NovelToon NovelToon
Candy Cane

Candy Cane

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Beda Usia
Popularitas:81
Nilai: 5
Nama Author: Lunea Bubble

Candelle Luna (Candy), 19 tahun, tidak pernah menyangka hidupnya berubah hanya karena… ibu tirinya takut anak kandungnya menikah dengan pria “tua, kaya, dan super pelit”.

Hasilnya?
Candy yang dikorbankan sebagai pengantin pengganti untuk Revo Bara Luneth—pria 37 tahun yang lebih dingin dari kulkas dua pintu, hemat bicara, dan hemat… segalanya.

Pernikahan ini harusnya berakhir kacau.
Tapi ternyata, gadis yang terlihat penurut itu punya lebih banyak kejutan daripada permen candy cane yang manis di luar, pedas di dalam.

"Gadis pendiam dan lembut itu… dia? Tidak mungkin." — Revo

"Astaga, hidup baru mulai, tapi sudah dilempar ke mode hard married life!" — Candy

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunea Bubble, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Malam Pertama

Revo membuka pintu kamar lalu masuk tanpa menoleh ke belakang, seolah kehadiran Candy sama sekali tidak berarti. Daun pintu nyaris tertutup sempurna sebelum Candy cepat-cepat menyelipkan tubuhnya masuk.

Gadis itu menggembungkan pipi sambil menahan pintu dengan satu tangan. Tidak lucu kalau dia harus mengetuk lagi. Bisa-bisa suaminya itu benar-benar membiarkannya tidur di lorong.

Begitu melangkah masuk, Candy terperangah.

Seumur hidupnya, dia belum pernah melihat kamar hotel semewah ini. Matanya menyapu ruangan—lampu kristal, sofa empuk, karpet tebal, dan ranjang besar yang tampak terlalu nyaman untuk sekadar tidur.

Mulutnya nyaris menganga. Untung ia cepat sadar dan segera menutupnya rapat.

Kalau sampai Revo melihat ekspresinya, pria itu pasti akan langsung memberi cap kampungan.

Meski Revo bukan kakek-kakek tua berperut buncit seperti bayangannya dulu, tetap saja—berdasarkan informasi minim yang ia punya—pria bernama Revo Bara Luneth dikenal dingin, kejam, dan irit bicara.

"Kamu tidur di sofa," ujar Revo singkat sambil melepas jasnya.

Mata Candy membulat. Dalam hati, dia mengumpat tanpa suara.

Weh, enak aja nyuruh gue tidur di sofa.

Tanpa banyak basa-basi, Candy melangkah tegap melewati Revo, lalu menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang empuk itu.

Buk.

Mata Revo membesar. Sepanjang hidupnya, belum pernah ada orang yang terang-terangan melawan ucapannya—apalagi istrinya sendiri, tepat di malam pernikahan.

"Gue tidur di sini," kata Candy sambil duduk tegak.

Ia menatap Revo tajam, lalu berjalan melewatinya menuju kamar mandi. Tubuhnya terasa lengket. Meski ruangan ber-AC, tetap saja tidak nyaman. Ia tidak akan bisa tidur sebelum membersihkan diri.

Revo hanya menatap punggung Candy tanpa komentar. Kepalanya terlalu lelah untuk berdebat. Pernikahan hari ini menguras tenaga lebih dari lima hari rapat tanpa henti.

Akhirnya, ia memilih menenangkan diri di balkon. Lagipula, semewah apa pun kamar ini, tetap hanya memiliki satu kamar mandi.

Revo melepaskan pakaian formalnya, menyisakan celana panjang dengan dada terbuka. Udara malam yang sejuk dan langit cerah sedikit meredakan kepalanya yang penat.

Ia memejamkan mata, mencoba mengatur napas.

Sementara itu, Candy justru mondar-mandir di dalam kamar mandi. Tatapannya bolak-balik antara pintu dan bathtub.

"Aduh, gimana dong," gumamnya gelisah.

"Mau keluar, nggak mungkin. Pesan kamar lagi? Aish… nggak mungkin juga,"

Ia menghela napas panjang.

"Ah, sudahlah. Mau terjadi, terjadi sajalah."

Candy menyalakan keran, mengisi bathtub. Berendam adalah satu-satunya cara agar pikirannya sedikit lebih tenang—atau setidaknya tidak meledak.

Lima belas menit berlalu.

Setengah jam.

Satu jam.

Dua jam.

Saat akhirnya keluar, tubuhnya sudah bersih dan rambutnya kering sempurna. Candy menatap pantulan dirinya di cermin, hanya mengenakan jubah mandi putih.

"Pasti udah tidur," ujarnya yakin.

Klik.

Begitu pintu kamar mandi dibuka—

"Aaa!"

Bruk!

Detik berikutnya, tubuh Revo sudah terjerembap ke lantai.

"Aw!" serunya menahan sakit.

"Ya ampun!" Candy refleks membantu, tapi—

"Jangan sentuh!" Revo menepis cepat.

Ia bangkit sendiri, wajahnya menegang. "Aku bisa."

Candy meringis. "Sorry… lagian siapa juga yang berdiri di depan pintu kamar mandi."

"Kamu sendiri ngapain lama-lama di kamar mandi?" balas Revo kesal. "Di sini bukan cuma ada kamu."

Candy mengangkat tangan, mulai menghitung dengan jarinya.

Revo mengernyit.

"Tiga belas kata," kata Candy santai.

"Apa?"

"Itu kalimat terpanjang yang elu ucapin ke gue sejauh ini."

