NovelToon NovelToon
Bayang Koridor Di Utara

Bayang Koridor Di Utara

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Romantis
Popularitas:854
Nilai: 5
Nama Author: nana_2

Saat pindah ke SMA Arkana, sekolah tua yang terkenal karena rumor siswa hilang dan lorong terkutuk, seorang gadis dingin bernama Naresha justru tertarik membongkar rahasia itu. Di tengah penyelidikannya, ia terjebak hubungan rumit dengan Arven — ketua OSIS yang tenang, tampan, namun menyimpan sesuatu yang menyeramkan.

Semakin dekat mereka, semakin banyak kejadian aneh terjadi. Bisikan di kamar mandi kosong, bayangan tanpa wajah, hingga siswa yang menghilang satu per satu.

Dan ternyata… sekolah itu memang menyimpan sesuatu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nana_2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6 — Buku Hitam

Hari itu berjalan lebih lambat dari biasanya.

Setelah kejadian di toilet timur, Naresha hampir tidak bisa fokus mengikuti pelajaran. Suara guru yang menjelaskan materi hanya terdengar samar di telinganya.

Pikirannya masih dipenuhi sosok perempuan berambut basah itu.

“Kenapa… kamu datang…”

Kalimat itu terus terngiang di kepalanya.

Naresha menopang dagu sambil menatap kosong ke arah papan tulis. Tangannya memainkan pulpen dengan gelisah.

“Sha.”

Tidak ada respon.

“Sha.”

Masih diam.

Keinan akhirnya melempar penghapus kecil ke kepala Naresha.

Pluk.

“Astaga,” protes Naresha sambil menoleh kesal.

“Dari tadi lo ngelamun mulu.”

Naresha menghela napas pelan.

“Capek aja.”

Keinan menyipitkan mata curiga.

“Karena kejadian di toilet tadi?”

Deg.

Naresha langsung menatapnya.

“Lo kenapa tahu?”

“Ya jelas tahu. Wajah lo kayak habis lihat setan.”

Sunyi beberapa detik.

Dan itu membuat Naresha sadar…

Memang itulah yang terjadi.

Ia benar-benar melihat sesuatu.

Bukan bayangan.

Bukan halusinasi.

Melainkan sosok yang jelas-jelas tidak normal.

Bel istirahat berbunyi nyaring.

Sebagian siswa langsung keluar kelas menuju kantin.

Namun Naresha tetap duduk diam di bangkunya.

Ia membuka tas lalu mengeluarkan buku hitam kecil miliknya.

Buku itu sudah lama ia pakai untuk menulis apa pun yang mengganggu pikirannya.

Perlahan ia membuka halaman kosong.

Lalu mulai menulis.

Lorong lantai tiga. Suara perempuan menangis. Perempuan rambut panjang. Toilet timur. Air hitam. “Kenapa kamu datang?”

Tangannya berhenti.

Naresha menatap tulisan itu cukup lama.

Semakin ditulis, semuanya justru terasa semakin nyata.

“Lo suka nulis?”

Suara rendah tiba-tiba terdengar dari sampingnya.

Naresha langsung menutup buku itu cepat-cepat.

Arven berdiri di dekat mejanya sambil menatap buku hitam tersebut.

“Ngapain ngagetin orang sih?” kesal Naresha.

Arven menarik kursi di depannya lalu duduk santai.

“Lo lihat lagi ya?”

Naresha terdiam.

“Lihat apa?”

“Jangan pura-pura.”

Tatapan Arven terlalu tenang.

Seolah ia sudah tahu semuanya.

Naresha akhirnya menghela napas pelan.

“Di toilet timur.”

Ekspresi Arven langsung berubah serius.

“Dia ngomong sesuatu?”

Naresha mengernyit.

“Kok lo tahu dia ngomong?”

Sunyi.

Arven menatap lurus ke arah jendela kelas sebelum akhirnya menjawab pelan.

“Karena biasanya dia cuma muncul ke orang tertentu.”

Deg.

Entah kenapa dada Naresha terasa tidak nyaman mendengar itu.

“Maksud lo?”

Arven menunduk sebentar.

“Semakin sering lo lihat mereka… berarti mereka mulai sadar sama keberadaan lo.”

“‘Mereka’ lagi,” gumam Naresha pelan.

Arven menyandarkan tubuhnya ke kursi.

“Lo masih nganggep gue gila?”

Naresha langsung memalingkan wajah.

“Sedikit.”

Arven terkekeh kecil.

Dan jujur saja…

Suara tawanya terdengar lebih hangat dibanding ekspresi dinginnya.

Untuk beberapa detik suasana menjadi aneh.

Tidak canggung.

Tapi juga tidak nyaman.

Naresha buru-buru mengalihkan pembicaraan.

“Sebenernya cewek itu siapa?”

Arven langsung diam.

Tatapannya berubah lebih gelap.

“Seseorang yang belum bisa pergi.”

Jawaban itu justru membuat Naresha semakin penasaran.

Namun sebelum ia sempat bertanya lagi, Selena masuk ke kelas bersama dua temannya.

Begitu melihat Arven duduk di depan Naresha, ekspresi cewek itu langsung berubah.

“Arven, dicari Pak Damar.”

Arven berdiri pelan.

“Oke.”

Namun sebelum pergi, Selena melirik Naresha tajam.

Tatapan yang jelas-jelas tidak suka.

Naresha membalas tatapan itu santai tanpa takut sedikit pun.

Selena justru terlihat makin kesal sebelum akhirnya pergi bersama Arven.

Keinan yang sejak tadi memperhatikan langsung duduk di sebelah Naresha.

“Gila.”

“Apa?”

“Lo sadar ga sih? Selena itu suka banget sama Arven.”

“Terus?”

“Dan sekarang Arven malah deket sama lo.”

Naresha mendecakkan lidah.

“Ga deket juga.”

Keinan menatapnya tidak percaya.

“Dia literally duduk berdua sama lo di kelas kosong.”

Naresha terdiam.

Kalau dipikir-pikir…

Benar juga.

Arven yang katanya dingin dan tidak peduli siapa pun justru beberapa kali menghampirinya lebih dulu.

Dan itu membuat Naresha semakin bingung.

Sore harinya sekolah mulai sepi.

Langit kembali mendung.

Naresha duduk sendirian di taman belakang sekolah sambil membuka buku hitamnya lagi.

Angin dingin berembus pelan.

Daun-daun pohon berguguran di sekitar bangku tempatnya duduk.

Ia kembali membaca catatan yang tadi ditulis.

Semakin lama…

Semuanya terasa semakin menyeramkan.

“Kenapa kamu datang…”

Naresha menggigit bibir bawahnya pelan.

“Sebenernya lo mau apa sih…”

Tiba-tiba—

Bruk.

Seseorang duduk di sampingnya.

Arven lagi.

“Lo jangan ngagetin mulu bisa ga sih?” protes Naresha.

Arven menatap lurus ke depan.

“Jangan sendirian kalau udah sore.”

“Kenapa?”

Arven tidak langsung menjawab.

Cowok itu justru menatap jam tangannya.

17.52

Ekspresinya langsung berubah tegang.

“Sha.”

“Hm?”

“Kita harus masuk sekarang.”

“Hah?”

Belum sempat Naresha bertanya lagi…

Suara lonceng tua tiba-tiba terdengar menggema di seluruh sekolah.

TONGGGGG…

Dan untuk pertama kalinya…

Naresha melihat wajah Arven benar-benar panik.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!