NovelToon NovelToon
Sisi Misterius Salsa

Sisi Misterius Salsa

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Cinta Seiring Waktu / Penyelamat
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Anastasia

"Menikahlah dengan cucu keluarga Wijaya, setelah kakek meninggal. "
"Menikah!, sekarang? "ucap Salsa terkejut.
Salsa tidak percaya dengan ucapan kakeknya yang terbaring lemah di rumah sakit, tiba-tiba saja dia harus menikah dengan cucu temannya yang seorang polisi bernama Rian.
karena itu wasiat kakeknya yang sudah membesarkan dirinya setelah kedua orang tuanya meninggal, dirinya pun pergi ke kota membawa alamat, surat wasiat yang akan diberikan oleh keluarga Wijaya dan cincin pertunangan mereka.
Tapi Salsa menutupi identitas aslinya yang bisa melihat arwah, karena Rian orang yang sensitif jika menyangkut masalah seperti itu.
Tapi kemampuan special Salsa itu bisa membantu Rian memecahkan beberapa kasus yang sulit untuk di pecahkan.
bagaimana cerita pernikahan mereka yang banyak sekali perbedaan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 17.Hubungan yang baru.

Matahari pagi sudah tinggi menyinari kamar yang nyaman itu. Salsa perlahan membuka matanya, merasakan hangatnya selimut yang menutupi tubuhnya. Ia menguap lebar, meregangkan tangan dan kakinya, masih merasa sedikit linglung karena tidurnya semalam sangat nyenyak, jauh lebih nyenyak daripada tidur di rumah tua kakeknya.

"Pagi..." gumamnya pelan.

Saat ia duduk di tepi ranjang, pandangannya langsung tertuju ke meja kecil di samping tempat tidur. Di sana, sudah tersusun rapi sebuah nampan berisi sarapan pagi yang terlihat sangat lezat—roti bakar hangat, telur orak-arik, segelas susu hangat, dan sepotong buah.

Dan tepat di samping piring makan, ada secarik kertas memo berwarna putih dengan tulisan tangan yang tegak, rapi, dan tegas. Salsa segera mengambilnya dan membacanya pelan.

"Salsa,

Aku harus berangkat lebih pagi karena ada tugas mendadak. Aku tidak bisa mengantarmu. Makanlah dulu sebelum berangkat. Semua berkas dan surat-surat yang dibutuhkan untuk Catatan Sipil sudah aku siapkan di amplop cokelat itu. Jangan hilangkan.

Kita bertemu langsung di sana jam 10 pagi.

— Rian"

Salsa menurunkan tangan yang memegang memo itu, lalu menghela napas panjang. Dadanya terasa sedikit sesak, tapi ia berusaha menepis perasaan kecewa itu.

"Iya... Kak Rian kan polisi. Pasti sibuk dan tugasnya penting," bisiknya pada diri sendiri, mencoba memaklumi keadaan. "Tidak apa-apa, Salsa bisa pergi sendiri kok."

Ia melihat ke arah amplop cokelat tebal yang berisi fotokopi KTP, dan dokumen lainnya. Semuanya sudah disiapkan dengan sangat rapi. Ternyata pria itu, meski terlihat dingin dan cuek, ternyata sangat teliti.

Salsa pun menyantap sarapan yang disiapkan Rian dengan lahap. Makanan itu terasa hangat di perut, memberinya sedikit kekuatan untuk menghadapi hari yang paling besar dalam hidupnya.

Hari ini... ia akan menikah.

Salsa menatap pantulan dirinya di cermin besar di dinding kamar. Ia masih sangat muda, wajahnya masih terlihat polos dan kekanak-kanakan. Seharusnya di usianya ini ia masih bermain, masih bersekolah, dan dimanja oleh orang tua. Tapi takdir berkata lain. Kedua orang tuanya sudah tiada, kakeknya pun baru saja meninggal. Ia tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini selain... Keluarga Wijaya dan syarat untuk masuk kedalam keluarga tersebut adalah menikah dengan Rian.

"Kakek... Salsa akan menuruti permintaan Kakek," bisik Salsa sambil memegang kalung kecil di lehernya. "Salsa akan menikah dengan Kak Rian. Siapa tahu dengan begini, Salsa tidak sendirian lagi."

