Elfa adalah seorang gadis 17 tahun, dia siswi berprestasi di sekolah, Elfa sangat cantik, pintar dan polos. Hanya satu kekurangannya dia bukan anak orang kaya. Dia hidup bersama ibunya yang hanya seorang tukang cuci. Elfa masuk ke sekolah itu melalui jalur beasiswa.
Elfa bukan hanya pintar dan cantik tapi dia adalah kekasih seorang Aditya siswa paling tampan di sekolah dan idola semua siswi.
Elfa terlalu mencintai Aditya, ia akan melakukan apa saja untuk Aditya. Hingga satu malam dengan kata sebagai bukti cinta. Elfa menyerahkan kesuciannya kepada Aditya.
Dari kejadian satu malam itu , Elfa hamil anak Aditya. Ia mengatakan pada Aditya tentang kehamilannya tapi Aditya memaksa Elfa mengugurkan kandungannya.
"Gugurkan kandunganmu, jangan berharap aku akan bertanggung jawab. Kau sadar? Kita ibarat langit dan bumi. tidak akan mungkin bersatu" Ucap Aditya
Seluruh tubuh Elfa bergetar "aku bersumpah ....!!! kau tak akan pernah mendengar suara tangisan bayi dalam hidup mu "
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elvy Anggreny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Satu bulan berlalu sejak acara makan malam di rumah mertuanya, yang membuat jantung Aditya tidak nyaman. Aditya terus berpikir mungkin dan mungkin itu hanya cerita biasa ,karangan keponakannya saja. Apalagi Aditya selalu mendapat panggilan Paman tampan dari Tasya. Aditya selalu mengatakan pada dirinya sendiri untuk abai.
Tapi beberapa hari ini, dia tak sengaja membuka galeri foto di ponselnya. Ada satu foto saat dia masih sekolah. Saat itu juga, ata kata Tasya tidak lagi membuat nya nyaman. Debaran jantungnya semakin tidak terkontrol..
"Pertama kali melihatnya, aku langsung ingat foto paman yang udah lama"
Aditya pernah menemani Tasya melihat lihat album lama di rumah ayahnya. Foto bayi Ardian dan Aditya sampai foto mereka wisuda. Tasya bahkan pernah mengatakan "Paman... Paman tampan sekali. Kalau paman masih seusia aku, pasti paman jadi rebutan di sekolah"
Dan sudah sebulan berlalu sejak pertama kali Aditya menyuruh orang kepercayaannya untuk mencari tau tentan Elfa. Kini setiap kali ponselnya berdering jantungnya juga berdetak kencang, berharap ada kabar tentang Elfa, Setelah pencarian pertama, Elfa bahkan seperti hilang di telan bumi sejak.... sekarang, saat ini, menunggu kabar apapun tentang Elfa jauh lebih mendebarkan daripada menunggu hasil tender proyek.
Aditya pernah mencari Elfa di rumah lamanya, beberapa hari memantau rumah itu. namun, rumah sederhana itu terlihat sepi seperti tak berpenghuni.
Bahkan jawaban dari orang yang berdekatan dengan rumah lama Elfa tak membuat Aditya merasa puas.
"Elfa... kenapa kamu menghantui hidupku..apa mau kamu?" Aditya berteriak keras.
Aditya seperti orang tidak waras, berteriak keras menyebut nama Elfa. karyawannya mulai ketakutan setiap kali pimpinan mereka berada dalam ruangannya.
Ponsel Aditya berdering...
"Gimana hasilnya Jon ?"
"Maaf tuan, sepertinya Elfa sudah menyadari dia sedang di pantau. Sekarang dia seperti menutup semua akses tentang dirinya. Elfa juga tidak pernah menggunakan sosial media, tidak ada hasil sama sekali sejak pencarian kali ini tuan"
"Apa maksudmu dengan tidak ada hasil sama sekali dengan pencarian kali ini Jon ?" Aditya menggebrak meja kerjanya. Asistennya hanya bisa menunduk diam. Melirik dengan tatapan tajam.
"Jon..aku membayar mahal untuk pekerjaan ini, aku butuh informasi tentang Elfa.. Dulu kau dengan mudah menemukannya "
" Kata tetangga di sekitar rumah lamanya, Elfa sudah kembali ke Bali. Di sana dia dan ibunya "
Aditya merasa dia di permainkan, kenapa Elfa harus datang lalu pergi lagi...
