⚠️ Harap mengatur emosi selama membaca ⚠️
"JANGAN PIKIR KARENA AKU LEMAH, AKU BAKALAN DIAM YA, MAS!"
10 tahun menikah, Hanum tidak pernah merasakan arti keluarga yang "Sakinah, Mawadah, Warahmah" seperti yang pernah diucapkan saat ijab kabul pernikahannya dulu.
Puncaknya, gara-gara kelakuan bejat suaminya itu, dia harus menanggung derita yang lebih berat dibandingkan sebelumnya.
"VANYA... KAU BOLEH SAJA MEREBUT SUAMI KU. AKU BERIKAN DIA, TAPI KAN KU REBUT SELURUH HIDUP KALIAN BERDUA!" — Hanum Arsyila Putri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Motjaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31. Kabar Duka dari Bukittinggi
"U okay, Hanum?"
"Alhamdulillah, Mas. Aku ngerasa lebih baik setelah ketemu sama Aisha tadi. Makasih ya, Mas," Hanum mengguratkan senyumnya.
"Suaminya Aisha itu teman Mas. Dia seorang ustadz dan masjid yang baru kita kunjungi tadi itu adalah wakafnya sendiri," Devan menjelaskan.
"Wah.., iya ya? Hebat banget kalau gitu. Udah investasi istana di surga duluan," kata Hanum terkagum-kagum.
"Tapi, Mas. Aku rasa udah lebih baikan loh sekarang, gak terlalu pusing lagi."
Devan tersenyum. "Syukurlah kalau begitu. Inget, untuk ke depannya kamu masih belum boleh kerja dulu. Mas pastiin kamu benar-benar pulih," ucapnya mengingatkan.
Perempuan itu mengangguk. "Iya aku paham, Mas. Tapi.., rasanya masih canggung tentang panggilan "Mas" itu..," Hanum tersipu malu sendiri.
"Kamu coba biasakan dari sekarang ya, Hanum. Mas janji buat kamu selalu tersenyum, menjadi teman setia kamu untuk sepanjang hayat Mas," Devan tampak menatapnya dengaj serius. Meskipun ingin sekali rasanya dia menggenggam erat tangan perempuannya.
"Terimakasih atas niat baikmu, Mas," kata Hanum.
Setibanya mereka di rumah, Hanum segera masuk ke dalam kamarnya. Namun, mereka berdua terkejut saat melihat Bunda sedang menangis. Tampak Bi Inah di sebelahnya yang berusaha menenangkannya.
"Astaghfirullah, ada apa Bun?" Hanum berjalan tertatih tanpa menggunakan kursi rodanya. Langsung duduk di sebelah Bunda.
Devan segera mendekati ibunya. "Kenapa, Bun? Ceritakan saja apa yang terjadi..," katanya pelan sambil memeluk Bunda.
"Nenek kamu, Nak.., nenek meninggal semalam..," ucap Bunda sambil terisak.
"Mamah..," ucap Bunda pelan. Sedih akan kepergian ibunda tercinta nya.
"Innalillahi wa Inna ilaihi Raji'un," Hanum berucap pelan.
"Bagaimana ini, Nak? Bunda harus ke sana sekarang juga. Bunda gak bisa tenang, kenapa harus di situasi seperti ini??" Bunda masih menangis.
"Bunda, kita pergi ke kampung sekarang juga. Devan coba cari jadwal pesawat yang stand by," Devan segera menelpon rekan kerjanya. Meminta bantuan kepada mereka.
"Ada, Bre. Ke Bandara Internasional Minangkabau, kan? Ok, ini udah gue booking. Turut berdukacita ya, Bre," terdengar suara rekan kerjanya itu.
"Jadi kita ke Bukittinggi sekarang?" Bunda menyeka air matanya.
"Iya, Bun. Sore ini, sisa waktu lima jam lagi," kata Devan.
Tanpa menunggu lama-lama Bunda langsung pergi meninggalkan ruangan itu. Segera mengepak barang yang akan dia bawa meski di situasi genting seperti ini.
"Kamu sama Bunda mau ke Bukittinggi, Mas?" tanya Hanum.
"Kita bertiga ke sana. Bi Inah jaga rumah," jawab Devan.
