NovelToon NovelToon
KAF FA RO

KAF FA RO

Status: sedang berlangsung
Genre:Iblis / Kutukan / Balas Dendam
Popularitas:544
Nilai: 5
Nama Author: Bp. Juenk

Rafiq Al-Farizi adalah pria agamis yang kehilangan segalanya dalam waktu singkat. Ujian itu membuat imannya runtuh.

Ia bertemu dengan Mbah Jaya, seorang dukun yang menawarkan "keadilan" melalui ilmu hitam. Langkah demi langkah, hingga akhirnya Ia mengucapkan sumpah setia kepada makhluk gaib.

Sebagai tanda perjanjian, muncul tulisan KAF FA RO di jidatnya—stempel bahwa jiwanya telah menjadi milik kegelapan. Dengan kekuatan barunya, ia memburu balas dendam kepada semua yang menghancurkannya.

Namun semakin dalam ia melangkah, semakin ia sadar: bukan ia yang mengendalikan kegelapan, tapi kegelapan yang mengendalikannya. Dan harga dari perjanjian ini lebih mahal dari nyawanya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Guncangan Iman

Kyai Mansur baru melangkah tiga langkah dari teras rumah Rafiq ketika suara itu terdengar. Bukan suara dari luar. Bukan dari angin atau dari pepohonan. Suara dari dalam dirinya sendiri. Suara yang mengatakan: jangan pergi. Belum selesai.

Ia berhenti.

Badrun dan Lukman yang berjalan di belakangnya juga berhenti, saling memandang dengan wajah penuh tanda tanya. Matahari hampir sepenuhnya tenggelam di ufuk barat, menyisakan cahaya jingga kemerahan yang semakin memudar.

Langit di timur mulai gelap, bulan sabit tipis menggantung rendah di atas pohon beringin.

Angin sore yang tadi bertiup pelan kini berubah menjadi lebih kencang, membawa aroma tanah basah dan sesuatu yang anyir—bau yang sama seperti di dalam rumah.

"Kyai?" Badrun melangkah mendekat. "Ada apa, Kyai?"

Kyai Mansur tidak menjawab. Ia berbalik menghadap kembali ke rumah kecil itu. Rafiq masih berdiri di ambang pintu, tangan di saku celana, senyum dingin masih menghiasi wajahnya yang pucat. Tiga huruf di dahinya menyala redup di bawah cahaya senja yang memudar.

"Rafiq," panggil Kyai Mansur. Suaranya lantang, menggema di halaman rumah yang mulai gelap.

"Satu kesempatan terakhir. Mau kau dengar atau tidak, aku akan membacakan ayat-ayat suci. Bukan untuk mengusirmu. Tapi untuk mengingatkanmu. Untuk mengingatkan siapa dirimu sebenarnya. Siapa yang menciptakanmu. Dan kepada siapa kau akan kembali."

Rafiq tidak bergerak. Tidak menjawab. Hanya senyumnya yang sedikit mengembang, seperti orang yang sedang menonton pertunjukan yang sudah ia tahu akhirnya.

Kyai Mansur menghela napas. Ia mengangkat tasbih di tangan kanannya, menatap butiran-butiran hitam yang sudah ia pegang sejak pagi. Ia merasakan getaran halus dari tasbih itu—getaran yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Seolah tasbih itu sendiri ragu.

Ia mengabaikan perasaan itu.

Ia mulai membaca.

"Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillahi rabbil 'alamin..."

Suaranya lantang. Mengalun di halaman rumah yang sepi, memantul dari dinding kayu rumah, dari batang-batang pohon pisang di samping rumah, dari dedaunan pohon beringin di belakang.

Ayat-ayat suci keluar dari mulutnya dengan lancar, dengan penghayatan yang sudah ia latih selama puluhan tahun. Suara yang dulu membuat santri-santrinya menangis karena tersentuh.

Suara yang dulu membuat orang-orang yang kerasukan jin berlari ketakutan. Suara yang dulu tidak pernah gagal menciptakan ketenangan di ruangan mana pun.

Tapi malam ini, di halaman rumah kecil di pinggir desa ini, suara itu tidak membawa ketenangan.