Dengan tekad bulat, Salsa mulai bersiap. Ia mengenakan gaun sederhana berwarna putih bersih yang sudah ia siapkan dari desa. Gaun itu sederhana, tapi sangat rapi dan membuatnya terlihat sangat cantik, polos, dan memancarkan aura suci. Ia menyisir rambut panjangnya, membiarkannya tergerai dengan pita kecil di kepala.

Selesai berpakaian, Salsa mengambil tas kecilnya, memasukkan amplop berisi dokumen penting itu, dan berjalan keluar rumah. Ia memanggil taksi sesuai instruksi yang tertulis di catatan kecil lain yang ditinggalkan Rian.

"Pak, ke Kantor Catatan Sipil kota ya," ucap Salsa sopan pada sopir taksi.

Sementara itu, di sudut kota yang lain.

Rian tidak sedang bersantai. Sejak pukul enam pagi, ia dan Bobby sudah berkendara keliling kota, memburu buronan yang mereka cari: Andi, cucu Nenek Susi.

"Ian, info terakhir bilang dia terlihat masuk ke kawasan pasar loak ini. Dia pasti sembunyi di tempat teman judi-nya," kata Bobby sambil memegang setir dengan kencang.

Rian duduk di kursi penumpang, wajahnya serius, matanya terus mengawasi setiap sudut jalan. Namun, tangannya sesekali mengambil ponselnya, mengecek pesan masuk.

Ding!

Dari: Salsa

"Kak Rian, Salsa sudah siap nih. Mau berangkat sekarang ya."

Ding!

Dari: Salsa

"Kak, Salsa sudah di jalan nih. Pak supirnya baik kok."

Ding!

Dari: Salsa

"Kak Rian sibuk ya? Semangat kerjanya ya! "

Setiap kali notifikasi itu muncul, sudut bibir Rian sedikit terangkat, tapi ia tidak sempat membalas. Ia tahu gadis itu pasti gugup sendirian. Tapi ia harus menyelesaikan tugas ini dulu. Ia tidak bisa membiarkan Andi berkeliaran bebas setelah apa yang ia lakukan pada neneknya sendiri.

"Di sana! Itu Andi!!" teriak Bobby menunjuk seorang pemuda yang sedang berlari lintas alam di antara deretan toko.

"Kau jangan lari!" bentak Rian.

Tanpa menunggu mobil berhenti sempurna, Rian melompat turun.

Terjadi kejar-kejaran yang seru dan menegangkan. Andi berlari secepat kilat, memanjat pagar, menyusuri gang sempit. Tapi Rian adalah atlet dan perwira polisi yang fisiknya sangat prima. Ia mengejar tanpa henti, napasnya teratur, matanya tajam mengunci target.

Akhirnya, di sebuah jalan buntu yang dindingnya tinggi, Andi terjepit.

"Jangan mendekat! Aku tidak bersalah!" teriak Andi panik.

"Kau sudah menyiksa nenekmu sendiri, kau pikir kau bisa lari?" Rian berjalan mendekat perlahan, aura mengintimidasinya keluar.

Saat Andi mencoba menyerang dengan pisau lipat, Rian dengan sigap menangkis, lalu satu gerakan bela diri cepat membuat Andi terpelanting dan meringkuk kesakitan. Dalam hitungan detik, borgol sudah terpasang di pergelangan tangan pemuda itu.

"Dasar tidak tahu terima kasih," umpat Rian kesal.

Bobby baru saja tiba terengah-engah.

"Wuih... cepet amat lo nangkepnya, Ian! Gila!" puji Bobby sambil memegangi lututnya yang lelah.

Rian berdiri tegak, matanya melirik jam tangan.

Pukul 09.30!

Jantungnya berdegup kencang. Waktu hampir habis!

"By, tangani ini! Bawa dia ke kantor, serahkan ke tim! Aku ada urusan sangat penting sekarang!" perintah Rian cepat, sambil melepaskan rompi tactical-nya dan melemparkannya ke dalam mobil.

"Hah? Urusan apa? Kan kita mau interogasi?" tanya Bobby bingung.

