NovelToon NovelToon
Aku Ini Istrimu

Aku Ini Istrimu

Status: sedang berlangsung
Genre:KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga) / Penyesalan Suami
Popularitas:8.9k
Nilai: 5
Nama Author: Mr. Han

Aku nggak pernah membayangkan kalau gaun putih ini bakal terasa seberat rantai besi. Menikah dengan Bara Adiwangsa bukan mimpi indah yang jadi nyata, tapi awal dari sandiwara panjang yang nggak tahu kapan selesainya.

Bara itu suamiku, tapi dia yang paling sering bikin aku merasa nggak berharga. Dia bisa bersikap manis di depan orang tuanya, lalu berubah jadi orang lain yang kasar saat dia bersamaku.

Capek? Banget. Karena suamiku mungkin berpikir dia bisa menginjak-injak harga diriku hanya karena dia merasa telah "membeliku". Dia bisa saja menatapku dengan jijik, mengacuhkanku seolah aku hanyalah pajangan mati di pojok ruangan. Dia bisa memuja masa lalunya atau mencari pelarian pada orang lain, tapi ada satu kenyataan pahit yang tidak akan pernah bisa dia hapus, sekeras apa pun dia mencoba.

"Tatap aku, Bara. Hina aku sesukamu, tapi jangan pernah lupa satu hal... Aku Ini Istrimu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Han, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35 Uang Tutup Mulut

​"K-kok Kak Reno nanyanya gitu? Aku cuma mau pinjam—"

​"Bener dugaan gue lo mau pinjam!" sela Reno dengan nada yang bergetar karena emosi yang tertahan. Ia mendekat, memangkas jarak di antara mereka hingga Siska terpaksa mundur menabrak pinggiran meja kerja. "Berapa yang lo butuh? Dua ratus juta, kan? Sesuai sama pesan yang masuk ke gue tadi pagi?! Jawab, Siska! Sejak kapan lo jadi selicik ini sama Kakak sepupu lo sendiri?"

​Siska terbelalak, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. "Dua ratus juta? Maksud Kakak apa sih? Aku ke sini cuma mau pinjam lima belas juta buat ganti rugi mobil dosen yang aku serempet minggu lalu! Aku nggak tahu apa-apa soal dua ratus juta!"

​Keheningan mendadak menyelimuti ruangan itu, begitu pekat hingga suara detak jam dinding terdengar seperti dentuman martir. Reno mematung, tangannya yang tadi menunjuk-nunjuk kini menggantung kaku di udara. Ia menatap wajah Siska yang ketakutan, mencari tanda-tanda kebohongan, namun yang ia temukan hanyalah kejujuran yang murni.

​Jika benar bukan Siska pelakunya, berarti orang yang mengancam Reno adalah seseorang yang jauh lebih berbahaya—seseorang yang saat ini mungkin sedang menertawakan mereka dari sudut tersembunyi di kantor ini.

Alih-alih ia tidak percaya begitu aja. Reno semakin mengintrogasi adik sepupunya, hingga mencengkeram bahu Siska dan mengguncangnya pelan, menuntut pengakuan yang sebenarnya tidak pernah ada. "Jangan main-main, Siska! Pesan yang kamu kirim itu masuk tepat setelah ancaman transfer uang itu muncul. Kalau bukan lo, siapa lagi yang tahu gue ada di apartemen semalam?" cecar Reno dengan mata yang memerah.

Siska yang mulai merasa terhimpit secara fisik dan mental akhirnya berteriak balik dengan suara serak, "Aku beneran nggak tahu! Apa jangan-jangan Kak Reno sendiri yang lagi menyembunyikan sesuatu yang kotor sampai ketakutan kayak gini?"

​Mendengar kalimat menohok itu, Reno refleks mendekap mulut Siska dengan telapak tangannya yang dingin dan gemetar. "Sshh! Diam! Jangan sok tahu jadi orang!" desisnya tajam, napasnya memburu tepat di depan wajah adik sepupunya itu.

