IG & Tiktok : Tulisan_Nic
Naufal Adhitama (32), dokter anestesi yang hangat dan mudah bergaul, dikenal sebagai playboy karena sering dekat dengan banyak perempuan.
Meski begitu, ia percaya pernikahan harus berlandaskan cinta—bukan sekadar komitmen tanpa rasa.
Hingga ia bertemu Anin Ratri Maharani (27), perempuan dengan luka masa lalu dan trauma pada pria playboy akibat keluarga yang hancur.
Untuk pertama kalinya, Naufal ingin bertahan.
Namun saat cinta itu mulai tumbuh dan mereka ingin melangkah ke pernikahan, masa lalu dan rasa takut justru menjadi ujian terbesar.
Bisakah cinta mereka bertahan, atau justru hancur sebelum benar-benar dimulai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tulisan_nic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Naufal di kamarnya dengan pikiran yang hampir pecah setelah mendengar percakapan antar sahabat orang tuanya. Pasalnya, apa yang mereka perbincangkan relate dengan masalah apa yang tengah ia rasakan.
Hal yang selama ini akan ia abaikan, karna dulu menurutnya hubungan lawan jenis itu hanya berasaskan suka sama suka. Kalu merasa sudah tidak suka atau malah membuat menderita, untuk apa di pertahankan? Hanya menambah beban hidup saja. Solusinya adalah cut off dan cari yang lainnya. Kan masih banyak, perempuan juga bukan dia aja–pikirnya.
Tapi berbeda ketika ia bertemu Anin Ratri Maharani. Entah kenapa dengannya teori tadi tidak lagi berlaku. Bahkan sekarang justru dengan suka rela ia terjun ke permasalahan gadis itu. Aneh, dan cukup membuat seorang Naufal tersiksa tak karuan.
"Nggak bisa, aku nggak bisa kalo nggak sama Anin. Apapun, apapun yang terjadi aku harus sama dia. Sebaiknya aku telpon aja dia, sama-sama cari solusinya. Bukankah hubungan juga adalah sebuah partnership. Di mana salah satu memiliki masalah, maka akan ringan jika di hadapi berdua?" gumamnya pada diri sendiri.
Lantas ia pun meraih ponselnya. Mengetuk layar dan membuat panggilan pada kontak yang ia beri nama:
"My Ice Queen"
Tidak tersambung.
Lantas ia mencoba lagi. Masih belum tersambung.
"Ck, mana sih dia?" ucap Naufal sambil mengacak rambutnya, dengan sedikit kesal.
Naufal kembali mencoba, namun ada balasan pesan singkat dari Anin.
< Aku udah mau istirahat, dan semuanya lagi nggak baik. Aku mau sendiri dulu, tolong jangan ganggu dulu>
Naufal menatap nanar pesan itu, lantas ia mengetikkan balasan.
Tak lama pesan itu berbalas.
Tanpa pikir panjang, Naufal langsung membuat panggilan video. Dan kini wajah Anin tampak di layar ponselnya.
"Sayang kamu nangis?" tanya Naufal hati-hati.
Anin menyusut air matanya, mencoba untuk tersenyum. Namun tetap saja terlihat pahit.
"Aku, aku nggak tahu lagi harus gimana? Aku rasa memang sebaiknya kita nggak usah terusin hubungan kita." ujarnya datar.
"Nggak! Walau bagaimanapun aku tetep nggak mau kalo hubungan kita selesai. Kamu tahu kan aku serius sama kamu? Aku nggak main-main." Tutur Naufal, dengan menggebu-gebu.
Anin tersenyum kecut, betapa pacarnya ini keras kepala sekali. "Sekarang aku nanya, kalo hubungan kita serius bagaimana dengan orang tua kamu? Apa mereka juga akan menganggap hubungan kita serius? Setelah tahu bagaimana keluarga aku, bapak aku, adik-adik aku."
Lantas Naufal terdiam.
"Bapak aku tadi hampir nampar Ibu, kalau saja aku nggak datang tepat waktu mungkin Ibu sekarang sudah memar pipinya. Kamu tahu cuma gara-gara apa? perkara uang dua ratus ribu yang ibu pake buat belanja kebutuhan dapur. Yang jelas-jelas buat kebutuhan makan dan minum dia dan anak istrinya. sekompleks itu permasalahan di rumah aku. Seharusnya kamu mikir dua kali untuk nerusin hubungan ini. Aku nggak mau kamu terseret terlalu jauh dengan keadaan keluarga aku." terang Anin panjang lebar. Yang membuat Naufal terdiam semakin dalam.
"Sayang, aku nggak akan anggap kamu jahat kalo kamu memang memilih buat pergi. Aku sadar, semua orang berhak untuk memilih hidup tenang. Jadi sebelum hubungan kita ini terlalu jauh, lebih baik kita berhenti dari seka.."
"Nggak!" sela Naufal. "Aku nggak akan mundur sedikitpun, aku maunya cuma sama kamu. Aku nggak bisa sama yang lain. Apapun. Itu." tegasnya tanpa ragu-ragu. Tapi apa benar Naufal tidak ragu-ragu? Bukanya ia pun tengah bimbang setelah percakapan dari sahabat-sahabat orang tuanya barusan?
"Tapi justru aku sayang kamu, makanya aku nggak mau kamu kena masalah." desah Anin pelan. Lantas ia pun kembali menangis.
Naufal dengan sabar membiarkan pacarnya itu menangis. Kalau aja mereka tidak berjauhan, mungkin Naufal akan dengan sayang mengelus puncak kepalanya, dan membiarkan Anin menangis di pundaknya.
