Setelah diperkosa secara massal oleh 10 warga desa dan diusir secara hina oleh suaminya sendiri akibat fitnah rekaman video, Ratri menempuh jalan kegelapan. Ia memasang susuk emas "Suanggi" dari seorang dukun di hutan Weling , di organ vitalnya.
Kini, ia kembali bukan untuk cinta, tapi untuk membalas pada kejantanan mereka dan nyawa siapa pun yang pernah menyakitinya.
Namun, kehadiran seorang Ustadz muda bernama Fatih membawa pilihan sulit , terus memupuk dendam yang memakan jiwanya, atau melepaskan iblis itu demi sebuah ampunan yang tak terduga dan hidup dengan nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sisa Nyawa
Bau aspal panas, anyir darah, dan sisa oli mesin yang terbakar seolah melekat permanen pada tubuh Eko saat brankar rumah sakit didorong dengan kecepatan tinggi menyusuri selasar UGD. Roda-roda kecil brankar itu berderit nyaring, membelah kesunyian subuh di Rumah Sakit Medika Pratama. Para perawat dan petugas medis berteriak saling sahut, memberikan instruksi darurat karena kondisi pasien yang sangat kritis. Tubuh Eko kini bukan lagi sosok pria perkasa yang jumawa saat merayu Ratri di gubuk, melainkan gumpalan daging dan tulang yang hancur berantakan.
Di atas brankar itu, Eko masih setengah sadar. Matanya yang merah menatap lampu-lampu neon di langit-langit lorong yang bergerak cepat. Setiap guncangan pada brankar mengirimkan gelombang rasa sakit yang seperti ribuan pisau panas menguliti syaraf-syarafnya. Namun, yang lebih menyiksa daripada rasa sakit fisiknya adalah gema tawa Ratri yang terus berputar di kepalanya, sebuah melodi pembalasan dendam yang kini menjadi nyata di depan matanya.
"Pasien kecelakaan terlindas truk! Tekanan darah turun drastis! Segera siapkan ruang operasi satu!" teriak seorang perawat senior sambil menekan pendarahan di paha Eko yang sudah tidak berbentuk lagi.
Kabar tentang kecelakaan maut yang menimpa Eko menjalar cepat di koridor rumah sakit hingga sampai ke telinga suster jaga di ruang perawatan Ruminten. Suster tersebut masuk dengan terburu-buru, wajahnya menunjukkan raut cemas yang mendalam.
"Bu Ruminten... Bu... bangun, Bu," bisik suster sambil menyentuh bahu Ruminten yang masih membelakangi pintu.
Ruminten membuka matanya perlahan. Wajahnya yang pucat pasi masih menyimpan bekas memar kebiruan akibat tamparan keras Eko. Rasa perih di sudut bibirnya adalah pengingat abadi bahwa pria yang ia cintai dan ia tunggu kepulangannya dari kota ternyata telah berubah menjadi iblis yang tega menuduhnya berselingkuh dengan setan.
"Ada apa, Suster?" suara Ruminten terdengar dingin, datar, seolah-olah jiwanya telah ikut tercabut bersama kelahiran anaknya yang cacat.
"Suami Ibu... Pak Eko. Dia baru saja dilarikan ke UGD. Dia mengalami kecelakaan hebat saat perjalanan pulang dari kota. Kondisinya sangat kritis, Bu. Sekarang sedang dipersiapkan untuk tindakan operasi besar," ujar suster itu dengan nada gemetar.
Mendengar kabar itu, tidak ada jeritan histeris dari mulut Ruminten. Tidak ada tangisan pilu atau permintaan untuk segera dibawa ke sisi suaminya. Ruminten hanya terdiam, menatap dinding tembok kamar yang kusam. Sudut bibirnya yang pecah sedikit bergetar, membentuk sebuah senyuman getir—sebuah senyum yang sarat akan rasa sakit hati yang teramat dalam.
"Tentu saja dia kecelakaan," gumam Ruminten pelan, nyaris tak terdengar.
"Ibu? Apa Ibu ingin saya ambilkan kursi roda untuk melihat Pak Eko sebentar sebelum masuk operasi?" tanya suster itu heran melihat reaksi pasiennya yang begitu tenang.
Ruminten memejamkan matanya rapat-rapat. Memorinya berputar pada saat Eko menjambak rambutnya, memaki-makinya sebagai pezina demit, dan menyumpahi anak mereka sendiri agar mati. Perasaannya terhadap Eko yang dulu penuh kasih dan pengabdian, kini telah mati rasa. Rasa sayang itu telah menguap bersama darah hitam yang keluar dari rahimnya. Yang tersisa hanyalah kebencian yang membatu.
"Tidak perlu, Suster. Saya sedang lelah. Saya mau tidur saja,jika butuh kontak saudaranya bisa bertanya kepadanya langsung" ucap Ruminten dengan nada acuh tak acuh. Ia menarik selimutnya hingga ke batas leher, membelakangi suster tersebut, dan menutup telinganya dengan bantal. Baginya, Eko bukan lagi suaminya; Eko adalah orang asing yang membawa malapetaka ke dalam hidup dan rahimnya.
Sementara itu, di dalam ruang operasi yang benderang, suasana terasa sangat tegang. Tim dokter bedah ortopedi berdiri di sekeliling tubuh Eko yang sudah tak berdaya di bawah pengaruh obat bius total. Namun, saat mereka mulai membersihkan luka-lukanya, para dokter kembali terkesiap.
Luka-luka Eko bukan sekadar luka terlindas biasa. Jaringan otot di kedua kakinya tampak menghitam dan membusuk dengan sangat cepat, padahal kecelakaan itu baru terjadi satu jam yang lalu. Bau yang keluar dari luka-luka itu bukan hanya bau darah, melainkan bau busuk yang menyengat—bau yang sama dengan yang keluar dari rahim Ruminten saat operasi sesar kemarin.
