Terlahir dengan dua elemen sekaligus, Yan Bingchen justru harus menanggung kutukan yang membuatnya kesulitan mengendalikan kekuatannya sendiri.
Dianggap berbahaya bahkan oleh keluarganya, ia tumbuh dalam kesepian dan penolakan sejak kecil.
Namun, ketika kesedihan dan amarahnya mencapai puncak, Yan Bingchen memilih meninggalkan klannya. Pada saat itulah, kekuatan sejatinya akhirnya bangkit sepenuhnya.
Kini, di dunia yang memandangnya sebagai ancaman, mampukah ia membuktikan bahwa dirinya bukanlah bencana … melainkan calon yang akan berdiri di puncak kekuatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Suka dan Duka
Darah merembas di sela-sela lantai batu Arena Cakrawala, mengubah kemegahan turnamen menjadi jagal raksasa.
Yan Bingchen berdiri di pusat badai, menggenggam Pedang Langit Penembus Awan yang kini berdenyut seirama dengan detak jantungnya.
Artefak Kelas Emas itu memancarkan resonansi yang haus akan nyawa, seolah-olah kesadaran rendah di dalamnya baru saja terbangun dari tidur panjang oleh aroma kematian.
Mata dualitas Yan Bingchen berkilat mengerikan. Di mata kanannya, dunia tampak seperti bara api yang siap meledak; di mata kirinya, segalanya bergerak lamban dalam lapisan es yang rapuh.
Ia melihat garis-garis Qi musuh yang gemetar, ketakutan yang menjalar di syaraf mereka sebelum pedangnya bahkan bergerak.
Tanpa suara, Yan Bingchen melesat. Gerakannya bukan lagi sekadar lari, melainkan serangkaian kilatan ungu yang membelah udara.
Sring!
Satu tebasan horizontal dikirimkan. Gelombang energi ungu meluncur, memotong barisan pembunuh berbaju hitam yang mencoba mengepungnya.
Tubuh-tubuh itu terbelah dengan cara yang janggal—beberapa bagian membeku seketika hingga pecah menjadi serpihan kristal, sementara sisanya hangus menghitam dalam hitungan detik.
Tak ada teriakan, hanya bunyi jatuh daging yang kaku di atas lantai batu.
Para pembunuh dari Benua Binghuo mulai ragu.
Mereka adalah pendekar Tahap Pengumpulan Qi tingkat tinggi dan beberapa di Tahap Pembentukan Fondasi, namun di depan Yan Bingchen, mereka hanyalah gandum yang menunggu disabit.
Seorang pembunuh raksasa menerjang dengan palu godam besar. Yan Bingchen bahkan tidak menoleh sepenuhnya. Ia hanya mengayunkan pedang emasnya ke belakang punggung.
BANG!
Palu baja itu hancur berkeping-keping saat bersentuhan dengan aura pedang Yan Bingchen.
Dalam gerakan memutar yang elegan, Yan Bingchen menusukkan ujung pedangnya ke dada sang raksasa.
Energi es merambat masuk, membekukan jantungnya, sementara energi api meledak dari dalam parunya. Sang raksasa tewas berdiri, menjadi patung daging yang berasap.
"KAK BINGCHEN! TOLOOOONG!"
Teriakan melengking itu menembus riuhnya pertempuran. Yan Bingchen menoleh tajam. Di sudut arena yang hampir runtuh, Mo Ran terdesak ke dinding.
Si Hitam, serigala arwah itu, sedang bertarung gila-gilaan melawan lima pembunuh sekaligus, bulu hitamnya sudah bersimbah darah, mencoba melindungi Mo Ran yang meringkuk ketakutan sambil memegang erat tas lusuhnya.
Mata Yan Bingchen menggelap. Denyut di kepalanya kembali menghantam, namun kali ini dipicu oleh kemarahan yang dingin.
"Mati," desisnya.
Ia melompat, menempuh jarak tiga puluh meter dalam satu lompatan yang diperkuat ledakan Qi. Saat ia berada di udara, ia mengayunkan Pedang Langit Penembus Awan ke bawah.
"Tebasan Cakrawala: Hujan Es Membara!"
Ratusan jarum es yang dibalut api ungu menghujani area di sekitar Mo Ran. Para pembunuh yang mengepungnya tidak sempat menghindar.
Jarum-jarum itu menembus zirah, kulit, dan tulang mereka. Dalam sekejap, area itu bersih. Yan Bingchen mendarat dengan dentuman keras tepat di depan Mo Ran, menciptakan retakan melingkar di tanah.
Mo Ran mendongak, wajahnya pucat pasi tertutup debu, namun matanya berbinar saat melihat punggung tegap Yan Bingchen. "K-kak ... kau datang ..."
Yan Bingchen tidak menoleh, matanya tetap waspada pada musuh di depannya. "Tetap di belakangku. Jika kau bergerak satu inci pun, aku tidak menjamin keselamatanmu."
Si Hitam mendekat, merintih pelan sambil menjilati luka di bahunya. Yan Bingchen mengalirkan sedikit Qi hangat ke arah serigala itu, menutup luka-lukanya secara instan.
Sementara itu, pasukan Kekaisaran Shan mulai mendapatkan kembali kendali.
Panglima berbaju zirah emas memimpin serangan balik yang brutal. "Bantai setiap penyusup! Jangan biarkan satu pun lolos dari tembok kota!"
Pertempuran itu berdarah-darah. Pasukan Kekaisaran kehilangan ratusan prajurit; mayat-mayat berseragam perak bertepukan dengan mayat pembunuh hitam.
Namun, dengan bantuan kekuatan penghancur Yan Bingchen yang telah mematahkan moral musuh, sisa-menerima pembunuh itu mulai dibantai habis oleh barisan tombak Kekaisaran.
Darah mengalir di parit-parit arena. Bau amis besi dan daging terbakar memenuhi atmosfer.
Ketika musuh terakhir jatuh dengan jantung tertembus tombak prajurit Shan, kesunyian yang mencekam perlahan kembali menyelimuti Arena Cakrawala.
Yan Bingchen menurunkan pedangnya. Aura ungu di sekelilingnya memudar, namun matanya masih berkilat misterius. Ia melihat ke sekeliling; kehancuran ada di mana-mana.
Hadiah turnamen yang ia pegang kini terasa jauh lebih berat, bukan karena logamnya, tapi karena darah yang harus tumpah untuk mempertahankannya.
Petugas pendaftaran yang selamat keluar dari balik reruntuhan, menatap Yan Bingchen dengan ngeri sekaligus takjub.
Seluruh penonton yang masih hidup di tribun berdiri terpaku, menatap pemuda berambut dualitas itu—seorang pendekar yang baru saja membantai pasukan elit sendirian.
Yan Bingchen menyarungkan pedang emasnya. Ia melirik Mo Ran yang gemetar berdiri.
"Ayo pergi," ujar Yan Bingchen datar. "Tempat ini sudah tidak ada apa-apanya lagi untuk kita dan tentunya kita harus bayar pemilik kedai itu."
Setelah memberikan satu tael emas hasil dari menjarah mayat, mereka berniat langsung pergi.