NovelToon NovelToon
SANDIWARA ISTRI YANG TERBUANG

SANDIWARA ISTRI YANG TERBUANG

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Wahidah88

"Sabar itu ada batasnya, Laras. Dan batasmu adalah kematianmu sendiri," bisik Dimas tepat di telingaku, saat tangannya dengan lembut mengusap kepalaku yang tertutup hijab.
Di depan semua orang, Dimas adalah suami saleh dan pengacara terpandang yang setia menjaga istrinya yang lumpuh. Namun, di balik pintu kamar, ia adalah iblis yang meracuniku setiap hari. Ia menghancurkan tubuhku demi membalas dendam masa lalu dan menguasai harta warisan orang tuaku untuk wanita lain.
Aku terjebak dalam tubuh yang tak bisa bergerak. Namun, di atas kursi roda ini, aku bersujud dalam hati. Aku berhenti meminum racun itu dan mulai berpura-pura lumpuh. Di saat Dimas merasa telah menang, ia tidak tahu bahwa aku mengawasi setiap langkah busuknya.
Aku memang istri yang kau buang, Dimas. Tapi ingatlah, doa orang yang terzalimi tidak akan pernah terhalang oleh langit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sang Penjaga dari Masa Lalu

​Udara di dalam kafe itu beraroma kopi panggang dan kayu manis, sangat kontras dengan ketegangan yang baru saja kualami di lantai 12 apartemen tadi. Aku duduk di hadapan pria itu, jemariku masih terasa dingin meski matahari pagi sudah mulai meninggi.

​Pria itu—Zaidan—masih sama seperti yang kuingat lima tahun lalu. Alisnya yang tebal, sorot mata yang tenang namun tajam, dan cara dia melipat koran dengan rapi. Dia adalah senior yang dulu sangat kukagumi di jurusan sejarah, sosok yang menghilang begitu saja tepat setelah kelulusannya, meninggalkan banyak pertanyaan di kepalaku.

​"Zaidan... bagaimana bisa kau ada di sini?" bisikku, nyaris tak terdengar. "Dan semua pesan itu... itu darimu?"

​Zaidan tidak langsung menjawab. Ia memberi isyarat pada pelayan untuk mengantarkan segelas teh camomile hangat untukku. "Minumlah, Laras. Kau butuh sesuatu untuk menenangkan sarafmu. Kau baru saja menghadapi badai yang bisa menghancurkan siapa pun."

​Aku menyesap teh itu sedikit. Rasa hangatnya mulai menjalar, membuat otot-otot bahuku yang kaku sedikit rileks. "Kau belum menjawab pertanyaanku, Zai."

​"Aku kembali ke kota ini tiga bulan lalu karena sebuah tugas penelitian siber," Zaidan memulai, suaranya rendah dan stabil. "Namamu muncul dalam radar investigasiku secara tidak sengaja. Saat itu, aku melihat ada pergerakan aneh pada aliran dana perusahaan almarhum ayahmu. Seseorang sedang mencoba mencairkan aset-aset lama yang seharusnya terkunci rapat."

​Aku tersentak. "Maksudmu... Dimas?"

​Zaidan menggeleng tipis. "Dimas hanya pemain kecil, Laras. Dia hanyalah seorang pengacara oportunis yang haus akan status. Dia memang jahat, tapi dia tidak cukup pintar untuk menembus enkripsi keamanan aset keluargamu sendirian. Seseorang membukakan pintunya, memberinya 'umpan' berupa Maya, dan menyuplai obat saraf yang kau minum itu."

​Dadaku sesak. Selama ini aku mengira musuhku hanya suami yang tak setia dan sahabat yang khianat. Ternyata, ada bayangan yang lebih besar di balik mereka.

​"Siapa?" tanyaku, suaraku bergetar.

​Zaidan menggeser sebuah map cokelat kecil ke arahku. "Lihatlah ini. Tapi aku mohon, tetaplah tenang. Ini adalah alasan mengapa almarhum ayahmu sangat protektif terhadapmu sebelum beliau wafat."

​Aku membuka map itu dengan tangan gemetar. Di dalamnya ada beberapa foto dokumen lama dan satu foto pria paruh baya yang tampak sangat terhormat.

​"Paman Ardi?" gumamku tak percaya. "Dia... dia adalah sahabat karib Ayah. Dia yang membantuku mengurus pemakaman Ayah dan Ibu dulu."

​"Ardiantoro adalah orang yang paling menginginkan tanah di bawah rumahmu itu, Laras," jelas Zaidan. "Rumah peninggalan orang tuamu itu berdiri di atas titik yang sangat strategis untuk proyek kawasan bisnis baru. Ayahmu menolak menjualnya sampai akhir hayatnya karena itu adalah rumah bersejarah keluarga. Ardi merasa terhambat, maka dia mengirimkan 'serigala' untuk menghancurkanmu dari dalam."

​Aku menutup mulut dengan tangan. Jadi, Dimas diperkenalkan padaku bukan karena kebetulan. Pernikahan kami, keromantisan yang dia tunjukkan, semuanya adalah bagian dari rencana besar Ardi untuk melumpuhkanku secara hukum dan fisik agar rumah itu bisa jatuh ke tangannya.

