Sage Iskandar atau lebih sering dipanggil Ge, merupakan murid badung di sekolah. Sejak kecil dia memang dirawat oleh pasangan rentenir. Orang sering menganggapnya preman, karena memang kebanyakan orang terdekatnya adalah preman.
Sampai suatu hari, seorang pria asing mendatangi Ge dan mengatakan sesuatu yang selama ini dirahasiakan darinya. Apakah itu?
"Kamu tuh ya, Ge! Nggak capek kamu tiap hari kerjaannya keluar masuk ruang BK terus, hah?!" omel guru BK.
"Nggak capek lah, Bu. Kan guru BKnya cantik," sahut Ge gamblang. Dia langsung kena jewer.
"Ge! Kamu ya yang ambil duit Mamak? Dasar anak kurang ajar!" timpal ibunya Ge sambil berlari keluar.
"Makasih, Mak! Love yuhh!" Ge langsung pergi dengan motornya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 24 - Glow Up
Zara menatap Ge beberapa detik, lalu tiba-tiba menepuk tangannya pelan.
“Udah, nggak usah nanti-nanti,” katanya.
Ge mengernyit. “Hah?”
“Glow up sekarang aja!"
Ge langsung menoleh. “Sekarang?”
Zara mengangguk mantap. “Iya. Mumpung gue lagi niat.”
Ge tertawa kecil. “Lu kalau niat serem juga ya.”
Zara berdiri dari sofa. “Ayo. Kita ke salon dulu, terus ke mall.”
Ge masih duduk santai. “Tunggu, tunggu… ini serius?”
Zara melipat tangan di dada. “Lu mau berubah atau nggak?”
Ge berpikir sebentar. Lalu dia menyeringai. “Ya… boleh juga sih.”
Zara langsung tersenyum lebar. “Nah gitu dong.”
Ge berdiri sambil meregangkan badan. “Tapi gue nggak punya duit.”
Zara langsung menjawab santai, “Sekarang lu orang kaya.”
Ge langsung melongo. “Oh iya juga ya…”
Zara menepuk bahunya. “Biasain.”
Mereka berdua berjalan kembali ke ruang utama. Begitu muncul, Naya langsung menyipitkan mata. “Dari mana aja?” tanyanya ketus.
Ge menyeringai. “Mau tahu, atau mau tahu aja?”
“GUE TONJOK LU!” Naya langsung berdiri.
Zara malah santai. “Kita mau keluar.”
Clara mengernyit. “Keluar?”
Zara mengangguk. “Mau bantu dia… jadi lebih layak dilihat.”
Ge langsung nyeletuk, “Eh, gue tersinggung tapi setuju.”
Arif yang berdiri di samping hanya memperhatikan.
“Pak Arif,” kata Zara, “kita pinjem Ge bentar ya.”
Arif menatap Ge sebentar. “Kau mau?”
Ge mengangkat bahu. “Lumayan, Om. Biar besok nggak dibilang anak preman terus.”
Arif mengangguk. “Baik. Tapi jangan lama.”
Ge langsung nyengir. “Siap, Pak Bos.”
Naya mendengus kesal. “Kenapa malah dia yang ngurusin?”
Clara juga terlihat tidak suka, tapi dia tidak melarang. Justru dia mengamati dengan tatapan penuh curiga.
Sementara itu, di dalam hati mereka, ada satu pertanyaan yang sama, kenapa Zara bisa akrab begitu cepat dengan Ge?
Beberapa saat kemudian, Ge dan Zara sudah berada di dalam mobil menuju salon. Sepanjang jalan, Ge terus melihat ke kaca spion.
“Gue deg-degan juga,” katanya.
Zara melirik. “Kenapa?”
Ge menunjuk wajahnya. “Takut ternyata gue emang jelek dari lahir.”
Zara langsung ketawa. “Nggak mungkin.”
Ge menyeringai. “Kalau iya gimana?”
Zara menjawab santai, “Berarti kita upgrade level dewa.”
Ge langsung ngakak. “Gila… gue suka cara mikir lu.”
Di salon, Ge duduk kaku di kursi. Rambutnya mulai dibasahi, dipotong, ditata.
“Anjir… ini mahal nggak sih?” bisiknya.
Zara yang duduk di samping cuma santai. “Tenang aja.”
Ge menelan ludah. “Gue biasanya potong rambut lima ribu.”
Zara langsung hampir tersedak. “Hah?!”
Ge mengangguk bangga. “Paket hemat.”
Zara geleng-geleng kepala sambil ketawa.
Beberapa waktu kemudian, rambut Ge selesai ditata. Lebih rapi, lebih bersih, dan terlihat jauh lebih berbeda.
Ge melihat ke cermin. Dia terdiam. “Buset…” gumamnya pelan.
Zara berdiri di belakangnya, lalu tersenyum. “Tuh kan.”
Ge memegang rambutnya sendiri. “Ini gue?”
Zara mengangguk. “Iya, versi upgrade.”
Ge menyeringai lebar. “Ganteng juga ya ternyata.”
Zara mendengus. “Dari tadi juga ganteng.”
Ge langsung menoleh. “Wah… makasih pujiannya.”
Zara memalingkan wajah sedikit. “Itu fakta.”
Setelah itu mereka lanjut ke mall. Ge terlihat semakin kagok melihat toko-toko mahal.
“Ini harga baju apa harga motor?” bisiknya.
Zara menarik lengannya. “Udah, ikut aja.”
Ge mencoba beberapa pakaian. Awalnya canggung, tapi lama-lama mulai menikmati.
“Yang ini gimana?” tanya Ge sambil keluar dari ruang ganti dengan kemeja rapi dan celana yang pas di badan.
Zara menatapnya. Dia terdiam. Untuk beberapa detik. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Ge terlihat berbeda. Bukan cuma rapi. Tapi benar-benar tampan, dan Zara terpesona sejenak.
“Gimana?” tanya Ge lagi.
Zara sedikit tersadar. “Bagus,” jawabnya pelan.
Ge menyeringai. “Yakin? Jangan bohong lu!"
Zara langsung menepuk lengannya. “Lu mau gue bilang jelek aja?" Tapi dia memang tidak bisa menyangkal. Wajahnya sedikit memerah.
Ge berkaca lagi. “Gila… kalau gue dari dulu begini, mungkin udah punya fans satu sekolah.”
Zara tersenyum kecil. “Sekarang juga bisa.”
Ge menoleh. “Lu fans pertama gue?”
Zara menggeleng, tapi tetap tersenyum. “Nggak.”
“Kecewa gue,” kata Ge dramatis.
Mereka tertawa bersama. Suasana terasa ringan dan akrab. Bahkan seperti sudah lama kenal.
Ge merasa menikmati perubahan hidupnya. Sementara Zara, diam-diam memandangnya sekali lagi. Jantungnya kembali dibuat berdebar.
'Anjir! Dia benar-benar tipe gue banget. Tapi kenapa dia harus jadi saudara tiri gue coba,' batin Zara.