Kelanjutan Dari Novel Pangeran Sampah Yang Menyembunyikan Kemampuannya.
Di dunia yang terpecah oleh kebencian antar ras, perdamaian hanyalah mimpi yang dianggap mustahil.
Ferisu—mantan pangeran yang diremehkan—kini bangkit sebagai Raja Kerajaan Asterism. Sebuah kerajaan baru yang berani menentang hukum dunia dengan satu gagasan gila: kesetaraan bagi semua ras.
Manusia, elf, beastmen, dwarf, dan ras lainnya hidup di bawah satu panji yang sama.
Namun dunia tidak tinggal diam. Ancaman datang dari segala arah. Pengkhianatan mengintai dari dalam. Dan perang besar yang pernah menghancurkan peradaban perlahan kembali menunjukkan tanda-tandanya.
Mampukah Ferisu mempertahankan mimpinya?
Ataukah Asterism akan menjadi percikan yang membakar dunia dalam perang yang lebih dahsyat?
Sebuah kisah tentang ambisi, persatuan, dan perjuangan melawan takdir dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katsumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 26 : Kesepakatan
Angin malam bertiup kencang di balkon istana.
Dari tempat itu—Ferisu bisa melihat seluruh medan pertempuran di kejauhan.
Tanah hancur. Pepohonan patah. Dan di tengah kehancuran itu—Valtheris masih berdiri dengan pedang di tangannya.
Di depannya—Licia, Noa, Erica, Anor, Maori, serta para kesatria kerajaan masih berusaha menahannya.
Namun jelas terlihat… mereka terdesak.
Setiap kerja sama yang mereka lakukan selalu dipatahkan dengan mudah.
Setiap serangan mereka selalu dihentikan oleh satu tebasan pedang.
Ferisu menggenggam pagar batu balkon.
Tubuhnya masih belum pulih sepenuhnya.
Namun jika ia tidak bergerak—malam ini seseorang bisa saja mati.
Di saat itulah—sebuah suara terdengar tepat di sampingnya.
“Kalau kau mau…”
Ferisu menoleh.
Di sana—Reliza berdiri bersandar santai di pagar balkon.
Rambut hitamnya tertiup angin malam.
Matanya yang gelap menatap ke arah medan pertempuran.
“Aku bisa membantu mereka.”
Ferisu menatapnya beberapa detik.
“Seperti yang kuduga.”
Ia menghela napas pelan.
“Tapi pasti ada syaratnya.”
Reliza tersenyum tipis.
Senyum yang penuh arti.
“Sederhana saja.”
Ia menoleh menatap Ferisu.
Matanya sedikit menyipit.
“Berikan dirimu sepenuhnya padaku.”
Angin malam berhenti sesaat.
“Aku akan menjadi satu-satunya yang kau miliki.”
Ferisu terdiam sejenak.
Lalu ia menggeleng perlahan.
“Maaf.”
Reliza sedikit mengerutkan alisnya.
Ferisu menatap medan perang lagi.
“Aku tidak bisa meninggalkan yang lainnya begitu saja.”
Nada suaranya tenang.
Namun tegas.
“Mereka sudah berjalan sejauh ini bersamaku.”
“Kalau aku memilihmu dan meninggalkan mereka…”
Ia tersenyum kecil.
“Itu bukan aku.”
Reliza menatapnya tanpa berkedip.
Lalu ia bertanya dengan nada datar.
“Jadi kau akan langsung terjun dan membantu mereka?”
Ferisu tidak menjawab.
Reliza melanjutkan.
“Kau akan mati.”
Kalimat itu keluar sangat tenang. Namun terasa seperti peringatan keras.
Ferisu kembali melihat ke arah medan perang.
Di kejauhan—Licia hampir terkena tebasan Valtheris sebelum Sylph menariknya mundur.
Anor mencoba menyerang lagi namun kembali terpental.
Noa dan Erica terus menggunakan sihir untuk menahan.
Namun napas mereka jelas mulai berat.
Ferisu tersenyum tipis. Senyum yang agak pahit.
“Yah…” Ia mengangkat bahu sedikit. “Kurasa kita tidak punya pilihan lain.”
Reliza yang melihat senyum itu langsung mendecakkan lidahnya.
“Ck.”
Ekspresinya berubah kesal.
Bagi Reliza—ada banyak hal yang tidak ia pedulikan. Namun ada satu hal yang sangat ia benci. Melihat Ferisu terluka. Dan lebih dari itu—melihat Ferisu tersenyum seperti itu.
Reliza menatapnya beberapa detik.
Lalu akhirnya berkata pendek. “Aku akan membantu.”
Ferisu menoleh. Sedikit terkejut.
“Benarkah?”
