Aris adalah definisi pecundang di mata dunia. Dipecat dari pekerjaan kasarnya, dikhianati oleh kekasih yang paling ia cintai, dan dihina oleh teman-teman sekolahnya saat reuni karena hanya mengendarai motor butut.
Satu-satunya harta yang ia miliki hanyalah sebidang tanah warisan kakeknya di pinggiran kota.
Namun, harapan Aris hancur saat ia kembali. Tanah yang ia impikan menjadi tempat tinggal yang tenang, telah berubah menjadi gunung sampah ilegal—sebuah "borok" kota yang dikuasai mafia dan oknum korup.
Di titik terendah hidupnya, sebuah suara dingin bergema di kepalanya:
[Ding! Sistem Petani Sultan Diaktifkan!]
[Misi Pemula : bersihkan 10 KG sampah]
[Hadiah : alat penyulingan esensi Cairan dewa]
[Mulai Proses Penyulingan... Menghasilkan: Cairan Dewa Tingkat 1!]
Satu tetes cairan itu mampu mengubah tanah beracun menjadi Lahan Surgawi.
. Satu tetes lagi mampu membuat tanaman mati tumbuh kembali dengan khasiat luar biasa, dengan cairan ini dia menjadi petani sultan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.A Wibowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27--Sampai Di Pusat Kota
ARIS sampai di pusat kota hal pertama yang dia lakukan terlebih dahulu adalah, membeli benih : Sawi ungu dan brokoli. Ia harus menyiapkan panen untuk si gubernur itu kemudian membuat tuan putri? Mungkin dimaksud anak dari gubernur tersebut senang akan sayurannya, baru dia bisa menyelesaikan dua misi itu.
Hamparan pusat kota memang ramai, kontras dengan desa sukacita di seberang kota. Ramai penuh asap populasi, motor lewat kesana kemarin, Aris menatap layar ponselnya masih melihat iklan dari benih di media sosial tersebut.
Aris menyipitkan mata, menelusuri alamat yang tertera di layar ponselnya. Toko Benih "Tunas Jaya"—salah satu distributor benih terbesar yang katanya punya koleksi varietas impor terlengkap di kota ini.
"Oke, sawi ungu dan brokoli lokal dulu buat pancingan," gumam Aris. Ia tahu, meskipun benih ini bukan berasal dari sistem, di tangannya—atau lebih tepatnya di bawah siraman Cairan Dewa—benih kelas dua pun bisa berubah jadi kualitas bintang lima.
Setelah berjalan kaki sekitar lima belas menit menembus kepulan asap knalpot, Aris sampai di sebuah ruko besar yang dipenuhi rak-rak berisi ribuan saset benih.
"Cari apa, Mas?" tanya pelayan toko yang melihat penampilan Aris dengan pandangan sedikit meremehkan. Jaket flanelnya memang tampak mencolok dan agak berdebu di tengah pelanggan kota yang berpakaian rapi.
"Brokoli sama Sawi Ungu, Mbak. Ada yang paling bagus?"
"Ada, tapi mahal ya Mas. Ini benih hibrida impor, satu saset kecilnya seratus ribu," jawab pelayan itu sambil menunjuk rak di pojok atas.
Aris kembali berpikir pesanan untuk si gubernur adalah 10 kg masing-masing jadi beli sekitar …
"Masing-masing lima saset harusnya cukup untuk eksperimen awal, tapi buat jaga-jaga kalau ada yang gagal tumbuh atau butuh stok cadangan …” gumam Aris. Lalu dia melanjutkan, kali ini berkata mantap. “Oke, saya ambil sepuluh saset masing-masing, Mbak," ujar Aris mantap.
Pelayan itu terbelalak. Sepuluh saset masing-masing? Itu artinya dua juta rupiah hanya untuk benih sayuran. Ia segera bergerak cekatan, tidak berani lagi memandang remeh pemuda di depannya. Dompet Aris mungkin tidak terlihat tebal, tapi nyalinya dalam memborong benih kualitas super benar-benar tidak main-main.
Sambil menunggu pesanan Aris melirik ke luar jendela ruko. Di seberang jalan, tepat di depan gerbang Pasar Induk, spanduk raksasa bertuliskan
[EVENT KOTA RESIK: BERSIHKAN KOTA, SEJAHTERAKAN WARGA]
melambai-lambai terkena angin.
Truk-truk pengangkut sampah organik sudah mulai berdatangan. Baunya mulai tercium sampai ke dalam toko, membuat beberapa pelanggan lain menutup hidung dan menggerutu.
"Ih, bau banget sih! Ini acara bersih-bersih atau acara pemindahan sampah ke depan hidung orang?" keluh seorang ibu-ibu sosialita di sebelah Aris.
