Dr. Rania "The Butcher" Wijaya adalah ahli bedah umum (General Surgeon) yang brilian tapi berantakan. Hidupnya adalah tentang UGD, darah, kopi instan, dan sandal Crocs karet. Baginya, estetika itu tidak penting, yang penting pasien selamat.
Dunia Rania jungkir balik ketika manajemen RS merekrut Dr. Adrian "The Prince" Bratadikara, spesialis bedah plastik dan estetika lulusan Korea Selatan, untuk meningkatkan pendapatan RS lewat klinik kecantikan VIP. Adrian adalah kebalikan Rania: obsesif dengan kebersihan, wangi parfum mahal, dan percaya bahwa "jahitan bedah adalah seni, bukan resleting celana."
Masalah utamanya? Mereka adalah musuh bebuyutan (dan mantan gebetan yang gagal jadian) saat kuliah kedokteran dulu. Kini mereka harus berbagi ruang operasi dan menyelamatkan RS dari kebangkrutan, sambil menahan keinginan untuk saling membunuh—atau mencium—satu sama lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27: Penyesalan di Ujung Kursi Roda
Seminggu berlalu sejak perpisahan di taman rumah sakit.
Adrian kembali ke kehidupan lamanya. Dia tinggal di apartemen mewah, menyetir Porsche, dan makan makanan gourmet. Tapi rasanya hambar. Apartemennya terlalu sunyi tanpa suara Rania yang mengomel soal utang. Kasur King Koil-nya terlalu dingin tanpa guling pembatas yang biasanya Rania tendang jatuh.
Di RS, Adrian bekerja seperti robot. Dia datang, operasi, pulang. Tidak ada senyum, tidak ada interaksi dengan staf. Bahkan Suster Yanti tidak berani mendekatinya karena aura Adrian suram sekali, mirip mendung bulan Januari.
Pukul 14.00 WIB. Poli Bedah Plastik.
"Pasien selanjutnya," panggil Adrian datar.
Pintu terbuka. Seorang gadis muda masuk dengan kursi roda, didorong oleh ibunya.
Itu Luna. Balerina yang kakinya diamputasi sebagian oleh Rania.
Jantung Adrian mencelos. Dia belum siap menghadapi Luna. Dia takut melihat kebencian di mata gadis itu—kebencian yang sama yang dia tuduhkan pada Rania.
"Halo, Dokter Adrian," sapa Luna. Suaranya cerah, berbeda jauh dari saat dia menangis histeris dua minggu lalu.
"Halo, Luna," Adrian memaksakan senyum kaku. Dia melihat kaki kanan Luna yang kini hanya sampai pertengahan betis, dibalut perban elastis. "Bagaimana... kabarmu?"
"Baik, Dok. Lukanya udah nggak sakit. Udah kering," jawab Luna. Dia mencoba berdiri dengan bantuan tongkat, lalu duduk di bed pemeriksaan.
Adrian memeriksa puntung kaki (stump) Luna. Jahitan Rania rapi, bersih, dan membentuk bantalan otot yang bagus. Ini akan memudahkan pemasangan kaki palsu (prostetik) nantinya.
"Lukanya sembuh sempurna," kata Adrian pelan. "Rania... Dokter Rania melakukan pekerjaan yang sangat bersih."
Luna mengangguk. "Iya. Dokter Rania hebat."
Adrian tertegun. Dia menatap Luna. "Kamu... kamu nggak marah sama dia? Dia memotong kaki kamu. Dia mengambil mimpi kamu."
Luna tersenyum tipis. Dia menatap kakinya yang hilang.
"Awalnya aku marah banget, Dok. Aku benci dia. Aku rasanya mau mati aja," aku Luna jujur. "Tapi... Dokter Rania datang tiap hari ke kamarku. Bahkan pas dia nggak lagi jaga."
Adrian mengerutkan kening. "Dia datang?"
