NovelToon NovelToon
Simpul Mati Amora Gayana

Simpul Mati Amora Gayana

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Balas Dendam
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Salma.Z

"Kau hanya beban yang menghancurkan reputasiku, Amora!"

Kalimat itu menghujam jantung Amora lebih dalam daripada fitnah sedarah yang sedang mengepung mereka. Hamdan Tarkan—pria yang dulu berjanji melindunginya dengan gelang rumput sederhana—kini berubah menjadi dinding es yang tak tertembus.

Dipaksa tinggal di dalam penjara emas Mansion Tarkan, Amora harus menghadapi skandal yang menyebut dirinya adalah saudara tiri pria yang ia cintai. Di tengah intrik kasta tertinggi dan kemunculan musuh dari masa lalu, Amora menyadari satu hal: Hamdan menyembunyikan kebenaran yang jauh lebih gelap.

Apakah Hamdan benar-benar ingin melindunginya, atau Amora hanyalah kunci untuk menguasai aset terakhir Dinasti Klan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Salma.Z, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18: Cemburu Buta

Pagi itu, sinar matahari yang menerobos celah gorden kamar Amora terasa seperti ejekan. Dengan jemari yang masih sedikit gemetar, ia memulas bibirnya dengan warna merah yang berani—warna menyala. Ia memilih gaun sutra berwarna kuning kenari yang kontras dengan suasana hatinya yang kelabu. Amora tidak lagi ingin menjadi mawar yang layu karena diabaikan; ia akan menjadi api yang membakar ketenangan Hamdan Tarkan.

Di lantai bawah, sebuah sedan mewah berwarna perak sudah menunggu di depan gerbang. Farr Burhan turun dari mobil dengan senyum yang terlalu lebar, nampak sangat puas dengan "kemenangan" kecilnya pagi ini.

Di balkon lantai dua, Hamdan berdiri diam seperti patung perunggu. Tangannya yang masih terbalut perban tipis mencengkeram pagar besi dengan kekuatan yang sanggup meremukkan logam. Matanya yang merah karena terjaga semalaman menatap tajam ke arah Amora yang kini melangkah keluar dari pintu utama.

"Kau terlihat sangat bercahaya pagi ini, Amora," sapa Farr sambil membukakan pintu mobil dengan gerakan teatrikal.

Amora sengaja berhenti sejenak. Ia mendongak, menatap langsung ke arah balkon di mana Hamdan berdiri. Ia ingin pria itu melihatnya. Ia ingin pria itu merasakan bagaimana rasanya melihat miliknya direbut di depan mata.

"Dunia terlalu indah untuk dihabiskan dengan meratapi dinding es, Farr. Mari kita pergi," ucap Amora cukup keras agar suaranya terbawa angin hingga ke lantai atas.

Begitu mobil itu melesat pergi, Hamdan menghantam pagar balkon dengan tinjunya. "Farid! Siapkan mobil. Jangan ada pengawal yang terlihat mencolok. Aku sendiri yang akan mengikutinya!"

Museum Nasional – Pukul 11.00 Pagi

Galeri seni itu cukup ramai, namun Amora sama sekali tidak fokus pada lukisan-lukisan klasik di depannya. Pikirannya melayang, namun instingnya tajam. Di antara kerumunan pengunjung, ia menyadari kehadiran seorang pria bertubuh tegap yang mengenakan jaket hoodie gelap dan topi baseball. Pria itu selalu menjaga jarak lima meter darinya, berpura-pura mengamati patung kuno, namun pandangannya tidak pernah lepas dari Amora.

Kau memang tidak pernah bisa membiarkanku, bukan, Abang? batin Amora getir.

Farr Burhan menyadari ketidakhadiran pikiran Amora. Untuk memancing reaksi, Farr perlahan melingkarkan tangannya di pinggang Amora, menariknya mendekat untuk melihat sebuah diorama perhiasan emas. "Lihat kalung ini, Amora. Ini sangat cocok dengan leher jenjangmu. Aku ingin memesankan yang serupa untukmu dari Istanbul."

