NovelToon NovelToon
THE DEVIL'S WIFE

THE DEVIL'S WIFE

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Mafia
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Anonymous MC

Sebelum kau membaca kisah ini, kau harus tahu satu hal:

Aku bisa melihat bagaimana kau akan mati.

Bukan dengan bola kristal. Bukan dengan ritual aneh. Cukup dengan menyentuhmu. Satu sentuhan, dan mataku akan dipenuhi gambar—kau di ujung napas terakhir, dengan cara yang mungkin tidak pernah kau bayangkan.

Kakek bilang ini kutukan. Aku bilang ini hadiah.

Karena dengan hadiah ini, aku tahu siapa yang harus aku hindari.

Tapi malam itu, saat pertama kali menyentuh Damian Adhiratria, aku tidak melihat kematiannya.

Aku melihat kematianku sendiri.

Dan aku tersenyum.

Karena akhirnya, setelah 24 tahun, aku tahu kapan aku akan mati.

Tepat 6 bulan setelah menikahi iblis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anonymous MC, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11: Darah di Lantai Marmer

Telapak tangannya sakit.

Bukan karena luka—tidak ada luka. Tapi karena sejak meninggalkan restoran tadi, Damian menggenggam pergelangan tanganku begitu erat. Bukan menggenggam. Mencekik. Seperti aku akan kabur jika dilepas.

Mobil melaju terlalu cepat.

Aku tidak tahu sopir itu siapa—wajahnya asing. Yang jelas, pria itu tidak berani menoleh ke belakang. Mungkin karena sejak masuk mobil, Damian tidak mengucapkan sepatah kata pun. Hanya menatap jendela. Membisu. Tapi jari-jarinya di pergelanganku semakin dalam mencengkeram.

"Kau lihat dia?"

Pertanyaan itu masih menggema di kepalaku. Di restoran tadi, saat Damian Kecil duduk di kursi kosong—aku mengangguk. Tanpa berpikir. Dan sejak saat itu, Damian dewasa berubah.

Bukan marah.

Bukan juga sedih.

Tapi seperti mesin yang kehilangan kendali.

---

Mobil berhenti di depan mansion. Pintu terbuka sebelum Damian sempat menarikku. Rania sudah berdiri di sana, wajahnya pucat begitu melihat ekspresi Damian.

"Tuan—"

"Keluar."

Hanya satu kata. Tapi Rania mundur dua langkah.

Damian menarikku keluar dari mobil. Kali ini aku benar-benar merasakan sakit—cengkeramannya terlalu kuat, terlalu keras. Aku ingin melawan, ingin berteriak, tapi lidahku kelu. Bukan karena takut. Tapi karena di ujung lorong mansion, di balik pintu ruang tamu yang terbuka, aku melihatnya.

Damian Kecil.

Berdiri di sana.

Menatap kami.

Dan untuk pertama kalinya, Damian Kecil tidak tersenyum.

---

Pintu kamarku dibanting terbuka.

Damian melepas cengkeramannya. Aku jatuh ke lantai, lututku membentur marmer dingin. Ia berdiri di ambang pintu, membelakangiku. Bahunya naik turun cepat—seperti orang habis berlari maraton.

"Damian—"

"Jangan bicara."

Suaranya berbeda. Lebih berat. Lebih dalam. Seperti suara itu datang dari lubang yang sangat dalam.

Aku diam. Tapi mataku tidak bisa berhenti melihat—di belakang Damian, di ujung lorong, Damian Kecil masih berdiri. Ia menatapku dengan mata basah.

"Tolong," bisik bibirnya tanpa suara.

Lalu Damian dewasa membanting pintu.

---

Aku tidak tahu berapa lama aku duduk di lantai.

Mungkin lima menit. Mungkin satu jam.

Yang jelas, ketika suara itu datang lagi, lututku sudah mati rasa.

BUK. BUK. BUK.

Bukan ketukan. Tapi suara benda keras membentur dinding. Dari arah kamar Damian.

Aku bangkit. Perlahan. Mendekati pintu. Membukanya sedikit.

Lorong kosong. Damian Kecil sudah tidak ada. Tapi suara itu semakin jelas—dari ujung lorong, dari kamar utama.

Aku berjalan. Tanpa sadar. Tanpa alas kaki. Marmer dingin terasa seperti es di telapak kaki.

Pintu kamar Damian tidak tertutup rapat. Cahaya lampu menyembul tipis dari celah.

Aku mengintip.

Dan jantungku berhenti.

---

Damian berdiri di tengah kamar.

Dengan tangan kosong, ia memukuli dinding. BUK. BUK. BUK. Buku-buku jarinya sudah hancur—darah mengalir di dinding putih, membekas seperti lukisan abstrak. Tapi ia tidak berhenti.

Di depannya, di dinding yang sama, ada cermin besar. Pecah. Retak di tengah. Dan di dalam retakan itu, bayangannya sendiri terbelah menjadi dua.

"Keluar."

Damian berbicara pada cermin.

"KELUAR!"

Ia memukul lagi. Kali ini kaca itu benar-benar hancur. Serpihannya berjatuhan, melukai tangannya lebih parah. Darah muncrat—di lantai, di bajunya, di wajahnya.

Tapi ia tidak peduli.

Ia meraih serpihan terbesar. Yang masih menempel di bingkai. Yang masih memantulkan wajahnya—separuh utuh, separuh retak.

"Aku tahu kau di sini." Suaranya serak. Bukan marah lagi. Tapi... putus asa. "Kau pikir aku tidak tahu? Kau pikir aku tidak merasakan kau keluar? Setiap malam? Menemuinya?"