"Gapapa Neng. Bibi udah terbiasa kok jaga rumah sendiri, semoga perjalanan nya dipermudah ya," kata Bi Inah. Hanum tidak curiga sedikitpun pada wanita itu sebab dia telah dianggap seperti keluarga sendiri.
"Tapi, Mas. Aku beneran gakpapa ikut? Merepotkan saja..," ucap Hanum tak enak.
"Sudah, sekarang kamu kemas barang-barang kamu. Bi, tolong bantu Hanum," kata Devan meminta Bi Inah membantunya.
Mereka kini telah berada di Bandara. Tak terbayang sebelumnya, Hanum akan pergi mendadak seperti ini. Di perjalanan dia tidak banyak bicara. Sesekali dia memenangkan Bunda yang kini diam saja. Menatap jendela setelah menanyakan kondisi Hanum.
Setelah transit dua kali, mereka tiba di Bandara Internasional Minangkabau. Di sana, jemputan mereka telah tiba.
"Uda Devan? Baa kaba nyo?" (Mas Devan? Bagaimana kabarnya?" ucap bapak supir yang menjemput mereka.
"Alhamdulillah sehat, Pak," kata Devan.
Sepanjang perjalanan ke Bukittinggi, Hanum tidak sempat menyaksikan pemandangan sebab hari telah gelap. Ditambah lagi mereka saat ini tidak pergi untuk berwisata.
"Hanum.., maafin Bunda ya udah bikin kamu repot pergi kesini," kata Bunda pelan. Kini dia menyandarkan kepalanya di bahu Hanum.
"Bunda udah ikhlas kok. Hanya saja Bunda.., panik. Ayah, Suami, anak gadis Bunda semuanya udah pergi mendahului Bunda. Sekarang..,"
"Sabar ya, Bun.., semoga almarhumah diberikan tempat yang layak di sisi Nya..," kata Hanum sambil menyeka air mata Bunda.
"Bunda janji, habis ini Bunda akan berusaha tetap tabah. Bunda senang sekali kamu hadir. Semoga kamu sama Devan menjadi suami Istri yang bahagia nanti," ucap Bunda pelan.
Devan hanya diam saja di depan. Begitu juga dengan pak supir yang sedari tadi menyimak pembicaraan mereka.
Pukul sepuluh malam mereka tiba di rumah. Di sana, tampak keluarga besar Bunda berada di dalam rumah panggung dengan atap seperti tanduk kerbau itu langsung menyambutnya.
"Akak!" pekik suara wanita muda yang hampir mirip dengan Bunda. "Kak, Amak sudah disemayamkan tadi siang. Maaf kami tidak bisa menunggu kakak datang..," ucapnya pada Bunda.
"Ndak baa do, Diak. Asalkan sasuai jo syariat islam, Akak lah tarimo sepenuh hati, ikhlas akan kepergian Amak.." (Tidak apa-apa, Dik. Yang penting sesuai dengan Syari'at Islam, kakak sudah terima dengan sepenuh hati, ikhlas akan kepergian Ibu)
Karena hari telah malam, Hanum tak banyak bicara saat itu. Dia disuruh untuk segera beristirahat di kamar demi menjaga kesehatannya. Sedangkan Devan dan Bunda masih bertukar kabar dengan saudara dan tetangga yang ada di rumah.
Hanum menatap ruangan kamarnya. Begitu tradisional sekali, dindingnya dihiasi dengan hiasan bambu dan kayu. Lukisan jam gadang, rumah gadang, dan ayat kursi terpajang di kamar itu. Tak terasa pula hawa nya yang mulai sejuk. Sadar dirinya berada di salah satu kita sejuk di Indonesia, Hanum menarik selimutnya. Mencoba memejamkan matanya sambil berusaha menghentikan pikirannya yang berisik.
*Beberapa episode selanjutnya akan dibubuhi nuansa Minang dan FOTO ASLI jepretan kamera Author 😉
Kosakata Minang:
Amak \= Ibu
Apak \= Ayah
Uda/Uni\= Tuan/Nona atau Mas/Mbak
Rancak Bana! \= Bagus sekali!/ Cantik banget!