Reliza memalingkan wajah sedikit. Namun nadanya tetap kesal.
“Tapi aku tidak akan menuruti—”
“Tidak perlu!” Reliza langsung memotongnya.
Ia menatap Ferisu dengan ekspresi kesal. “Jangan besar kepala.”
Ferisu berkedip.
Reliza menyilangkan tangannya. “Tapi sebagai gantinya…”
Ia menunjuk Ferisu. “Berikan juga aku perhatian dan kasih sayang seperti yang lain!”
Ferisu terdiam.
Reliza melanjutkan dengan nada sedikit cemburu.
“Kalau mereka bisa menempel padamu, aku juga!”
“Kalau mereka bisa dekat denganmu, aku juga!”
“Kalau mereka bisa mendapat perhatianmu…”
Ia menunjuk dirinya sendiri.
“Aku juga mau!”
Angin malam kembali berhembus.
Ferisu menatap Reliza beberapa detik.
Lalu—ia tertawa kecil.
“Baiklah.”
Reliza sedikit berkedip.
Ferisu mengangkat tangannya santai.
“Kalau itu syaratnya…”
Ia tersenyum.
“Aku tidak punya alasan untuk menolak.”
Reliza terdiam sesaat.
Wajahnya sedikit memerah.
Namun ia segera memalingkan wajah.
“Hmph.”
Namun jelas sekali—ia senang.
Reliza kembali menatap medan perang.
Matanya berubah serius.
“Kalau begitu…”
Aura kegelapan mulai muncul perlahan di sekitar tubuhnya.
“Mari kita mulai.”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...----------------...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Langit malam terasa semakin berat. Angin berhenti. Seolah dunia menahan napas.
Di medan pertempuran—Valtheris berdiri di tengah reruntuhan, dikelilingi oleh tubuh-tubuh kesatria yang terluka.
Di hadapannya—Licia, Noa, Erica, dan Anor masih bertahan.
Namun garis batas mereka sudah hampir runtuh. Napas mereka berat. Aura sihir mulai melemah.
Dan Valtheris—bahkan belum terlihat benar-benar serius.
“Sudah cukup?” ucapnya dingin.
Pedangnya terangkat perlahan.
Aura gelap menyelimuti sekelilingnya.
“Kalau begitu… selesai.”
Namun—sesuatu berubah.
Udara menjadi dingin. Bukan dingin biasa. Melainkan dingin yang membuat jiwa terasa ditarik keluar dari tubuh.
Noa langsung membeku di tempat.
“Apa ini…?”
Erica menggigit bibirnya.
“Ini bukan aura biasa…”
Anor menyipitkan mata. Instingnya berteriak. Bahaya. Bahkan lebih berbahaya dari Valtheris.
Licia mengangkat pedangnya.
Namun tangannya sedikit gemetar.
“Siapa…?”
Lalu—retakan tipis muncul di udara.
Seperti kaca yang pecah.
Namun tidak mengeluarkan suara.
Hanya—membelah ruang itu sendiri.
Dari celah itu—sesosok langkah keluar.
Perlahan. Tenang. Tanpa tergesa.
Reliza.
Rambut hitam panjangnya terurai mengikuti angin yang tidak terasa. Gaun hitamnya bergerak pelan, seperti bayangan yang hidup.
Matanya—hitam pekat.
Kosong.
Namun di dalamnya—ada sesuatu yang jauh lebih dalam dari kegelapan.
Kepemilikan.
Ia melangkah ke depan.
Tanpa melihat siapapun—kecuali satu arah.
Ferisu.
Meskipun ia tidak ada di sana.
Ia tetap tahu.
Ia selalu tahu.
“Aku datang.”
Suaranya pelan.
Namun terdengar jelas di seluruh medan perang.
Valtheris menyipitkan mata.
“Hmm…”
Ia bisa merasakan sesuatu yang tidak biasa.
Bukan sekadar kekuatan.
Tapi sesuatu yang—tidak stabil.
Tidak alami.
Reliza akhirnya berhenti.
Ia menoleh pelan ke arah Valtheris.
Tatapannya kosong.
Seolah sedang melihat sesuatu yang tidak penting.
“Kau yang membuat keributan di sini?”
Pertanyaannya sederhana.
Namun tekanan di baliknya—membuat tanah retak perlahan.
Valtheris tersenyum tipis. “Kalau iya?”
Hening.
Sejenak.
Lalu—Reliza mengangkat tangannya sedikit.
BOOM.
Tanah di sekitar Valtheris langsung hancur.
Tanpa mantra.
Tanpa peringatan.
Hanya satu gerakan kecil.
Valtheris melompat mundur.
Matanya kini benar-benar serius. “Hah...?”