Amora merasakan dorongan untuk menghindar, namun ia melihat "pria bertopi" di sudut matanya menegang. Kepalan tangan pria itu di balik saku jaket terlihat bergetar hebat. Amora justru semakin menyandarkan tubuhnya pada Farr, membiarkan kepala mereka berdekatan seolah sedang berbisik mesra.

"Kau tahu, Farr... mungkin kau benar. Terkadang kita perlu mencari kehangatan di tempat lain saat rumah kita sendiri terasa membeku," ucap Amora sengaja.

Farr tersenyum licik. Ia mendekatkan wajahnya ke telinga Amora, posisi yang dari sudut pandang mana pun terlihat seperti mereka sedang berbagi ciuman intim. "Hamdan tidak akan pernah membiarkanmu bebas, tapi aku bisa memberimu dunia, Mawar kecil."

Melihat pemandangan itu, kawat kendali di kepala Hamdan putus sepenuhnya. Persetan dengan strategi, persetan dengan keselamatan reputasi, dan persetan dengan rencananya untuk menjauh. Cemburu yang membakar selama semalam kini meledak menjadi lava yang tak terbendung.

Hamdan melangkah maju, membelah kerumunan pengunjung dengan aura yang begitu mengancam hingga orang-orang secara refleks memberi jalan. Ia merenggut topi dan kacamata hitamnya, memperlihatkan wajahnya yang liar dan penuh luka.

"Lepaskan... tanganmu... darinya, Farr Burhan!" suara Hamdan menggelegar di dalam galeri yang sunyi, bergema dengan nada maut yang membuat bulu kuduk semua orang berdiri.

Amora tersentak, jantungnya berpacu cepat. Misinya berhasil. Ia telah memancing sang singa keluar dari sarangnya, namun ia tidak menyadari bahwa singa yang sedang terluka dan cemburu adalah makhluk paling berbahaya yang pernah ia hadapi.

-----------------

Suasana galeri yang tadinya dipenuhi gumam rendah para pengunjung seketika membeku. Farr Burhan melepaskan rangkulannya dari pinggang Amora, namun ia tetap berdiri tegak dengan senyum provokatif yang masih tersisa di sudut bibirnya.

"Hamdan Tarkan," ujar Farr dengan nada meremehkan. "Kukira kau terlalu sibuk mengurus skandalmu hingga tak punya waktu untuk berkunjung ke museum. Tapi lihatlah dirimu... kau tampak seperti pria yang baru saja kehilangan akal sehatnya."

Hamdan tidak memedulikan ejekan Farr. Matanya yang merah dan liar terkunci sepenuhnya pada Amora. Ia melangkah maju, memperpendek jarak hingga ia berdiri tepat di hadapan gadis itu. Napas Hamdan memburu, bau tembakau dan aroma maskulin yang tajam terpancar dari tubuhnya, bercampur dengan aura kemarahan yang pekat.

"Pulang," ucap Hamdan. Hanya satu kata, namun keluar dengan nada yang sangat rendah dan bergetar karena emosi yang tertahan di tenggorokan.

Amora mencoba menunjukkan keberaniannya. Ia mendongak, menatap mata Hamdan tanpa berkedip meskipun jantungnya berdegup kencang hingga terasa sakit. "Pulang? Untuk apa? Agar aku bisa kembali menjadi 'beban' di rumahmu? Agar aku bisa diabaikan lagi seperti pajangan tak berarti?"

"Amora, jangan menguji kesabaranku di sini," desis Hamdan. Ia mencengkeram pergelangan tangan Amora—tidak keras, namun sangat posesif.

