Sadewa dan Bianca sudah bersahabat dari kecil. Terbiasa bersama membuat Bianca memendam perasaan kepada Sadewa sayang tidak dengan Sadewa,dia memiliki gadis lain sebagai tambatan hatinya yang merupakan sahabat Bianca.
Setelah sepuluh tahun berpacaran Sadewa memutuskan untuk menikahi kekasihnya,tapi saat hari H wanita itu pergi meninggalkannya, orang tua Sadewa yang tidak ingin menanggung malu memutuskan agar Bianca menjadi pengantin pengganti.
Sadewa menolak usulan keluarganya karena apapun yang terjadi dia hanya ingin menikah dengan kekasihnya,tapi melihat orangtuanya yang sangat memohon kepadanya membuat dia akhirnya menyetujui keputusan tersebut.
Lali bagaimana kisah perjalanan Sadewa dan Bianca dalam menjalani pernikahan paksa ini, akankah persahabatan mereka tetap berlanjut atau usai sampai di sini?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ibu Cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bagian 24
Pintu apartemen berbunyi pelan, tidak seperti biasanya. Bianca yang sedang menumis sayuran menoleh sekilas jam dinding masih menunjukkan pukul 18:10. Biasanya Sadewa baru pulang minimal pukul delapan, bahkan sering lewat.
Sadewa masuk dengan kemeja yang masih rapi, dasi sedikit longgar, wajahnya tampak letih atau pura-pura letih. Ia menggantung jasnya, lalu berjalan ke dapur mengikuti aroma masakan yang memenuhi ruangan.
Sadewa menggosok tengkuk, pura-pura capek
"Aku pulang lebih awal. Kayaknya… hari ini berat banget."
Bianca terkejut tapi tersenyum kecil "Oh… yaudah, istirahat dulu. Aku lagi masak."
Sadewa tidak pergi. Ia malah bersandar di meja dapur, memperhatikan Bianca yang sibuk mengaduk bumbu. Bianca tidak sadar, tapi Sadewa tersenyum samar bahkan sekedar aroma tumis bawang dari tangannya saja bisa membuatnya betah.
Sadewa mencoba mencairkan suasana,"Tadi Raka ke kantor."
Bianca berhenti mengaduk. Ada jeda dua detik sebelum ia kembali bergerak."Hah? Oh… iya, aku ketemu."
Sadewa mengangguk pelan Ia menunggu.
Bianca tetap fokus memasak.
Hening mulai terasa aneh, sehingga Sadewa akhirnya membuka suara, lebih langsung dari yang ia rencanakan.
"Menurut kamu… Raka itu gimana orangnya?"
Bianca menoleh, perlahan, bibirnya terbuka kecil. Pertanyaan itu terdengar seperti tes.
"Hmm… sejauh ini dia kelihatan asik, sih. Mudah ngajak ngobrol, keliatan ramah. Dia tipe yang gampang bikin orang nyaman."
"Kamu nyaman sama dia?."tanya Sadewa dengan nda was-was.
"Lumayan." jawaban singkat dari Bianca justru membuat Sadewa merasa aneh.
Seketika ada sesuatu yang mengeras di dada Sadewa.
Cemburu bukan hal baru baginya, tapi ini… berbeda.
Ada rasa tidak rela ketika nama Raka keluar dari mulut Bianca disertai pujian.
Sadewa berusaha santai,"Iya, dia emang dari dulu begitu."
Bianca tidak sadar nada Sadewa berubah. Ia mematikan kompor, mengambil piring saji, lalu memindahkan masakan tumis buncis dan ayam rica ke dalamnya. Gerakannya cekatan dan rapi.
Dan tiba-tiba Sadewa bertanya lagi, lebih pelan.
Seolah takut mendengar jawabannya sendiri.
"Kalau aku… menurut kamu gimana?"
Bianca menoleh setengah, mengangkat piring saji itu seolah menjadi tameng. Ia tidak langsung menjawab, hanya menunduk sedikit sebelum melangkah menuju meja makan.
Bianca sambil berjalan menjawab pertanyaan Sadewa,"Kamu?"
"Kamu itu orangnya… nggak asik."
Sadewa langsung mematung.
Refleksnya ingin protes, alisnya terangkat.
"Kenapa—?"
Bianca memotong cepat, suaranya ringan seolah itu bukan topik penting.
"Mau aku ambilin ayam rica atau tumis buncis dulu?"
"Kamu pasti lapar kan?"
Nada itu alihnya begitu cepat membuat Sadewa tidak jadi marah.
Seolah Bianca sengaja membangun pagar antara mereka.
Sadewa hanya mengangguk, duduk, menahan sesuatu yang ia sendiri tidak mengerti.
"Ayam rica."
Bianca menaruh satu sendok penuh ke piring Sadewa.
Lalu duduk di seberangnya.
Tidak ada percakapan.
Hanya suara sendok dan piring.
Tapi tidak lagi sepi seperti dulu.
Sadewa mengunyah perlahan, memperhatikan Bianca dari bawah bulu matanya. Sesekali Bianca menunduk, seperti menghindari tatapan.
Dan anehnya makan malam itu terasa hikmat.
Ada sesuatu yang berubah.
Tidak besar.
Sekecil garis retak di dinding tapi bisa berkembang.
Sebelum bangkit dari meja, Bianca bicara pelan.
"Terima kasih sudah pulang lebih awal. Rasanya rumahnya nggak terlalu sepi."
Sadewa terdiam.
Untuk pertama kalinya sejak kontrak pernikahan itu dimulai, kata rumah terdengar seperti benar-benar ditujukan kepadanya.