Rafiq tidak bergerak. Ia tetap berdiri di ambang pintu, tangan di saku, senyum di bibir. Tidak ada perubahan di wajahnya. Tidak ada kerutan kening. Tidak ada getaran di tubuhnya. Ia seperti patung yang mendengar suara angin—tidak peduli, tidak terpengaruh.

Kyai Mansur terus membaca. Al-Fatihah. Ayat Kursi. Al-Ikhlas. Al-Falaq. An-Naas. Diulang-ulang. Suaranya semakin keras, semakin tegas, seperti sedang berteriak di tengah padang pasir yang sunyi.

Tapi tidak ada yang berubah.

Badrun dan Lukman yang berdiri di belakang Kyai Mansur mulai merasakan sesuatu. Udara di sekeliling mereka berubah. Tidak lagi hangat seperti sore hari. Dingin.

Dingin yang tiba-tiba, seperti ada yang membuka pintu menuju ruang beku. Dingin yang membuat bulu-bulu di tangan mereka berdiri. Dingin yang membuat napas mereka berubah menjadi uap putih di udara.

Lukman menggigil. Tangannya yang memegang Al-Qur'an gemetar. Ia menatap ke sekeliling, ke tanaman-tanaman di halaman rumah Rafiq. Tanaman pisang yang tadi masih hijau segar kini mulai layu.

Daun-daunnya menggulung, menguning, seperti diserang penyakit dalam hitungan detik. Rumput ilalang yang tumbuh di halaman berubah warna menjadi coklat kering, seperti terbakar matahari meskipun matahari sudah tenggelam.

"Kyai..." bisik Lukman. Suaranya nyaris tak terdengar di antara tiupan angin yang semakin kencang.

Kyai Mansur tidak berhenti. Ia terus membaca. Matanya terpejam. Tangannya yang memegang tasbih naik turun mengikuti irama ayat yang ia bacakan. Ia merasakan dingin itu.

Ia merasakan udara di sekelilingnya semakin berat, seperti ada tekanan yang tidak terlihat. Tapi ia tidak mau berhenti. Ia harus membuktikan bahwa tidak ada kekuatan yang lebih besar dari firman Allah. Ia harus.

"Qul a'udzu birabbin naas. Malikin naas. Ilahin naas..."

Dan kemudian, Rafiq tertawa.

Tertawa pelan. Tertawa yang tidak keras, tapi terdengar jelas di antara hembusan angin dan bacaan ayat. Tertawa yang membuat Kyai Mansur membuka matanya. Tertawa yang membuat Badrun dan Lukman merasakan jantung mereka berhenti berdetak sesaat.

"Kyai," kata Rafiq. Suaranya tenang, datar, tidak ada emosi. "Kyai pikir ayat-ayat itu bisa memengaruhiku? Kyai pikir aku kerasukan jin atau setan sehingga bisa diusir dengan bacaan-bacaan itu?"

Ia melangkah keluar dari rumah. Satu langkah. Dua langkah. Kini ia berdiri di halaman, di hadapan Kyai Mansur, dengan jarak hanya tiga meter.

Tiga huruf di dahinya menyala lebih terang di bawah langit yang mulai gelap. Huruf-huruf itu berdenyut, berdenyut seperti jantung, seperti ada kehidupan di dalamnya.

"Aku tidak kerasukan, Kyai. Aku tidak diganggu. Aku memilih ini. Aku menerima ini. Dengan kesadaranku sendiri. Dengan keinginanku sendiri. Dan apa yang ada di dalam diriku sekarang... tidak akan pergi hanya karena kau membaca beberapa ayat."

Kyai Mansur tidak menjawab. Ia terus membaca. Lebih keras. Lebih cepat. Ayat-ayat kursi ia ulang berkali-kali, seperti mantra yang harus diucapkan ribuan kali agar memiliki kekuatan.

Tapi sesuatu terjadi.

Kyai Mansur merasakan dadanya sesak. Tiba-tiba. Seperti ada tangan yang meremas jantungnya dari dalam. Ia terbatuk. Satu kali. Dua kali. Dan ketika batuk ketiga, sesuatu yang hangat dan asin memenuhi mulutnya.

Darah.

Ia muntah darah. Darah merah segar yang menyembur dari mulutnya, jatuh ke tanah di depannya, membasahi rumput ilalang yang sudah layu.

