Sepuluh tahun yang lalu, sebuah ledakan di tepi Sungai Adige menghancurkan kejayaan keluarga Moretti dan meninggalkan Elena Moretti sebagai satu-satunya pewaris yang menanggung noda pengkhianatan. Kini, Elena kembali ke Verona bukan untuk menuntut warisan, melainkan untuk mengubur masa lalunya selamanya.
Namun, Verona tidak pernah melupakan.
Langkah Elena terhenti oleh Matteo Valenti, pria yang kini merajai langit Verona. Matteo bukan lagi pemuda yang dulu pernah memberikan mawar di balkon rumahnya; ia telah berubah menjadi sosok berdarah dingin yang memimpin bisnis gelap di balik kemegahan kota kuno itu. Bagi Matteo, kembalinya Elena adalah kesempatan untuk menuntaskan dendam keluarganya.
Elena dipaksa masuk ke dalam kehidupan Matteo—sebuah dunia yang penuh dengan aturan tanpa ampun, pertemuan rahasia di gedung opera, dan darah yang tumpah di atas batu jalanan yang licin. Namun, saat "gema" dari masa lalu mulai mengungkap kebenaran yang berbeda tentang kematian orang tua mereka,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SHEENA My, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gema di balik jeruji besi
BAB 3: Gema di Balik Jeruji Besi
Suara isakan itu terdengar semakin nyata, menyelinap di antara celah dinding batu yang basah oleh rembesan air Sungai Adige. Elena melangkah menuruni tangga melingkar dengan kewaspadaan seorang buruan. Setiap anak tangga yang dipijak terasa licin, tertutup lapisan tipis garam dan lumut yang membusuk. Cahaya di tempat ini nyaris tidak ada, hanya bergantung pada luminesensi redup dari jamur dinding dan sisa-sisa pencahayaan dari lantai atas yang merembes melalui celah ventilasi.
Bau di bawah tanah ini sangat berbeda dengan kemewahan di lantai atas. Jika di atas sana tercium aroma parfum mahal dan kayu cendana, di sini hanya ada bau kematian yang tertunda—perpaduan antara karat logam, air sungai yang payau, dan keputusasaan yang mengental.
Langkah kaki Elena terhenti tepat di depan pintu besi tua yang sedikit terbuka. Engselnya yang berkarat mengeluarkan bunyi derit halus saat didorong perlahan. Di dalam ruangan sempit yang menyerupai sel itu, seorang wanita terduduk di sudut lantai yang hanya beralaskan jerami kering. Rambut wanita tersebut putih kusam, menutupi wajah yang tersembunyi di balik kedua tangannya.
"Siapa... siapa di sana?" suara wanita itu bergetar, parau seolah tenggorokannya telah lama tidak tersentuh air.
Elena merasa lidahnya kelu. Jantung dalam rongga dadanya berdegup dengan kecepatan yang menyakitkan. Perlahan, sang putri keluarga Moretti berlutut di atas lantai yang dingin, mengabaikan noda lumpur yang kini mengotori gaun merah mahalnya.
"Seseorang yang mencari jawaban," bisik Elena, suaranya hampir hilang ditelan keheningan bawah tanah.
Wanita di sudut itu perlahan mengangkat wajahnya. Saat sepasang mata yang cekung namun bercahaya itu bertemu dengan mata Elena, waktu seakan berhenti berputar. Wajah itu... meskipun telah dimakan oleh penderitaan dan kegelapan selama satu dekade, Elena tetap mengenali garis rahang dan bentuk bibir tersebut. Itu adalah cermin dari wajahnya sendiri.
"Elena?" suara itu kini terdengar seperti embusan angin di musim dingin. "Benarkah ini kau, malaikat kecilku?"
Air mata yang sejak tadi ditahan kini luruh, membasahi pipi Elena. "Ibu? Bagaimana mungkin... semua orang bilang Ibu sudah mati di tepi sungai malam itu."
Tangan kurus yang hanya terdiri dari kulit dan tulang itu terjulur keluar dari balik jeruji bayangan, menyentuh wajah Elena dengan gemetar. Sentuhan itu nyata. Dingin, namun penuh kasih yang belum padam. Marcella Moretti masih hidup, disembunyikan di bawah kaki keluarga Valenti seperti sebuah rahasia yang membusuk.
"Matteo... dia menjagaku tetap hidup," isak Marcella, air matanya jatuh di atas jemari Elena. "Bukan karena belas kasihan, Elena. Tapi karena aku adalah satu-satunya yang tahu di mana ayahmu menyimpan Gema Verona."
"Gema Verona?" Elena mengulang istilah itu dengan dahi berkerut. "Maksud Ibu, dokumen yang selama ini mereka bicarakan?"
Marcella mengangguk lemah, kepalanya terkulai ke bahu yang kurus. "Itu bukan sekadar dokumen. Itu adalah daftar hitam. Nama-nama semua orang suci di Verona yang tangannya berlumuran darah. Keluarga Valenti hanyalah salah satunya. Jika dunia tahu apa yang ada di dalamnya, seluruh tatanan kota ini akan runtuh dalam semalam."
Tiba-tiba, suara derap langkah kaki yang berat terdengar dari arah tangga yang baru saja Elena turuni. Bunyi sepatu bot yang menghantam lantai batu terdengar sangat dominan dan tanpa keraguan.
"Kau seharusnya tetap berada di kamarmu, Elena."
