NovelToon NovelToon
Menikah Karena Wasiat Kakek

Menikah Karena Wasiat Kakek

Status: sedang berlangsung
Genre:Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:18.1k
Nilai: 5
Nama Author: Sarah Mai

Adam yang sejak awal menolak pernikahan, berusaha sekuat tenaga menghindari perjodohan yang telah diwasiatkan sang kakek. Perempuan yang ditentukan itu bernama Hawa Aluna, sosok yang sama sekali tak pernah ia inginkan dalam hidupnya. Demi membatalkan wasiat tersebut, Adam nekat melakukan langkah licik: ia menjodohkan Hawa dengan adiknya sendiri, Harun.
Namun keputusan itu justru menjadi awal petaka. Wasiat sang kakek dilanggar, dan akibatnya berbalik menghantam Adam tanpa ampun. Tak ada lagi jalan untuk lari. Demi menghindari malapetaka yang lebih besar, Adam akhirnya terpaksa menikahi Hawa Aluna.
Sayangnya, pernikahan itu berdiri di atas keterpaksaan dan luka. Adam menikah tanpa cinta, sementara Hawa pun sama sekali tidak menaruh rasa padanya. Dua hati yang kosong dipersatukan dalam satu ikatan suci, menyisakan pertanyaan besar tentang bagaimana nasib rumah tangga mereka ke depan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarah Mai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gejolak amarah Hawa.

Hawa menurunkan resleting gaun pengantin itu dengan tangan gemetar. Satu tarikan kecil saja terasa begitu berat, seolah ia sedang melepaskan bukan sekadar pakaian, melainkan harapan yang sejak pagi ia genggam dengan hati penuh keyakinan. Gaun putih yang seharusnya menjadi saksi kebahagiaan justru terasa seperti pakaian berduri, menusuk kulit dan perasaannya bersamaan.

Saat gaun itu akhirnya tergeletak di lantai, Hawa menatapnya lama. Dadanya kembali sesak. Bekas kemerahan di lehernya memang samar, hampir tersamar oleh kulitnya yang pucat, namun cukup untuk mengingatkannya pada kejadian barusan pada kegelisahan yang belum juga pergi.

Air shower mengalir deras, menghantam tubuhnya tanpa jeda. Hawa mendongakkan wajah, membiarkan air jatuh tepat ke matanya, ke bibirnya, ke napasnya yang terengah. Ia berharap air itu bisa mencuci bersih rasa takut, juga kata-kata kejam yang baru saja menghancurkan ketenangannya.

Namun harapan itu sia-sia.

Saat ia menunduk, napasnya masih belum stabil. Dadanya naik turun cepat, seolah ruangan itu berubah menjadi penjara sempit yang memaksanya bertahan. Dunia terasa panas, kepalanya pening, dan jantungnya berdetak terlalu keras sampai membuat telinganya berdengung.

Ia menempelkan punggung ke dinding kamar mandi, membiarkan air terus mengalir, sementara tubuhnya perlahan melorot. Tangannya menutup wajah, bahunya bergetar menahan sesuatu yang hampir tumpah.

"Tak boleh menangis"

"Belum sekarang" hatinya terus bicara menguatkan.

Entah berapa lama Hawa kembali berdiri, ia mematikan shower dan membungkus tubuhnya dengan baju handuk dan berjalan ke wastafel.

Cermin memantulkan bayangan wanita yang hampir tak ia kenali.

Wajah pucat, mata merah, senyum yang hilang entah sejak kapan.

Hawa mencengkeram pinggiran wastafel kuat-kuat, seolah jika ia melepaskannya, ia akan benar-benar runtuh.

“Tenang… tenang, Hawa,” gumamnya lirih, suaranya nyaris tenggelam oleh gemetar napasnya sendiri.

Namun suara tawa itu kembali.

Tawa Raisa.

Masih jelas, masih nyaring, seolah wanita itu berdiri tepat di belakangnya.

Playboy.

Wanita lain.

Mafia kayu jati.

Kasus ilegal.

Polisi.

"Sungguh kasihan!"

Hawa sampai menutup telinganya dengan erat. Kata-kata itu berputar di kepalanya tanpa ampun. Saling bertabrakan, saling menekan, membuat kepalanya terasa akan pecah.

Tangan Hawa mulai gemetar hebat.

Ia memercikkan air ke wajahnya sekali… dua kali… berkali-kali. Dingin. Menyengat. Tapi tetap tak mampu mengusir rasa takut yang semakin menebal di dadanya.

Satu sosok justru tak hadir di pesta itu, dialah Harun, nama yang seharusnya paling dicari, tetapi kini ia sama sekali tidak terlihat. Yang menyambut para tamu hanyalah Rani dan Adam, berdiri berdampingan dengan senyum formal yang tak sepenuhnya sampai ke mata.

