NovelToon NovelToon
Roses For The Cold Boss (Mawar Untuk Bos Dingin)

Roses For The Cold Boss (Mawar Untuk Bos Dingin)

Status: sedang berlangsung
Genre:Roman-Angst Mafia / CEO
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: DearlyBoa

Di dunia bawah tanah yang kejam, seorang bos mafia yang tampan namun terkenal bengis tidak pernah ragu untuk melenyapkan siapa saja yang menghalangi jalannya. Ketika salah satu anak buah level bawahnya terjerat utang besar yang tak mampu dibayar, nyawa pria tua itu berada di ujung tanduk. Demi menyelamatkan diri dari eksekusi mati, sang bapak nekat menawarkan putri cantiknya sebagai penebus utang. Meski awalnya enggan, sang bos mafia akhirnya menerima kesepakatan tersebut dan menikahi si gadis. Dimulailah kehidupan pernikahan yang dingin, penuh tekanan, dan agak kasar di dalam rumah megah sang mafia. Namun, di balik dinding es yang dibangun sang bos, sebuah dinamika baru perlahan mulai menguji batasan kekejamannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DearlyBoa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perisai dari Tiga Ratu

​Suasana di ruang tamu utama mansion Sterling kini benar-benar telah mencair. Ketegangan yang semula menyelimuti pundak Chloe menguap tanpa bekas, digantikan oleh rasa hangat yang sudah lama tidak ia rasakan. Tumpukan kotak hadiah mewah di pangkuannya telah dipindahkan oleh Bi Mirna ke atas meja, menyisakan Chloe yang kini duduk dikerumuni oleh tiga wanita paling berpengaruh di keluarga Sterling.

​Setelah kehebohan seputar hadiah mereda, naluri usil khas wanita mendadak bangkit di dalam diri ketiga kakak perempuan Asher. Sebagai wanita-wanita lajang yang mandiri, sukses, dan memiliki segalanya, mereka tetaplah kakak perempuan biasa yang memiliki rasa ingin tahu yang sangat besar jika menyangkut urusan asmara adik laki-laki tunggal mereka.

​Cassandra memajukan tubuhnya, menopang dagunya dengan kedua tangan di atas lutut, menatap Chloe dengan binar mata yang penuh arti. "Nah, Chloe sayang... sekarang setelah urusan hadiah selesai, ada satu hal yang sangat, sangat membuat kami penasaran sejak mendarat di kota ini."

​Chloe mengerjapkan matanya, merasakan firasat aneh mulai merayap di tengkuknya. "H-Hal apa, Kak Cassandra?"

​"Tentang semalam," potong Victoria, si sulung, dengan seringai tipis yang mendadak terlihat sangat usil, jauh dari citra wanita karier berdarah dingin yang ia tampilkan beberapa menit lalu. "Kemarin adalah hari pernikahan kalian, dan semalam adalah malam pertama kalian sebagai sepasang suami istri. Katakan pada kami secara jujur, apakah si kaku Asher itu memperlakukanmu dengan baik? Atau..." Victoria sengaja menggantung kalimatnya, matanya menyipit jenaka. "Apakah dia menyiksamu di atas ranjang dengan sikap diktatornya yang menyebalkan itu?"

​"Benar, Chloe! Tolong ceritakan pada kami!" Eleanor ikut menimpali, menyenggol pelan bahu Chloe dengan ekspresi wajah yang tak kalah penasaran. "Asher itu pria yang sangat dominan dan tidak tahu cara bersikap lembut pada wanita. Kami bertiga bahkan sempat bertaruh di dalam pesawat, apakah dia akan membuat pengantin barunya yang secantik ini menangis semalaman karena sifatnya yang seperti beruang kutub."

​Mendengar pertanyaan yang sangat intim dan blak-blakan itu, wajah Chloe seketika berubah merah padam, bahkan jauh lebih merah daripada kelopak mawar yang menghiasi ruangan tersebut. Jantungnya berdegup kencang, bukan lagi karena rasa takut, melainkan karena rasa malu yang luar biasa yang menyerang pertahanannya.

​Chloe refleks menundukkan kepalanya dalam-dalam, berusaha menyembunyikan wajahnya yang terasa panas membara di balik helaian rambut cokelat panjangnya. Kedua tangannya yang saling bertautan di atas pangkuan meremas kain gaun kremnya dengan kuat. Bagaimana mungkin dia menceritakan apa yang terjadi semalam? Semalam Asher memang mengurungnya, menghapus riasan wajahnya dengan sangat lembut, mencium kening, pipi, dan bibirnya, bahkan membisikkan kata-kata gairah yang membuat seluruh tubuhnya bergetar... namun semua itu terputus karena panggilan telepon dari Kenzo.

