NovelToon NovelToon
Transmigrasi Zura Or Ziva

Transmigrasi Zura Or Ziva

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Transmigrasi
Popularitas:11k
Nilai: 5
Nama Author: Wilaw

Menceritakan seorang gadis bernama Zura. Dan Kebingungan Zura kenapa dirinya bisa nyasar ke raga Ziva sang Antagonis di dalam buku novel yang pernah dia baca sebelum nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wilaw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 029

Ziva memacu motor matic-nya menjauh dari area bandara lama dengan sisa tenaga yang ia miliki. Jantungnya masih berdegup kencang, bukan lagi karena adrenalin balapan, melainkan karena tatapan Aksa di detik terakhir tadi. Ia yakin, meski hanya sekejap, mata tajam Aksa sempat mengunci siluetnya.

​"Gila, Ziv... lo nekat banget," gumamnya di balik helm. Perih di lututnya kini mulai terasa berdenyut sinkron dengan detak jantungnya.

​Ia tidak langsung pulang. Ia memarkirkan motornya di sebuah minimarket yang buka 24 jam, sekitar dua kilometer dari bandara.

Dengan tangan gemetar, ia membeli sebotol air mineral dan plester luka. Ia duduk di bangku depan minimarket, mencoba membersihkan lecet di telapak tangannya.

​"Ratu Mager kena karma karena keluyuran malam," ringisnya saat cairan antiseptik menyentuh luka. "Zura, lo di kehidupan dulu kayaknya nggak se-impulsif ini gara-gara cowok."

Sementara itu, di bandara lama, kemeriahan Black Eagle tidak membuat Aksa tenang. Ia mengabaikan ajakan Vino untuk merayakan kemenangan.

​"Gue cabut duluan," ucap Aksa singkat sambil menyalakan mesin motornya.

​"Lho, Bos! Motor sprot merah ini gimana?" teriak Bram.

"Bawa ke basecamp. Terserah lo mau diapain dulu," sahut Aksa tanpa menoleh. Ia langsung memacu motornya keluar dari area bandara.

​Aksa tidak benar-benar pulang. Instingnya membawa dia menyusuri jalanan keluar bandara dengan kecepatan rendah—sesuatu yang sangat tidak biasa bagi seorang pemenang balapan liar. Matanya terus menyapu pinggiran jalan yang gelap dan sepi. Ia yakin dengan apa yang ia lihat tadi: tudung hoodie yang tersingkap angin, wajah pucat itu, dan cara jalan yang tidak seimbang.

Hingga matanya menangkap sebuah motor matic familiar yang terparkir di depan minimarket.

​Aksa mematikan mesin motornya beberapa meter dari sana. Ia turun, masih dengan jaket kulit hitam yang memancarkan aura intimidasi. Langkah kakinya yang berat terdengar mendekat ke arah bangku di mana Ziva sedang sibuk meringis menempelkan plester pada lututnya yang berdarah.

Ziva yang sedang menunduk mendadak merasakan sebuah bayangan besar menutupi cahaya lampu minimarket. Ia mendongak, dan jantungnya hampir melompat keluar saat melihat Aksa berdiri tepat di depannya.

​Aksa tidak bicara. Ia hanya menatap lecet di telapak tangan Ziva, lalu beralih ke lutut gadis itu yang jeans-nya robek. Rahangnya mengeras.

​"Kenapa lo ada di sini?" tanya Aksa. Suaranya rendah, dingin, tapi ada getaran emosi yang tertahan.

​Ziva gelagapan. Ia mencoba menutupi lututnya dengan tangan. "Gue... gue cuma mau beli martabak! Terus motor gue mogok, iya mogok!"

"Hehehe."

​Aksa berjongkok di depan Ziva, membuat Ziva terkesiap karena jarak mereka kini begitu dekat. Aksa mengambil alih botol antiseptik dari tangan Ziva yang gemetar.

​"Beli martabak dua kilometer dari rumah, jam satu pagi, pake hoodie cowok, dan berakhir luka-luka begini?" Aksa menarik napas panjang, mencoba meredam emosinya. "Lo bohongnya nggak pinter, Baby."

Deg.

Ziva mematung. Botol antiseptik di tangan Aksa seolah-olah membeku di udara, sama seperti aliran darah di tubuh Ziva yang mendadak berhenti sesaat sebelum akhirnya berpacu liar. Kata "Baby" itu saja sudah cukup membuat sarafnya korslet, tapi kalimat lanjutannya benar-benar seperti hantaman mesin motor 1000cc tepat di dadanya.

​"Hah? Lo... lo ngomong apa tadi?" Ziva bertanya dengan suara yang nyaris hilang. Ia berharap telinganya hanya mengalami gangguan frekuensi akibat suara bising knalpot di bandara tadi.

Aksa tidak segera mengulangi kalimatnya. Ia menarik kaki Ziva dengan tegas namun hati-hati, memposisikannya di atas paha kakinya yang sedang berjongkok. Dengan teliti, ia mulai membersihkan sisa debu di luka lutut Ziva menggunakan tisu basah yang ia ambil dari kantong belanjaan di meja.

​"Ziva," ucap Aksa tanpa mendongak. Fokusnya masih pada luka itu. "Mulai detik ini, lo pacar gue sekarang. Nggak ada penolakan, nggak ada protes."

​"A-Aksa! Lo nggak bisa gitu dong! Ini... ini namanya pemaksaan jabatan! Kita bahkan nggak ada proses pendekatan yang normal!" protes Ziva, meski wajahnya kini sudah merah padam melebihi warna buah tomat yang matang.