Aris justru menarik napas dalam-dalam, aroma busuk itu di indranya terasa seperti aroma uang tunai 100 juta rupiah. ‘Sabar ya sayang-sayangku, habis beli benih, Mas Aris datangi kalian,’ batinnya geli.
"Ini Mas, totalnya jadi dua juta pas," ucap pelayan itu sambil menyerahkan kantong belanjaan.
Aris membayar tanpa mengedipkan mata sedikit pun. Bagi orang lain, dua juta itu mahal. Tapi bagi Aris, ini adalah investasi untuk mencairkan hadiah misi senilai 100 juta dan membuka kunci benih sistem yang jauh lebih sakti.
Lagian bayaran untuk menjual ini ke gubernur pasti besar, dia bisa kembali untung lagi.
|Area Pembersihan |Pasar Induk|
Setelah menyelesaikan transaksi benih, Aris segera menuju tenda pendaftaran relawan. Ia mengenakan rompi hijau yang dibagikan petugas.
Di sana, gunungan sampah organik—mulai dari kol busuk, tomat hancur, hingga sisa-sisa kulit nangka—menumpuk luar biasa.
[Ding!]
[Misi Event Terdeteksi!]
Progres Pengumpulan: 0 / 500 kg Limbah Organik.
"Gila, ini mah surganya sampah!" Aris langsung menyambar karung besar dan mulai memilah.
Kan orang gila emang! Disaat semua peserta mengrutkan kening jijik, ia malah teriak sendiri hal membuat semua orang mengira peserta satu ini gak waras.
“Orang gila,”
“pasti dari desa,”
“Kasihan mana masih muda,”
Sementara itu di sisi lain area registrasi… Aninda baru saja turun dari kereta kedatangan kesini bukan cuma pulang dari kampus, namun ikut acara sesat ini.
Rambutnya diikat asal, kacamata tipis bertengger di hidung. Wajahnya masih sedikit lelah akibat semalaman membaca ulang hasil penelitian semangka kristal, ditambah barusan ketemu manusia aneh si mas-mas kemeja flanel.
Acara sukarela bersih-bersih sampah
Awalnya ia tidak berniat ikut acara beginian. Namun dosen pembimbingnya memaksa seluruh mahasiswa tingkat akhir hadir untuk “pengabdian masyarakat”.
Terlebih sebagai anak gubernur di kota ini, dia harus menunjukan mitra kerja yang baik yaitu mau berkontribusi dalam masyarakat. Hal itu dia lakukan pamrih sebagai tanggung jawab.
Tapi …
“Males banget…” gumamnya pelan. Dia tetap anak remaja siapa yang kegirangan dalam acara sampah kaya gini?
Lalu matanya tanpa sengaja menangkap sosok seorang pria yang sedang memanggul tiga karung sampah organik sekaligus dengan semangat berlebihan. Itu dari belakang jadi gak begitu kelihatan.
“HAHAA! Mantap! Daun busuk semua ini emas!” seru pria itu penuh gairah.
Aninda berhenti melangkah.
“...”
Mukanya perlahan berubah aneh. ‘Siapa dah itu orang?’
Di tengah semua relawan yang jijik sama bau sampah… Pemuda itu malah kelihatan paling bahagia sendiri.
Bahkan matanya berbinar tiap menemukan sisa sayuran busuk.
Dan saat itu lah dia sadar, lah ka dia mas-mas flanel yang barusan?
“Buset… psikopat lingkungan ternyata” batin Aninda. “Fix orang aneh.”
Aris sendiri lagi sibuk setengah mati. Setiap tangannya menyentuh limbah organik, sistem terus berbunyi.
[Ding!]
[Limbah Organik Terdeteksi.]
[Ding!]
[+0,2 ml Cairan Dewa.]
[Ding!]
[Material fermentasi berkualitas ditemukan.]
Saat relawan lain bekerja dengan wajah masam dan gerakan lambat karena jijik, Aris justru bekerja dengan kecepatan gila. Ia memeluk karung-karung berisi limbah basah itu seolah sedang memeluk tumpukan emas. Setiap kali tangannya menyentuh tumpukan limbah, sistem bekerja secara senyap menyedot sari pati organik tersebut
[Progres: 50 kg... 120 kg]
Mata Aris makin hijau. “Anjir… kota tuh surganya sampah…”
Ia sampai rela nyemplung ke belakang pasar tradisional demi mengangkut peti sayuran busuk.
Para relawan lain langsung mundur jijik.
“Mas… itu baunya parah banget!”
“Bahaya kena bakteri!”
Namun Aris malah ketawa puas. “Justru makin bau makin cuan!”
Aninda yang kebetulan lewat langsung memasang wajah jijik. ‘Fix. Orang gila. Gak mungkin mas Aris si petani legendaris itu dia … udah gue duga kebetulan doang.’