Karena rasa panik yang sudah melumpuhkan logika, Reno melakukan kecerobohan terbesar dalam hidupnya. Ia malah merogoh ponsel dan menunjukkan layar yang menampilkan foto skandal tersebut tepat di depan mata Siska. Sebab ingin membuktikan betapa seriusnya ancaman yang ia terima, namun tindakannya itu justru menjadi bumerang yang mematikan.

​Mata Siska membelalak sempurna, ia hampir tersedak di balik dekapan tangan Reno. Begitu Reno melepaskan tangannya, Siska mundur beberapa langkah dengan ekspresi tidak percaya yang sangat dalam. "Kak... aku nggak nyangka Kakak sejahat itu di belakang Kak Bara," bisiknya dengan nada bergetar. "Apa Kak Reno ada hubungan gelap sama Kak Maya? Mantan tunangan Mas Bara? Kalau Mas Bara sampai tahu hal ini, habis sudah hidup Kakak. Kakak mengkhianati orang yang paling sayang sama kita!"

​Reno langsung merutuki kebodohannya sendiri dalam hati, merasa seperti baru saja menggali liang kuburnya sendiri. Bodoh, kenapa gue harus kasih lihat foto itu ke anak ini? Bukannya dapat solusi, malah kasih dia foto ini yang bisa hancurin gue sekalian, batin Reno frustrasi. Ia kini berdiri kaku di tengah ruangan, terjepit di antara ancaman pemeras misterius dan tatapan menghakimi dari Siska, sementara bayang-bayang kehadiran Bara yang bisa muncul kapan saja kini terasa seperti eksekusi mati yang tinggal menunggu waktu.

Reno mengusap wajahnya dengan kasar, berusaha meredam detak jantungnya yang menggila. Karena rahasia itu sudah terlanjur jatuh ke tangan Siska, ia tidak punya pilihan lain selain menjadikan adik sepupunya itu harus kerja sama dengannya.

"Oke, dengerin gue," bisik Reno dengan nada mendesak. "Gue bakal kasih lima belas juta yang lo butuhin buat ganti rugi mobil itu sekarang juga. Tapi anggap itu sebagai uang tutup mulut. Lo nggak boleh bocorin soal foto ini ke siapa pun, termasuk Kakak lo, apalagi keluarga gue juga sampai tahu."

​Siska terdiam sejenak, menatap Reno dengan pandangan yang kini lebih berani. Rasa takutnya perlahan menguap, berganti dengan insting yang tajam. "Jangan cuma tutup mulut, Kak," sahut Siska sambil melipat tangan di dada. "Aku juga bakal bantu Kakak selidiki siapa orang yang berani ngirim foto itu. Aku bakal cari tahu siapa yang sengaja ngikutin Kakak semalam sampai punya bukti kayak gitu. Kita harus tahu siapa yang punya niat jahat ini."

​Melihat celah untuk bernapas, Reno sedikit melonggarkan ketegangannya, namun Siska belum selesai bicara. "Tapi ada tambahannya, Kak," lanjut Siska dengan senyum tipis yang penuh arti. "Selain uang lima belas juta itu, Kakak harus bayar uang kuliah tambahan aku semester depan dan beliin aku laptop baru. Anggap aja itu kompensasi karena aku harus ikut menanggung beban rahasia besar Kakak ini." Siska tahu betul bahwa dalam posisi ini, ia memiliki posisi tawar yang kuat.

​​Reno mengangguk mantap, sebuah taruhan besar baru saja ia lepaskan dari bibirnya demi mengamankan posisinya. "Karena kita sudah sepakat, lo harus bantuin gue cari tahu siapa dalangnya. Kalau lo berhasil ketemu orangnya, gue bukan cuma kasih uang lima belas juta, dan laptop baru yang lo minta. Bahkan nih... Kalau lo mau mobil baru pun gue kabulin biar lo ke kampus nggak perlu naik ojek online terus," ucap Reno dengan nada mengancam sekaligus menjanjikan. Ia sadar, bekerja sama Siska adalah investasi yang mahal, namun itu jauh lebih baik daripada membiarkan gadis itu menyebarkan rahasianya yang ia berusaha sembunyikan dari siapapun.

