"Kamu harus tahu diri. Kamu wanita yang tidak pernah di inginkan oleh mas Yusuf. Jangan sesekali meminta perhatian darinya. ingatlah, mas yusuf menikahimu hanya ingin bertanggung jawab pada bayi itu!" tekan Nora.
"Aku tahu, Mbak. Maaf jika sikapku sudah membuat mbak nora tidak nyaman," jawab Siti hajar dengan wajah menunduk.
Kejadian yang tak terduga membuat Siti harus mengandung anak dari majikannya. Menjadi orang ketiga, dan di nikahi secara siri tidaklah membuat gadis malang itu bahagia. ia harus menerima segala hujatan dari nora istri sah Yusuf.
Bagaimana kisah selanjutnya? yuk ikuti ceritanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Risnawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Yusuf kehilangan
Sudah hampir sebulan lamanya Yusuf tidak menatap wajah Daffa, tidak mendengar suara tawa atau melihat tingkah polah putra kesayangannya itu. Rindu yang bersemayam di dadanya semakin hari semakin menjadi-jadi, seakan ada bagian dari dirinya yang hilang dan tak utuh. Setiap malam, bayangan wajah mungil Daffa selalu hadir dalam mimpinya, membuatnya semakin tak sabar ingin segera bertemu, memeluk, dan memastikan keadaan anaknya sehat dan baik-baik saja.
“Sudah sebulan berlalu, Nora. Rasanya sudah terlalu lama aku tidak melihat Daffa. Aku takut dia sakit, atau ada apa-apa yang terjadi padanya,” ucap Yusuf di tengah perjalanan, suaranya terdengar cemas dan penuh kerinduan.
Nora yang duduk di sampingnya hanya tersenyum tipis, berusaha menenangkan. “Tenang saja, Mas. Di sana kan ada ibunya yang menjaga. Pasti dia baik-baik saja. Kita pergi sekarang kan sudah cukup, tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat, sesuai kesepakatan kita.”
“Iya, aku tahu. Tapi namanya juga rasa rindu seorang ayah, Nora. Susah untuk dijelaskan rasanya,” jawab Yusuf pelan, matanya tak lepas memandang jalan raya di hadapannya.
Sesampainya di depan rumah yang biasa ditinggali Siti dan Daffa, perasaan cemas yang samar-samar mulai menyelimuti hati Yusuf. Halaman rumah yang biasanya rapi dan terawat, hari ini tampak begitu hening dan sepi. Tidak ada suara apa pun yang terdengar dari dalam, tidak ada tanda-tanda kehidupan yang biasa terlihat dari luar. Pintu dan jendela tertutup rapat seakan sudah lama tidak dibuka.
“Kok sepi sekali, Mas? Biasanya kalau siang begini pasti ada suara atau gerakan di dalam,” kata Nora, suaranya pun ikut berubah ragu dan tidak nyaman.
“Aku juga merasa begitu. Aneh sekali rasanya,” jawab Yusuf, alisnya berkerut rapat. “Tapi tenang saja, aku punya kunci cadangan yang dulu pernah aku simpan. Kita masuk saja langsung, biar tahu keadaan yang sebenarnya.”
Yusuf mengeluarkan seikat kunci dari saku jasnya, lalu melangkah mendekat ke arah pintu utama. Dengan tangan yang mulai terasa dingin dan sedikit gemetar, ia memasukkan kunci ke lubangnya dan memutarnya perlahan. Bunyi ‘klik’ terdengar nyata, dan pintu itu pun terbuka lebar.
Suasana di dalam rumah langsung menyambut mereka dengan keheningan yang begitu pekat dan menyayat hati. Udara di dalam terasa agak pengap dan dingin, menandakan sudah cukup lama tidak ada orang yang membuka jendela atau pintu untuk mengalirkan udara segar. Semua perabotan masih ada di tempatnya, tertata rapi dan bersih, namun terasa hampa dan tidak bernyawa.