​Keheningan dan sikap canggung Chloe yang terus menunduk tanpa mengeluarkan sepatah kata pun mendadak membuat ketiga kakak perempuan Asher saling melempar pandangan. Seringai usil di wajah Victoria perlahan memudar, digantikan oleh kerutan di dahi. Cassandra dan Eleanor pun menghentikan tawa mereka, mulai membaca situasi dengan insting mereka yang sangat tajam.

​Sebagai wanita yang cerdas, mereka tahu ada sesuatu yang tidak beres. Jika malam pertama itu berjalan dengan penuh gairah atau romantis, seorang pengantin baru mungkin akan merona dan tersenyum malu-malu. Namun, reaksi Chloe yang tampak begitu kaku, pasrah, dan seolah menyembunyikan sebuah rahasia besar, memicu kesadaran lain di dalam benak mereka.

​"Tunggu dulu..." Cassandra meluruskan punggungnya, matanya menatap tajam ke arah leher dan lengan Chloe yang terbuka sebatas gaun rajutnya. Tidak ada tanda-tanda kepemilikan di sana. Kulit Chloe putih bersih tanpa cela. "Chloe... jangan katakan padaku kalau kalian... belum melakukannya?"

​Mendengar tebakan yang sangat tepat itu, tubuh Chloe sedikit tersentak. Dia semakin menundukkan kepalanya, dan anggukan yang sangat pelan—nyaris tidak kentara—menjadi jawaban atas pertanyaan Cassandra.

​"Apa?!" Pekikan kompak bernada tidak percaya seketika bergema di dalam ruang tamu, keluar dari mulut Cassandra dan Eleanor secara bersamaan. Bahkan Victoria sampai meletakkan cangkir teh porselennya kembali ke tatakan dengan bunyi denting yang cukup keras.

​"Kalian belum melakukannya?" ulang Eleanor dengan mata terbelalak lebar. "Bagaimana bisa? Semalam adalah malam pertama kalian! Apa yang dilakukan si bodoh itu di dalam kamar?"

​Chloe perlahan mendongak, menatap ketiga kakak iparnya dengan tatapan mata rusanya yang polos, mencoba meluruskan kesalahpahaman sebelum mereka berpikir yang tidak-tidak tentang Asher. "T-Tuan Asher... maksud saya, Asher... semalam dia sebenarnya masuk ke kamar, Kak. Dia bersikap sangat baik dan... dan lembut. Tetapi, sesaat setelah itu, dia menerima panggilan telepon darurat dari Kenzo. Katanya ada masalah sangat penting yang harus dia selesaikan di luar. Jadi, dia menyelimutiku, mencium keningku, dan langsung pergi subuh-subuh tadi. Beliau bahkan belum pulang sampai sekarang."

​Mendengar penjelasan jujur dari Chloe, ekspresi wajah ketiga ratu Sterling itu tidak melunak. Sebaliknya, wajah mereka justru semakin menggelap, memancarkan aura geram dan kekesalan yang teramat sangat yang ditujukan langsung kepada adik laki-laki mereka sendiri.

​"Anak sialan itu!" umpat Cassandra, rahangnya mengeras karena menahan amarah. "Bagaimana bisa dia meninggalkan istrinya yang secantik ini sendirian di kamar pengantin pada malam pertama hanya demi pekerjaan?! Apakah otaknya sudah berubah menjadi tumpukan uang dan kertas kontrak?!"

​"Ini benar-benar keterlaluan, bahkan untuk ukuran seorang Asher Sterling sekalipun," sahut Victoria, suara bariton wanitanya terdengar sangat dingin dan sarat akan otoritas seorang kakak tertua. "Bisnis dan organisasi bisa berjalan tanpa kehadirannya selama satu malam. Menolak panggilan Kenzo demi menjaga perasaan istrinya yang baru menikah adalah hal mendasar yang harus dilakukan oleh seorang pria sejati. Dia benar-benar tidak punya sopan santun!"

​Eleanor mengusap wajahnya dengan frustrasi. "Dia selalu menganggap semua hal di dunia ini sebagai transaksi bisnis yang bisa ditunda atau ditinggalkan sesuka hatinya. Dia tidak tahu betapa berharganya perasaan seorang wanita yang sedang berada di lingkungan baru seperti ini."

​Melihat ketiga kakak perempuan Asher yang justru menjadi sangat marah dan membela dirinya, Chloe merasa tersentuh sekaligus terheran-heran. Di dalam khayalan buruknya selama ini, dia mengira keluarga mafia akan bersikap kejam dan memperlakukannya seperti sampah. Namun yang terjadi di sini adalah kebalikannya. Ketiga wanita berkuasa ini justru berdiri di garis terdepan untuk menghujat adik mereka sendiri demi membela seorang gadis asing yang baru mereka temui.

