NovelToon NovelToon
Pembalap Hati Sang Ustadz

Pembalap Hati Sang Ustadz

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:6.4k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Rani, seorang pembalap motor berjiwa bebas, menentang keras perjodohan yang diatur ayahnya dengan seorang ustadz tampan bernama Yudiz. Meskipun penolakan itu tak digubris, pernikahan pun terjadi. Dalam rumah tangga, Rani sengaja bersikap membangkang dan sering membuat Yudiz kewalahan. Diam-diam, Rani tetap melakoni hobinya balapan motor tanpa sepengetahuan suaminya. Merasa usahanya sia-sia, Yudiz akhirnya mulai mencari cara cerdik untuk melunakkan hati istrinya dan membimbing Rani ke jalan yang benar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

Dokter keluar dari ruang IGD sambil melepas maskernya, wajahnya tampak sangat serius.

"Pak Yudiz, hasil laboratorium menunjukkan adanya zat pencahar dengan dosis yang sangat tinggi di sistem pencernaan Ibu Rani. Yang lebih parah, zat ini sudah kadaluarsa, sehingga menimbulkan reaksi toksik yang menyerang lambung dan ginjalnya yang masih lemah."

Dunia Yudiz serasa runtuh. Kemarahannya sudah mencapai ubun-ubun.

Tanpa menunggu sedetik pun, ia mengambil ponselnya dan menghubungi Kyai Abdullah.

"Abi, datanglah ke rumah sekarang. Bawa Kyai Mansyur juga. Laila sudah mencoba meracuni Rani dengan obat pencahar dosis tinggi yang kadaluarsa sampai Rani harus kritis lagi di IGD. Jika Abi tidak menyidang nya malam ini, Yudiz sendiri yang akan menyeretnya ke kantor polisi!" ucap Yudiz dengan suara bergetar karena emosi.

Malam itu juga, Kyai Abdullah, Nyai Salmah, dan Kyai Mansyur berkumpul di ruang tamu.

Laila duduk bersimpuh di lantai sambil menangis tersedu-sedu, terus-menerus melakukan pembelaan diri yang palsu.

Yudiz berdiri di tengah ruangan, melemparkan hasil laboratorium dari rumah sakit ke atas meja.

"Lihat ini! Dokter sudah mengonfirmasi. Ini bukan sekadar salah makan, ini upaya mencelakai orang lain!"

Kyai Abdullah memejamkan mata, merasa sangat terpukul.

"Laila, benarkah itu?"

Namun, sebelum Laila menjawab, Nyai Salmah langsung berdiri dan pasang badan di depan Laila.

"Sudahlah, Yudiz! Jangan terlalu membesar-besarkan masalah! Mungkin saja itu hanya salah bumbu atau memang perut Rani saja yang terlalu manja!" cetus Nyai Salmah dengan nada ketus.

"Umi! Rani sedang bertaruh nyawa di rumah sakit!" bentak Yudiz, tidak percaya ibunya masih membela Laila.

"Rani itu memang manja sejak awal!" lanjut Nyai Salmah tanpa rasa bersalah.

"Baru sakit perut sedikit saja sudah dibawa ke IGD. Mungkin dia sengaja akting supaya kamu makin benci sama Laila. Laila ini anak baik-baik, dia mana mungkin tahu soal obat-obat seperti itu. Jangan-jangan Rani sendiri yang minum obat itu supaya Laila yang disalahkan!"

Kyai Mansyur hanya bisa menunduk malu, sementara Kyai Abdullah menggebrak meja.

"Cukup, Nyai! Hasil laboratorium tidak bisa berbohong!" bentak Kyai Abdullah.

"Yudiz, apa yang kamu inginkan sekarang?"

Yudiz menatap Laila dengan tatapan yang sangat dingin, lalu beralih ke ibunya.

"Karena Umi menganggap ini masalah sepele, dan Laila merasa tidak bersalah..."

Yudiz mengambil selembar kertas dari sakunya—perjanjian 20 poin yang tadi ditandatangani Laila.

"Poin nomor delapan: Menghina atau menyentuh Rani berarti dipulangkan. Poin nomor sembilan belas: Segala bentuk protes atau pelanggaran dianggap permintaan cerai."

"Malam ini juga, di depan Abi dan Kyai Mansyur, saya kembalikan Laila kepada ayahnya!"

Laila jatuh tersungkur di lantai, ia merangkak mendekati kaki Yudiz dengan tangis yang meledak-ledak.