Ia tertawa. Tawa yang tidak lucu.

"Dia bukan untukmu. Dia untukku. Aku yang menikahinya. Bukan kau. KAU SUDAH MATI!"

Serpihan kaca itu diayunkan—bukan ke dinding, tapi ke arahnya sendiri. Ke lehernya sendiri.

Refleks.

Aku tidak berpikir.

Aku menerobos pintu dan menangkap pergelangan tangannya.

---

Kami jatuh bersama.

Damian di bawah, aku di atasnya. Serpihan kaca itu terlepas, menggelinding di lantai. Darah dimana-mana—darahnya, darahku? Aku tidak tahu. Yang jelas, bajuku basah, lengket, hangat.

Damian menatapku.

Matanya—Tuhan, matanya. Tidak dingin. Tidak kosong. Tapi penuh. Penuh dengan sesuatu yang selama ini ia sembunyikan. Ketakutan. Kesepian. Dan... pertanyaan.

"Kenapa?"

Hanya satu kata. Tapi aku mengerti.

Kenapa aku masuk? Kenapa aku peduli? Kenapa aku tidak lari?

Aku tidak punya jawaban.

Maka aku melakukan satu-satunya hal yang terlintas di kepalaku.

Aku memeluknya.

---

Tubuhnya kaku.

Wajar. Mungkin tidak ada yang pernah memeluk pria ini sejak ia kecil. Mungkin pelukan terakhir yang ia rasakan adalah sebelum dikurung di ruang bawah tanah. Mungkin—

Tangannya terangkat.

Perlahan. Ragu.

Lalu melingkar di punggungku.

Dan Damian—mafia paling ditakuti, pria yang bisa membunuh tanpa ekspresi—menangis di pelukanku.

Bukan isak tangis dramatis. Tapi getaran halus di sekujur tubuhnya. Napas yang tersendat. Dan genggaman jari di bajuku, seperti anak kecil yang takut ditinggal.

Aku tidak tahu berapa lama kami di sana.

Di lantai. Di antara pecahan kaca dan genangan darah.

Sampai suara kecil itu datang.

"Makasih, Kak."

Di ambang pintu, Damian Kecil berdiri. Tersenyum. Tapi matanya menangis.

Lalu ia menghilang.

Dan Damian dewasa tertidur di pelukanku.

---

Aku menunggu sampai napasnya teratur.

Sampai getaran di tubuhnya berhenti.

Perlahan, aku melepaskan pelukanku. Wajahnya damai—pertama kalinya aku melihatnya tanpa ketegangan. Tanpa topeng. Tanpa dinding es.

Aku bangkit. Kakiku goyah. Telapak kakiku perih—ternyata aku menginjak pecahan kaca. Tapi aku tidak peduli.

Aku mengambil selimut dari ranjang. Menyelimutinya. Lalu duduk di sampingnya, membelai rambutnya tanpa sadar.

Di dinding, di antara percikan darah, ada satu area bersih.

Dan di sana, dengan darahnya sendiri, Damian menulis sesuatu sebelum aku datang.

Tiga kata.

"Aku mau mati."

Aku menatap tulisan itu lama. Lalu menatap Damian yang tidur. Lalu ke pintu, di mana Damian Kecil muncul dan menghilang.

Dan untuk pertama kalinya, aku sadar:

Ini bukan tentang menyelidiki kematian kakakku.

Ini bukan tentang balas dendam.

Ini tentang menyelamatkan seseorang yang bahkan tidak tahu dirinya perlu diselamatkan.

Aku meraih tangan Damian yang terluka. Darahnya masih hangat. Masih mengalir. Masih hidup.

Dan meskipun aku tahu—aku TAHU—visi itu masih ada. Damian mati di tanganku. Enam bulan lagi.

Tapi sekarang, di malam ini, aku tidak peduli.

Aku mengecup keningnya.

"Aku tidak akan biarkan kau mati, Damian."

Lalu aku berbaring di sampingnya. Di lantai. Di antara darah dan kaca.

Dan untuk pertama kalinya dalam 10 tahun, aku tidur tanpa mimpi buruk.

---BERSAMBUNG...---

Damian akan bangun dengan ingatan tentang malam ini? Atau kepribadiannya akan berganti lagi?

Dan apa yang dilakukan Rania saat tahu Alea menghabiskan malam di kamar Damian?

Jangan lewatkan Bab 12: "Luka yang Tak Bisa Dilihat"

---

💬 KOMEN jika kamu juga ingin memeluk Damian!

⭐ BINTANG 5 jika kamu siap melihat sisi manusiawi mafia paling ditakuti!

🔔 FOLLOW untuk update setiap hari!

🌟 DUKUNG CERITA INI!

Dengan dukungan kalian, aku bisa terus menulis bab-bab selanjutnya dengan lebih semangat. Kalian bisa:

· ✅ Like dan komentar di setiap bab

· ✅ Share ke grup novel atau medsos

· ✅ Rekomendasikan ke teman yang suka genre mafia romance, misteri, dan drama keluarga

NEXT: BAB 12

Akan ada konflik baru, pengkhianatan tak terduga, dan rahasia lain yang terungkap. Jangan sampai ketinggalan!

Salam hangat,

Author 💌

1
Amelia
Ceritanya penuh misteri Dokter RSJ vs Monster pasangan yang cocok jiwa mereka sama" kayak tidak memiliki Jiwa dan sakit jiwa😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!