"Aku capek, aku pengen pergi aja. Nggak mau tinggal disini lagi. Keluarga aku bikin aku makin tersiksa, tertekan, dan bikin hidup aku susah. Makanya aku ragu-ragu buat jalanin hubungan serius sama kamu..." keluh Anin di sela isaknya.
"Aku akan bawa kamu pergi dari situ, sekarang kamu kemasin barang-barang kamu. Aku kasih waktu satu jam dari sekarang untuk kamu berkemas, malam ini juga aku jemput kamu." timpal Naufal segera.
"Emang kamu mau bawa aku pergi kemana? Mau kumpul kebo apa?" sanggah Anin, sewot.
"Ya kamu butuh tempat buat kamu tenang sayang, kamu bisa pake apartemen aku. Atau booking hotel untuk beberapa hari, sampai kamu merasa baikkan. Dan nggak harus kumpul kebo juga sayang. Kawin lari juga kan bisa." ujar Naufal mencoba mencairkan suasana.
"Ih nggak gitu juga. Aku cuma lagi ngeluarin uneg-uneg aku aja. Lagian kalo aku pergi beneran, ibu aku gimana? mereka gimana?"
"Ya kan nggak selamanya, kamu cuma butuh waktu buat sendiri aja. Biar capek kamu hilang, dan bisa beristirahat sementara. Tubuh dan psikis manusia itu butuh jeda loh sayang, dan nggak pernah bisa di pisahkan. Kalo cuma tubuh aja yang istirahat tadi psikis kamu nggak, jadinya tetap nggak balance. Kamu mau ya, aku jemput?!" bujuk Naufal.
Lantas Anin terdiam.
"Ya udah deh, kamu pikir-pikir dulu. Tapi inget, kalo kamu butuh sesuatu kapan pun kamu hubungin aku. Aku siap jadi Instalasi Gawat Darurat buat kamu. Atau kamu mau aku bius aja sayang? biar bisa tidur tenang?" goda Naufal sambil terkekeh.
Anin pun tersenyum, ternyata setelah bersama Naufal ada tempat untuk mencurahkan segala keluh kesahnya. Bahkan sekarang bisa juga menghiburnya. Diam-diam Anin bersyukur atas kehadiran Naufal di kehidupannya. 'Alhamdulillah' batinnya.
"Aku matiin dulu ya, mau bersih-bersih ke kamar mandi. Abis itu tidur. Terimakasih ya kamu udah bikin aku jadi lebih tenang." tutur Anin masih dengan senyum yang sama.
"Eh...kenapa di matiin. Aku temenin." cegah Naufal dengan kerlingan nakal nya.
"Brengsek! Kamu mau liatin aku mandi?!" bentak Anin, lantas ia mendelik kesal pada Naufal.
"Nggak sayang, becanda aja ih. Sensian amat. Ya udah kamu mandi. Abis itu tidur, sebelum itu kamu sebut-sebut nama aku. Biar nanti aku datang ke mimpi kamu."
"Dih, Najis!" timpal Anin, namun di sertai senyuman tipis.
"Hem...nggak mau, yaudah aku aja yang sebut-sebut nama kamu. Paling banter juga mimpi basah." ujar Naufal, masih dengan kerlingan nakal.
Lantas Anin mendelik "Yak! Dokter mesum!" bentak Anin, namun malah membuat Naufal tertawa terbahak-bahak. Dan membuat Anin semakin naik pitam. Ia pun segera mematikan panggilan video tersebut, tanpa aba-aba.
Naufal tersenyum getir di sisa tawanya. lantas menghirup nafas dalam-dalam dan menghembuskannya kuat-kuat. "Gila ya, bahkan sekarang aku nggak bisa melihat dia sedih. Terus gimana arah kedepannya?" gumamnya pada diri sendiri.
Naufal di landa kegalauan. Ia pun membaringkan tubuhnya di kasur, menatap plafon kamarnya berwarna putih bersih. Tatapannya menerawang jauh, seolah mencari-cari solusi di antara relief-relief plafon atas permasalahan kisah cintanya.
"Harusnya Albie nggak nikah, jadi aku kan bisa minta pendapatnya dia. Kalo gini kan, aku harus minta pendapat siapa?" tanyanya pada plafon.
"Bie, kenapa sih kamu nikah? Kamu ninggalin aku, tau!"
Lantas ia membalikkan tubuhnya dengan posisi telungkup.
"Mau sama Albie" rengeknya tiba-tiba, sambil memukul-mukul bantal.
Di ambang pintu Regina sang Mama terlah berdiri di sana. Tak sengaja ia mendengar rengekan Naufal barusan. Ia pun mengernyitkan dahinya, heran dengan tingkah Naufal yang tak biasa. Ada apa dengannya? Apa Naufal memiliki kelainan seks? Apa dia menyukai sesama pria? Dia suka Albie?.
Berbagai pertanyaan bermunculan dengan sendirinya, hingga membuat Regina Syok dengan itu semua.
"Naufal, Kamu ada hubungan apa sama Albie?!" pekik Regina.
Naufal terkejut, lantas cepat-cepat membalikkan badan menoleh pada sang Mama.
"Apa sih? Hubungan apa?" tanya Naufal heran.
"Itu tadi kamu bilang, mau sama Albie? Kalian penyuka sesama jenis? Kalian homo? Astaghfirullah Naufal!" pekik Regina.
"Apa sih Ma?! Siapa yang Homo, sembarangan!"
*
*
*
~Salam hangat dari Penulis 🤍