NovelToon NovelToon
Elegi Di Balik Gerbang Mahoni

Elegi Di Balik Gerbang Mahoni

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas dendam pengganti / Fantasi Wanita / Bullying dan Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Balas Dendam
Popularitas:241
Nilai: 5
Nama Author: Yukipoki

Demi membalas kehancuran masa depan putranya oleh Ratu Komunitas yang tak tersentuh, seorang mantan konsultan branding melakukan balas dendam sosial dan intelektual dengan meruntuhkan reputasi musuhnya di mata para ibu elit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yukipoki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gaun Hitam di Ruang Komite

Udara di ruang serbaguna Komite Sekolah The Golden Bridge selalu terasa dingin, bukan hanya karena pendingin ruangan yang bekerja tanpa kompromi, tetapi karena atmosfernya memang diciptakan untuk menyingkirkan kehangatan. Ruangan itu lebih mirip tempat penyimpanan kristal antik—dibuka hanya saat acara penting, dijaga agar tak ada satu pun noda emosi yang menempel.

Pagi itu, suhu AC sengaja disetel rendah. Para ibu yang duduk di kursi empuk berlapis kulit terpaksa menyampirkan shawl kashmir di bahu masing-masing. Sebuah isyarat halus namun tegas: di ruangan ini, kenyamanan bukan prioritas. Yang utama hanyalah kendali, citra, dan keputusan.

Lampu kristal besar menggantung anggun di langit-langit tinggi. Cahaya putihnya memantul di permukaan meja oval dari kayu mahoni gelap, menciptakan kilau dingin yang kontras dengan riuh emosi yang tertahan rapat di balik senyum sopan. Semua tampak sempurna, rapi, dan terkendali—seperti topeng yang dipakai bersama.

Di tengah meja, duduk Kirana Widjaja.

Tak perlu diperkenalkan, kehadirannya sudah cukup menjadi pengumuman. Para ibu lain, bahkan sebelum rapat dimulai, selalu mencuri pandang ke arahnya—mencari restu, atau sekadar memastikan posisi mereka masih aman.

Kirana mengenakan setelan Chanel berwarna mint pastel, potongannya presisi, seolah dibuat khusus untuk tubuhnya. Rambutnya disanggul rendah tanpa sehelai pun keluar dari tempatnya. Di pergelangan tangan kirinya, jam berlian berkilau lembut, seperti matahari kecil yang tak pernah padam. Semua detail itu berbicara lantang tentang status, pengaruh, dan kekuasaan yang tak tertulis.

Suaranya, saat akhirnya terdengar, lembut dan merdu. Namun justru karena itulah, setiap kata yang keluar darinya terasa seperti palu hakim.

“Jadi, kita sepakat,” ucap Kirana sambil sedikit memiringkan kepala, menatap berkas di depannya sebelum mengalihkan pandang ke seberang meja. “Pengurangan anggaran bunga sepuluh persen tidak akan mengurangi kemewahan acara.”

Ia berhenti sejenak, cukup untuk membuat semua orang menahan napas.

“Kita harus menunjukkan pada dewan bahwa Komite ini efisien,” lanjutnya tenang, “bukan sekadar mengejar estetika berlebihan.”

Ibu Rina, yang sejak tadi mencoba mempertahankan idenya tentang dekorasi bunga impor, langsung terdiam. Bibirnya mengatup rapat. Argumen yang sudah ia siapkan matang-matang seakan menguap begitu saja di bawah tatapan singkat Kirana. Tatapan yang tidak marah, tidak keras—namun cukup membuat siapa pun merasa kecil.

Tak ada yang berani menyela. Tak ada yang membantah. Rapat berjalan sesuai irama Kirana, seperti biasa.

Di sudut ruangan, sedikit menjauh dari pusat kekuasaan itu, duduk Nadia Permata.

Gaun hitam sederhana yang dikenakannya tampak kontras dengan pastel lembut dan warna-warna mahal ibu-ibu lain. Potongannya lurus, tanpa ornamen, tanpa logo mencolok. Sepatu flat polos di kakinya semakin menegaskan perbedaannya—seolah ia datang bukan untuk pamer, melainkan untuk menghilang.

