NovelToon NovelToon
KAF FA RO

KAF FA RO

Status: sedang berlangsung
Genre:Iblis / Kutukan / Balas Dendam
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Bp. Juenk

Rafiq Al-Farizi adalah pria agamis yang kehilangan segalanya dalam waktu singkat. Ujian itu membuat imannya runtuh.

Ia bertemu dengan Mbah Jaya, seorang dukun yang menawarkan "keadilan" melalui ilmu hitam. Langkah demi langkah, hingga akhirnya Ia mengucapkan sumpah setia kepada makhluk gaib.

Sebagai tanda perjanjian, muncul tulisan KAF FA RO di jidatnya—stempel bahwa jiwanya telah menjadi milik kegelapan. Dengan kekuatan barunya, ia memburu balas dendam kepada semua yang menghancurkannya.

Namun semakin dalam ia melangkah, semakin ia sadar: bukan ia yang mengendalikan kegelapan, tapi kegelapan yang mengendalikannya. Dan harga dari perjanjian ini lebih mahal dari nyawanya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penguasa Hutan Kalimantan

Tiga minggu sejak kunjungannya ke Kalimantan, Bu Sumarni akhirnya mengambil keputusan. Bukan keputusan yang mudah. Bukan keputusan yang ia inginkan. Tapi keputusan yang ia yakini sebagai satu-satunya jalan untuk menyelamatkan anak dan cucunya dari kehancuran yang lebih parah.

Ia membayar uang panjar. Jumlah yang sangat besar—hampir seluruh tabungan hidupnya. Uang pensiun suaminya yang meninggal sepuluh tahun lalu. Uang hasil jual tanah warisan di kampung. Uang yang seharusnya untuk hari tuanya.

Semua ia berikan pada Ki Dukun dari Kalimantan itu, pria bertato hitam di wajah dan sekujur tubuh dengan mata yang tidak memiliki putih.

Ki Dukun itu bernama Juru. Hanya itu. Satu kata. Juru. Ia tidak pernah menyebut nama lengkapnya, tidak pernah menjelaskan asal-usulnya, tidak pernah bercerita tentang masa lalunya. Yang diketahui Bu Sumarni hanyalah bahwa Juru adalah pawang hutan yang ditakuti sekaligus dihormati di pedalaman Kalimantan.

Bahwa ia bisa berbicara dengan makhluk-makhluk gaib yang tinggal di pohon-pohon besar dan sungai-sungai dalam, dan bahwa ia belum pernah gagal dalam ritual-ritual yang ia lakukan.

Juru tiba di rumah Bu Sumarni tiga hari setelah uang panjar diterima. Ia datang bukan dengan pesawat atau kapal, tapi dengan cara yang tidak bisa dijelaskan. Suatu pagi, Bu Sumarni membuka pintu dan Juru sudah berdiri di teras rumahnya, tanpa koper, tanpa tas, hanya dengan rompi kulit hitam yang sama, pisau di pinggang, dan kalung tulang di leher.

Wajahnya yang penuh tato terlihat pucat—lebih pucat dari biasanya. Dan dari sudut bibirnya, ada darah. Darah segar yang baru saja ia usap dengan punggung tangannya.

"Ki, kenapa?" tanya Bu Sumarni cemas.

Juru mengangkat tangannya, memberi isyarat agar ia tidak bertanya. Ia melangkah masuk ke dalam rumah tanpa diundang.

Langkah kakinya berat di lantai keramik. Matanya yang hitam pekat menyapu seluruh ruangan—dinding, langit-langit, sudut-sudut gelap, lalu berhenti di sudut ruang tamu. Di sana, di tempat yang paling gelap antara lemari dan dinding, tidak ada apa-apa.

Tapi Juru menatapnya lama, seperti sedang berhadapan dengan sesuatu yang tidak bisa dilihat orang lain.

"Rumahmu sudah terkontaminasi," katanya. Suaranya berat, dalam, tapi ada getaran di dalamnya—getaran yang menunjukkan bahwa ia sedang menahan sesuatu.

"Ada jejak. Jejak dari penguasa yang bersekutu dengan menantumu. Dia sudah pernah datang ke sini. Mungkin hanya sekilas. Mungkin hanya untuk mengintai. Tapi jejaknya masih ada."