"Iya. Dia nggak cuma ngecek luka. Dia duduk di situ, dengerin aku nangis, dengerin aku maki-maki dia. Dia nggak ngebales. Dia cuma bilang: 'Maafin saya, Luna. Saya harus lakuin ini biar kamu tetep hidup. Karena dunia masih butuh tarian kamu, walau bentuknya beda.'"
Luna mengambil napas panjang.
"Dokter Rania juga bawain aku video-video penari difabel yang pake kaki palsu. Dia kasih aku harapan, Dok. Dia bilang, 'Menari itu pake hati, bukan cuma pake kaki.' Kalau bukan karena ketegasan Dokter Rania hari itu... mungkin aku udah mati karena infeksi. Dan mayat nggak bisa menari."
Kata-kata Luna menghantam dada Adrian seperti palu godam.
Menari itu pake hati.
Adrian ingat kata-katanya sendiri pada Rania: "Kamu membunuh jiwanya."
Betapa salahnya dia. Rania tidak membunuh jiwa Luna. Rania menyelamatkan nyawanya dan merawat jiwanya dengan cara yang tidak Adrian lihat. Rania menanggung kebencian Luna, menanggung rasa bersalah, dan tetap hadir di sana. Sementara Adrian? Dia sibuk dengan egonya, sibuk menyalahkan Rania, lalu kabur karena kecewa.
"Dokter Adrian?" panggil Luna.
Adrian tersadar. Matanya memanas. "Maaf... saya... saya kelilipan."
"Dokter Rania mau ke Jerman ya, Dok? Katanya lusa berangkat?" tanya Luna polos. "Titip salam ya, Dok. Bilang makasih dari Luna. Soalnya pas pamitan kemarin aku lupa bilang makasih."
"Lusa?" Adrian terbelalak. "Dia berangkat lusa?"
"Iya. Katanya pesawat pagi."
Adrian menyelesaikan pemeriksaan itu dengan terburu-buru. Pikirannya kacau balau.
Setelah Luna pulang, Adrian duduk termenung di ruangannya yang mewah namun terasa seperti penjara.
Tok. Tok. Tok.
Pintu diketuk. Bukan ketukan sopan, tapi ketukan otoriter.
Pak Wijaya masuk. Dia masih memakai tongkat penyangga jalan, wajahnya masih ada bekas jahitan samar (karya Adrian), tapi setelan jasnya sudah kembali rapi.
"Papa?" Adrian berdiri. "Ngapain ke sini? Jadwal kontrol Papa besok."
Pak Wijaya tidak menjawab. Dia berjalan masuk, duduk di sofa tamu, dan meletakkan tongkatnya.
"Papa denger calon mantu Papa mau kabur ke Jerman," kata Pak Wijaya to the point.
Adrian menghela napas, duduk kembali di kursi kerjanya. "Dia bukan calon mantu Papa. Kami sudah putus. Kami nggak cocok."
"Nggak cocok?" Pak Wijaya mendengus. "Alasan klasik pecundang."
"Pa, tolong. Saya lagi nggak mood dengerin ceramah bisnis."
"Ini bukan soal bisnis, Bodoh," Pak Wijaya menunjuk Adrian dengan tongkatnya. "Ini soal kamu yang mengulangi kesalahan Papa."
Adrian mendongak. "Maksud Papa?"
Pak Wijaya menatap putranya dengan pandangan yang tidak biasa—pandangan penuh penyesalan.
"Dulu... setelah Mama kamu meninggal," suara Pak Wijaya merendah. "Papa menyalahkan semua orang. Papa menyalahkan dokter itu, menyalahkan rumah sakit, bahkan menyalahkan Tuhan. Papa jadi keras, jadi dingin, karena Papa pikir emosi itu kelemahan."
Pak Wijaya mencondongkan tubuhnya.
"Tapi yang paling Papa sesali adalah... Papa menutup diri dari kamu. Papa sibuk ngejar kesempurnaan semu sampai Papa lupa kalau Papa masih punya anak yang butuh dipeluk. Papa sendirian, Adrian. Di puncak menara gading ini, Papa kesepian setengah mati."
Adrian terdiam. Ini pertama kalinya ayahnya bicara se-terbuka ini.