“Siti… Daffa…!” panggil Yusuf dengan suara yang cukup keras, berharap ada jawaban atau langkah kaki yang terdengar mendekat. Namun yang membalas panggilannya hanyalah gema suaranya sendiri yang memantul di dinding ruangan yang luas itu. Tidak ada suara tangis bayi, tidak ada suara langkah kaki, dan tidak ada suara apa pun selain keheningan yang mendalam.
Yusuf mulai berjalan melangkah dari satu ruangan ke ruangan lain, diikuti oleh Nora yang juga tampak bingung dan cemas. Ruang tamu, ruang keluarga, dapur, semuanya masih utuh dan bersih, namun tidak ada barang pribadi yang terlihat. Baju-baju, mainan, perlengkapan bayi, dan barang-barang kebutuhan sehari-hari yang biasa ada di sana, kini semuanya sudah lenyap seakan tidak pernah ada.
“Mereka benar-benar tidak ada di sini, Mas. Semua barang-barang milik mereka sudah dibawa pergi semua,” ucap Nora pelan, matanya menelusuri setiap sudut ruangan.
Yusuf tidak menjawab. Kakinya melangkah cepat menuju kamar tidur yang biasa ditempati Siti dan Daffa. Saat pintu kamar terbuka lebar, jantungnya seakan berhenti berdetak sejenak. Kamar itu kosong melompong. Tempat tidur yang dulu sering ia duduki, lemari pakaian yang berisi baju-baju Siti dan Daffa, meja rias, dan segala perlengkapan yang ada di sana, kini sudah tidak ada lagi. Hanya tinggal perabotan besar milik rumah itu saja yang masih berdiri diam di tempatnya.
“Tidak mungkin… Tidak mungkin mereka pergi begitu saja tanpa memberi kabar apa pun,” gumam Yusuf dengan suara yang mulai bergetar hebat. Rasa cemas yang tadinya samar-samar kini berubah menjadi rasa takut yang luar biasa.
Ia kembali berjalan keluar kamar, matanya kini mencari-cari sesuatu yang bisa menjelaskan keadaan ini. Dan saat pandangannya jatuh ke atas meja besar di tengah ruang tamu, napasnya seakan tertahan. Di sana, tergeletak rapi sebuah amplop cokelat besar yang berisi surat kepemilikan rumah, sebuah buku tabungan tebal yang sangat ia kenali, serta selembar surat yang diletakkan paling atas, tertulis jelas tulisan tangan Siti yang sangat ia hafal.
Dengan tangan yang gemetar hebat, Yusuf mendekat dan mengambil benda-benda itu. Darah seakan berhenti mengalir di sekujur tubuhnya. Ia tahu betul apa isi buku tabungan itu—segala uang nafkah, biaya hidup, dan bekal masa depan yang selama ini ia kirimkan dengan jumlah yang sangat besar dan cukup untuk hidup mereka berdua puluhan tahun lamanya. Dan sekarang, buku itu dikembalikan utuh, tidak berkurang sepeser pun.
“Mas… itu kan… buku tabungan yang selalu Mas kirimkan setiap bulan?” tanya Nora yang juga sudah berdiri di sampingnya, suaranya terdengar tak percaya.
“Iya… Iya, Nora. Itu semua ada di sini, tidak ada yang terpakai sedikit pun. Dan juga surat kepemilikan rumah ini, semuanya dikembalikan lagi padaku,” jawab Yusuf dengan suara yang hampir tak terdengar.
Perlahan namun pasti, Yusuf membuka amplop surat yang ada di paling atas itu. Tulisan tangan Siti yang rapi namun terlihat jelas goresan yang bergetar seolah ditulis di tengah derasnya air mata, kini terbentang jelas di hadapan matanya.
Bersambung....
untung nora semoga aja ank nya haikal sendri yg nampak mama nya selingkuh sm raka 🤣🤣🤣