Rio terpaksa menyetujui menikah dengan Rayi demi warisan supaya tak jatuh pada Rayi yang merupakan cucu dari teman sejati Kakek Brata.
Mereka kuliah di satu kampus dengan jurusan berbeda. Rayi terpaksa menerima syarat dari Rio bahwa di kampus mereka pura-pura tak kenal.
Namun mulai timbul masalah saat Didit teman satu kampus Rayi naksir gadis itu, dan Lala mantan Didit yang ingin mencelakai Rayi, serta Aruna teman sekolah naksir Rio kembali disaat hati Rio mulai bimbang untuk melepaskan Rayi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosida0161, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kenangan dan Minta Ampunan
Rusli masih terbawa perasaan hatinya. Dia tak lagi menjaga gengsi di depan Teguh. Air matanya terus mengalir dan tatapannya tetap pada foto Rayi yang tengah tertawa riang di atas punggung kudanya.
"Anakku sungguh sangat terlambat papamu ini menyadari betapa seharusnya Papa memberimu kasih sayang, menggantikan mamamu yang telah tiada, walau peran mama tak bisa digantikan sayang ... Maafkan Papa ..."
Rusli secara serampangan menghapus air mata di mukanya dengan punggung tangan kirinya. Tangan kanannya tetap menatap wajah Rayi yang cantik.
"Nona Rayi tiga hari berada di rumah almarhum pak Satya, dan empat hari berada.di rumah Tuan Brata ..." ujar Teguh setelah keadaan Rusli lebih tenang.
Rusli mengalihkan tatapannya dari foto Rayi ke muka Teguh, "Pak Brata?" Rusli masih ingat jika antara kakek Satya mertuanya dengan kakek Brata adalah sahabat dekat. Tapi kenapa Rayi seperti berbagi tempat tinggal?
"Saya akan menyelidiki kenapa Non Rayi tinggal di dua tempat," ujar Teguh yang memang tak tahu jika telah terjadi pernikahan antara Rio dan Rayi, karena pernikahan itu dilakukan secara diam-diam sesuai permintaan Rio.
"Terima kasih atas kerjasamanya, Pak Teguh," angguk Rusli menyalami lelaki yang dibayarnya untuk mencari tahu tentang Rayi dan mendapatkan beberapa foto putrinya.
"Sama-sama, Pak, saya permisi," pamit teguh.
Rusli membawa foto dan catatan hasil laporan Teguh tentang keadaan Rayi. Disana ditulis bahwa sejak Satya meninggal Rayi menggantikan menjadi pimpinan Club Satya. Kegiatan Rayi kuliah dan menjalankan kewajibannya sebagai pewaris kepemilikan club berkuda.
Club berkuda milik Satya yang saat ini telah menjadi milik Rayi putrinya itu, melemparkan Rusli pada kenangannya berkenalan dan tertarik pada Ratri putri Satya si pemilik area berkuda itu.
Ratri gadis cantik yang masih kuliah secara rutin datang ke lapangan berkuda untuk menikmati hobbynya berkuda.
Dan Rusli sebagai anak pelatih dan dan membatu ayahnya mengurus kuda di club Satya, tentu tak akan kesulitan untuk bertemu gadis cantik yang sangat terampil mengendalikan kuda yang sedang berlari berkeliling lapangan.
Dari rasa kagum secara diam-diam akhirnya meningkat pada rasa tertarik. Posisinya sebagai asisten pelatih ayahnya tentu saja Rusli memiliki ruang untuk mendekati Ratri.
Dari berkuda bersama sampai pada obrolan seputar kuda, bahkan juga pada kegiatan kampus. Lama-lama mereka semakin akrab.
Namun demikian Rusli masih menyembunyikan perasaan tertariknya pada Ratri. Baginya masih ragu untuk mengutarakan isi hatinya pada putri majikannya itu.
Tanpa setahu Rusli rupanya diam-diam Ratri mulai tertarik pada Rusli yang kalem. Namun dia masih menunggu dan ingin meyakinkan apakah Rusli juga menyukai dirinya.
Suatu hari Rusli menggotong seorang gadis yang terjatuh dari kuda serta mengobatinya, dan mengantarkannya pulang. Bahkan Rusli sering menjenguk gadis itu di rumahnya. Tentu saja Ratri protes pada Rusli karena memberi perhatian berlebih.
"Kayaknya tanggung jawabmu menolong dan mengobatinya serta mengantar pulang sudah bagus, dan bonus jenguk ke rumah itu artinya apa, ya ..." sore saat mereka berkuda Ratri menyindirnya.
"Kok tahu aku jenguk Nadia ke rumahnya?" Rusli mulai tertarik ingin tahu apakah Ratri cemburu?
"Tahu ajah ..." seru Ratri tapi wajahnya terkesan kesal.
"Ngikuti aku ya?" Canda Rusli.
"Huh ngapain ngikuti nggak ada kerjaan," bantah Ratri tapi wajahnya kini cemberut.
"Cemburu?" Rusli semakin menggoda.
"Buat apa cemburu?" Ratri segera menuju kudanya, lalu naik ke punggung kuda kemudian memberi perintah pada kudanya untuk berlari.
Rusli langsung melompat ke punggung kudanya juga dan mengejar gadis impiannya. Merasa ada yang mengejar dan itu Rusli, maka Ratri yang tak disangsikan lagi kepiawaiannya berada di atas punggung kuda, tak mau terkejar, dia memacu kuda kesayangannya terus berlari.
Rusli juga tak mau kalah dia berusaha untuk mengimbangi lari kuda milik Ratri. Tapi karena Ratri tak mau memberi kesempatan sejajar dengan kuda yang ditunggangi Rusli, maka Rusli pun mencari cara supaya Ratri mau mengurangi lari kudanya.
