Reina Wulandari,seorang gadis yang terpaksa harus menjual dirinya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dengan sang nenek. Dia anak yang pintar namun sayang kepintarannya tidak dia manfaatkan dengan baik dan justru harus terjerumus ke dalam hal yang tidak seharusnya dia lakukan. Bagaimana kisahnya mari ikuti ceritanya.
( Hanya cerita fiktif belaka jadi tolong jangan hina karyaku ya 🙏 tolong komentar dengan bijak dan ambil hal yang baik saja ).
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KheyraPutri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kepikiran
Bramasta yang juga sudah pulang dari kantor lagi-lagi saat dia ingin beristirahat dia harus mendengarkan perdebatan ayah dan ibunya karena ibunya yang selalu keluyuran dan menghambur-hamburkan uang tidak pernah mengurus rumah tangganya lagi.
" Kalau begini terus bisa-bisa aku yang gila" ucap Bramasta yang lalu mengambil jaket kulitnya dan kunci mobilnya keluar dari kamar.
Di ruang tamu ayah dan ibunya yang sedang berdebat pun menatap Bramasta yang turun dari lantai atas.
" Mau kemana kamu Bram malam-malam begini ?" Tanya Hamid ayah Bramasta.
" Mau cari ketenangan,di rumah cuma dengerin orang bertengkar" ucap Bramasta yang berlalu tanpa melihat kedua orangtuanya.
Bramasta keluar dan menuju apartemen miliknya yang tidak pernah di tinggali namun tetap di bersih karena dia membayar jasa tukang bersih-bersih.
Sesampainya di apartemen Bramasta langsung merebahkan tubuhnya di ranjang dan menatap langit-langit. Dia masih kepikiran dengan pembicaraannya dengan Hendy tadi saat di kantor.
Flash back on
Tok
Tok
Tok
" Masuk" ucap Bramasta dari dalam.
" Permisi tuan saya ingin menyerahkan informasi yang tadi tuan minta" ucap Hendy menyerahkan map ke Bramasta.
Bramasta pun menerimanya dan membacanya. " jadi dia yatim piatu dan hanya tinggal dengan neneknya " ucap Bramasta.
" Benar tuan,kedua orangtuanya meninggal karena rumahnya terjadi kebakaran saat kedua orangtuanya tertidur dan nona Reina sedang belajar kelompok di rumah temannya" papar Hendy.
" Lalu untuk biaya kuliahnya ?" Tanya Bramasta.
" Untuk biaya sekolah nona Reina mendapatkan beasiswa karena dia siswa yang berprestasi tuan,dan untuk biaya hidupnya sehari-hari neneknya berjualan gado-gado di depan rumahnya dan nona Reina-" Hendy pun ragu untuk melanjutkannya karena takut tuannya akan marah.
" Reina kenapa Hen ?" Tanya Bramasta yang tidak sabar ingin tau tentang kehidupan Reina.
" Menurut informasi yang saya dapatkan nona Reina sering keluar dan bertemu dengan pria berbeda-beda dan di hotel yang berbeda-beda tuan,jadi saya menduga kalau nona Reina seorang...seorang kupu-kupu malam tuan" ucap Hendy ragu." Maaf tuan" ucap Hendy dengan menunduk karena takut tuannya akan marah besar.
" Baik kamu boleh keluar " ucap Bramasta dengan masih santai.
" Baik tuan,kalau begitu saya permisi" ucap Hendy menundukkan kepalanya dan keluar dari ruangan Bramasta.
Setelah Hendy hilang di balik pintu Bramasta pun diam dan merenungi perkataan Hendy.
" Tapi wajahnya begitu polos dan sangat teduh...kenapa dia harus melakukan hal yang zina" gumam Bramasta yang tidak mempercayai informasi yang dia dapat karena dia masih mengingat jelas wajah dan mata Reina saat bertemu tadi.
Bramasta pun memilih menutup laptopnya dan mengambil tasnya lalu keluar dari ruangan karena jam sudah menunjukkan pukul 7 malam. Dia ingin pulang dan beristirahat dengan tenang.
Flash back off
" Mau istirahat di rumah berisik, mau istirahat di tempat yang sepi fikirannya malah kemana-mana...Reina Reina kamu membuatku penasaran. Aku harus cari tau sendiri, kalaupun benar dia seperti itu pasti ada alasannya dan aku akan membantunya" ucap Bramasta dengan yakin.
Bramasta pun memilih mengambil airphone dan mendengarkan musik untuk mengalihkan pikirannya yang sedang kacau. Setelah 15 menit Bramasta pun benar-benar bisa terlelap. Dan mulai menuju mimpinya yang indah.