"Mas, maafkan aku! Aku khilaf, aku hanya ingin Mas memperhatikanku sebentar saja! Aku tidak bermaksud membunuh Mbak Rani, Mas!"

Yudiz menarik kakinya dengan kasar agar tidak disentuh oleh Laila. Wajahnya sudah tidak menunjukkan belas kasihan sedikit pun.

"Simpan maafmu untuk Allah, Laila. Aku sudah tidak sudi melihat wajahmu."

Tanpa mempedulikan teriakan Laila, Yudiz menyambar kunci mobilnya.

Ia meninggalkan rumah itu dengan terburu-buru, memacu kendaraannya menembus keheningan malam menuju rumah sakit.

Pikirannya hanya satu: Rani. Ia harus ada di samping istrinya saat wanita itu sadar nanti.

Setelah kepergian Yudiz, Laila langsung beralih memeluk kaki Nyai Salmah.

"Umi, tolong Laila, Umi. Hanya Umi yang bisa membujuk Mas Yudiz. Laila tidak mau diceraikan, Umi. Laila malu kalau harus pulang ke pondok dengan status seperti ini!"

Nyai Salmah mengelus rambut Laila dengan wajah geram. Ia menatap suaminya dan Kyai Mansyur dengan tatapan menantang.

"Lihatlah, gara-gara wanita pembawa sial itu, anakku jadi berani membentakku dan mengusir istrinya sendiri! Abdullah, kamu harus bicara pada Yudiz. Jangan biarkan dia terbawa emosi hanya karena masalah perut Rani!"

Kyai Abdullah menghela napas panjang, sangat panjang hingga bahunya tampak merosot.

Beliau menatap istrinya dengan tatapan kecewa yang sangat dalam, lalu beralih menatap Kyai Mansyur yang sedari tadi hanya membisu dengan wajah merah padam karena malu.

"Nyai, berhentilah menutup mata," ucap Kyai Abdullah lirih namun tegas.

"Anak ini bukan hanya salah bumbu, dia membawa racun ke dalam rumah anaknya sendiri. Itu bukan lagi urusan rumah tangga biasa, itu kriminal."

Kyai Abdullah kemudian menoleh pada Kyai Mansyur.

"Sahabatku Mansyur, sepertinya permohonanmu tempo hari adalah kesalahan terbesar kita semua. Lihat apa yang dilakukan putri kita karena obsesinya."

Kyai Mansyur akhirnya mengangkat bicara, suaranya bergetar hebat.

"Cukup, Laila. Berdiri. Jangan permalukan Abi lebih jauh lagi."

Yudiz sampai di depan ruang rawat Rani. Melalui kaca kecil di pintu, ia melihat Rani terbaring lemah dengan berbagai selang yang menempel di tubuhnya.

Yudiz masuk perlahan, duduk di samping ranjang, dan menggenggam tangan Rani yang dingin.

"Sayang, Abi di sini. Abi sudah selesaikan semuanya. Tidak akan ada lagi yang menyakitimu," bisik Yudiz sambil mencium tangan Rani lama.

Tiba-tiba, jemari Rani bergerak sedikit. Matanya terbuka perlahan, menatap Yudiz dengan sayu.

"Abi, dia di mana?" tanya Rani sangat lirih.

Yudiz menatap Rani dengan tatapan yang penuh penyesalan sekaligus kelegaan.

Ia tidak ingin lagi ada rahasia atau kepura-puraan di antara mereka.

"Kamu masih mencarinya? Dia sudah melakukan rencana membunuh kamu, Rani. Obat yang dia masukkan ke makananmu itu bukan cuma obat pencahar biasa, tapi sudah kadaluarsa dan dosisnya mematikan," jawab Yudiz dengan suara berat, menahan amarah yang kembali naik saat mengingat kekejaman Laila.

Yudiz menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan,

"Abi sudah menceraikannya. Di depan kedua orang tuanya dan di depan Umi. Abi tidak akan membiarkan ular seperti dia berada satu atap dengan istri Abi."

Rani terdiam sejenak, menatap langit-langit ruang perawatan yang putih bersih.

Alih-alih menangis atau marah, sebuah tawa kecil yang terdengar getir namun tulus keluar dari bibirnya yang masih pucat.

"Pernikahan macam apa ini, Abi? Hanya hitungan jam," gumam Rani sambil tersenyum miring.

"Mungkin ini rekor dunia pernikahan tersingkat di keluarga Kyai."