Nadia memang ingin terlihat seperti itu.

Anggota baru. Baru bergabung tiga minggu lalu. Diam, pendiam, dan tampak sedikit canggung. Persona itu ia bangun dengan sengaja: perempuan biasa yang tersesat di antara para sosialita, tidak mengancam, dan mudah dilupakan.

Namun di balik meja, jemari Nadia bergerak perlahan di atas buku catatan kosong. Ketukannya membentuk ritme teratur, seperti hitungan waktu yang hanya ia pahami sendiri.

Dua tahun.

Dua tahun sejak hidupnya berubah arah.

Dua tahun sejak beasiswa putranya, Aksa, dicabut dengan tuduhan plagiarisme—tuduhan yang dirangkai rapi, disodorkan dengan senyum, dan diterima bulat-bulat oleh komite yang sama.

Komite yang dipimpin Kirana Widjaja.

Api amarah yang dulu membakar dada Nadia kini telah membeku. Ia tak lagi meledak-ledak, tak lagi menangis setiap malam. Amarah itu berubah menjadi bongkahan es—dingin, tenang, dan jauh lebih berbahaya.

Dulu, sebelum semua ini, Nadia adalah konsultan branding yang disegani. Hidupnya berjalan dengan logika, data, strategi, dan kerja keras. Ia percaya pada sistem, pada keadilan, pada fakta.

Aksa adalah bukti hidup dari keyakinannya itu. Anak cerdas, tekun, dan penuh mimpi. Beasiswa penuh di The Golden Bridge adalah hasil dari kerja kerasnya sendiri, bukan belas kasihan siapa pun.

Namun semua runtuh dalam satu hari.

Kirana menuduh Aksa melakukan plagiarisme. Bukti yang diajukan rapuh, potongan data yang dipelintir, disertai kesaksian palsu yang entah dari mana datangnya. Semua terjadi begitu cepat, begitu rapi, seolah skenario itu sudah lama disiapkan.

Komite—yang sebagian besar anggotanya bergantung pada pengaruh Kirana—menjatuhkan hukuman terberat. Beasiswa dicabut. Nama Aksa dicoret. Masa depannya dihentikan tanpa ruang pembelaan.

Semua demi memastikan satu hal: putri Kirana, Vanya, tetap berada di puncak.

Nadia melawan. Ia membawa data, menyewa pengacara, mengajukan banding. Ia menangis, memohon, dan berdebat sebagai seorang ibu yang putus asa. Namun melawan Kirana sama saja dengan melawan tembok berlapis emas—tinggi, kokoh, dan dilindungi oleh banyak tangan yang diuntungkan.

Ia kalah.

Sejak hari itu, Nadia berhenti bekerja. Ia memilih fokus memulihkan Aksa—menguatkan mental anaknya yang hancur, mengobati rasa bersalah yang bukan miliknya. Namun di balik semua itu, Nadia mulai merencanakan sesuatu yang lain.

Balas dendam.

Ia tahu, balas dendam tidak boleh terburu-buru. Tidak boleh emosional. Harus dingin, rapi, dan nyaris tak terlihat—sehalus gaun hitam yang kini membungkus tubuhnya.

Selama setahun, Nadia mengamati Kirana dari kejauhan. Media sosialnya. Lingkaran pertemanannya. Acara-acara amal yang ia hadiri. Cara ia berbicara, cara ia tersenyum, cara ia membungkam lawan tanpa meninggikan suara.

Dan di sanalah Nadia menemukan celahnya.

Bukan uang. Bukan jabatan.

Melainkan validasi sosial.

Kirana hidup dari rasa hormat, iri, dan ketakutan ibu-ibu lain. Dari pandangan kagum yang selalu mengarah padanya. Dari bisikan pelan tentang kesempurnaan hidupnya.

Dan itulah yang akan Nadia runtuhkan.

Saat rapat hampir selesai, ketika sebagian ibu sudah mulai melirik ponsel dan merapikan tas, Nadia mengangkat tangan.