​Aksa mendongak. Matanya yang tajam mengunci pandangan Ziva. Di bawah lampu neon minimarket yang pucat, iris mata Aksa berkilat dengan intensitas yang membuat Ziva merasa kecil.

​"Pendekatan yang normal itu buat orang yang punya banyak waktu," sahut Aksa dingin. "Gue nggak suka buang waktu. Lo pikir gue bakal biarin lo keluyuran tanpa status yang jelas lagi?"

​Ziva kehilangan kata-kata. Jiwa Zura yang biasanya sarkastik mendadak mogok kerja. Ia hanya bisa menatap Aksa yang kini sedang menempelkan plester besar ke lututnya dengan gerakan yang sangat telaten—kontras dengan aura "raja jalanan" yang baru saja ia tunjukkan di lintasan.

Ziva menatap puncak kepala Aksa, memperhatikan bagaimana beberapa helai rambutnya yang lembap karena keringat balapan mencuat di sela-sela fokusnya mengobati luka. Keheningan minimarket di pukul satu pagi ini terasa begitu intim, hanya menyisakan suara kulkas minuman yang mendengung dan detak jantung Ziva yang seolah sedang menabuh genderang perang.

​"Lo... lo tadi balapan taruhannya gede banget, kan?" Ziva mencoba mengalihkan pembicaraan, suaranya masih sedikit bergetar. "Kenapa malah di sini ngurusin lecet kecil begini?"

Aksa selesai menempelkan plester terakhir. Ia tidak langsung berdiri, melainkan tetap dalam posisi berjongkok, menumpu lengannya di lutut sendiri. "Lecet kecil?" Aksa menaikkan sebelah alisnya, matanya menatap robekan di jeans Ziva. "Lecet ini nggak bakal ada kalau lo nggak nekat keluar rumah malam-malam Ziva."

Aksa berdiri, menjulang tinggi di depan Ziva. Ia meraih tangan Ziva, memeriksa telapak tangannya yang juga memerah. "Gimana ceritanya lo bisa luka seperti ini, hmm?"

​Ziva membuang muka, menggigit bibir bawahnya. "Tadi... ada lubang. Lampu motor gue nggak terang-terang amat, jadi gue nggak liat. Terus... ya gitu. Gue terbang dikit."

​Mendengar kata "terbang", rahang Aksa mengeras seketika. Kepalan tangannya di sisi tubuh mengencang. Bayangan Ziva terlempar dari motor di jalanan yang gelap dan sepi sendirian, tanpa ada yang menolong, membuat amarah Aksa nyaris meluap.

​"Terbang?" suara Aksa terdengar sangat berbahaya. "Lo jatuh dari motor, Zivanna?"

​"Dikit doang, Aks! Rumputnya empuk kok!" Ziva membela diri, nyalinya menciut melihat kilat amarah di mata Aksa.

Aksa memejamkan mata sejenak, menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan dirinya sendiri. Ia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika luka itu lebih parah dari sekadar lecet. Ia meraih kunci motor matic Ziva yang tergeletak di meja.

​"Gue anter pulang," ucap Aksa final.

​"Eh? Terus motor gue?"

"Biar anak-anak Black Eagle yang urus nanti.

Lo naik ke motor gue sekarang." Aksa menarik lengan Ziva dengan lembut namun tidak bisa dibantah, menuntunnya menuju motor sport hitamnya yang terparkir angkuh.

Aksa naik ke atas jok, lalu menarik Ziva agar duduk di belakangnya. Ia mengambil tangan Ziva, melingkarkannya ke pinggangnya sendiri, lalu Aksa menarik Ziva sedikit agar tubuh Ziva merapat sempurna pada punggungnya.

​"Pegangan yang kencang, Baby. Gue nggak mau lo 'terbang' untuk kedua kalinya malam ini," bisik Aksa sebelum menurunkan kaca helmnya.

​Ziva hanya bisa menyembunyikan wajahnya yang panas di punggung jaket kulit Aksa. Di tengah deru mesin yang mulai menyala, Ziva sadar satu hal: status "pacar" yang dideklarasikan sepihak oleh Aksa barusan mungkin adalah satu-satunya hal yang bisa menjamin jantungnya tidak akan pernah tenang lagi mulai besok pagi.

​Aksa menyeringai di balik helm. Sebuah seringai kemenangan yang jauh lebih memuaskan daripada saat ia melewati garis finish di bandara lama. Malam ini, ia tidak hanya membawa pulang kemenangan, tapi ia juga telah membawa pulang gadis paling keras kepala dan paling mager yang pernah ia temui.

1
CaH KangKung,
astaga...ikut deg"an aq....aksaaaaa....
ana Ackerman
salting brutal gue thorrr
W: hehe 🤭
total 1 replies
ana Ackerman
lanjut kak💪
ana Ackerman
serius kak bab ini ngk bisa nahan tawa anjir🤣
ana Ackerman
lanjut kak💪
Nazia wafa abqura
kak aq tunggu up ny
mom_nurul
aku masih stay disini kak,ga mau berpaling 🤭
di tunggu selalu update nya👍
W: siap👌
total 1 replies
Ridho Radiator
kak aq tunggu up ny
Ridho Radiator
kak bagus banget
W: Terimakasih😍
total 1 replies
Ridho Radiator
kak aq tunggu up ny
W: siap , besok ya 👁👄👁 😊
total 1 replies
ana Ackerman
iya thor masa nggk di lanjutin... 😤😤
lanjut ya thor... 🤧
W: Kelanjutan nya di sambung besok ya 👁👄👁
total 1 replies
Susi Nugroho
Di tunggu lanjutannya nggak pakai lama
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!