Melihat Rani yang masih sempat bercanda di tengah kondisinya yang lemah, Yudiz tidak tahan untuk tidak gemas.

Ia mengulurkan tangannya dan mencubit pelan pipi istrinya yang terasa tirus.

"Malah tertawa," ucap Yudiz lembut.

"Abi serius, Sayang. Abi tidak butuh istri lain. Cukup satu ratu sirkuit yang bandel ini saja yang buat Abi jantungan setiap hari. Jangan pernah minta Abi menikah lagi hanya karena alasan nama baik atau apa pun itu, ya?"

Rani meringis kecil saat pipinya dicubit, lalu menatap Yudiz dalam-dalam.

"Sakit, Abi. Tapi lebih sakit kalau lihat Abi duduk di pelaminan sama dia tadi."

Yudiz langsung melepaskan cubitannya dan menggantinya dengan usapan lembut.

"Maafkan Abi, sayang. Itu adalah jam-jam paling buruk dalam hidup Abi. Sekarang, fokus saja untuk sembuh. Setelah kamu keluar dari sini, kita akan pulang ke rumah kita yang sebenarnya. Tanpa ada gangguan siapa pun."

Pintu kamar rawat terbuka perlahan, aroma manis dari gula jawa yang hangat langsung menyeruak masuk.

Seorang perawat tersenyum ramah sambil meletakkan nampan di meja samping tempat tidur.

"Permisi, Ibu Rani. Ini waktunya makan malam. Bubur sumsum ini lembut untuk lambung Ibu yang baru saja dibersihkan," ujar perawat itu sebelum berpamitan keluar.

Rani menatap mangkuk putih berisi bubur sumsum yang tampak bersih dan aman sangat jauh berbeda dengan masakan penuh tipu daya yang ia makan tadi sore.

Ia melirik Yudiz yang masih setia menggenggam tangannya.

"Ayo Abi, suapi," pinta Rani dengan nada manja yang samar, sebuah permintaan kecil untuk menghapus ketegangan di antara mereka.

Yudiz tersenyum lebar, rasa syukur membuncah di dadanya melihat selera makan Rani kembali.

"Dengan senang hati, My Queen," jawabnya sambil mulai mengaduk pelan bubur itu agar tercampur rata dengan kuah gula Jawanya.

Rani menganggukkan kepalanya pelan, mencoba sedikit bersandar pada bantal yang ditumpuk Yudiz.

Yudiz menyendokkan sedikit bubur, meniupnya dengan hati-hati seolah sedang merawat permata yang sangat rapuh.

"Buka mulutnya... Aaa..."

Rani menerima suapan itu. Rasa gurih santan dan manisnya gula jawa terasa sangat menenangkan di kerongkongannya.

Untuk pertama kalinya sejak pagi tadi, ia merasa benar-benar aman.

"Enak?" tanya Yudiz lembut, matanya tak lepas menatap wajah istrinya.

"Enak, Bi. Lebih enak karena nggak ada bumbu 'jahatnya'," jawab Rani sambil tersenyum tipis.

Yudiz terkekeh pelan, meski hatinya masih merasa perih.

"Setelah ini, Abi janji hanya akan ada makanan enak dan kebahagiaan untukmu. Abi nggak akan biarkan satu tetes air mata pun jatuh lagi karena orang lain."

Di tengah suasana hangat itu, Rani kembali menyantap suapan demi suapan dari tangan suaminya, mencoba melupakan bahwa beberapa jam lalu, hidupnya hampir saja berakhir di tangan wanita yang kini sudah menjadi masa lalu bagi Yudiz.

1
lin sya
hihi..enakan akur jd kluarga Cemara dripd saling ego, smga gk ada drama pelakor, hempaskan, fokus yudiz dan Rani bikin baby 💪
lin sya
nyai salmah kpn dpt krma atau prlu diceraiin suaminya, klo rani menderita ya akibat kebodohannya yg trllu naif, sbnrnya rmh tangga yudiz bkn urusan uminya knp ikut campur msukin pelakor jdi istri Kedua lgi/Sob/
lin sya
drama ikan terbang, kecewa thor knp pemeran cewe nya bodoh dan munafik mertua aj gk mikirin perasaan nya, dia malah bikin rmh tangga nya mkin berantakan, yudiz jg knp hrs nurut sm istri, angkat tangan aku mah🤭
lin sya: greget kk, sm pemeran wanita nya
total 2 replies
lin sya
klo trbukti msukin penjara aj plus cerain biar kapok
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!