"Nanti aku jelaskan! Aku tidak mau dia menunggu lebih lama!" seru Rian. Ia tidak peduli lagi dengan penampilan seragamnya yang sedikit berantakan karena kejar-kejaran.

"Eh tunggu Ian! Mau ke mana lo?!" teriak Bobby saat melihat Rian berlari menuju sebuah mobil Jeep hitam gagah yang diparkir tidak jauh.

"KE CATATAN SIPIL! AKU MAU NIKAH!!" teriak Rian keras sebelum masuk ke dalam mobil dan menutup pintu.

BROMMMM!!!

Mesin Jeep menderu kencang. Rian menginjak gas sekuat tenaga, membelah jalanan kota dengan kecepatan tinggi.

Bobby berdiri mematung di tengah jalan, mulutnya menganga lebar.

"Gila... beneran serius..." gumam Bobby, lalu tiba-tiba tersenyum lebar. "Hahaha! Akhirnya lo ketangkap juga sama cinta, Ian!"

Di Kantor Catatan Sipil.

Salsa sudah duduk menunggu di bangku koridor sejak tadi. Ia duduk dengan sopan, tangan saling bertaut di pangkuan, wajahnya terlihat tenang namun matanya terus melirik ke arah pintu masuk.

Sudah jam 09.45. Rian belum datang.

"Kak Rian di mana ya...?" gumamnya cemas. "Jangan-jangan batal... atau jangan-jangan Kakak tidak mau menikah denganku..."

Perasaan tidak enak mulai menghantui pikiran gadis muda itu. Ia sadar dirinya hanyalah gadis desa, tidak cantik seperti wanita kota, tidak kaya, dan tidak punya apa-apa. Berbeda dengan Rian yang gagah, berpendidikan tinggi, dan dihormati banyak orang.

Tiba-tiba...

BROMMM!!! BROMMM!!!

Suara deruman mesin mobil yang sangat keras terdengar dari luar halaman kantor. Semua orang yang ada di sana kaget dan menoleh ke luar.

Sebuah Jeep hitam tangguh berhenti mendadak tepat di depan pintu masuk. Debu sedikit berterbangan.

Pintu mobil terbuka lebar. Keluarlah seorang pria tampan dengan seragam polisi lengkap, meski rambutnya sedikit berantakan dan keringat masih menetes di pelipisnya, tapi penampilannya tetap sangat gagah dan memancarkan wibawa yang luar biasa.

Itu Rian!

Rian turun dengan langkah lebar dan cepat. Ia menyambar topi petnya, membetulkan letak dasi, lalu berjalan masuk dengan wajah serius namun matanya langsung mencari-cari.

"Salsa!" panggilnya keras.

Salsa yang melihat itu langsung berdiri, matanya berbinar-binar. "Kak Rian!"

Rian berjalan mendekat, lalu berhenti tepat di hadapan gadis itu. Ia terengah-engah sedikit, tapi menatap Salsa dengan tatapan lembut.

"Maaf... aku terlambat?" tanya Rian pelan.

Salsa menggeleng cepat, matanya mulai berkaca-kaca karena haru. "Enggak kok Kak... pas banget."

Rian tersenyum tipis, lalu mengulurkan tangannya. "Ayo. Kita masuk. Jangan bikin petugasnya menunggu."

Salsa menerima tangan Rian. Tangan pria itu besar, hangat, dan sangat kokoh. Saat tangan mereka bersentuhan dan bergandengan, Salsa merasa seolah semua keraguan dan ketakutannya hilang seketika.

Mereka berdua berjalan berdampingan menuju ruang catatan pernikahan. Dua insan yang berbeda latar belakang, dipertemukan oleh takdir dan wasiat, kini siap mengikat janji suci di hadapan hukum dan Tuhan.

1
💝F&N💝
lanjut.
up nya tiap hari doooooooo😅🙏
💝F&N💝
ini kapan up lagi
paijo londo
thor mampir kyaknya seru nih🤭🤭
💝F&N💝
up lagi
💝F&N💝
good👍👍👍👍👍 aku suka alurnya.
bagus banget
bisa dinikmati
lanjut 👍👍👍👍👍
Sahabat Oleng
aku mampir thor 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!