Ia berbalik menghadap Bu Sumarni. Matanya yang hitam menatap wanita tua itu dengan serius.

"Ritual tidak bisa dilakukan di rumah ini. Terlalu berbahaya. Jejaknya akan mengganggu. Kita harus pergi ke hutan. Ke tempat yang energinya bersih."

Bu Sumarni mengangguk. Ia sudah siap. Apapun.

Malam purnama tiba. Bulan bersinar penuh di langit, bundar sempurna, cahayanya keperakan menusuk kegelapan hutan. Tidak ada awan yang menghalangi. Bintang-bintang terlihat redup, kalah terang oleh cahaya bulan yang dominan.

Udara malam dingin, tapi tidak sedingin biasanya—ada kehangatan aneh yang menyelimuti hutan itu, seperti ada napas raksasa yang menghembuskan udara hangat dari balik pepohonan.

Hutan di pinggiran kota itu dipilih oleh Juru. Bukan hutan sembarangan. Ia sudah menjelajahi beberapa lokasi sejak pagi, merasakan tanah, mencium angin, mendengarkan suara-suara yang tidak bisa didengar telinga biasa.

Lokasi ini, katanya, memiliki energi yang paling cocok. Tanahnya gembur, dekat dengan aliran sungai kecil, dikelilingi oleh pohon-pohon besar yang usianya mungkin ratusan tahun.

Pohon-pohon itu berdiri melingkar, membentuk formasi alami yang mirip dengan lingkaran ritual. Di tengah lingkaran pohon itu, Juru telah menyiapkan segalanya.

Sejak sore, ia menggambar formasi di tanah. Bukan dengan kapur atau cat, tapi dengan darah. Darah ayam hitam yang ia sembelih sendiri, dengan pisau yang sama yang selalu ia bawa di pinggang.

Darah itu ia tampung dalam tempurung kelapa, lalu ia gunakan jari telunjuknya untuk menggambar pola-pola rumit di tanah. Pola yang tidak pernah dilihat Bu Sumarni, Aisyah, atau Tono sebelumnya. Lingkaran besar dengan diameter sekitar lima meter.

Di dalam lingkaran besar, ada lingkaran-lingkaran kecil yang tersusun dalam formasi bintang. Dan di tengah-tengah, tepat di pusat formasi, ada gambar yang mengerikan—gambar makhluk dengan tanduk di kepala, sayap yang terbentang, dan tubuh yang tidak proporsional.

Gambar itu tidak digambar dengan darah ayam, tapi dengan sesuatu yang lain. Sesuatu yang tidak ingin Juru jelaskan asalnya.

Di sekeliling lingkaran, ia menancapkan obor-obor dari bambu yang dicelup minyak. Lima obor di lima penjuru. Api obor itu tidak berwarna jingga seperti biasa.

Setelah dinyalakan, api itu berwarna biru kehijauan—warna yang tidak wajar, warna yang membuat siapa pun yang menatapnya merasakan dingin di punggung.

Juru sendiri mengenakan pakaian ritual. Bukan pakaian putih seperti ustad atau kyai. Ia melepas rompi kulit hitamnya, hanya mengenakan celana pendek dari kain hitam yang dililitkan di pinggang.

Seluruh tubuhnya terlihat—dada yang bidang dipenuhi tato hitam, lengan yang kekar dengan pola-pola yang sama, kaki yang kokoh dengan gambar-gambar aneh di paha dan betis.

Di kepalanya, ia mengenakan ikat kepala dari bulu burung elang hitam—bulu-bulu itu berdiri tegak seperti mahkota. Di lehernya, kalung tulang dan gigi masih menggantung. Di tangan kanannya, ia memegang pisau yang sama. Di tangan kirinya, sebuah genta kecil dari perunggu.

Aisyah berdiri di tepi lingkaran, tubuhnya gemetar. Ia mengenakan daster putih panjang yang disediakan Juru—bukan pakaiannya sendiri. Daster itu tipis, hampir transparan di bawah cahaya bulan. Ia memeluk tubuhnya sendiri, jari-jarinya menggigil, bukan hanya karena dingin tapi karena ketakutan yang tidak bisa ia kendalikan.

