Sial! .
Lagi-lagi Dom dibuat menangis karena cinta.
Satu kali lagi pria itu berlutut, memohon maaf dan mengemis cinta kepada istri kecilnya. Namun, sebesar apa cinta yang dia tunjukkan, Bella tetap menggeleng dengan linangan air mata. Hukuman telah wanita itu jatuhkan sepenuh cinta.
"Bella, apakah pria brengsek sepertiku tidak layak untuk mendapatkan kesempatan kedua?" Gugu Dominic dengan suara bergetar.
Keduanya saling mencintai, namun Dom kembali terlena dengan masa lalunya, perselingkuhan pria itu dengan Sarah menjadikan boomerang hebat bagi bahtera rumah tangganya bersama Bella.
Bisakah Dom merebut kembali rasa cinta dan percaya istri kecilnya seperti semula?
"Aku begitu mencintaimu, Bella. Dan kau hampir membuat pria seksi ini menjadi gila!" Desis Dominic, saat cintanya kali ini tercampur dengan ambisi amarah dan gairah.
D O N ' T P L A G I A T ! ! !
H A P P Y R E A D I N G, S U G A R R E A D E R S ! !
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Prince Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13 — Terlambat untuk Dijelaskan
Udara pagi di apartemen Livia terasa hangat, namun suasana di dalam ruangan itu justru sebaliknya.
Hening.
Tegang.
Dominic berdiri di dekat pintu dengan napas yang masih sedikit berat, sementara Bella berdiri beberapa langkah dari kamar tamu, tubuhnya tegak, wajahnya tenang, dan tatapannya… asing.
Livia menoleh ke arah Bella, seolah meminta kepastian.
Bella mengangguk kecil.
“Biarin.”
Livia menghela napas, lalu melangkah mundur.
“Sepuluh menit,” katanya dingin pada Dominic. “Kalau dia nangis, aku yang lempar kamu keluar.”
Dominic tidak menanggapi.
Seluruh perhatiannya tertuju pada Bella.
Pintu akhirnya tertutup, menyisakan mereka bertiga dalam ruang yang sama—meski Livia sengaja berdiri tidak jauh, jelas tidak akan membiarkan Dominic bicara sesuka hati.
Dominic melangkah satu langkah mendekat.
“Bella…”
Namun wanita itu mengangkat tangan pelan.
“Jangan mulai dengan namaku dulu.”
Kalimat itu sederhana.
Namun cukup membuat Dominic berhenti.
Bella berjalan menuju sofa, lalu duduk dengan tenang. Ia tidak mempersilakan Dominic duduk, tapi pria itu akhirnya mengambil kursi di seberang.
Jarak di antara mereka tidak terlalu jauh.
Namun rasanya seperti dipisahkan lautan.
“Aku kasih kamu waktu,” ujar Bella pelan. “Kamu bilang mau jelasin.”
Dominic menatapnya.
Untuk pertama kalinya sejak mereka menikah, ia merasa gugup di depan istrinya sendiri.
“Aku tahu yang kamu lihat tadi malam buruk.”
Bella tersenyum tipis.
“Buruk?”
Dominic mengatupkan rahangnya.
“Aku salah.”
Bella diam.
Dominic melanjutkan, “Tapi aku nggak melakukan apa yang kamu pikir.”
Kalimat itu menggantung di udara.
Bella menatapnya lama.
Lalu tertawa kecil.
Suara tawanya pelan, tapi terasa pahit.
“Dom,” ucapnya pelan, “kamu masih nggak ngerti.”
Dominic mengernyit.
Bella mencondongkan tubuh sedikit ke depan.
“Masalahnya bukan soal kamu tidur sama dia atau nggak.”
Kalimat itu membuat Dominic terdiam.
“Masalahnya…” suara Bella mulai merendah, “kamu memilih ada di sana.”
Tatapan mereka bertemu.
“Kamu memilih masuk ke kamar hotel sama perempuan lain.”
Sunyi.
“Kamu memilih membiarkan dia masuk ke rumah kita.”
Dominic menunduk.
“Kamu memilih bohong.”
Setiap kata Bella terdengar pelan, namun menghantam lebih keras daripada bentakan.
Dan Dominic tidak bisa menyangkal satu pun.
“Aku… kehilangan arah,” katanya akhirnya.
Bella menghela napas.
“Lalu aku apa?”
Dominic mengangkat wajah.
Bella menatapnya dengan mata yang mulai berkaca.
“Aku ini istri kamu, Dom.”
Kalimat itu begitu sederhana.
Namun membuat dada Dominic sesak.
“Kenapa orang lain yang kamu cari saat kamu kehilangan arah?”
Dominic membuka mulut.
Namun tidak ada jawaban.
Karena pertanyaan itu terlalu jujur.
Dan terlalu tepat.
—
Di sudut ruangan, Livia berdiri sambil menyandarkan tubuh ke dinding.
Tangannya bersedekap, ekspresinya dingin.
Namun matanya sesekali melirik Bella dengan rasa khawatir yang tidak bisa ia sembunyikan.
Dominic menatap Bella lebih lama.
“Aku tahu aku salah.”
Bella tersenyum kecil.
“Kamu selalu tahu.”
Kalimat itu membuat Dominic terdiam.
Bella melanjutkan, “Masalahnya, kamu baru peduli setelah aku pergi.”
Sunyi.
Untuk pertama kalinya, Dominic merasakan kalimat itu menancap lurus ke dadanya.
Karena Bella benar.
Ia memang baru merasa panik setelah rumah itu kosong.
