NovelToon NovelToon
Langkah Kecil Rara

Langkah Kecil Rara

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Ibu Tiri / Keluarga / Antagonis / Ibu Pengganti
Popularitas:226
Nilai: 5
Nama Author: Ica Marliani

"Ibu mau kemana? " suara Rara kecil nyaris tak terdengar.
Ibu menoleh sekilas. Mata mereka bertemu sejenak, lalu ibu buru-buru membuang pandangan. Ia mendekat, memeluk Rara sekilas. cepat sekali, seperti orang yang terburu-buru ingin pergi dari mimpi buruk.
"Kamu di sini dulu ya sama ayah. Kalau ada rezeki, kamu dan Alisya ibu jemput," bisiknya pelan, sebelum berbalik.
Rara tak mengerti. Tapi hatinya nyeri, seperti ada yang hilang sebelum sempat digenggam. Ketika mobil itu perlahan menjauh, ia masih berdiri mematung. Air matanya jatuh, tapi tak ia sadari.

"Rara Alina Putri" Namanya terpanggil di podium.
Ia berhasil wisuda dengan peringkat cumlaude, matanya berkaca. kepada siapakah ini pantas di hadiahkan?
Jika hari ini ia berdiri sendiri di sini. Air bening mengalir tanpa terasa, Langkah Kecil Rara sudah sejauh ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ica Marliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ujian Dibalik Gelap

Rara berangkat sekolah dengan tergesa-gesa, pagi ini ia terlambat lagi bangun. Semalam ia kembali mengendap ke kamar ibu tirinya untuk belajar. Karena seperti biasa, lampu hampir tiap malam direbut paksa ibu tirinya.

Semenjak Rara rajin belajar, sikap ibu tirinya berubah. Tak seperti biasa lampu yang dibiarkan hidup sampai pagi. Sekarang lampu selalu ia sembunyikan. Berbeda dari sebelumnya, lampu tak lagi dibiarkan menyala sampai pagi.

Hari ini ujian pertamanya sejak kelas tiga. Rara melangkah cepat, agar ia tidak terlambat ikut ujian.

"Piring belum dicuci, kamu mau kemana?" langkah Rara dihalangi wanita paruh baya itu. Tapi kali ini Rara tidak diam. Ia mencoba lolos dari cengkeraman wanita kejam itu. Namun tangan kekar itu sigap menangkapnya.

"Aku ujian pagi ini, Bu!" ucapnya mengiba. Wanita itu menatapnya tajam. Bola matanya seakan meloncat memindai Rara.

"Aku pasti selesaikan setelah pulang sekolah," sekali lagi Rara mengiba. Alisya yang berada di sebelahnya terdiam tak bersuara.

Setelah pertimbangan panjang akhirnya wanita itu melepaskan Rara. Ia menarik napas panjang dan pergi begitu saja.

"Kak, kenapa ibu selalu begitu sama kita ya?" Alisya membuka kebisuan mereka. Namun Rara tak menjawab. Ia tahu, tidak semua pertanyaan memang perlu dijawab. Beberapa hanya perlu dipendam, ia mempercepat langkahnya.

"Udah kita harus cepat, Dek. Takut nanti terlambat."

"Iya, Kak." jawab lesu.

Setelah melewati perjalanan panjang dari rumah ke sekolah. Akhirnya mereka tiba di gerbang itu, bel berbunyi tepat saat kaki Rara dan Alisya sudah melangkah di bibir pagar sekolah.

Ia menarik napas lega.

"Syukurlah tidak terlambat," desisnya pelan hampir tak bersuara.

Mereka langsung menuju ke kelasnya masing-masing.

Rara duduk di kelas dengan napas yang masih belum stabil. Keringatnya masih bercucuran. Baju putihnya tampak basah.

"Ra, kenapa keringatan begini?" bisik Rara dari bangku sebelah.

"Biasa, Arini. Olahraga pagi," balasnya tersenyum jenaka.

"Olahraga atau telat bangun lagi?" tampak Arini menggoda. Rara menoleh sahabatnya itu sambil mencubitnya manja. Tak lama obrolan mereka terhenti oleh sapaan lembut Bu Sri.

"Pagi anak-anak?"

"Pagi juga, Bu," jawab mereka serentak. Suara itu menggema memenuhi ruangan kelas. Bu Sri menuju mejanya membawa soal ujian. Lalu mulai membagikan satu per satu kertas soal tersebut kepada para murid.

Rara menatap soalnya dengan seksama. Tidak mudah juga tidak begitu sulit. Ia tersenyum dalam hati. Tidak sia-sia perjuangannya belajar hampir tiap malam.

Sebelum jam ujian berakhir, Rara sudah menyerahkan kertas ujiannya kepada Bu Sri.

"Tidak diperiksa lagi, Ra? Mumpung masih ada beberapa menit,” Bu Sri menatapnya lama.

Rara menggeleng, ia sudah sangat yakin kalau jawabannya sudah benar.

"Tidak, Bu. Rara sudah jawab dengan baik." ia menundukkan kepala.

"Baiklah, Ra. Kertas ujianmu Ibu ambil. Sekarang kamu boleh keluar."

Rara berjalan meninggalkan ruang kelas dengan perasaan lega. Langkahnya terasa ringan, walaupun ia tahu di rumah ada beban yang lebih berat menunggunya.

"Kak Rara!" Alisya menyapanya lembut. Adik perempuannya juga sudah selesai ujian.

"Kak, kita pulang yuk?"

"Tunggu bel berbunyi dulu, Dek." ucapnya tegas. Bahkan ia merasa lebih tenang berlama-lama di sekolah daripada harus melangkahkan kaki pulang ke rumah.

"Eh, cunguk!" bentak Alea cukup keras. Rara menatapnya. Tangannya refleks menarik tubuh Alisya ke dekapannya.

"Aku punya nama!" tegas Rara cukup keras.

"Kata Ibu, jangan kelayapan. Langsung pulang.”

Rara tak menjawab, namun Alisya mencibirnya.

"Dia sama ibunya sama aja ya, Kak. Suka seenaknya. Mentang-mentang kita menumpang di rumahnya." Alisya mencelos kecil.

Mereka menatap punggung Alea hingga menghilang dari pandangan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!