"Kamu liat Rania," lanjut Pak Wijaya. "Dia wanita keras kepala, bajunya nggak pernah rapi, makannya sembarangan. Tapi waktu Papa sekarat, dia yang ambil keputusan buat bedah perut Papa saat kamu ketakutan. Waktu kamu gemeteran, dia yang pegangin tangan kamu."
Pak Wijaya berdiri, berjalan mendekati meja kerja Adrian.
"Dia melengkapi kamu, Adrian. Kamu itu layang-layang yang putus benang, terbang ketinggian sampai hilang arah. Rania itu benangnya. Dia yang bikin kamu napak tanah. Dia yang bikin kamu jadi... manusia."
"Tapi saya udah nyakitin dia, Pa," bisik Adrian. "Saya bilang dia nggak punya perasaan. Saya usir dia ke Jerman."
"Ya kejar dong!" bentak Pak Wijaya gemas. "Kamu punya mobil sport buat apa? Buat pajangan? Kejar dia. Minta maaf. Sujud kalau perlu. Jangan jadi tua, kaya, dan sendirian kayak Papa. Itu menyedihkan."
Adrian menatap ayahnya. Di balik wajah keras itu, dia melihat dukungan tulus.
"Papa... ngerestuin?"
"Saya butuh cucu yang nggak takut kotor dan berani ngelawan saya. Kayaknya cuma Rania yang bisa kasih gen itu," Pak Wijaya tersenyum miring. "Sekarang pergi. Sebelum dia naik pesawat dan ketemu bule Jerman yang lebih ganteng dari kamu."
Adrian langsung melompat dari kursinya. Dia menyambar kunci mobil dan jasnya.
"Terima kasih, Pa!"
Adrian berlari keluar ruangan.
"Adrian!" panggil Pak Wijaya lagi.
Adrian berhenti di pintu.
"Jangan lupa bawa 'senjata'," kata Pak Wijaya sambil menunjuk laci meja Adrian.
Adrian membuka laci. Di sana, tergeletak cincin yang pernah dia beli diam-diam (hasil menabung gaji RS selama 2 bulan, bukan uang ayahnya). Cincin sederhana, bukan berlian raksasa, tapi elegan.
Adrian menyambar cincin itu, tersenyum lebar pada ayahnya, lalu berlari sekencang-kencangnya menuju lift.
Di Kosan Pak Mamat.
Rania sedang memasukkan buku terakhir ke dalam koper besarnya. Kamarnya sudah kosong melompong. Dindingnya sepi tanpa tempelan jadwal jaga.
Tiket pesawat di tangannya tertulis: Jakarta (CGK) - Frankfurt (FRA). Keberangkatan: Besok, 06.00 WIB.
Dia memutuskan berangkat ke bandara malam ini dan menginap di hotel dekat bandara supaya tidak terlambat.
"Mbak Ran," panggil Kevin yang membantu angkat koper. Matanya sembab. "Beneran pergi nih? Nanti siapa yang marahin saya kalau salah pasang EKG?"
"Lo udah pinter, Vin. Lo nggak butuh dimarahin lagi," Rania tersenyum sedih, menepuk bahu Kevin.
"Dokter Adrian nggak ke sini?" tanya Yanti yang juga datang membantu.
Rania menggeleng. "Nggak usah disebut. Dia udah bahagia sama hidupnya."
Rania menyeret kopernya keluar kamar. Dia menatap pintu kamar 3B (kamar Adrian yang dulu) untuk terakhir kalinya.
"Selamat tinggal, Gang Kelinci," bisik Rania.
Dia turun ke bawah, memasukkan koper ke taksi online yang sudah menunggu.
Saat taksi itu melaju meninggalkan gang sempit itu, Rania tidak tahu bahwa di ujung jalan raya, sebuah Porsche hitam sedang melaju gila-gilaan membelah kemacetan, mencoba mengejar waktu yang nyaris habis.
...****************...
Bersambung.....
Terima kasih telah membaca💞
Jangan lupa bantu like komen dan share❣️
ceritanya bagus banget