"Dokter, lihat ini! Tulang paha dan betisnya hancur total, remuk menjadi serpihan kecil. Kita tidak mungkin menyambungnya kembali," ucap salah satu asisten bedah dengan nada ngeri.
Dokter bedah utama menghela napas panjang di balik maskernya. Ia melihat bahwa tangan kiri Eko juga mengalami hal serupa; pembuluh darahnya pecah dan syaraf-syarafnya mati karena tergilas roda truk yang sangat berat.
"Tidak ada pilihan lain. Untuk menyelamatkan nyawanya dari infeksi yang menyebar cepat, kita harus mengambil tindakan amputasi. Kedua kaki dari pangkal paha dan tangan kiri hingga bahu harus dilepaskan," putus sang dokter dengan berat hati.
Gergaji medis mulai bekerja. Suara gesekan logam dengan tulang Eko yang hancur bergema di ruangan yang dingin itu. Satu per satu, bagian tubuh yang dulu digunakan Eko untuk melakukan kekerasan dan perbuatan hina kini dipisahkan dari raganya. Ratri telah mengambil kaki yang digunakan Eko untuk berjalan menuju gubuk dosa, dan kini tangan yang dulu digunakan untuk melecehkannya juga telah tiada.
Operasi itu berlangsung selama berjam-jam. Eko kehilangan lebih dari setengah anggota tubuhnya. Kini ia hanyalah seonggok batang tubuh yang bergantung pada selang-selang oksigen dan kantong darah.
Setelah operasi selesai, dokter kembali meminta suster untuk menghubungi pihak keluarga guna meminta tanda tangan dokumen pasca-operasi dan memberitahukan kondisi terbaru pasien. Suster tersebut kembali mendatangi kamar Ruminten.
"Bu Ruminten, maaf mengganggu lagi. Operasi Pak Eko sudah selesai. Dokter terpaksa mengambil tindakan amputasi pada kedua kaki dan tangan kiri Bapak karena kerusakannya terlalu parah. Pak Eko sekarang masih tidak sadarkan diri di ruang pemulihan," lapor suster itu dengan hati-hati.
Ruminten yang baru saja mencoba memejamkan mata, sedikit pun tidak bergerak. Ia tidak menoleh, apalagi menunjukkan rasa simpati. Kehilangan anggota tubuh suaminya tidak sedikit pun menyentuh nuraninya yang sudah beku.
"Suster," suara Ruminten terdengar dingin dan tegas. "Hubungi saja kakaknya yang tinggal di ujung desa Karang Jati. Saya tidak mau tahu lagi masalah dia. Jangan datang ke sini lagi untuk urusan orang itu. Saya bukan istrinya lagi sejak dia mengutuk anak yang saya lahirkan."
Suster itu tertegun, seolah tak percaya mendengar kata-kata yang begitu keras keluar dari mulut seorang wanita yang tampak lembut seperti Ruminten. Namun, ia tidak tahu badai apa yang telah dilewati wanita ini semalam. Suster itu hanya bisa mengangguk pelan dan keluar dari ruangan dengan perasaan campur aduk.
Ruminten kembali sendirian dalam kesunyian kamar rumah sakit. Ia menatap langit-langit, membayangkan anaknya yang cacat sedang berada di ruang isolasi. Ada rasa pedih yang amat dalam, namun rasa pedih itu kini ia arahkan sepenuhnya kepada Eko. Di dalam batinnya, ia merasa ini adalah keadilan Tuhan, meski ia tidak tahu bahwa ini adalah hasil dari dendam manusia yang bersekutu dengan kegelapan.
Di ruang pemulihan yang sepi, Eko masih terlelap dalam kegelapan bius. Namun di dalam alam bawah sadarnya, ia tidak sedang beristirahat. Ia merasa sedang berada di sebuah ladang jagung yang luas dan gelap. Ia berlari sekuat tenaga, namun tiba-tiba ia terjatuh karena kakinya menghilang. Ia mencoba merangkak dengan tangannya, namun tangan kirinya pun lenyap ditelan bayangan hitam.
Di depannya, Ratri berdiri membelakangi rembulan, wajahnya yang cantik kini tampak sangat mengerikan dengan mata yang menyala merah.
"Masih mau lari, Eko?" bisik Ratri dalam mimpinya. "Kamu sudah memberikan anakmu sebagai makananku, sekarang kamu berikan anggota tubuhmu sebagai bayarannya. Tapi jangan khawatir... aku tidak akan membiarkanmu mati secepat itu. Kamu harus hidup lebih lama untuk merasakan bagaimana rasanya menjadi 'monster' yang sebenarnya."
Eko berteriak dalam diam, keringat dingin membasahi dahinya yang diperban. Ia adalah sisa nyawa sang pendosa—sebuah raga yang cacat dan hancur, ditinggalkan oleh istri yang paling menyayanginya, dan kini menjadi mainan di tangan wanita yang pernah ia hancurkan hidupnya.
Di Desa Karang Jati, berita tentang Eko mulai menyebar, dan Pak RT Hardo yang mendengar kabar itu mulai merasa jantungnya berdegup tidak kencang. Ia mulai menyadari, satu per satu temannya tumbang dengan cara yang sangat spesifik dan mengerikan. Ia tidak tau, apakah giliran selanjutnya adalah dia ?
kirain istrinya yg di bacok
dan jangan lupa, perdalam literasi, hantu Suanggi itu apa, dan untuk apa.
kalau benar demikian, siap siap aja Pakk RT jadi korban Ratri seperti Pakk Karno