​Siska menyunggingkan senyum penuh kemenangan, rasa takut yang tadi sempat menghimpitnya kini telah berganti menjadi ambisi. "Oke, aku setuju! Siapa takut? Aku bakal cari siapa pun orang yang berani main-main sama Kak Reno sampai dapat," jawab Siska dengan nada percaya diri. Baginya, ini adalah kesempatan emas untuk menyelesaikan masalah pribadinya sekaligus mendapatkan keuntungan lebih, meski ia harus ikut masuk ke dalam pusaran rahasia yang kotor.

​"Yaudah kalau gitu, sekarang lo mulai kerja, selidiki sampai ketemu siapa yang berani coba-coba bermain sama gue," perintah Reno tegas, berusaha kembali ke wibawanya yang semula.

Siska memberikan hormat singkat dengan gaya yang sedikit mengejek. "Siap, laksanakan bos!" sahut Siska ringan. Namun, tepat saat ia membalikkan badan hendak melangkah keluar, sebuah ketukan pintu yang sangat keras menghantam di balik pintu.

​Seketika, suasana di dalam ruangan yang sepenuhnya mencair kembali membeku. Reno dan Siska mematung di tempat mereka berdiri, napas mereka seolah tertahan di tenggorokan. Keheningan yang mencekam itu pecah ketika sebuah suara berat dan familiar terdengar menggema dari balik pintu, membawa nada ketegasan yang tidak bisa dibantah.

​"Woy, Ren! Buka nggak pintunya? Gue tahu lo di dalam!" seru Bara dari luar. "Gue mau mastiin kalau adek gue ada di ruangan lo. Tadi di bawah gue tanya satpam, katanya lo yang jemput Siska buat masuk ke kantor. Kenapa harus dikunci segala sih?" Pertanyaan Bara itu terasa seperti tuduhan yang menguliti pertahanan Reno dan Siska dalam sekejap.

​Di dalam ruangan, Reno dan Siska saling memberikan tatapan penuh kepanikan. Mata Siska melotot ke arah pintu, tangannya bergerak memberikan isyarat agar Reno tetap diam dan tidak membukakan pintu terlebih dahulu agar mereka punya waktu untuk mengatur skenario. Siska mencoba menahan lengan Reno, namun Reno tahu bahwa semakin lama ia menunda, maka kecurigaan Bara akan semakin menjadi-jadi dan bisa berujung pada keributan yang lebih besar.

​Reno menghela napas panjang, berusaha menenangkan gemuruh di dadanya sebelum tangannya bergerak membuka slot kunci. Begitu pintu terbuka, ia langsung menyudutkan Siska dengan mendorongnya pelan ke arah depan pintu seolah tidak ada yang terjadi.

"IYA! BISA SABAR GAK! Ucapnya naik satu oktav.

Saat pintu terbuka, Reno menongolkan kepalanya saja, kemudian berkata. "Noh... adek lo ada di dalam. Masuk aja kalau tahu, dia tadi cuma lagi curhat soal kuliahnya." Ucap Reno dengan akting yang luar biasa tenang, menyembunyikan badai yang baru saja mereka lalui di balik punggungnya.

"Yaudah, lo bisa minggir nggak? Gue mau masuk," ketus Bara sambil menyenggol bahu Reno yang menghalangi pintu.

​"Santai aja kali... Kayak mau grebek apa aja," sahut Reno dengan nada yang dipaksakan seringan mungkin, padahal tangannya masih terasa dingin. Pintu itu terbuka lebar, dan Bara melangkah masuk. Langkahnya terhenti tepat di depan Siska yang berdiri mematung dengan kepala tertunduk dalam, menghindari kontak mata langsung dengan kakaknya.