Lalu Rusli mendapat akal, dia sedikit mengurangi lari kuda yang ditungganginya, lalu melompat dari punggung kuda dengan gaya orang terjatuh dan merelakan satu kakinya masih nyangkut di tempat pijakan di sisi kiti kuda.
Jangan ditanya bagaimana sakitnya terseret lari kuda walau pelan, karena begitu dia pura-pura jatuh secara otomatis kuda yang ditungganginya mengurangi kecepatan dan berhenti.
Keadaannya membuat Ratri langsung membelokkan kudanya dan mendekat ke tempatnya meringkuk merasakan sakit betulan pada kakinya yang tadi nyangkut dan terseret sekitar lima meter.
Ratri langsung melompat dari punggung kudanya dan langsung memapahnya untuk diobati.
Dasar Rusli yang nekat itu merasa beruntung berada begitu dekat dengan Ratri. Hatinya bersorak gadis itu merangkul pinggangnya, dan rasa sakit pada kakinya terbayar sudah.
Ratri dengan telaten menyapukan ramuan minyak yang memang selalu ada untuk mengobati anggota yang terkilir.
"Masih sakit?" Ratri menatap cemas Rusli. Cemberut yang sempat menghias wajahnya sirna berganti dengan tatap cemas.
"Dikit," jujur Rusli, memang dirinya tak parah, bukankah masalah terjatuh dari kuda sudah dipersiapkan untuk mencari perhatian gadis impiannya.
Bukan hanya menunggui Rusli, namun Ratri mengantar ke rumah tempat Rusli tinggal.
"Apa kuhubungi Nadia?" Dan kali ini wajah Ratri terlihat jutek dan kesel.
Tentu saja Rusli melihat perubahan itu, "Buat apa hubungi dia,"
"Untuk menemanimu," suara Ratri hampir tertelan di kerongkongannya.
"Jangan nanti pacarnya marah,"
Ratri terkejut menatap Rusli tanpa suara.
"Nadia sudah punya pacar dan dia teman kuliahku,"
Ratri yang mulanya jutek perlahan wajahnya cerah dan sepasang bibir yang semula terkatup rapat itu menyungging senyum.
Dan Rusli tahu jika gadis itu pun nemiliki perasaan yang sama dengan dirinya. Maka dengan memberanikan diri dan tepatnya nekat, dia meraih tangan Ratri.
Gadis itu terkejut tapi tak menolak dan membiarkan saja tangannya berada dalam genggaman Rusli.
Tangan Ratri yang mulanya hangat mendadak kini dalam genggaman Rusli berubah menjadi dingin.
"Aku dengan Nadia hanya berteman, yang aku suka dan yang ingin aku temani adalah kamu, Ratri," suara Rusli pelan, tapi cukup untuk menembus dinding hati gadis yang kini wajahnya merona."Kamu nggak suka nemeni aku?"
Ratri mengangkat wajahnya dan tatapannya bertemu. Dengan gugup Ratri langsung menunduk.
Sejak saat itu mereka selalu bersama dan saat Rusli nekat mengutarakan perasaannya, Ratri tak menjawab dan tak menolak, namun sinar matanya menunjukkan perasaan yang sama.
"Aku sungguh sudah lama jatuh cinta padamu, dan aku juga tahu belum tentu papamu setuju pada cinta kita ..." ujar Rusli mengutarakan rasa cemas di hatinya jika papa gadis tercintanya belum tentu merestui mengingat dirinya hanya anak bawahannya.
"Kita jalani saja sambil terus berusaha ..." ujar Ratri.
Maka pacaran mereka adalah di lapangan berkuda. Saling kejar mengejar di atas kuda masing-masing. Atau duduk santai di atas rumput sambil menunggu kuda mereka melepas lelah.
Saat mereka sama-sama menyelesaikan kuliah, Ratri bekerja di perusahaan Asing sesuai ilmu yang didapat, sedangkan Rusli semakin dalam bergabung dengan club milik Satya, bukan hanya sebagai dokter hewan yang bertanggung jawab dengan kesehatan semua kuda baik milik pribadi club Satya mau pun milik anggota yang dititipkan di istal milik club, namun juga diangkat sebagai asisten Satya.
Tiga tahun pacaran akhirnya Rusli bersama ayahnya datang memberanikan diri untuk melamar Ratri dan Satya walau tergolong mapan dan cukup memiliki kekayaan menerima pinangan untuk putrinya.
Namun hidup bahagia penuh cinta harus berakhir ketika Ratri melahirkan buah cinta mereka.
Ratri meninggal.
Rusli meraung tak bisa menerima. Seketika dunianya serasa runtuh. Dan dengan hati luka dan hampir putus asah dia meninggalkan Jakarta setelah Ratri dikubur.
Delapan belas tahun menjadi pelaut telah kehilangan dua orang yang dicintai dan dihormatinya. Ayahnya meninggal lima tahun lalu. Satya mertua yang dihormatinya meninggal setahun lalu.
Kembali ke Jakarta adalah untuk menghabiskan waktu yang ada bersama kenangannya. Dia tahu cinta dan luka di hatinya tak akan hilang, namun kini kesadaran penuh mengusik hatinya untuk menebus kesalahannya pada Rayi putri tunggalnya.
Dan dia merasa kemungkinan akan kehilangan kasih sayang satu-satunya darah daging yang dimilikinya. Darah daging yang dititipkan untuk disayangi namun telah disia-siakan.
Aku pantas tak diakui, aku bukan papa yang baik. Tapi bagaimana pun aku harus minta ampun pada putriku walau seandainya dia tak mau mengakui diriku sekaki pun.
Dan berulang kali foto Rayi dikecupnya dengan sepenuh jiwa dan kasih sayang seorang ayah.
suka banget alurnya