Wajahnya pucat, matanya sembab karena menangis sepanjang sore. Rambut panjangnya dibiarkan terurai, tidak diikat, tidak ditutup jilbab. Juru melarangnya menutup rambut. Rambut, katanya, adalah antena yang menghubungkan manusia dengan dunia lain.

"Bu, aku tidak mau," bisik Aisyah pada ibunya yang berdiri di belakangnya. "Aku tidak bisa. Ini... ini salah. Ini dosa. Apa lagi yang sudah aku lakukan, Bu? Apa belum cukup dosaku?"

Bu Sumarni memegang tangan putrinya. Tangannya juga gemetar. Matanya basah.

"Nak, ini satu-satunya jalan. Ibu sudah coba segalanya. Ustad, kyai, ruqyah, doa... tidak ada yang berhasil. Satu-satunya yang bisa melawan kekuatan Rafiq adalah kekuatan yang setara. Ibu tahu ini berat. Ibu tahu ini salah. Tapi ibu tidak tahu lagi harus bagaimana."

Tono berdiri di sisi lain lingkaran. Tubuhnya yang kurus kering terlihat semakin kurus di bawah cahaya bulan. Ia mengenakan celana pendek kain hitam yang sama seperti Juru, dadanya yang cekung terlihat polos tanpa tato. Wajahnya pucat kebiruan, matanya cekung dengan lingkaran hitam yang dalam.

Tapi di matanya, ada sesuatu yang berbeda dari Aisyah. Bukan ketakutan. Bukan penolakan. Tapi harapan. Harapan yang putus asa. Harapan bahwa ritual ini akan mengakhiri semua teror yang selama berbulan-bulan menghancurkan hidupnya.

"Aku setuju," katanya. Suaranya serak, tapi tegas. "Apa pun risikonya. Aku tidak bisa hidup seperti ini terus. Lebih baik mati daripada hidup dalam ketakutan setiap detik."

Juru mengangguk. "Kalau begitu, masuk ke dalam lingkaran."

Aisyah dan Tono melangkah masuk ke dalam lingkaran darah. Tanah di bawah telapak kaki mereka terasa dingin—dingin yang tidak biasa, seperti ada es di bawah permukaan tanah. Mereka berdiri di tengah lingkaran, di atas gambar makhluk bertanduk yang digambar Juru.

Juru mulai membaca mantra. Suaranya rendah, dalam, mengalun pelan di antara pepohonan. Genta di tangan kirinya ia bunyikan—kring... kring... kring...—setiap bunyi menggetarkan udara, membuat dedaunan di pohon-pohon besar bergoyang meskipun tidak ada angin.

Ia berjalan mengelilingi lingkaran, mengikuti arah jarum jam. Setiap kali ia melewati sebuah obor, api biru kehijauan itu membesar sesaat, seperti menyala, lalu kembali ke ukuran semula. Asap dari obor-obor itu tidak membubung ke atas, tapi mengalir horizontal, bergerak perlahan menuju pusat lingkaran, menuju Aisyah dan Tono.

Aisyah merasakan asap itu. Dingin. Dingin sekali. Asap itu menyentuh kulitnya seperti sentuhan jari-jari dingin yang merayap di lengan, di leher, di wajah. Ia ingin menjerit, tapi suaranya tidak keluar.

Ia ingin berlari keluar dari lingkaran, tapi kakinya tidak bergerak. Tubuhnya seperti terpaku di tempat, seolah ada yang menahannya.

Juru berhenti di hadapan mereka. Matanya yang hitam menatap Aisyah dan Tono bergantian.

"Sekarang," katanya. "Lakukan."

Tono menatap Aisyah. Aisyah menunduk. Air mata mengalir di pipinya.

"Aku tidak bisa," bisiknya.

"Kau harus," kata Juru. Suaranya tidak tegas, tapi ada nada di dalamnya yang membuat Aisyah tahu bahwa tidak ada pilihan.

"Jika tidak, ritual ini gagal. Dan kalian akan kembali ke kehidupan kalian sebelumnya. Teror setiap malam. Bau bangkai yang tidak pernah hilang. Bayangan yang mengikuti ke mana pun kalian pergi. Apakah kalian mau itu?"