​Bara melipat tangan di dada, matanya menatap Siska dengan tajam. "Ngapain kamu di sini? Terus, sejak kapan kalau ada masalah, malah orang lain yang kamu cari duluan, bukan kakak kandung kamu sendiri?" tanya Bara dengan nada menginterogasi. Ia merasa ada yang janggal karena biasanya Siska akan langsung menghambur ke ruangannya jika sedang butuh sesuatu.

​Siska menarik napas panjang, berusaha menenangkan detak jantungnya agar suaranya tidak bergetar. "Anu... aku cuma mau curhat soal pelajaran kampus tadi, Kak. Masalah tugas yang susah banget pas belajar tadi pagi," jawab Siska, mencoba mencari alasan yang paling masuk akal.

Lanjutnya, dengan ekpresi wajah sinis."Lagian apa masalahnya sih, Kak? Kan nggak harus selalu nemuin Kak Bara dulu. Kak Reno juga kan kakak aku juga."

​Alis Bara bertaut semakin dalam. "Curhat soal pelajaran kampus boleh... Tapi sampai harus bohong emang itu boleh? Tadi Renata telepon gue, katanya lo mau pamit balik ke kampus karena ada buku yang ketinggalan. Eh, malah nongol di sini. Sejak kapan lo pinter bohong begini, Siska?" Ucapan Bara yang telak itu membuat Siska tak berkutik. Ia hanya bisa menggigit bibir bawahnya sambil menggumamkan permintaan maaf, berjanji tidak akan mengulangi kebohongan itu lagi.

​Melihat situasi yang mulai memanas, Reno segera mengambil peran sebagai penengah sebelum Bara bertanya lebih jauh. "Udah, Bar, jangan diperbesar. Lagian tadi gue juga udah ceramahin nih anak habis-habisan. Gue bilangin kalau mau ke mana-mana itu jujur sama orang rumah. Tapi ya gitu, kayaknya dia emang batu kalau di kasih taunya. Pusing ampun dah," ucap Reno sambil menggelengkan kepala, aktingnya terlihat sangat meyakinkan seolah ia benar-benar sedang mendisiplinkan adik sepupunya.

​Siska menangkap sinyal dari Reno dan langsung menoleh ke arah sepupunya itu dengan wajah memelas. "Iya, Kak Reno... aku minta maaf juga udah ganggu waktunya tadi. Dan aku beneran nggak maksud buat bohong lagi."

​"Yaudah, sekarang kamu pulang. Gue sama Reno mau ada rapat penting sebentar lagi," perintah Bara tegas. Namun, Siska tidak langsung pergi gitu aja, ia lebih memilih tetap berdiri diam di tempatnya dengan wajah yang sengaja dibuat sedikit murung.

Bara yang sudah sangat hafal dengan kelakuan adiknya itu hanya bisa memutar bola mata. "Iya, iya, nanti Kakak transfer buat ongkos pulang sama jajan kamu. Puas?" Mendengar itu, Siska akhirnya memberikan senyuman tipis yang penuh kemenangan ke arah Reno sebelum melangkah keluar dari ruangan, meninggalkan dua pria itu dalam keheningan yang sarat akan rahasia.

Sepeninggalan Siska, membuat suasana di ruangan itu mendadak sunyi, hanya menyisakan aroma parfum Siska yang masih tertinggal tipis di udara. Bara tidak langsung beranjak, ia justru menyandarkan tubuhnya di tepi meja kerja Reno sambil menatap sepupunya itu dengan tatapan penuh selidik. "Jadi, beneran cuma soal tugas kampus? Gue ngerasa ada yang aneh, Ren. Siska nggak biasanya kelihatan setegang itu kalau cuma urusan nilai, atau masalah di kampus, pasti ada masalah di luar, Kan?" pancing Bara, mencoba menggali informasi lebih dalam.