"Jon... Cari apa saja informasi tentang Elfa. Cari tau alamat kampungnya, bahkan cari ke beberapa teman sekolah kami dulu "
Tiga belas tahun bukan waktu yang singkat, Aditya bahkan hanya mengingat beberapa orang teman saja. Lalu bagaimana dengan Elfa, gadis pendiam yang hanya berkutat dengan buku, perpustakaan dan ruang kelas.
Elfa hanya dekat dengannya, menjadi bayangannya, bagaimana mungkin Jon tau siapa teman dekat Elfa.
"Baik tuan..."
Asistennya memberanikan diri bicara " Pak, mungkin wanita yang anda cari sudah menikah dan...dan memang tidak izinkan keluar oleh suaminya " Ucap pelan penuh rasa takut.
"Menikah? Dia menikah?"
"Sekarang kamu cari datanya di sana "
"Baik pak...."
Aditya menatap lekat kertas dengan gambar hitam putih di tangannya. Kepalanya terasa mau pecah, Dulu dia yang menolak kehadiran Elfa tapi kini dia mencari Elfa seperti mencari jarum dalam jerami. Selama tiga belas tahun dia berdiri di atas kesombongannya, dia berpikir jika dia mau, dia bisa membeli semua dengan uang. Namun sekarang hanya untuk satu kabar saja tentang Elfa, dia harus mengais seluruh isi dunia. Aditya merasa semesta juga bungkam " Kamu ingin membuat aku mati perlahan lahan, Elfa "
_____
Aditya tidak pulang ke rumah, dia masih berputar-putar mengelilingi kota. Dengan tatapan mata yang liar, dia melihat setiap sudut kota seolah olah dia akan menemukan sosok yang dia cari.
Aditya masuk ke dalam Kafe... pikirannya kacau. Setelah memesan minuman, Aditya duduk menatap satu persatu tamu yang masuk.
Aditya duduk di meja, cahaya lampu remang-remang menampakkan bayangan yang tidak begitu jelas , tatapannya terpaku pada sosok di belakangnya, Kaca pembatas itu memantulkan sosok seorang wanita yang berjalan keluar. Aditya terpaku..
"Elfa......! " Dengan sangat cepat Aditya berbalik, ia berlari, menabrak meja dan menyenggol tamu yang lain. Ia tidak perduli dengan teriakan pengunjung kafe.
"Elfa ...arrgghhh.... kemana dia ?kamu menghilang lagi, temui aku Elfa, maki aku. Pukul aku. Jangan membunuhku dengan cara seperti ini"
"Tuan... sebaiknya anda pulang. Anda tidak baik baik saja " Ucap salah satu pengunjung yang merasa prihatin dengan kondisi Aditya.
Aditya mengabaikan orang yang ingin membantunya " Dimana ? Dimana dia ?" Aditya berjalan menuju mobilnya.
"Kamu di mana ? Apa yang harus lakukan, jangan seperti ini Elfa" Aditya mengendarai mobil tanpa arah. Ia merasa lelah, seluruh tenaganya seperti terkuras habis.
Kembali ke rumahnya yang mewah, Aditya melihat Chelsea sedang mengepak barang barang dari kamar bayi.
"Sayang, apa yang kamu lakukan?" Tanya Aditya lembut,. Aditya menatap wajah Chelsea, wanita yang tulus mencintainya. Wanita yang ikut menanggung dosanya.
Chelsea tidak menoleh, tangannya sibuk memasukkan barang barang itu kedalam kantong plastik " Aku ingin menyumbangkan pakaian ini ke panti asuhan. Di sana banyak bayi bayi terlantar yang membutuhkan baju baju ini "
"Tapi ini bisa di simpan sayang, sebentar lagi... Siapa tahu..... ?"
"Siapa tahu apa Dit ?" Chelsea memotong kata kata Aditya dengan pertanyaan.
Chelsea menatap Aditya dalam dalam " Dit, punya anak itu, hanya mimpi untuk kita "
"Chelsea..."