"KYAI!" Badrun dan Lukman berteriak bersamaan. Mereka berlari mendekat, berusaha menahan Kyai Mansur yang tubuhnya mulai oleng.

Tapi Kyai Mansur menolak. Ia mengangkat tangannya, memberi isyarat agar mereka tidak ikut campur. Ia menyeka darah di sudut mulutnya dengan lengan baju putihnya, meninggalkan noda merah di kain putih bersih itu.

Dadanya sakit. Sakit yang luar biasa. Seperti ada yang menusuk di antara tulang rusuknya dengan pisau tajam.

Ia tidak berhenti.

"Allahu la ilaha illa huwal hayyul qayyum..."

Suaranya tersendat. Darah masih mengalir di tenggorokannya, membuat setiap kata terasa seperti beling yang ia telan. Tapi ia terus membaca. Matanya menatap Rafiq yang masih berdiri di depannya, tersenyum, tidak bergeming.

Rafiq menggeleng pelan. "Kyai, berhentilah. Kyai hanya menyakiti diri sendiri."

Kyai Mansur tidak mendengar. Atau mungkin ia mendengar, tapi ia memilih untuk tidak peduli. Ia terus membaca. Ayat demi ayat. Surat demi surat. Suaranya semakin parau, semakin serak, tapi ia tidak berhenti.

Udara di sekeliling mereka semakin dingin. Dingin yang membekukan. Dingin yang membuat Badrun dan Lukman yang masih berusaha menahan Kyai Mansur merasakan jari-jari mereka kebas. Tanaman-tanaman di halaman yang tersisa kini semuanya layu.

Daun-daun pisang yang tadinya masih hijau kini menggantung kering seperti kertas terbakar. Rumput ilalang berubah menjadi coklat kehitaman. Tanah di halaman retak-retak, seperti kekeringan meskipun belum musim kemarau.

Dan dari balik pohon beringin di belakang rumah, bayangan-bayangan hitam mulai muncul. Satu per satu. Diam-diam. Mereka bergelantungan di dahan-dahan pohon, duduk di akar-akar yang menjalar, berjalan di antara batang-batang pohon yang gelap.

Mata-mata merah menyala di antara dedaunan, puluhan, mungkin ratusan. Mereka menatap ke arah halaman, ke arah Kyai Mansur yang sedang berjuang melawan sesuatu yang tidak bisa ia lihat.

Kyai Mansur merasakan tatapan itu. Ia tidak bisa melihat bayangan-bayangan itu, tapi ia merasakannya. Di tengkuknya. Di pundaknya. Di sekelilingnya. Seperti ada ratusan pasang mata yang mengawasi, menunggu, menikmati.

Ia mencoba terus membaca. Tapi suaranya mulai hilang. Bukan karena ia kehabisan napas. Tapi karena sesuatu di udara menekan tenggorokannya. Seperti ada yang mencekiknya dari dalam.

Ia jatuh berlutut.

Lututnya menyentuh tanah yang kering dan retak. Koko putihnya yang bersih kini berlumuran darah—dari mulutnya, dari hidungnya yang mulai mengucurkan darah merah segar.

Sorban putihnya terlepas sedikit, menggantung di pundaknya. Wajahnya yang tadinya tenang kini pucat kebiruan, seperti orang yang kekurangan oksigen.

"KYAI!" Badrun berlutut di sampingnya, mencoba menahan tubuh Kyai Mansur yang mulai ambruk. Lukman di sisi lain berusaha mengusap darah yang mengalir dari hidung Kyai Mansur dengan ujung sarungnya, tapi darah itu terus mengalir, tidak berhenti.

"Bawa... bawa aku pergi..." bisik Kyai Mansur. Suaranya nyaris tidak terdengar. "Cepat..."

Badrun dan Lukman mengangkat tubuh Kyai Mansur yang mulai lemas. Badrun menyangga di sebelah kanan, Lukman di sebelah kiri.

Mereka berjalan mundur, tidak berani membelakangi Rafiq, tidak berani mengalihkan pandangan dari pria berkemeja hitam yang berdiri di halaman rumah itu.