​Reno sontak tertawa lepas, sebuah tawa yang ia gunakan untuk menutupi rasa ngeri yang masih menjalar di punggungnya. "Ya ampun, Bar. Kan bisa nanya ke adek lo sendiri, kenapa harus gue yang cerita masalah dia? Lagian kalau dia nggak mau cerita ke lo maklum lah... Dia itu udah gede, punya privasi juga kali," sahut Reno sambil merapikan beberapa berkas di mejanya agar terlihat sibuk. Ia berusaha keras agar tangannya tidak terlihat gemetar di bawah pengawasan Bara yang tajam.

​Bara mendengus pelan, namun matanya tetap tidak lepas dari wajah Reno. "Yah... gue cuma mau tahu aja sih. Bukan kepo," gumam Bara dengan nada bicara yang tiba-tiba merendah dan terdengar sangat serius. Ia menegakkan tubuhnya, melangkah perlahan menuju pintu namun berhenti sejenak untuk menoleh kembali.

"Awas aja lo kalau ada sesuatu yang disembunyiin dari gue. Habis lo kalau sampai ketahuan, Ren. Lo tahu kan gue paling nggak suka main rahasia-rahasia gitu."

​Reno kembali tertawa, meski kali ini suaranya terdengar sedikit lebih kaku di telinganya sendiri. "Tenang aja, Bro. Nggak ada yang main rahasia di sini. Siska cuma lagi labil aja itu," jawabnya singkat. Dalam hati, Reno merasa seperti sedang berdiri di atas seutas tali tipis di atas jurang yang sangat dalam, satu kata saja yang salah ucap, maka seluruh dunianya akan runtuh seketika di tangan sepupunya ini.

​Sebelum benar-benar melangkah keluar, Bara kembali ke mode profesionalnya sebagai pemimpin perusahaan. Ia melirik jam tangan mewahnya sekilas. "Yaudah, gue pegang omongan lo. Terus gue minta nanti pastikan persiapan rapat buat sore ini segera dilakukan, pokonya semuanya harus beres. Gue nggak mau ada kendala di depan klien nanti," tegas Bara yang kini sudah kembali menjadi sosok bos yang dingin dan disiplin.

​Reno mengangguk mantap, memberikan gestur hormat yang meyakinkan. "Siap, Bar. Semuanya sudah dalam proses finalisasi. Lo tinggal duduk manis nanti di ruang rapat," jawabnya. Mendengar jawaban itu, Bara akhirnya memutar knop pintu dan keluar dari ruangan Reno, langkah kakinya terdengar menjauh menuju ruangannya sendiri yang berada di ujung lorong lantai.

​Begitu pintu tertutup rapat, tawa Reno langsung lenyap, berganti dengan napas berat yang ia buang dengan kasar. Ia terduduk lemas di kursinya, menyadari bahwa ia baru saja selamat dari satu terjangan badai, namun badai yang lebih besar—tentang foto itu dan pengkhianatannya terhadap kepercayaan Bara, masih mengintai di balik awan gelap. Ia menatap layar ponselnya yang kini berisi pesan konfirmasi transfer untuk Siska, menyadari bahwa mulai hari ini, kedamaian hidupnya telah benar-benar berakhir.

1
akumahapa
SETUJUUU BANGET🤣
akumahapa
iri aja nih perempuan
akumahapa
suasana di bab ini terasa sesak sekaligus panas. maya mengeluarkan semua pernyataannya, ia merasa dendam, sudah di khianati oleh mantan kekasihnya, tapi pelariannya itu ke orang lain. orang lainnya, sepepupu mantannya lagi. Emang cewe modelan maya ada?
tifara zahra
bikin renata hamil tor
Mr. Han: Boleh sih kak, tapi kita belom tau nih, nanti renata bakal mengalami gejala mual-mual apa itu cuma penyakit umum, atau bisa jadi hamil. Jangan lupa baca kelanjutannya kak. Terimakasih😍
total 1 replies
Nanda
salam kenal yah...
neng aja
bintang 5 buat renata hehehe
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!