Wasiat dua kakek yang bersahabat sejak lama menetapkan Adam dan Hawa sebagai pasangan di masa depan. Namun ketika waktu itu tiba, Adam justru menolak perjodohan tersebut. Ia merasa belum siap dan memilih fokus pada hidup serta pekerjaannya di Australia. Demi menghindari perjodohan itu, Adam mendorong adiknya Harun untuk menggantikan posisinya menikahi Hawa. Keputusan itu ternyata menjadi titik awal munculnya berbagai masalah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarah Mai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hati yang rapuh
Sebuah galeri butik gaun pengantin berdiri megah di hadapan mereka. Bangunannya didominasi kaca bening dengan ornamen emas di beberapa sudut, memantulkan cahaya matahari siang hingga tampak berkilau.
Adam menghentikan mobilnya tepat di area parkir khusus, lalu menghembuskan napas panjang seolah baru saja menuntaskan kewajiban berat.
“Kita sudah sampai?” ucapnya santai, tangannya masih bertengger santai di setir.
Hawa menoleh keluar jendela mobil. Pandangannya langsung tertumbuk pada tulisan besar BRIDAL GALLERY yang terpampang anggun di fasad bangunan bernuansa putih krem itu.
Huruf-hurufnya berkilau lembut diterpa cahaya matahari siang, memantul seperti janji yang terasa asing di hatinya.
Di bagian depan galeri, beberapa foto pra-wedding berukuran besar terpasang rapi.
Model pria dan wanita di dalamnya tersenyum bahagia, saling menatap penuh cinta, mengenakan gaun dan jas pengantin dengan gaya modern, kekinian, elegan, dan nyaris sempurna. Pose mereka terlihat begitu intim, seolah dunia hanya milik berdua.
Hawa menghela napas pelan. Dadanya terasa menghangat oleh perasaan yang sulit ia definisikan, antara gugup, canggung, dan sedikit getir. Baginya, semua yang terpajang di depan mata itu tampak indah, namun juga terasa jauh. Seindah etalase mimpi yang belum tentu akan benar-benar ia miliki.
Tangannya tanpa sadar menggenggam tali tasnya lebih erat, sementara sorot matanya kembali mengarah ke pintu galeri yang menjulang megah.
Inikah awal dari cerita yang bahkan belum ia yakini sepenuhnya?
Sebelum mereka sempat turun dari mobil.
“Dret!"
Suara panggilan masuk memecah keheningan. Adam melirik layar ponselnya, refleks. Namun, Hawa sudah lebih dulu melihatnya. Sebuah panggilan video dari seorang wanita cantik, seksi, dengan foto profil yang jelas bukan sekadar “teman biasa”.
Jantung Hawa mencelos.
Adam buru-buru menekan tombol merah, menolak panggilan itu begitu saja.
“Kenapa ditolak?” tanya Hawa, suaranya terdengar datar, tapi sorot matanya tak bisa menyembunyikan kegelisahan.
“Tidak penting,” jawab Adam singkat, seolah itu benar-benar bukan apa-apa.
Hawa menghela napas pelan. Tangannya mengepal di atas pangkuan.
“Sebenarnya…” ucapnya ragu, lalu menatap lurus ke depan. “Kamu menikah denganku cuma karena wasiat, kan?”
Pertanyaan itu meluncur begitu saja, polos, jujur, dan penuh kelelahan di hati Hawa.
Adam terdiam. Beberapa detik berlalu, cukup lama untuk membuat Hawa berharap… dan takut pada jawaban yang akan keluar.
“Jujur saja,” Adam akhirnya bersuara. “Aku sebenarnya belum ada niat menikah.”
Hawa menoleh cepat.
“Menurutku menikah itu ribet, banyak tuntutan, dan… membosankan,” lanjutnya enteng, namun kalimat itu menghantam Hawa tepat di ulu hati.
De ja vu.
Kenangan lama tiba-tiba menyeruak, begitu jelas, begitu menyakitkan.
*
“Hawa, maaf ya. Jujur aku nggak pernah suka sama kamu.” Suara seorang pria dari masa SMA itu terngiang kembali.
“Tapi karena kamu baik banget, perhatian, dan lumayan cantik… ya nggak apa-apa juga kita pacaran. Tapi jangan protes kalau aku jalan sama perempuan lain juga.”
Hawa muda menunduk, wajahnya panas menahan malu dan patah hati.
“Aku juga nggak pernah suka sama kamu,” jawabnya cepat saat itu, meski hatinya hancur berkeping-keping.
*
Sejak saat itu, Hawa selalu merasa bahwa cinta tak pernah benar-benar adil padanya. Setiap kali ada pria yang mendekatinya, ia buru-buru menjauh. Hingga waktu kembali menyeretnya ke dalam sebuah hubungan yang lahir bukan dari kehendaknya sendiri, melainkan dari desakan keluarga menikah dengan Harun.