Rafiq tidak bergerak. Ia hanya berdiri di sana, menatap mereka pergi. Tiga huruf di dahinya menyala terang di bawah langit malam yang mulai dipenuhi bintang.

"Selamat jalan, Kyai," katanya pelan. “Kau tau kenapa bacaan mu tidak mempan?

Kyai Mansyur menghentikan langkahnya, namun ia tidak menoleh.

“Cahaya mu Redup Kyai Mansyur”

"Sampaikan salamku pada muridmu. Ustad Salim. Semoga beliau cepat sadar."

Badrun dan Lukman terus berjalan mundur hingga mencapai ujung jalan setapak. Kemudian mereka berbalik, berlari membawa Kyai Mansur yang sudah hampir tidak sadarkan diri.

Mobil yang menunggu di ujung kampung langsung disambut dengan teriakan. Pintu dibuka, Kyai Mansur diletakkan di kursi belakang, dan mobil itu melaju kencang meninggalkan desa.

Sepanjang perjalanan pulang, Kyai Mansur tidak bicara sepatah kata pun.

Ia duduk di kursi belakang dengan tubuh lemas, kepala bersandar di jendela, mata terbuka lebar menatap langit malam yang gelap.

Badrun dan Lukman duduk di sampingnya, sesekali menyeka darah yang masih mengalir perlahan dari hidung Kyai Mansur, sesekali menawarkan air, sesekali bertanya apakah ia baik-baik saja.

Kyai Mansur tidak menjawab.

Matanya kosong. Kosong seperti orang yang baru sadar bahwa ada kekuatan di dunia ini yang tidak bisa dilawan dengan ilmu yang ia miliki.

Kosong seperti orang yang imannya diguncang hingga ke fondasinya. Kosong seperti orang yang baru pertama kali dalam hidupnya merasakan ketakutan yang sebenarnya—bukan takut pada manusia atau binatang, tapi takut pada kegelapan yang tidak bisa dijelaskan, yang tidak bisa dilawan, yang tidak bisa dipahami.

Ia masih memegang tasbih di tangannya. Butiran-butiran hitam itu masih utuh, tapi ia tidak lagi merasakan getaran yang dulu.

Tasbih itu terasa dingin di telapak tangannya. Dingin seperti benda mati. Dingin seperti tidak ada lagi berkah yang tersisa.

"Kyai... kita hampir sampai," kata Badrun pelan.

Kyai Mansur tidak menjawab.

"Kyai... Kyai baik-baik saja?"

Kyai Mansur menggeleng pelan. Bukan gelengan yang tegas. Gelengan yang lemah, yang putus asa, yang mengatakan bahwa tidak ada yang baik-baik saja.

"Aku... aku belum pernah merasakan ini," bisiknya akhirnya. Suaranya parau, seperti suara orang yang baru bangun dari mimpi buruk.

"Selama puluhan tahun aku bergelut dengan ilmu, dengan jin, dengan makhluk halus... belum pernah aku merasakan sesuatu yang begitu... gelap. Begitu kuat. Begitu... tidak bisa dilawan."

Ia menutup matanya. Air mata mengalir di pipinya yang keriput. Bukan air mata kesedihan. Air mata ketakutan. Air mata seorang kyai yang imannya diguncang.

"Ya Allah," bisiknya. "Apa yang telah terjadi pada pemuda itu? Dan apa yang telah kami lakukan sehingga Engkau mengizinkan semua ini terjadi?"

Tidak ada jawaban. Hanya suara mesin mobil yang menderu di jalanan malam yang gelap. Hanya bintang-bintang yang berkelap-kelip di langit, acuh tak acuh terhadap penderitaan manusia di bawahnya.

Mobil itu terus melaju meninggalkan desa, meninggalkan rumah kecil dengan pohon beringin di belakangnya, meninggalkan Rafiq yang masih berdiri di halaman dengan tiga huruf di dahinya yang menyala di tengah kegelapan.

1
La Rue
Sensasi horornya benar² terasa. Tapi aku suka,karena gaya penulisan yang khas dari Sang Penulis. Semoga banyak yang mampir karena ceritanya bagus dan jarang typo 👍
La Rue: sama-sama
total 2 replies
La Rue
Waduh makin seram tapi semakin penasaran 😱🤭
La Rue
seram tapi penasaran 😱🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!