Farr melangkah maju, mencoba menengahi. "Dia bukan milikmu, Hamdan. Dia bilang dia bosan dengan kebohonganmu—"

Sebelum Farr sempat menyelesaikan kalimatnya, Hamdan berbalik dan mencengkeram kerah kemeja Farr dengan tangan kirinya yang masih berbalut perban berdarah. "Satu kata lagi keluar dari mulutmu, dan aku pastikan perjamuanmu berikutnya adalah di ruang unit gawat darurat. Pergi, sebelum aku benar-benar kehilangan kendali!"

Keberingasan Hamdan membuat Farr tertegun sejenak. Di sisi lain, para petugas keamanan museum mulai mendekat karena keributan tersebut. Amora melihat kilatan kamera dari ponsel beberapa pengunjung yang mulai mengenali wajah Hamdan Tarkan.

"Abang, lepaskan dia! Kau mempermalukan dirimu sendiri!" teriak Amora sambil mencoba menarik tangan Hamdan.

Hamdan melepaskan Farr dengan sentakan kasar yang membuat pria Turki itu terhuyung menabrak etalase kaca. Tanpa membuang waktu lagi, Hamdan menarik Amora keluar dari galeri. Ia tidak peduli pada bisikan orang-orang atau pandangan menghakimi para pengunjung. Yang ada di pikirannya hanyalah satu: Amora tidak boleh sedetik pun lagi berada di dekat pria lain.

Ia menyeret Amora menuju mobil SUV hitamnya yang terparkir sembarangan di depan lobi museum. Begitu sampai di samping mobil, Hamdan membuka pintu penumpang depan dan praktis memaksa Amora masuk ke dalam.

"Masuk!" perintahnya mutlak.

Amora masuk dengan perasaan marah yang meluap-luap. Begitu pintu tertutup, Hamdan segera mengitari mobil dan duduk di kursi pengemudi. Ia mengunci semua pintu secara otomatis dengan suara klik yang tajam, seolah mengunci Amora di dalam dunianya yang gelap.

Hamdan mencengkeram setir mobil begitu kuat hingga buku jarinya memutih, sementara napasnya masih menderu seperti badai. Di dalam ruang kabin yang sempit itu, ketegangan terasa begitu nyata hingga Amora bisa merasakannya di setiap pori-porinya.

"Kau gila, Hamdan! Kau benar-benar gila!" teriak Amora sambil memukul dashboard mobil.

Hamdan tidak menjawab. Ia menginjak pedal gas dengan dalam, membuat ban mobil berdecit keras saat ia melesat meninggalkan area museum, memulai sebuah perjalanan pulang yang akan menjadi titik balik dari semua kepura-puraan mereka selama ini.

 To be continued...

1
Wawan
Salam kenal buat Amora 😍
Yu
Semangat!
Yu
Luarbiasa
Rabi Salim
Semangat author nulisnya!!!!
Iki Riat
Lanjut kak. Semangat nulisnya!!
Tisa
Asyiknya... 🤩🤩
Naura
Hamdan 😍
Andy Rajasa
kelanjutannya mana?
Salma.Z: ditunggu aja kak
total 1 replies
Guntur
Cinta yang posesif
Reni
Semangat kak!! lanjutkan ceritanya...
Nayla
Berdebar-debar saat membaca. Cerita yang menggebu-gebu.
Hana Unil
Next...lanjut
Hana Unil
Hmmm...
Hana Unil
Lanjut kak..lanjut🙏
Rara Lani
Ceritanya bagus hanya saja masih sedikit peminatnya. Tetap semangat author. Lanjutkan!
Salma.Z: Terima kasih
total 1 replies
Sari
Semangat!! Lanjutkan!
Ika Yani
Cinta yang dramatis...
Cantika
Alurnya bikin gemes🤭
Andy Rajasa
Amora dan Hamdan punya chemistry yang bisa buat diriku meleleh 😍
udin sini
Cintanya mewah, tapi lukanya lebih mahal. Semoga saja happy ending.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!