pemuda dari keluarga cabang yang lemah dan tidak memiliki bakat dalam kultivasi pedang. Di dunia di mana kekuatan pedang adalah segalanya, ia menjadi bulan-bulanan, dikhianati oleh tunangannya, dan hampir tewas di tangan saudara sepupunya sendiri.
Namun, di ambang kematian, segel kuno di dalam jiwanya hancur. Ingatan sebagai Kaisar Pedang Surgawi, penguasa semesta yang pernah ditakuti oleh para dewa dan iblis, bangkit kembali. Dengan teknik "Sembilan Tebasan Langit" yang telah lama hilang dan pedang karatan yang ia temukan di gudang tua, Ling Chen memulai langkahnya untuk menagih hutang darah.
Satu per satu genius yang sombong akan ia tebas. Kerajaan yang dulu mengkhianatinya akan berlutut di bawah kakinya. Langit mungkin melupakannya, tapi dunia akan segera tahu bahwa sang penguasa telah kembali untuk merebut tahtanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hajdhts, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tebasan yang Membelah Bayangan
Ruangan Paviliun Seribu Mata yang hancur berantakan itu kini dipenuhi bau mesiu dan anyir darah yang kental.
Debu dari langit-langit gua yang runtuh masih melayang-layang di udara, membuat cahaya dari lampion ungu di sudut ruangan tampak remang-remang.
Pemimpin Pasukan Penjaga Bayangan melangkah mundur satu tapak, tangannya yang menggenggam sepasang belati panjang mulai terasa basah oleh keringat dingin.
Di balik topeng besi hitamnya, matanya menatap tidak percaya pada tiga mayat anak buahnya yang tergeletak pasrah di atas lantai batu.
Mereka semua adalah kultivator Alam Fondasi tahap akhir yang dilatih dengan keras di dalam kegelapan istana, namun nyawa mereka melayang begitu saja seperti rumput liar yang ditebas di pinggir jalan.
"Anak haram Klan Sembilan Langit, jangan harap kau bisa keluar dari Pasar Bayangan dalam keadaan hidup," raung sang pemimpin, mencoba mengusir rasa ngeri yang mulai menggerogoti nyalinya.
Aura hitam dari Alam Inti Emas miliknya meledak keluar dengan hebat, membuat retakan-retakan baru bermunculan di dinding gua. Sepasang belatinya bergetar hebat, memancarkan suara lengkingan tipis yang memekakkan telinga fana.
Ling Chen hanya berdiri dengan tenang di tengah pusaran angin energi musuh, jubah compang-campingnya berkibar perlahan, sementara ujung pedang hitamnya tetap menunjuk lurus ke bawah tanpa bergetar sedikit pun.
Baginya, tekanan energi dari seorang kultivator Alam Inti Emas fana ini tidak lebih dari sekadar hembusan angin sepoi-sepoi di sore hari.
"Banyak bicara hanya menunjukkan betapa lemahnya jiwamu," ucap Ling Chen datar.
Syuuuts!
Tanpa aba-aba, tubuh pemimpin berbaju zirah hitam itu menghilang dari pandangan mata telanjang.
Sebagai seorang pembunuh bayaran tingkat tinggi, ia menguasai Teknik Gerak Langkah Bayangan Hantu, sebuah kemampuan yang membuatnya bisa menyatu dengan kegelapan dan menyerang dari sudut yang paling tidak terduga.
Mu Rong'er yang berada di sudut ruangan menahan napasnya dengan rapat, matanya bergerak panik ke segala arah namun ia sama sekali tidak bisa menangkap bayangan musuh.
"Tuan Muda Ling, di belakangmu!" teriaknya spontan saat merasakan ada hawa dingin yang menusuk dari arah belakang punggung pemuda itu.
Di atas kepala Mu Rong'er, Kuro mengeluarkan suara "Kyuu!" bernada rendah, namun makhluk itu tidak bergerak dari posisinya karena ia tahu betul bahwa tuannya tidak membutuhkan bantuan sedikit pun untuk menghadapi lalat seperti ini.
Tepat di belakang leher Ling Chen, sepasang belati hitam beracun muncul entah dari mana, meluncur dengan kecepatan gila yang siap memisahkan kepala Ling Chen dari bahunya.
Sang pemimpin pembunuh sudah tersenyum puas di balik topengnya, yakin bahwa serangannya yang sempurna ini tidak akan bisa ditangkis oleh pemuda di depannya.
Namun, senyuman itu tidak bertahan lama.
TING!
Sebuah suara dentingan logam yang sangat nyaring bergema di dalam gua, menciptakan gelombang kejut kecil yang menerbangkan sisa-sisa reruntuhan batu.
Pemimpin pembunuh itu membelalakkan matanya dengan horor saat melihat Ling Chen bahkan tidak berbalik badan, melainkan hanya mengangkat bilah pedang hitamnya ke belakang punggung untuk menahan kedua ujung belatinya dengan akurasi yang luar biasa.
"Bagaimana mungkin... kau bisa membaca gerakanku?" bisik sang pemimpin dengan suara bergetar.