Setelah tidak ada lagi suara langkah Bella di pagi hari.
Tidak ada lagi kopi hangat.
Tidak ada lagi seseorang yang diam-diam menunggunya pulang.
Dominic mengusap wajahnya kasar.
“Aku nggak mau kehilangan kamu.”
Bella menatapnya.
Tatapannya tidak lagi marah.
Lebih seperti lelah.
“Aku sudah terlalu sering merasa kehilangan kamu duluan.”
Kalimat itu membuat ruangan kembali sunyi.
Dominic memejamkan mata.
Rasa bersalah yang sejak tadi menekan dadanya kini terasa lebih jelas.
Lebih nyata.
Lebih menyakitkan.
—
Ponsel Dominic bergetar.
Suara itu memecah kesunyian.
Nama Diana muncul di layar.
Bella melihatnya.
Jelas.
Sangat jelas.
Dominic refleks mematikan layar.
Namun sudah terlambat.
Tatapan Bella berubah.
Bukan marah.
Bukan kecewa.
Tapi… muak.
Bella berdiri.
“Aku rasa sepuluh menitnya selesai.”
Dominic ikut berdiri.
“Bella, please.”
Untuk pertama kalinya, suara pria itu benar-benar terdengar memohon.
Bella menatapnya.
“Masih dia?”
Dominic terdiam.
Bella tertawa kecil.
Lucu.
Bahkan di tengah pembicaraan ini, nama Diana masih muncul.
Masih ada.
Masih menjadi bagian dari hidup Dominic.
“Aku akan putus semua hubungan sama dia,” ujar Dominic cepat.
Bella menggeleng pelan.
“Jangan bilang itu ke aku.”
Dominic membeku.
Bella melanjutkan, suaranya tenang.
“Kalau kamu mau mengakhiri, lakukan karena itu memang seharusnya. Bukan karena aku lihat.”
Kalimat itu membuat Dominic kehilangan kata-kata.
Bella melangkah mendekat.
Tatapannya lurus ke mata Dominic.
“Jangan jadikan aku alasan untuk kamu jadi suami yang seharusnya.”
Dominic terdiam.
Dan untuk pertama kalinya…
Ia merasa Bella benar-benar berada di luar jangkauannya.
—
Setelah Dominic pergi, pintu apartemen tertutup dengan bunyi pelan.
Bella berdiri cukup lama di tempatnya.
Tubuhnya masih tegak.
Wajahnya masih tenang.
Namun begitu langkah Dominic benar-benar menghilang, lututnya terasa lemas.
Livia langsung mendekat.
“Bella…”
Bella menunduk.
Tangannya menyentuh pelipis.
Kepalanya mendadak terasa pusing.
“Liv…”
Suaranya melemah.
“Aku nggak enak badan.”
Livia langsung memegang bahunya.
Wajah Bella terlihat pucat.
Bibirnya sedikit kehilangan warna.
“Duduk dulu.”
Bella mengangguk pelan.
Namun baru beberapa langkah, ia mendadak berhenti.
Tangannya menutup mulut.
“Bella?”
Tanpa sempat menjawab, Bella berlari kecil ke kamar mandi.
Suara muntah terdengar.
Livia langsung menyusul, wajahnya berubah cemas.
Beberapa menit kemudian, Bella keluar dengan wajah yang lebih pucat.
“Kamu sakit?”
Bella menggeleng pelan.
“Aku nggak tahu.”
Livia menatapnya lama.
Lalu alisnya perlahan terangkat.
“Bella…”
Suara itu membuat Bella menoleh.
Livia bertanya hati-hati.
“Telat datang bulan?”
Ruangan mendadak terasa sunyi.
Bella membeku.
Pikirannya berhenti.
Jantungnya berdegup lebih cepat.
Ia menatap Livia tanpa berkedip.
Lalu perlahan…
Ingatannya kembali pada tanggal.
Pada minggu-minggu terakhir yang kacau.
Dan wajah Bella berubah.
Seketika.
END BAB 13 🔥
dulu aja alesannya sibuk Mulu
Ampe kita di abaikan
dasar...kalau ada maunya aja,so soan semua ditinggal demi kita
nanti kalau udah dapet lagi juga lupa🙄
tapi siapa yg ga yaaa🫣
kasih kesempatan ga ya?🙄🥹
.di otak para pelakor itu
dia cantik
dia sukses
tapi malah terobsesi sama milik orang lain
dan bodohnya para pria itu membuka pintu hati nya lebar"
aku bacanya ga nafas thor
ayo semangat bella
cape sama orang yg belum selesai sama masa lalunya
kita akan selalu sendirian
terabaikan
dan...bukan sesuatu yg jadi prioritas
dia datang hanya kewajiban 🥹
sebenarnya air mata bukan lah tanda kita lemah
tapi memberikan ijin buat tubuh kita mengeluarkan semua rasa
nangis aja..
yg kenceng.
tapi.....untuk saat ini aja
setelah nya kita bergerak maju ke masa depan
mereka kan selalu merasa di zona nyamannya
merasa kita akan ditempat dan rasa yg sama
walaupun apapun yg terjadi
tapi mereka lupa semua asalnya dr mereka 🥹🥹
kok aku yg emosi ya Thor
liat Diana yg ga tau malu
eh..mang lupa ya
pelakor mang semuanya ga tau malu🥹🥹
lelah itu sesuatu yg nyata tapi tida berasa🥹🥹
ini...memang dr awal seperti ada yg salah bukan?🥹🥹🥹