​"Jadi Maya... Maya juga bagian dari rencana Ardi?"

​"Maya adalah keponakan jauh Ardi. Dia dikirim untuk memastikan Dimas tetap pada jalurnya," Zaidan menatapku dengan penuh simpati. "Maafkan aku karena baru muncul sekarang. Aku butuh bukti yang kuat sebelum menarikmu keluar dari lubang itu."

​Aku menunduk, menatap pantulan diriku di dalam air teh. Aku merasa sangat bodoh. Aku menulis puluhan bab tentang konflik dan intrik dalam novelku, namun aku tidak bisa melihat intrik yang nyata di depan mataku sendiri.

​"Lalu, apa rencanamu selanjutnya, Laras?" tanya Zaidan. "Dimas dan Maya sudah tertangkap, tapi Ardi masih bebas. Dia akan segera tahu bahwa rencananya gagal dan kau sudah bisa berjalan kembali."

​Aku terdiam cukup lama, membiarkan informasi ini meresap ke dalam jiwaku. Rasa takut itu perlahan-lahan menguap, digantikan oleh bara api yang baru. Jika mereka ingin bermain di panggung yang lebih besar, maka aku akan memberikan mereka pertunjukan yang tak akan pernah mereka lupakan.

​"Aku tidak akan lari, Zaidan," ucapku tegas, mataku kini menatapnya dengan penuh keyakinan. "Ardi berpikir dia bisa mengendalikan segalanya karena dia merasa punya kekuasaan. Tapi dia lupa, aku adalah pemilik sah rumah itu. Dan sekarang, aku punya kau."

​Zaidan tersenyum tipis, kali ini senyumannya terlihat sedikit lebih hangat. "Aku akan membantumu, Laras. Bukan hanya karena hutang budi pada ayahmu yang dulu sering membantuku saat kuliah, tapi karena aku ingin melihat keadilan tegak."

​"Hutang budi?" tanyaku bingung.

​"Ayahmu yang membiayai penelitian akhirku dulu, Laras. Tanpa bantuannya, aku tidak akan menjadi ahli IT seperti sekarang. Dia pernah berpesan padaku, 'Jika suatu saat putriku dalam bahaya dan aku sudah tidak ada, tolong jadilah pelindungnya'. Dan hari ini, aku memenuhi janji itu."

​Air mata mulai menggenang di mataku. Ayah... bahkan setelah beliau pergi, cinta dan perlindungannya masih terasa sampai sekarang. Beliau sudah menyiapkan "benteng" untukku, seolah sudah tahu bahwa dunia ini tidak seaman yang kupikirkan.

​"Terima kasih, Zaidan," isakku pelan.

​"Jangan menangis sekarang. Kita punya banyak pekerjaan. Ardi pasti akan mengirim pengacara terbaik untuk membebaskan Dimas dengan dalih 'kurang bukti' atau 'kesalahan administrasi'. Kita harus memperkuat tuduhan percobaan pembunuhan itu."

​Zaidan mengeluarkan sebuah flashdisk kecil. "Di dalam sini ada data percakapan Ardi dan Dimas yang berhasil kuretret. Kita tidak bisa langsung menyerahkannya ke polisi karena cara perolehannya ilegal, tapi kita bisa menggunakannya sebagai gertakan atau mencari bukti fisik lain yang sah."

​"Apa yang harus kulakukan pertama kali?" tanyaku.

​"Kembalilah ke rumahmu. Bersikaplah seolah kau masih sangat terpukul. Jangan biarkan siapa pun tahu bahwa kau sudah bertemu denganku atau bahwa kau tahu tentang keterlibatan Ardi. Kita butuh dia untuk melakukan satu kesalahan lagi."

​Aku mengangguk paham. Sandiwara bab kedua ini akan jauh lebih berbahaya. Aku tidak lagi menghadapi musuh yang emosional seperti Dimas, melainkan musuh yang licik dan berpengaruh seperti Ardi.

​"Zaidan... kenapa kau menghilang dulu?" tanyaku sebelum beranjak.

​Zaidan terdiam sejenak, menatap ke luar jendela kafe yang mulai ramai. "Karena saat itu, aku belum cukup kuat untuk melindungimu, Laras. Tapi sekarang... semuanya sudah berbeda."

​Kalimat itu menggantung di udara, memberikan getaran aneh di hatiku yang baru saja terluka. Aku berdiri, merapikan gamis biru tuaku, dan bersiap kembali ke medan perang. Rumah peninggalan orang tuaku bukan sekadar bangunan, itu adalah benteng kehormatan yang akan kupertahankan dengan nyawaku.

​Saat aku melangkah keluar kafe, aku tidak tahu bahwa di seberang jalan, di dalam sebuah mobil hitam dengan kaca gelap, sepasang mata sedang mengawasiku dengan penuh kebencian.

​"Kau pikir kau sudah menang, Larasati?" gumam suara di dalam mobil tersebut. "Permainan ini bahkan belum sampai pada babak yang paling berdarah."

1
Anonim
PADAHAL KAU BISA MENJALIN KONTRAK DENGAN IBLIS DIAVLO LARAS
kozci
PENASARAN BANGET
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!