Gerakannya halus, sedikit ragu—cukup untuk menegaskan citra dirinya sebagai anggota baru yang masih belajar tempat.

Semua mata tertuju padanya.

Termasuk mata Kirana.

“Saya punya ide lain untuk lelang, Bu Kirana,” ucap Nadia dengan suara tenang, datar, tanpa getar.

Kirana mengangkat alis tipis, memberi isyarat agar Nadia melanjutkan.

“Wine Bordeaux 1990 memang mewah,” kata Nadia sambil membuka catatannya, meski halaman itu kosong. “Tapi berdasarkan data lelang tahun lalu, barang pribadi sering kali hanya menarik kolektor tertentu. Terlihat eksklusif, tapi kurang menjangkau.”

Ia berhenti sejenak, membiarkan keheningan bekerja untuknya.

“Kita butuh sesuatu yang lebih… menyentuh ambisi para ibu.”

Beberapa orang tampak saling melirik.

“Menurut saya,” lanjut Nadia pelan, “kita harus melelang Waktu dan Keahlian.”

Ruangan mendadak hening.

“Misalnya,” katanya sambil menoleh langsung ke arah Kirana, “satu sesi konsultasi eksklusif dengan Anda, Bu Kirana, tentang rahasia keberhasilan Vanya.”

Udara seolah membeku.

Vanya adalah mahakarya Kirana. Citra yang ia bangun dengan susah payah. Menyentuhnya berarti menyentuh inti egonya.

Kirana tersenyum tipis, senyum yang sulit ditebak apakah itu apresiasi atau peringatan.

“Ide yang berani, Bu Nadia,” ucapnya akhirnya. “Tapi terlalu pribadi. Waktu saya sangat terbatas.”

“Justru itu,” jawab Nadia mantap, suaranya tetap sopan namun tegas. “Karena terbatas, nilainya akan tinggi. Para ibu di sini tidak hanya ingin tahu cara mendidik Vanya.”

Ia mencondongkan tubuh sedikit.

“Mereka ingin tahu cara menjadi Anda.”

Kirana terdiam.

Menolak berarti mengakui ketakutan. Mengakui bahwa kesempurnaannya bisa dipertanyakan.

Beberapa detik kemudian, ia mengangguk pelan.

“Baiklah,” katanya. “Ide Anda… cemerlang. Tapi Anda yang harus mengurus logistik dan promosi. Buktikan ide ini bisa menghasilkan dana terbesar.”

Nadia tersenyum kecil.

“Dengan senang hati.”

Rapat pun ditutup.

Saat ruangan mulai kosong, Nadia mendekati Ibu Rina.

“Bunga pilihan Anda tahun lalu membuat acara terasa hangat,” katanya tulus. “Selera Anda luar biasa.”

Rina tampak terkejut, lalu tersenyum bangga.

“Terima kasih, Bu Nadia. Kirana memang selalu begitu,” gumamnya pelan. “Uang harus disimpan untuk dirinya.”

Nadia menunduk, seolah memahami.

“Saya butuh masukan,” lanjutnya lembut. “Untuk promosi paket lelang, saya perlu foto Bu Kirana yang benar-benar menginspirasi. Boleh saya melihat arsip foto lama?”

Rina, yang memegang kunci ruang arsip, tampak tersanjung.

“Tentu saja. Ambil saja,” katanya sambil mengeluarkan kunci. “Saya harus pergi.”

Nadia menerima kunci itu.

Di parkiran, ia menatap bayangannya di kaca spion mobil. Wajahnya tampak lebih tirus, matanya lebih tajam. Kunci di tangannya terasa berat, seperti simbol dari batas moral yang sebentar lagi akan ia lewati.

“Gaun hitam ini bukan untuk berkabung,” bisiknya pelan.

“Ini kamuflase.”

Ia menghela napas panjang.

“Kirana,” lanjutnya dalam hati, “kau mencuri masa depan Aksa. Sekarang, aku akan mencuri hal yang paling kau hargai.”

Kesempurnaanmu.

Dan di sanalah, tanpa satu pun teriakan atau ancaman, balas dendam itu resmi dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!