"Sebaiknya kamu ke dokter Dit, kamu terlihat sangat lelah. Aku tau, kamu bukan hanya kelelahan karena bekerja. Tapi kamu lelah menyembunyikan banyak hal dari ku " Chelsea diam sesaat, tanpa melihat Aditya, kemudian dia bangun mengangkat barang yang sudah selesai ia packing.
Aditya terpaku, apakah Chelsea tahu sesuatu.?
Setelah makan malam, Aditya yang merasa sangat lelah,beranjak masuk kamar. Ia merasakan tubuhnya letih. Tanpa mencari istrinya, dia tahu Chelsea dimana.
Aditya langsung minum minuman yang selalu disiapkan oleh Chelsea di meja sebelum tidur, rasa kantuk mulai menyerang.
Pelan namun pasti, langkah kecil dan ringan memasuki kamar, kunci ruang kerja di tangannya. Chelsea tersenyum menatap wajah Aditya. Dia berbalik menuju ruang kerja Aditya.
Semua terlihat biasa saja, ruangan yang penuh dengan beberapa buku kursi dan meja kerja, sofa yang tersedia.
Chelsea menatap sekelilingnya, ia mengelilingi meja kerja Aditya, meraba sisi meja menarik laci meja, tatapannya terpaku kotak kecil. Entah kenapa dia merasakan jantungnya berdebar.
Klik..
kotak kecil yang terlihat usang itu terbuka, Keningnya berkerut. Itu hanya tumpukan kertas kertas lama dengan tulisan yang rapi. Ia mengambilnya dua lembar kertas dan membaca
"Semangat ya sayang, semoga dapat nilai yang bagus "
"Aku mencintaimu"
Chelsea menebak ini hanya kertas kertas tidak berguna yang Aditya simpan, melihat dari bentuk kertas itu yang terlihat lama. Namun ia tetap penasaran dengan semua tulisan di kertas itu.
Satu persatu satu ia membaca semua, hingga akhirnya Chelsea melihat dua gabungan nama dalam lingkaran hati.
"Aditya Elfa"
"Siapa Elfa? Apakah pacarnya saat SMA ? Adit pernah menyebut namanya dalam....."
Chelsea menatap lembaran itu, itu bukan hanya nama seorang gadis saja. Aditya menyembunyikan sesuatu tentang gadis bernama Elfa. Aditya yang ketakutan. Dia bahkan berkeringat saat Aditya bermimpi. Walaupun Chelsea melihat baru sekali itu Aditya bermimpi dengan keringat yang membasahi baju dan bantal kepala.
"Siapa wanita ini, Dit? Apakah dia yang membuatmu selalu gelisah dan ketakutan? Kamu menyembunyikan banyak hal dariku "
Chelsea menyusun kembali kertas itu seperti awal. Ia melangkah menuju kamarnya.
Chelsea melihat ponsel Aditya tergeletak begitu saja. Tangan halus dan lembut itu meraih ponsel itu. ia memeriksa setiap pesan yang masuk. Tak ada yang mencurigakan. Ia meletakkan kembali ponsel itu.
Dengan cahaya lampu tidur, Chelsea menatap Aditya. " Aku berharap kamu tidak mengkhianati kepercayaanku " Gumannya lirih.
Ting...
Satu pesan masuk di ponsel Aditya, hanya sekilas, sebuah notif chat
"Pak...tak ada informasi apapun yang aku dapatkan kan"
Pesan dari Asisten Aditya, Chelsea naik ke atas ranjang dan ikut berbaring di samping Aditya yang tidur sangat lelap karena obat tidur yang sudah Chelsea masukan dalam minumannya.
Ia melihat dan membaca kembali lembaran kertas usang yang telah ia foto dengan menggunakan ponselnya.
"Baiklah Aditya, tidak ada bangkai yang tidak akan tercium baunya.. Aku akan mencari tahu "
Chelsea berbalik membelakangi Aditya yang terlelap dalam mimpi yang lagi-lagi membuatnya keringat dingin....
"Ayah... Kenapa membuang ku "
.
.
.
Next...
anakmu tak kan mnerima mu.
apalagi km ingin dia mati dulu.
Chelsea kl km gk cerai dng Aditya mk km selamanya tak akn punya anak.
CPT cerai sebelum terlambat km tambh ngenes. hidup dng laki biadap, tega mmbunuh darah daging nya sendiri.