Empat tahun lalu, Aelira S. Valenzia gadis unik, misterius terjerat oleh Ravian Kael Davino veyron, pewaris tunggal keluarga veyron , yang mengidap penyakit haphephobia. Suatu hari, Davino pergi ke sekolah karena suatu hal penting, dimana Aelira tidak sengaja terjatuh, dan menangkap tangan Davino, atau yang orang sebut Ravian. Ia tidak menyangka hal tersebut menjadi awal mula hidup tidak sebebas dulu lagi. Penasaran? yuk baca!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rapuh
Lampu lokasi syuting menyorot wajah Ravian dengan tajam. Matanya kosong. Tubuhnya pucat, peluh membasahi pelipis. Pandangannya kabur.
“Cut! Istirahat dulu!” teriak asisten sutradara.
Miko—manajernya—segera menghampiri. Wajahnya cemas.
“Van, udah cukup buat hari ini. Lo kelihatan banget kalau sakit. Mending pulang.”
Ravian mengangguk lemah. Dia memijit kepalanya yang berdenyut. Perut keroncongan. Dia belum makan sejak pagi karena jadwal syuting yang padat. Belum lagi tekanan dari CEO soal image-nya yang mulai dipertanyakan publik.
Citra—lawan mainnya di series—menghampiri dengan senyum manis.
“Kamu keliatan capek banget, Van? Kenapa?” Tangannya hendak menyentuh lengan Ravian.
Ravian hendak menepis—seperti biasa.
Tapi aneh.
Saat jemari Citra menyentuh lengannya, Ravian langsung membeku. Wajahnya yang tadinya pucat mendadak memerah. Seluruh tubuhnya terasa panas—bukan karena demam, tapi karena sesuatu yang lain.
Nggak mungkin, batin Ravian panik. Gue nggak akan—
“Mas Ravian?” Citra mendelik heran melihat Ravian yang tiba-tiba diam dan wajahnya merah padam. “Kamu kenapa?”
“Jangan sentuh gue!” Ravian menepis kasar—tapi tangannya bergetar.
Miko yang melihat dari jauh langsung menyipit. Dia tahu betul kondisi Ravian. Pria itu segera menghampiri.
“Citra, maaf. Ravian sedang kurang sehat. Sebaiknya kamu jaga jarak dulu.”
Citra menggerutu pelan, lalu pergi.
Miko meraih ponsel—menekan nomor cepat.
“Halo? Aelira, kamu di rumah? Cepat ke sini. Ravian lagi... kambuh.”
---
Beberapa saat kemudian...
Mobil Ravian berhenti di depan rumah. Aelira yang sudah menunggu di teras langsung berlari menghampiri.
“Ravian!”
Ravian keluar dari mobil dengan wajah pucat—tapi begitu melihat Aelira, sesuatu di matanya berubah. Lega? Atau marah?
“Kamu ngapain di sini?” bentaknya tiba-tiba.
Aelira terkejut. “Aku—Miko yang nelpon—“
“Gue nggak butuh lo!” Ravian memotong. Matanya merah karena demam dan emosi yang tak stabil. “Pergi! Gue bisa sendiri.”
Hasan membuka pintu dan melirik cemas. “Mas, Mbak Aelira cuma mau bantu—“
“DIEM!” Ravian membentak Hasan.
Aelira menggigit bibir. Dia tahu Ravian seperti ini kalau stres. Apalagi ditambah lapar dan demam, emosinya bisa meledak kapan saja.
“Gan...” Aelira menghampiri pelan.
“Jangan panggil gue ‘Gan’!” Ravian menepis tangan Aelira yang hendak meraihnya. “Lo pikir gue butuh lo? Lo pikir gue nggak bisa—“
Tubuhnya oleng. Ravian nyaris jatuh.
Aelira refleks menahannya. “Ravian, please...”
Ravian terdiam. Tubuhnya gemetar. Matanya yang sedetik lalu penuh amarah kini berkaca-kaca.
“Gue lapar...” bisiknya lirih. “Dan pusing. Dan lo... lo di sini.”