"Gerakanmu terlalu lambat, bahkan siput di kolam duniaku jauh lebih cepat dari ini," jawab Ling Chen dingin.
Dengan satu sentakan pergelangan tangan, Ling Chen memutar tubuhnya dan memberikan tendangan lurus yang dialiri oleh kekuatan Tulang Dewa tepat ke arah dada sang pemimpin.
BUM!
Baju zirah besi hitam yang tebal itu langsung melesak ke dalam, hancur membentuk cetakan kaki Ling Chen. Tubuh pemimpin Alam Inti Emas itu terlempar hebat ke belakang, menabrak pilar kayu hitam Paviliun Seribu Mata hingga patah menjadi dua, sebelum akhirnya jatuh bergulingan di atas tumpukan batu dengan mulut yang menyemburkan darah segar.
Sisa prajurit berzirah hitam yang masih berdiri di ruangan itu seketika membeku, keberanian mereka runtuh total melihat pemimpin mereka yang paling kuat ditumbangkan hanya dengan satu serangan fisik sederhana tanpa menggunakan teknik kultivasi apa pun.
Bibi Han yang menyembunyikan dirinya di balik sisa dinding yang utuh hanya bisa menatap Ling Chen dengan tubuh yang gemetar hebat, ia menyadari bahwa pemuda ini bukan lagi sekadar naga tersembunyi, melainkan sesosok monster purba yang terlahir kembali di dunia fana ini.
Ling Chen melangkah maju mendekati sang pemimpin yang sedang berusaha merangkak bangun dengan napas yang tersengal-sengal, setiap ketukan langkah sepatu Ling Chen di atas lantai batu terdengar seperti lonceng kematian bagi siapa pun yang mendengarnya.
"Katakan padaku, siapa di istana Ibukota yang mengirimmu ke sini?" tanya Ling Chen, ujung pedangnya kini menempel di tenggorokan sang pemimpin, sedingin es utara yang tak pernah mencair.
Pemimpin pembunuh itu mendongak, menatap mata biru safir Ling Chen yang penuh dengan otoritas mutlak seorang penguasa sejati, ia tahu ia tidak memiliki peluang untuk selamat hari ini.
"Kau... kau tidak akan pernah bisa melawan mereka... Pangeran Agung telah bersekutu dengan sekte Benua Tengah... kau dan gadis itu pasti akan mati..." ujarnya sambil tertawa gila dengan sisa darah yang mengalir dari sela giginya.
SLASH!
Ling Chen tidak membiarkan pria itu menyelesaikan tawa gilanya, dengan satu gerakan kilat yang bersih, pedang hitamnya menyayat leher sang pemimpin hingga tewas seketika tanpa sempat mengeluarkan suara teriakan lagi.
Ruangan itu kembali hening, menyisakan hawa dingin dan sisa-sisa energi yang perlahan memudar ke udara. Ling Chen menyarungkan kembali pedang hitamnya dengan tenang, lalu berbalik menatap Mu Rong'er yang masih terduduk lemas dengan wajah yang pucat pasi.
"Berdiri, badai yang sesungguhnya di Ibukota ini sudah mulai bergerak, kita tidak punya waktu untuk bersantai di tempat sekotor ini," ucap Ling Chen, suaranya kembali datar seolah pembantaian yang baru saja ia lakukan tidak lebih dari sekadar membersihkan debu di jubahnya.
Mu Rong'er menelan ludahnya dengan susah payah, ia segera berdiri dengan bertumpu pada dinding, sementara Kuro melompat kembali ke dalam dekapan hangatnya sambil mendengkur halus seolah meminta pujian.
Bibi Han melangkah keluar dari tempat persembunyiannya dengan sikap yang sangat membungkuk, ia tidak berani lagi menatap langsung ke arah mata Ling Chen karena takut menyinggung sang ahli misterius ini.
"Tuan Muda Ling... jalan keluar rahasia di balik bangunan ini terhubung langsung dengan distrik bagian dalam Ibukota, saya sarankan Anda segera pergi lewat sana sebelum pasukan utama istana mengepung seluruh Pasar Bayangan ini."
Ling Chen melirik Bibi Han sekilas, lalu mengambil kembali Giok Jiwa Sembilan Langit yang tergeletak di atas lantai batu dan memasukkannya ke dalam balik jubahnya. "Kau cerdas, wanita tua, jaga mulutmu tentang apa yang terjadi hari ini jika kau masih ingin melihat matahari besok pagi."
"Tentu saja, Tuan Muda, saya tidak tahu apa-apa dan tidak melihat apa pun hari ini," jawab Bibi Han dengan kepala yang semakin merunduk dalam.
Ling Chen kemudian memberi isyarat kepada Mu Rong'er untuk mengikutinya berjalan menuju pintu rahasia di balik reruntuhan paviliun, melangkah mantap menembus kegelapan lorong bawah tanah yang akan membawa mereka langsung ke jantung konflik Kekaisaran Utara yang penuh dengan intrik berdarah.