"Apakah kakak tidak jijik berteman denganku ? Aku gadis miskin dan hina " ucap Reina dengan menangis.
" Aku nggak pernah memandang fisik,pangkat maupun derajat yu aku tulus" ucap Bramasta bersungguh-sungguh.
"Makasih kak karena baru kali ini aku mempunyai teman yang benar-benar mau menerimaku apa adanya dan tidak menjadikanku sebagai pemuas nafsu saja" ucap Reina sambil memeluk dan menangis sesenggukan.
" huh...huh...huh"Bramasta terbangun dari tidurnya dengan nafas yang tersengal-sengal. " mimpi apa ini, kenapa nggak di mimpi nggak di dunianyata dia selalu menangis ? Haaah bisa-bisa aku gila Re mikir kamu".
Bramasta memilih bangun dari tempat tidurnya dan mengambil air minum di dapur. Dia duduk sejenak lalu memikirkan mimpi dan informasi yang di dapatkan asistennya tadi. " sebenarnya ada apa ini,aku merasakan sakit saat melihat dia menangis... apakah aku pernah bertemu dengannya sebelumnya" gumam Bramasta.
Bramasta melihat ponselnya dan ternyata baru pukul 2 pagi,dia pun tidak kembali ke kamar dan memilih mengerjakan pekerjaannya di laptop yang tadi sempat dia bawa. Pekerjaannya menumpuk selama 1 Minggu ini karena dia kurang fokus bekerja.
Bramasta memilih mengerjakan pekerjaannya dengan sangat serius dan teliti sampai matahari pagi pun bersinar. Bramasta beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya dan mengganti pakaiannya dengan pakaian kantor.
Sebelum berangkat dia selalu menyempatkan untuk sarapan terlebih dahulu. Ia mengambil 2 roti dan mengoleskan selai ke roti yang dia pegang. Dia memilih sarapan roti dengan selai coklat kesukaannya dan membuat kopi.
Setelah acara sarapannya selesai Bramasta berangkat ke kantor. Namun sebelum ke kantor tujuan utamanya adalah ke rumah Reina,dia ingin mampir ke rumah Reina untuk mencoba bertanya-tanya ke neneknya.
40 menit perjalanan Bramasta pun sampai di halaman rumah Reina. Karena kondisi jalan yang masih pagi begitu lenggang belum macet.Dia pun turun dari mobil dan menghampiri nenek Reina yang sedang membersihkan halaman. Sambil membawa bingkisan yang tadi sempat dia beli di minimarket dekat apartemennya.
" Assalamualaikum" ucap Bramasta.
" Wa alaikum salam,waduh gado-gadonya masih tutup nak nenek belum mulai jualan lagi" ucap nenek Sri yang mengira Bramasta ingin membeli gado-gadonya.
" Oh begitu ya nek padahal saya ingin memesan untuk makan siang karyawan saya nanti. Tapi kalau nenek nggak jualan ya sudah mau gimana lagi" ucap Bramasta pura-pura.
" Wah maaf ya nak" ucap nenek Sri yang tidak enak karena pembelinya tidak tau.
" Nggak apa-apa nek,apa Reina sudah berangkat ke sekolah nek ?" Tanya Bramasta.
" Sudah nak 15 menit yang lalu,dia harus mampir ke rumah temannya Shasha yang ada di gang depan sana... apakah ada sesuatu yang penting nak ?" Tanya nenek Sri.
" Ah tidak nek hanya mampir saja kok tadi sekalian,gimana nenek sudah benar-benar sembuh ? Kemarin saya ke sini tapi belum sempat tanya keadaan nenek. Dan ah iya ini ada bingkisan nek maaf saya lupa" ucap Bramasta menyerahkan sebuah bingkisan buah dan roti.
" Waduh nak pakai repot-repot segala,nenek sudah sehat kok...nenek hanya kecapekan. Ayo duduk dulu nak " ucap nenek Sri menerima bingkisan dari Bramasta dan mempersilahkan Bramasta untuk duduk di bangku teras depan rumah Reina.
" Makasih nek,kenalin namaku Bramasta" ucap Bramasta yang duduk di bangku itu.
" Bramasta kok nenek baru dengar nama kamu, tapi Reina kemarin bilang kalau kamu om temannya. Nenek ke dalam buatan minum dulu ya nak" ucap nenek Sri yang ingin beranjak dari tempatnya berdiri.
" Ah tidak usah repot-repot nek saya hanya sebentar kok,nenek di sini saja nanti nenek kecapekan lagi" ucap Bramasta mencegah nenek Sri agar tidak membuatkan minuman.
" Nggak repot nak hanya membuat teh nggak akan bikin nenek pingsan lagi" ucap nenek Sri dengan tertawa.
--->>>