Adam sesekali melirik ke arah pintu kamar rias pengantin. Perasaan tidak nyaman perlahan merayap di dadanya. Setelah memastikan keadaan di aula terkendali, ia pun melangkah cepat meninggalkan keramaian menuju kamar khusus pengantin.

Setibanya di sana, Adam mendapati beberapa penata rias masih membereskan peralatan.

“Di mana Hawa?” tanyanya langsung, nada suaranya terdengar tegang, khawatir meski ia berusaha terdengar santai.

“Ooh… Mbak Hawa masih di kamar mandi, Mas,” jawab salah satu penata rias sambil tersenyum sopan.

Adam mengangguk singkat. “Kalau begitu, kalian sudah bisa pulang. Terima kasih atas kerja kerasnya hari ini.”

“Baik, Mas.”

Satu per satu mereka menjabat tangan Adam, lalu meninggalkan kamar rias itu hingga suasana berubah sunyi.

Adam berdiri sejenak di depan pintu kamar mandi. Hatinya terasa semakin tidak tenang. Ia pun mengetuk pelan.

Tok.

Tok.

“Hawa?” suaranya terdengar lembut dari balik pintu. “Kamu di dalam?” tanyanya sambil melekatkan telinganya dipintu.

Di balik pintu, tubuh Hawa seketika menegang. Jantungnya berdegup lebih kencang, Ia menatap pantulan wajahnya di cermin, pucat, mata sembab, dan napas yang belum sepenuhnya stabil.

“Sebentar…” jawabnya cepat, berusaha menormalkan suara.

Dengan tangan gemetar, Hawa meraih tisu dan mengusap wajahnya, menghapus sisa air dan emosi yang belum sempat reda. ia membalut rambutnya dengan handuk kecil. Setelah menarik napas panjang, seolah mengumpulkan sisa kekuatan, barulah ia membuka pintu.

Adam berdiri di sana dengan setelan jas rapi, rambut tersisir sempurna. Senyum tipis sempat terukir di wajahnya, namun perlahan memudar begitu matanya menangkap kondisi Hawa.

“Kamu kenapa?” tanyanya spontan. Alisnya berkerut, sorot matanya penuh khawatir. “Wajahmu pucat.”

“Aku cuma capek,” jawab Hawa singkat. Ia menghindari tatapan Adam, lalu melangkah cepat menjauh. Raut wajahnya tampak masam, jelas sedang menahan sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar kelelahan.

Adam memperhatikannya beberapa detik, rahangnya mengeras. Ia tahu, Hawa sedang tidak baik-baik saja.

“Aku mandi dulu,” ucap Adam, suaranya terdengar tegas namun tertahan. “Setelah ini… kita bicara.”

Tanpa menunggu jawaban, Adam langsung melangkah menuju kamar mandi, meninggalkan Hawa berdiri di tempat dengan dada yang kembali terasa sesak.

Sehabis mandi dan berganti pakaian, Adam melangkah keluar dari kamar mandi dengan handuk kecil masih tergantung di bahunya. Setelan jas telah ia lepaskan, berganti kaos rumah berwarna gelap. Rambutnya masih sedikit basah, tetesan air jatuh ke kerah baju tanpa ia pedulikan.

Langkahnya terhenti.

Di atas ranjang besar itu, Hawa meringkuk seperti anak kecil yang ketakutan. Tubuhnya gemetar, bahunya naik-turun menahan napas yang tersengal. Kedua tangannya memeluk lutut, wajahnya tertanam di sana, seolah dunia di sekelilingnya tak lagi aman.

Dan tiba-tiba…

Tangis itu pecah.

Isakan Hawa mengguncang keheningan kamar. Suaranya serak, napasnya tersendat, seolah dadanya diremas oleh sesuatu yang tak kasat mata. Air mata mengalir tanpa henti, bercampur ketakutan yang selama ini ia tekan sendiri.

Sesak.

Takut.

Ingin lari.

Ingin menolak semuanya.

Adam membeku beberapa detik.

“Kenapa posisi ini… begitu mirip dengan apa yang kulihat dalam mimpiku saat koma dulu? Aku melihat Hawa menangis tersedu-sedu, tapi aku tak mampu menyentuhnya. Dan sekarang, semuanya terasa seperti deja vu!"

Dadanya ikut mengeras melihat pemandangan itu. Tanpa berpikir panjang, ia melangkah mendekat dan naik ke atas ranjang, lalu memeluk Hawa perlahan dari belakang, berusaha memberi rasa aman.

“Hawa…” suaranya rendah dan hati-hati.

Namun sentuhan itu justru menjadi pemicu.

“Lepaskan aku!” teriak Hawa sambil menepis pelukan Adam dengan kasar.

Adam terkejut, tapi belum sempat bereaksi

“Pergi!”

“Pergi!”

“Jangan sentuh aku!”