Tono menggeleng. Ia meraih tangan Aisyah. Tangannya dingin, tapi Aisyah tidak menarik. Ia membiarkan Tono mendekat. Ia membiarkan Tono memeluknya. Ia menutup matanya, membiarkan air mata mengalir, membiarkan tubuhnya merespons meskipun hatinya berteriak tidak.

Bu Sumarni berdiri di luar lingkaran, menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Ia tidak bisa melihat. Tidak bisa mendengar. Tapi ia harus ada di sini. Juru mengatakan bahwa kehadiran seorang ibu yang mengandung anak dari anak perempuannya—kakek atau nenek dari janin yang dikandung—diperlukan untuk menguatkan energi ritual.

Bu Sumarni tidak mengerti, tapi ia tidak bertanya. Ia hanya berdiri di sana, menangis dalam diam, berdoa kepada Tuhan yang mungkin sudah tidak mau mendengar doanya.

Juru terus membaca mantra. Suaranya semakin cepat. Genta di tangannya berbunyi semakin keras. Api obor semakin membesar, api biru kehijauan itu menjulang tinggi, menerangi hutan dengan cahaya yang tidak wajar.

Dan kemudian, di tengah-tengah ritual, saat Tono sedang memeluk Aisyah, tiba-tiba tubuhnya lemas. Matanya terpejam. Tubuhnya yang kurus jatuh ke tanah, tidak bergerak.

1
Afri
bagus .. saya suka
Afri
d terpa badai yg terus menerus .. akhirnya .. iman pun terkikis
sakit yg d luar batas merengut akal nya
kuat ya Rafiq💪💪💪
La Rue
aku bacanya siang hari karena kalau malam hih jadi merinding ,seram
Mila helsa
mntappp bget ceritanya,.byk pljrnbyg bisa d ambil..
mmng sgt sulit utk ikhlas pasrah PD ujian yg bertubi tubi,.melawan RS sakit hati,mnhdpi runtuhnya dunia,.dendam dn kecewa mengambil alih😭
tp utk mngmbil jln sesat jg akibatnya g main main,.yg ad hidup sudah hancur mlh mkin hancur,rugi dn menderita dunia akhirat, astaghfirullah
Mila helsa
wah kerasukan th c Tono
Mila helsa
penasaran siapa sbnernya mbh jaya ini,dn py hubungan AP SM kluarga c Rafiq ini,.kt nya dia mmng udh d tunggu.,ahh seruu penasarn
Mila helsa
astaghfirullah,itu berani muncul sndiri,.pasti jdi buronan itu lma²,d luar prediksi bmkg🤣kirain ngambilnya dr jarak jauh,busyett deh g main2 ini setan kerjanya terang²n🤭
La Rue
semakin mengerikan 😱
Mila helsa
merindinggg
Mila helsa
seru bget kl d ank ke luar lbar
Mila helsa
ceritanya seruu bget,.ayo kawan² baca,.byk hikmah yg bisa kita ambil d kisah ini,.ayo Thor .promosiin cerita ini,biar mkin rame
Bp. Juenk: gak tau cara promosi nya kk 🤭
total 1 replies
Tamirah
Cerita awal yg menyedihkan, dikala anaknya demam tinggi kok tega tega berbagi keringat dgn sahabat suami.bahkan putranya dititipkan pada mertua nya.istri model begini baik' nya diceraikan saja dan ambil hak asuh nya. karena gak layak jadi seorang ibu.
Rani Saraswaty
swkaranh kamu sudah tahu, nak
ini dunia yg sesungguhnya, yg menghujat karna matanya masih tertutup, skarang matamu sdh terbuka dan kamu tdk takut, itu yg jd kekuatanmu
Rani Saraswaty
tutup pintunya
Rani Saraswaty
kamu tidak bisa kembali seperti dulu
Rani Saraswaty
tidak ada jalan mundur, setelah ini
Rani Saraswaty
jadi, kamu sudah yakin?
Rani Saraswaty
sholat iku yang menghubungkan kamu dan tuhan mu, sholat itu yg menjagamu. selama kamu sholat kamu dalam lindunganNya. caraku tidak bisa jalan apabila kamu masih sholat, kamu hrs memilih Alloh atau balas dendam
Rani Saraswaty
sholat itu gerbang nak
Rani Saraswaty
kamu harus meninggalkan sholat 5 waktu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!