Ia tertawa pelan.
“Ini baru menarik.”
Reliza tidak menjawab.
Ia melangkah lagi.
Setiap langkahnya—membuat energi kehidupan di sekitarnya bergetar.
Para kesatria yang terluka tiba-tiba berhenti mengerang.
Luka mereka—perlahan menutup.
Noa membelalak.
“Dia… menyembuhkan mereka?”
Erica menatap Reliza dengan tegang.
Anor menggenggam belatinya. Namun untuk pertama kalinya—ia tidak tahu harus menyerang atau mundur.
Reliza berhenti di tengah medan.
Ia mengangkat tangan kanannya.
Dari bayangan—sesuatu muncul.
Pedang hitam.
Namun itu bukan pedang biasa. Aura di sekitarnya—seperti menolak dunia itu sendiri.
Pedang Pembunuh Dewa.
Valtheris langsung menyadari.
Dan untuk pertama kalinya—ia mengerutkan alisnya.
“Roh kontrak berbentuk senjata?”
Reliza menggenggam pedang itu.
Lalu mengayunkannya ringan.
Slash.
Tidak ada gelombang.
Tidak ada cahaya.
Namun—sebuah garis hitam muncul di udara. Dan—tanah di belakang Valtheris terbelah. Seolah realitas itu sendiri dipotong.
Valtheris melompat ke samping.
Sedetik terlambat—dan tubuhnya bisa saja terpotong.
“Monster.”
Reliza menatapnya.
Datar.
Tanpa emosi.
“Kau tidak pantas menyebutnya.”
Ia melangkah lagi.
Lalu—menghilang.
Valtheris membelalak.
“—!?”
Ia langsung menoleh ke belakang.
Terlambat.
Reliza sudah ada di sana.
Begitu dekat.
Pedangnya sudah terayun.
Valtheris menahan dengan pedangnya.
CLANG—!!
Benturan itu memecahkan tanah di bawah kaki mereka.
Tekanan angin menyapu seluruh medan.
Namun—Reliza tidak berhenti.
Ia menekan.
Lebih kuat.
Lebih dalam.
Lebih—kejam.
Matanya tetap kosong.
Namun di dalamnya—ada satu hal yang jelas.
Ia tidak sedang bertarung.
Ia sedang—menghukum.
“Kau menyentuh milikku.”
Suara Reliza terdengar pelan.
Namun membuat darah terasa membeku.
Valtheris menyeringai.
“Haha...”
Ia mendorong balik.
Namun—tubuhnya sedikit bergeser.
Reliza—tidak mundur sama sekali.
Pertarungan itu berubah. Bukan lagi tekanan sepihak dari Valtheris. Melainkan—bentrokan dua kekuatan yang sama-sama tidak normal.
Di kejauhan—Noa menatap dengan napas tertahan.
“Dia…”
Erica menggenggam tangannya. “Itu… Reliza…?”
Licia tidak berkata apa-apa. Namun matanya tidak lepas dari sosok itu.
Anor menyipitkan mata. “Bahaya.”
Namun—Reliza tidak peduli.
Baginya—tidak ada medan perang.
Tidak ada musuh.
Tidak ada sekutu.
Yang ada hanya satu.
Ferisu.
Dan siapa pun yang melukainya—akan dihancurkan. Tanpa sisa.
Di tengah benturan pedang—Reliza tersenyum tipis.
Senyum yang sangat kecil.
Namun cukup untuk membuat siapa pun yang melihatnya—merasa ngeri.
“Jangan khawatir…” bisiknya pelan.
Seolah berbicara pada seseorang yang jauh.
“Aku akan melindungimu.” Pedangnya kembali terangkat. Aura kegelapan membesar.
Dan malam itu—medan pertempuran berubah menjadi miliknya.
Di tengah pertarungan—mata Valtheris tiba-tiba menyipit.
Ia merasakan sesuatu.
Bukan dari Reliza.
Bukan dari para kesatria.
Namun—dari langit.
Retakan tipis kembali muncul.
Lebih besar.
Lebih dalam.
Dan dari dalamnya—sesuatu sedang mengamati.
Valtheris tersenyum.
“Oh…”
“Jadi kau juga ikut bermain?”
Reliza berhenti sejenak.
Untuk pertama kalinya—ia mengangkat wajahnya ke langit.
Matanya yang hitam pekat menyempit.
Dan untuk pertama kalinya—ekspresinya berubah. Sedikit.
Namun cukup jelas.
Kesal.
Sesuatu yang bahkan dia—tidak suka.
Telah datang.
Dan kali ini—bukan hanya tentang Ferisu.
Melainkan—tentang sesuatu yang jauh lebih besar.