Dengan emosi yang meledak-ledak, Hawa meraih bantal di sampingnya dan melemparkannya ke arah Adam. Satu. Dua. Tiga. Tangis dan amarah bercampur jadi satu.

Adam menahan semua itu. Bantal mengenai dadanya, lengannya, wajahnya, namun ia tidak mundur.

“Hawa, sayang… sayang… tenang dulu,” ucap Adam lembut, suaranya seperti sedang membujuk anak kecil yang mengamuk karena ketakutan.

“Aku benci kamu!” jerit Hawa histeris. “Aku benci kalian semua! Aku benci pernikahan ini! Kalian jahat! Jahat sekali!”

Kata-kata itu keluar begitu saja, menghantam Adam tanpa ampun. Namun pria itu tak membalas dengan kemarahan. Tidak satu pun bentakan keluar dari bibirnya.

“Tidak apa-apa,” ucap Adam pelan. “Kamu boleh benci aku. Aku nggak marah.”

Ia menatap Hawa dengan mata yang sarat kesabaran.

“Tapi sekarang… tolong tenang dulu, ya.”

“Hiks… hiks…” Hawa menutup wajahnya dengan kedua tangan, bahunya bergetar hebat.

“Sini…” bujuk Adam lagi, penuh kehati-hatian, seolah takut salah sedikit saja akan membuat Hawa semakin hancur.

Namun begitu Adam mencoba mendekapnya, Hawa kembali memberontak.

“Lepasin!”

Mental Hawa berada di titik yang rapuh. Psikologinya bergejolak, seolah ada badai yang tak pernah reda di dalam kepalanya. Perasaannya naik turun tanpa pola, antara takut, cemas, dan kelelahan yang menumpuk terlalu lama.

Wanita itu meronta dengan tenaga yang tersisa. Kakinya menendang, tangannya memukuli dada Adam, kukunya mencakar tanpa arah. Bahkan ia berusaha menggigit leher Adam dalam kepanikan.

“Aaa!!!” Adam meringis tertahan.

“Jangan sentuh aku! Pergi! Pergi kau!” teriak Hawa dengan suara pecah.

Meski perih, Adam tetap tidak melepaskan pelukannya. Tangannya mengunci tubuh Hawa dengan kuat namun tidak menyakitkan, sebuah pelukan yang tegas.

“Tenang… tenang…” bisik Adam berulang-ulang. “Aku di sini. Kamu aman. Aku nggak ke mana-mana," ucap lembut Adam.

1
🍁𝑴𝒂𝒎 2𝑹ᵇᵃˢᵉ🍁
Adam mungkin mau berubah jadi lebih baik, tinggal Hawa nya aja yang mau menerima apa ga nya
🍁𝑴𝒂𝒎 2𝑹ᵇᵃˢᵉ🍁
Raisa kan ga rela Adam sama Hawa bahagia jadi bikin fitnah
Ita Widya ᵇᵃˢᵉ
jangan percaya sama si jalang Raisa..🤬🤬
Ita Widya ᵇᵃˢᵉ
ya Allah kasihan banget hawa,, semoga mental hawa kuat🥺🥺
Qothrun Nada
puas banget bacanya,mbk Sarah sering sering up banyak bab ya 💪💪
Qothrun Nada
kesalahan fatal Adam ada disini selalu mengagungkan uang dan kekuasaannya
Qothrun Nada
haha gk akan ada senyuman Dam
Qothrun Nada
senyum Hawa gk bisa di beli dgn semua hadiah mu itu Dam
Qothrun Nada
👍👍
Qothrun Nada
tapi Hawa gk akan suka dan tertarik pada hadiah mu Dam
Qothrun Nada
mungkin Adam gk tau kalau Hawa udah pulang ke rumah, makanya dia langsung ke rumah mamanya
Qothrun Nada
memang baik, tapi kebaikannya itu juga yg membuat cucunya jadi hidup menderita
Qothrun Nada
jangan mudah percaya kalau Adam suka sesama jenis, cukup percaya saja Adam banyak ani ani itu fakta dan kau sering dengar mereka teleponan
Lasi Anah
lanjut kak seruu ceritanya
Qothrun Nada
jangan kaget nanti kalau pulang Hawa bersikap dingin dan cuek lagi selain dpt kacauan dari Raisa, sikap sesuka hati menggunakan uang dan kekuasaan mu itu juga memicu Dam
Qothrun Nada
pasti keputusan pemindahan juga mendadak,the power of money kau harus tau itu Hawa
Qothrun Nada
ini pasti ulah si kadal buntung Adam 😀
Qothrun Nada
sesak campur panas membara Dam 🔥
Qothrun Nada
pinter juga orang suruhan ini ngompori, buat hati ketar ketir pulang saja Dam 😀
Qothrun Nada
cie cieee cemburu ya Dam 😀
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!