Aelira menggenggam tangannya. “Iya, aku di sini.”
Ravian tidak menjawab. Dia hanya membiarkan Aelira menopang tubuhnya yang lemas. Seteguk napas berat keluar dari mulutnya—seperti singa yang akhirnya menyerah pada pelukannya.
---
Yumna—maksudku Aelira—dengan susah payah menopang tubuh lemas Ravian ke dalam kamar.
Bruk!
Dia membaringkan cowok itu di atas kasur besar berwarna hitam abu.
Ravian mengerang pelan. Keningnya berkeringat. Pipinya merona merah—antara demam dan sesuatu yang tidak ingin dia akui.
Aelira menunduk, melepas sepatu Ravian perlahan. Meletakkannya ke samping, lalu mengambil selimut dan menariknya ke atas tubuh Ravian.
Dia mengambil handuk kecil dan mangkuk air.
Suhu tubuh Ravian menyengat. Jelas demam tinggi.
“Kamu kenapa sih bisa sampai sakit?” Aelira mengelap wajahnya pelan, mengganti kompres di dahi, dan terus mengecek suhu tubuhnya dengan punggung tangan.
Ravian hanya diam. Matanya menyipit—memandang Aelira dengan tatapan yang sulit diartikan.
“Mami...” Ravian mulai bergumam dalam tidurnya. Terdengar gelisah.
Aelira menelan saliva tercekat. Kebiasaan Ravian saat sakit—pasti memanggil ibunya. Wanita yang pergi ketika Ravian masih kecil. Wanita yang membuat Ravian tumbuh dengan luka yang tak pernah benar-benar sembuh.
“Aku ambilin obat, ya?”
Dia hendak pergi—namun tangannya diraih oleh tangan panas milik Ravian.
“Ravian...?”
“Jangan pergi...” lirihnya.
Aelira menahan napas. “Iya.”
Dia duduk di lantai dingin—menggenggam tangan Ravian yang panas.
Tapi Ravian menariknya. “Naik! Jangan di bawah!”
Aelira patuh dan naik ke atas kasur. Membaringkan diri di samping cowok itu dengan hati-hati.
Ravian langsung merengkuhnya—seperti anak kecil yang takut kehilangan mainan kesayangannya.
“Li, jangan diem aja. Peluk gue!” pinta Ravian—suaranya parau tapi nadanya memerintah.
Aelira dengan kaku mulai memeluk tubuh panas itu erat. Hangatnya membakar kulitnya—tapi dia tak melepaskan.
“Pusing, hm?” tanyanya pelan.
Ravian mengangguk kecil—ndusel di dadanya. “Elusin! Kepala gue sakit...” katanya parau.
Aelira mengangkat tangan satunya—mengusap pelan rambut Ravian. “Gini?”
Ravian justru menggeliat kecil. Bahunya naik turun seiring napas berat. Lalu tanpa peringatan, ia menaruh kepalanya mendekat—menempel ke dada Aelira—seperti anak kecil yang mencari kehangatan.
“Maaf...” bisiknya. “Gue marah-marah tadi. Gue lapar. Belum makan. Dan lo... lo bikin gue lemes.”
Aelira mengerjap. “Aku bikin kamu lemes?”
“Iya.” Ravian menggigit bibir—malu. “Pas Citra nyentuh gue tadi, gue panik. Gue kira efeknya udah hilang. Tapi ternyata nggak. Cuma lo... cuma lo yang bisa.”
Aelira tersenyum kecil. Efek dari terapi yang dulu Ravian jalani setelah ibunya pergi—tubuhnya alergi terhadap sentuhan wanita asing. Kecuali Aelira.
“Jangan tinggalin gue!” suaranya serak dan berat.
“Ya.” Aelira menunduk menatapnya. “Aku nggak kemana-mana, Van.”
Ravian membuka kelopak matanya yang berat.
“Maaf...” katanya lirih. “Tadi gue bentak lo.”
Aelira tetap diam. Tangannya terus membelai rambut Ravian.
“Gue belum bisa ngilangin trauma itu. Soal Mama. Soal ditinggal. Maafin gue!”