Revo memutar bola mata, lalu berbalik masuk ke kamar mandi. Berurusan dengan perempuan benar-benar membuat kepalanya bertambah pening.

"Yee, kabur," gumam Candy.

Begitu Revo menghilang, Candy mulai mencari kopernya. Ia butuh baju ganti. Tidak mungkin ia tidur mengenakan jubah mandi—apalagi tanpa dalaman—di satu kamar dengan seorang pria.

Ia bergidik sendiri.

Namun setelah mencari ke seluruh sudut kamar, koper hitam berukuran sedang itu tidak juga ditemukan. Yang ada hanyalah beberapa paper bag rapi di atas meja.

Candy menatapnya ragu.

Membuka barang milik orang lain jelas tidak sopan…

tapi tidur tanpa baju ganti juga bukan pilihan.

Candy menelan ludah.

Dan untuk pertama kalinya malam itu, ia sadar—malam pengantin ini akan jauh dari kata tenang.

"Huft! Nasib... nasib?" keluh Candy lirih.

Tiba-tiba matanya menangkap sesuatu.

"Lemari!" serunya senang.

Dengan langkah ringan, Candy mendekat, berharap Mbok Sarah sudah merapikan pakaiannya ke dalam sana.

Sret

"What?!" mulut Candy ternganga, matanya membulat tak percaya.

Lemari itu—kosong.

"Bener-bener dah," gumamnya frustrasi.

Tubuhnya merosot ke lantai. Candy menekuk lutut, memeluknya erat, lalu membenamkan wajah di sana sejenak. Dunia terasa kejam untuk seorang pengantin baru yang cuma ingin tidur pakai baju sendiri.

Dengan berat hati, ia bangkit. Langkahnya lesu saat menuju tempat tidur. Mau tidak mau, malam ini ia harus tidur dengan jubah mandi.

Namun baru dua langkah, pintu kamar mandi terbuka.

Revo keluar.

Hampir saja mereka bertabrakan.

Candy refleks menegang. Revo, tanpa sadar, menyilangkan tangan di depan dada—posisi defensif yang sangat jelas.

Ia masih trauma.

Istrinya ini memang kecil, tapi tenaganya tidak main-main. Berdasarkan analisanya, Candy jelas bukan perempuan biasa. Bisa jadi pernah belajar bela diri… atau minimal hobi banting orang.

Candy menangkap gestur itu.

Oh. serunya dalam hati.

Dia hafal bahasa tubuh orang yang terintimidasi.

Senyum tipis mengembang di wajahnya. Ia pura-pura berjalan santai melewati Revo, lalu—

"Hah!" serunya tiba-tiba.

Revo terkejut. Tubuhnya refleks mundur selangkah ke belakang.

Candy tertawa puas.

"Payah," ejeknya ringan sambil melanjutkan langkah ke tempat tidur.

Tubuhnya benar-benar lelah sekarang. Kepalanya penuh, emosinya naik-turun, dan jubah mandi itu sama sekali tidak membantu rasa aman.

Meski kesal, Revo tahu satu hal—

istrinya itu jelas tidak nyaman tidur hanya mengenakan jubah mandi.

Tadi, tanpa sengaja, ia sempat melihat isi paper bag di atas meja. Dua di antaranya berisi pakaian dalam wanita dan pakaian tidur.

Revo melangkah ke meja, mengambil dua paper bag itu, lalu dengan sengaja melemparkannya ke samping tubuh Candy.

Bruk.

"Astaga naga!" Candy terkejut hingga langsung terduduk.

Revo tidak bereaksi. Ia berjalan santai menuju kulkas mini, membuka pintunya, lalu mengambil sebotol air dingin. Tutup botol diputar, dan ia meneguknya perlahan—terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja melempar barang ke istri sendiri.

"Lu—"

Ucapan Candy terhenti.

Matanya tanpa sadar mengikuti gerakan Revo. Cahaya lampu kamar memantul di botol air, leher pria itu bergerak naik-turun saat menelan, rahangnya tegas—

"Ish!" Candy cepat-cepat memalingkan wajah. "Bikin sakit mata aja."

Revo melirik sekilas, lalu menutup kulkas mini tanpa komentar.

Candy mendengus, kemudian meraih paper bag yang tadi dilempar ke arahnya. Ia membuka yang pertama.

"Hah?"

Di dalamnya ada dua baju tidur.

Satu… terlalu minim menurut standar kewarasannya. Yang satunya lagi setelan celana pendek bertali satu—dan, sialnya, cukup transparan.

"Pakaian apaan ini?" gumamnya panik.

Dengan perasaan tidak enak, Candy beralih ke paper bag kedua.

Begitu melihat isinya—

"Aaa!" Candy menjerit histeris.

Revo yang sedang menikmati sisa air di botol langsung tersedak.

"Khuk—khuk!" Ia membungkuk sedikit, terbatuk keras, lalu menatap Candy tajam. "Kamu kenapa lagi?!"

Candy menatap balik dengan wajah merah padam, mengangkat isi paper bag itu setinggi dada.

"Ini!" serunya. "Ini baju tidur atau jebakan maut?!"

Revo akhirnya menyadari apa yang ada di tangan Candy. Sekilas saja.

Hening.

Untuk pertama kalinya malam itu, ekspresi datar Revo retak.

"Yang beli… bukan aku,"katanya cepat, nyaris defensif.

Candy menyipitkan mata. "Terus siapa?"

Revo terdiam sesaat.

Dan di sanalah Candy tahu—malam ini belum akan selesai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!