Hawa tak sepenuhnya memahami wasiat yang mengikat pernikahan itu, aturan tak kasatmata yang perlahan mengekang langkah dan perasaannya. Namun, di balik keraguan, pernikahan tersebut sempat menumbuhkan harapan baru di hatinya. Ia mulai percaya bahwa mungkin kali ini takdir akan berpihak, bahwa cinta bisa tumbuh seiring waktu.
Sayangnya, harapan itu kembali runtuh. Bahkan lebih menyakitkan dari sebelumnya. Segalanya hancur berkeping-keping, meninggalkan luka yang terasa jauh lebih tragis untuk ia terima.
Ingatan Hawa melayang, wajah Raisa kembali hadir jelas di benaknya, bersama kalimat yang terucap tanpa ampun,
“Aku sudah terlanjur hamil!"
Luka lama yang belum sepenuhnya sembuh kini kembali terbuka, perihnya menjalar hingga ke relung hati.
“Halo?” Adam melambaikan tangan tepat di depan wajahnya. “Jadi, turun apa nggak?”
Hawa tersentak kembali ke dunia nyata. Nafasnya memburu.
“Sebaiknya… sebaiknya kita batalkan saja pernikahan ini,” ucapnya tiba-tiba, suaranya bergetar. “Aku tidak siap, Adam. Aku benar-benar tidak siap.”
Adam mengerutkan dahi.
“Aku tidak siap kalau suatu hari nanti ada wanita lain yang datang… hamil… dari benihmu,” lanjut Hawa dengan mata berkaca-kaca. “Aku lebih baik menjomblo daripada mengulang luka yang sama.”
Rasa kecewa datang bertubi-tubi, menekan dadanya hingga terasa sesak. Ketakutan akan masa lalu membuatnya panik.
Dengan tangan gemetar, Hawa meraih ponselnya dan langsung membuka Google.
“Mungkin… mungkin aku bisa cari dukun, orang pintar, atau apa pun yang bisa membatalkan wasiat ini,” gumamnya panik.
Adam menatapnya tak percaya, lalu terkekeh kecil.
“Hei,” katanya, sedikit kesal. “Kamu itu orang beragama, katanya taat sama Allah. Kenapa pikiranmu kolot banget? Cari-cari orang pintar segala.”
Hawa terdiam penuh kebingungan.
“Kalau kita menikah, berarti kita berjodoh,” lanjut Adam serius. “Wasiat ini sakral. Nggak bisa diganggu gugat lagi.”
Hawa mematung. Ketakutan membuatnya tak bisa berkata apa-apa. Wajahnya pucat, matanya membulat, alis tebalnya berkerut, bibir merah jambunya terkatup rapat.
Adam justru tertegun menatap kecantikan itu. Tak pernah ada rasa bosan, bahkan bayangnya mampu terngiang lama di benaknya. Bukan kecantikan mencolok yang lahir dari polesan riasan, melainkan keindahan yang memancar dari dalam, menenangkan siapa pun yang memandang. Ada ketulusan di sana, sesuatu yang tanpa sadar mengikat perasaannya… hingga membuatnya terhipnotis. Namun sayangnya, Adam masih memilih menyangkal apa yang perlahan tumbuh di hatinya, menyamakannya dengan wanita-wanita lain.
“Kita tetap menikah,” ucap Adam tegas.
Hawa menelan ludah.
“Tapi aku tidak ingin mencintai,” katanya lirih.
Adam tersenyum tipis. “Kalau begitu, jangan cintai aku, simpelkan?"
Hawa menatapnya kaget.
“Kita jalani saja sampai sejauh mana pernikahan ini bisa bertahan,” lanjut Adam tenang. “Kamu dan keluargamu tidak akan dirugikan. Royalti perusahaan tetap mengalir. Ini bukan sekadar pernikahan, tapi kerja sama dua keluarga yang sudah terikat sejak dulu!"
Ia membuka pintu mobil lebih dulu.
“Ayo.”
Dengan langkah ragu, Hawa ikut turun.
Begitu masuk ke dalam galeri butik pengantin itu, Hawa tertegun.
Gaun-gaun putih berkilauan berjajar rapi, kristal dan renda berkilau di bawah lampu-lampu mewah. Semuanya indah. Semuanya mahal. Semuanya seperti mimpi dari seorang wanita manapun.
Sangat berbeda dengan pernikahannya dulu bersama Harun. Saat itu, ia hanya mengenakan gaun putih sederhana. Tanpa pesta besar. Tanpa kemewahan. Tanpa kebahagiaan yang utuh. Dan kini… ia kembali berdiri di ambang pernikahan.
Namun entah mengapa, hatinya justru dipenuhi kelelahan dan ketakutan yang tak bisa ia jelaskan. Ia lelah berharap, lelah mempercayai janji-janji yang pada akhirnya rapuh. Yang ia inginkan kini begitu sederhana, yaitu menemukan seorang pria yang benar-benar tulus mencintainya, setulus hatinya sendiri saat ia memilih untuk mencintai. Bukan sekadar kata, melainkan keteguhan yang mampu membuatnya merasa aman untuk kembali percaya.