Aelira mengangguk—matanya memerah. “Iya.”
Pada akhirnya, selalu begitu.
Ravian akan memakinya habis-habisan, lalu meminta maaf dengan cara yang paling menyedihkan. Dan Aelira, sekeras apa pun hatinya ingin marah, akan selalu luluh—melihat sisi rapuh Ravian yang hanya ditunjukkan padanya.
“Di sini aja, ya?” bisik Ravian—matanya mulai berat.
“Iya, aku di sini. Tidur lagi, ya...”
Tapi Ravian belum selesai.
“Na...”
Aelira menunduk, membelai rambutnya. “Kenapa, Van?”
Ravian diam sejenak. Matanya menatap Aelira dengan sorot yang sulit diartikan—antara rasa bersalah, rasa malu, dan rasa takut.
“Cium dikit! Biar tenang.”
Aelira mengerjap pelan. Sebenarnya bisa saja dia menolak. Tapi Ravian sedang demam tinggi—dan cowok itu akan ngambek jika tidak dituruti.
Dengan canggung dia memajukan wajahnya dan mencium pipi Ravian lembut.
CUP!
“Udah.” Aelira menarik wajahnya—gugup.
Ravian menghela napas. “Satu lagi.”
“Ravian!”
“Gue sakit.” Ravian menatapnya dengan mata sayu—gabungan antara kelakian dan keimutan yang sangat tidak adil. “Please.”
Aelira mengalah. Sekali lagi dia mencium pipi Ravian.
CUP!
“Selesai,” katanya tegas.
Ravian tersenyum kecil—lelah. “Hm, udah.” Dia mengangguk dan memejamkan mata lagi.
Tapi kali ini benar-benar tenang.
Aelira masih memeluknya. Ravian meraih telapak tangan Aelira dan menaruhnya di pipinya. Hangat. Lembut. Manja.
“Sekarang peluk lagi! Biar gue bisa tidur.” Nada suaranya keras, tapi terdengar lelah dan nyaris mengiba.
“Iya, sini. Aku peluk lagi.” Aelira mendekapnya erat dan menaruh pipinya di puncak kepala Ravian. “Tidur!”
Mata Ravian mulai terpejam—walau sesekali ndusel kecil di dada Aelira, mencuri kehangatan.
“Li...”
“Kenapa, Van?”
“Makasih... belum pergi.”
Aelira tidak menjawab. Dia hanya memeluk Ravian lebih erat.
Dan di dalam demam dan rasa sakit itu, setidaknya ada satu hal yang membuat Ravian tenang: Aelira ada di sana. Tidak pergi. Dan tetap menjadi rumah tempatnya pulang.
Meskipun Ravian sering marah. Meskipun dia kasar. Meskipun dia kadang lupa berterima kasih—atau bahkan pura-pura lupa.
Aelira akan selalu memaafkannya.
Bukan karena merasa bersalah.
Tapi karena dia memilih untuk tinggal.
Bukan untuk memperbaiki Ravian.
Tapi untuk berjalan di sampingnya—dengan segala kekacauan yang Ravian bawa.
Karena cinta tidak selalu tentang ketenangan.
Kadang, cinta adalah tentang memeluk badai—dan tetap bertahan.
“Fragmen ini… menarik.” Suara itu tidak datang dari satu arah. Ia ada di antara kata-kata yang ditulis, dan yang sengaja tidak ditulis.
“Kau tidak menulis dunia. Kau… sedang mencoba menciptakannya.”
“Ada bagian yang masih kau batasi. Bukan karena tidak mampu… tapi karena kau belum siap melihat bentuk akhirnya.”
Cahaya muncul. Bukan lima titik kecil, melainkan lima penanda, seperti sesuatu yang telah ditentukan jauh sebelum penilaian ini terjadi.
★ ★ ★ ★ ★
“Ini bukan penilaian.”
“Ini pengakuan… bahwa kau telah melangkah cukup jauh untuk dilihat.”
“Lanjutkan! Tidak semua yang melangkah sejauh ini… diizinkan untuk berhenti.”
—Astraeus, The Seven Pillar Titan