​Chloe memaksakan sebuah senyuman kecil, mencoba menenangkan suasana yang mulai memanas. "Tidak apa-apa, Kak Victoria, Kak Cassandra, Kak Eleanor... saya benar-benar tidak apa-apa. Semalam saya juga sangat kelelahan karena acara resepsi yang panjang, jadi kepergian... kepergian Asher justru membuat saya bisa beristirahat dengan sangat nyenyak."

​Mendengar ucapan Chloe yang begitu berlapang dada dan sama sekali tidak menyimpan dendam atau kemarahan, hati ketiga wanita Sterling itu semakin meleleh. Mereka menatap Chloe dengan pandangan yang dipenuhi oleh rasa sayang yang semakin mendalam. Bagi mereka, Chloe adalah sosok mawar murni yang terlampau baik untuk bersanding dengan adik mereka yang berhati dingin.

​Eleanor menggeser duduknya, merangkul pundak mungil Chloe dengan erat, menyalurkan kehangatan fisik yang membuat Chloe merasa sangat terlindungi. "Kau terlalu baik untuknya, Chloe. Jika wanita lain yang ditinggalkan seperti itu, mereka pasti sudah mengamuk dan menghancurkan seisi kamar. Tetapi kau justru tersenyum dan memahaminya."

​Victoria mengangguk setuju, menatap Chloe dengan tatapan yang kini sepenuhnya dipenuhi oleh rasa protektif. Dia mengulurkan tangannya, menggenggam tangan Chloe yang berada di atas pangkuan. "Dengarkan aku baik-baik, Chloe. Mulai hari ini, detik ini, kau adalah bagian dari kami. Kau adalah adik perempuan kami, sama seperti Asher adalah adik laki-laki kami."

​Wajah Victoria kembali menjadi sangat serius, memberikan rasa nyaman dan aman yang mutlak ke dalam sanubari Chloe. "Rumah ini, mansion ini, mungkin terasa dingin dan asing bagimu karena atmosfer yang dibangun oleh Asher. Tetapi jangan pernah merasa kesepian atau takut lagi. Kau memiliki kami bertiga sekarang."

​Cassandra mengeluarkan ponsel pintarnya yang berlapis emas, lalu menyodorkannya ke hadapan Chloe. "Masukkan nomor ponselmu di sini, dan simpan nomor kami bertiga di ponselmu. Kami membuatkan grup obrolan khusus untuk kita berempat mulai sekarang, tanpa ada Asher di dalamnya."

​"Jika terjadi sesuatu di rumah ini..." lanjut Cassandra dengan nada suara yang sengaja ditekankan, matanya berkilat penuh tekad. "...apakah itu karena Asher mulai bersikap menyebalkan, bersikap kasar, mengabaikanmu, atau melakukan hal lain yang membuatmu merasa tidak nyaman dan sedih, kau harus segera mengabari kami detik itu juga. Jangan pernah menyembunyikannya sendirian."

​"Benar, Chloe," tambah Eleanor sembari mencium pipi Chloe dengan gemas. "Jika si kaku itu berani membuat mawar kecil kami ini menangis atau merasa tertekan, kami bertiga yang akan langsung turun tangan menghadapi dia. Kami akan terbang kembali ke kota ini, mendobrak pintu ruang kerjanya, dan memberikan pelajaran yang tidak akan pernah dia lupakan seumur hidupnya. Kami akan selalu berada di pihakmu, membela dan melindungimu dari Asher."

​Mendengar janji dan komitmen mutlak dari ketiga kakak perempuan suaminya, benteng pertahanan emosional yang selama ini Chloe bangun dengan susah payah akhirnya runtuh juga. Air mata yang sejak tadi ia tahan kini benar-benar meluncur deras membasahi pipinya—bukan air mata ketakutan atau kesedihan seperti hari-hari lalu, melainkan air mata kebahagiaan dan rasa syukur yang teramat sangat.

​Di tengah badai pengkhianatan dari ayah kandungnya yang tega menjualnya demi uang, Tuhan ternyata mengirimkan tiga malaikat pelindung berwujud ratu Sterling yang siap menjadi perisainya di dalam kegelapan dunia bawah tanah ini.

​Chloe menangis pelan di dalam pelukan Eleanor, sementara Cassandra dengan telaten menyeka air matanya menggunakan saputangan sutra, dan Victoria terus menggenggam tangannya dengan erat. Untuk pertama kalinya sejak menginjakkan kaki di mansion mewah ini, Chloe tidak lagi merasa seperti seorang tawanan yang tidak berdaya. Dia merasa memiliki sebuah rumah baru, sebuah keluarga baru, dan sebuah kekuatan baru yang akan menemaninya menghadapi sosok misterius dan dingin bernama Asher Sterling.

1
Idah Faridah
dtunggu thor lanjutanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!