Bianca menutup pintu kamarnya perlahan. Perutnya masih terasa hangat oleh masakan yang ia buat sendiri, tapi ada sesuatu yang lebih hangat dari itu percakapan canggung penuh tanda tanya tadi.
Ia duduk di tepi ranjang dan menghela napas.
Bukan napas lelah lebih seperti napas untuk menata ulang perasaannya.
Bianca membuka ponselnya. Ada satu notifikasi di layar.
Nomor tak dikenal.
> Nomor Baru:
> “Ini Raka. Simpan nomorku ya, biar gampang kalau butuh bantuan. :D”
Bianca mengetik pelan.
> Bianca:
> “Baik, terima kasih.”
Ia ragu menambahkan emoticon atau sesuatu yang lebih ramah, tapi akhirnya dibiarkan begitu saja. Singkat. Formal. Aman.
Ponsel Bianca berbunyi lagi.
> Raka:
> “Jawabannya kok formal banget? Hahaha. Besok kalau ada apa-apa kabarin ya. Good night, Bianca.”
Bianca menghela napas sambil tersenyum simpul.
> Bianca:
> “Selamat malam.”
Ia menutup ponsel.
Lampu tidur menyala lembut.
Bianca membaringkan diri, mencoba tidur.
Tapi pikiran masih lari-lari:
tentang kantor baru, tentang statusnya,
tentang Sadewa yang semakin hari justru terasa semakin sulit ditebak.
Sadewa menutup pintu kamarnya dengan sedikit terlalu cepat. Seolah ia kabur dari sesuatu atau seseorang. Dasi sudah dilepas, kemeja setengah terbuka. Ia duduk di ranjang tanpa menyalakan lampu, hanya ditemani cahaya dari layar kota yang masuk melalui tirai.
Sadewa membuka ponselnya.
Tidak ada pesan.
Hening.
Tangan Sadewa bergerak refleks mengetik nama Bianca di kolom kontak, tapi tidak jadi mengirim apa pun. Ia menghapus, menarik napas panjang, lalu memijat pangkal hidung.
"Kenapa juga aku nanya soal Raka? Bego banget."
Ia meletakkan ponsel, tapi kemudian terdengar notifikasi dari kamarnya.
Suaranya kecil.
Tapi cukup untuk membuat Sadewa menoleh tajam.
Sadewa menghela napas berat
"Jangan terganggu. Ini cuma kontrak. Satu tahun. Selesai."
Ia seperti berusaha meyakinkan dirinya sendiri.
Kalimat itu seperti mantra.
Tapi semakin sering ia ulang, semakin tidak meyakinkan.
Di luar pintu, suara langkah Bianca terdengar samar mungkin hanya imajinasinya. Tapi itu cukup untuk membuat Sadewa berdiri, meraih gagang pintu lalu berhenti.
Terlalu banyak hal yang belum siap ia hadapi.
Sadewa kembali ke ranjang, memejamkan mata tapi wajah Bianca ketika memuji Raka terus muncul.
Dan diam-diam, ada rasa tidak suka yang baru tumbuh, seperti benih beracun yang tidak ia undang.
......................
Lampu kota berkilau dari balik jendela kaca setinggi langit-langit. Angin malam masuk melalui balkon yang terbuka, membawa aroma hujan dan asap rokok yang menyisakan jejak tipis di udara.
Seorang lelaki misterius berdiri membelakangi ruangan.
Gelas kristal berisi wine merah berputar pelan di tangannya, membiaskan cahaya cahaya kota seperti darah yang mengalir.
Tubuhnya tegap. Rahangnya tegas.
Matanya gelap penuh dendam, penuh rencana.
Lelaki Misterius itu berkata sinis, setengah berbisik.
"Langkah pertama bukan menjatuhkan kedudukannya,bukan menghancurkan bisnisnya.Terlalu mudah.Terlalu membosankan."
Ia meneguk wine-nya pelan.
Alkohol merembes, menghangatkan dada atau mungkin hanya memupuk amarah yang mengendap.
"Dengan merebut Bianca,Sadewa akan runtuh dari dalam.Dari tempat paling tak terduga,hatinya sendiri."
Nada suaranya seperti racun manis.
Senyum tipis muncul dingin, mematikan.
Dari arah ranjang, terdengar helaan napas pelan.
Di atas ranjang king size, Sarah tertidur telungkup,bahunya telanjang di balik selimut putih yang membungkus tubuhnya.
Rambutnya berantakan menutupi sebagian wajah seperti boneka porselen yang rusak.
Ia tampak rapuh, bukan lagi selebriti bersinar seperti di layar kaca.
Justru seperti seseorang yang terjebak dalam skenario yang ia pikir bisa ia kendalikan.
Lelaki misterius memandang sekilas ke arah Sarah, tatapannya bukan kasih melainkan alat.
Lelaki Misterius itu berbicara seolah Sarah bisa mendengar,"Kau pikir meninggalkan Sadewa cukup untuk membalasnya?"
"Tidak, Sarah." dia perlahan mendekat.
"Kita belum mulai."
Ia memutar gelas di tangannya sekali lagi sebelum meletakkannya di meja.
Dentuman kaca dan kayu terdengar samar, namun menusuk.
"Ayo mainkan permainan ini dengan benar.
Dan ketika waktunya tiba…"
"Aku ingin melihat Sadewa berlutut,memohon.
Hancur."
Ia berjalan menuju balkon, membiarkan tirai berkibar seperti sayap burung hitam.
"Tunggu aku, Bianca."
"Kau jalan menuju kehancurannya."
Angin malam membawa kata-kata itu keluar jendela,ke kota yang tak tahu akan jadi panggung bagi sebuah perang hati.