Suara bariton itu menggema, memantul di dinding-dinding bawah tanah yang sempit. Matteo Valenti berdiri di ambang pintu sel, bayangannya memanjang hingga menyentuh ujung gaun Elena. Pria itu memegang sebuah obor kecil yang cahayanya membuat siluet wajahnya tampak seperti iblis yang keluar dari perut bumi.
Elena berdiri dengan cepat, menempatkan dirinya di depan jeruji, melindungi ibunya dari pandangan pria itu. "Kau monster, Matteo! Kau menyembunyikannya di sini selama sepuluh tahun? Kau membiarkan aku mengira aku sebatang kara di dunia ini!"
Matteo melangkah masuk ke dalam ruangan, tidak memedulikan kemarahan Elena. Sang penguasa Verona itu menatap Marcella dengan tatapan yang sulit diartikan—bukan benci, tapi sesuatu yang lebih dalam dan gelap.
"Jika aku tidak membawanya ke sini malam itu, ibumu akan dieksekusi oleh ibuku sendiri di tengah alun-alun," sahut Matteo tenang. Ia mematikan obornya, menyisakan kegelapan yang kembali mencekam, hanya menyisakan sorot matanya yang tajam. "Di bawah sini, dia aman. Di luar sana, dia hanyalah target yang menunggu peluru."
"Aman?" Elena tertawa sinis, sebuah tawa yang dipenuhi rasa sakit. "Kau menyebut penjara bawah tanah ini aman?"
"Verona tidak pernah aman bagi seorang Moretti," Matteo melangkah mendekat hingga dada bidangnya nyaris menyentuh kening Elena. "Sekarang kau sudah tahu rahasia terbesarku. Kau tidak punya pilihan lain selain bekerja sama denganku. Jika kau mencoba membawa ibumu keluar tanpa rencanaku, kalian berdua tidak akan sampai ke gerbang depan Palazzo dalam keadaan bernapas."
Pria itu kemudian mengulurkan tangan, bukan untuk menyerang, melainkan untuk mengusap air mata di pipi Elena dengan ibu jarinya yang kasar. "Kebenaran memiliki harga yang mahal, Elena. Dan malam ini, kau baru saja membayar uang mukanya."
Di kejauhan, lonceng kota Verona kembali berdentang, suaranya terdengar sayup-sayup sampai ke bawah tanah, seolah-olah sedang meratapi takdir baru yang baru saja terikat di antara sang pemburu dan mangsanya.
Dinginnya lantai batu seolah merambat masuk ke dalam tulang-tulang Elena, namun rasa dingin itu tak sebanding dengan kekosongan yang dirasakan saat menatap sosok wanita di hadapannya. Marcella Moretti, wanita yang dulu memenuhi masa kecil Elena dengan dongeng tentang kejayaan Italia dan aroma bunga melati, kini hanyalah bayang-bayang dari dirinya yang dulu.
Jari-jari Marcella yang kasar mengusap punggung tangan Elena. "Dunia luar... apakah langit masih berwarna oranye saat senja di atas Arena?" suara itu terdengar seperti gesekan kertas tua.
Elena mengangguk pelan, tenggorokannya tercekat. "Masih, Ibu. Semuanya masih sama, namun terasa hampa tanpa kehadiranmu."
Di ambang pintu, Matteo tetap berdiri mematung. Pria itu tidak menunjukkan tanda-tanda ketidaksabaran, namun kehadirannya memberikan tekanan yang tak kasat mata di ruangan sempit itu. Cahaya dari lampu minyak yang dibawa oleh salah satu penjaga di kejauhan menciptakan bayangan Matteo yang raksasa, seolah-olah ia adalah sipir penjara sekaligus pelindung bagi dua wanita Moretti tersebut.
"Kau menyebutnya perlindungan, Matteo," Elena akhirnya bersuara, memecah keheningan dengan nada yang penuh dengan racun. "Tetapi menyembunyikan seseorang di tempat di mana sinar matahari tak pernah menyentuh kulitnya adalah sebuah penyiksaan. Berapa lama kau berencana menyimpan rahasia ini? Sampai ibuku benar-benar lupa bagaimana cara bicara?"
Matteo melangkah maju, masuk ke dalam lingkaran cahaya redup. "Ibumu tetap hidup karena aku memilih untuk tidak melaporkan keberadaannya pada dewan tetua Valenti. Jika ibuku tahu Marcella masih bernapas, Palazzo ini akan menjadi tempat eksekusi dalam hitungan detik. Kau tidak tahu betapa sulitnya menjaga rahasia ini di bawah hidung seorang Isabella Valenti."
Marcella menarik napas panjang, matanya yang cekung menatap Matteo dengan pengertian yang aneh—sesuatu yang membuat Elena merasa dikhianati. "Dia benar, Elena. Matteo memberikan apa yang tidak bisa diberikan oleh ayahmu: waktu. Meskipun waktu di sini terasa seperti keabadian yang membosankan."
"Waktu untuk apa?" tanya Elena tajam.
"Waktu untuk menunggu kembalinya pewaris yang sah," sahut Matteo, suaranya kini terdengar lebih berwibawa. "Hanya keturunan Moretti yang memiliki kode akses ke Gema Verona. Dokumen itu tersimpan dalam sebuah brankas kuno yang terkubur di bawah fondasi perpustakaan kota. Bukan kunci logam yang dibutuhkan, melainkan pemindaian pola retina dan darah dari garis keturunan murni Moretti."
Elena terpaku. Jadi, itulah alasan mengapa ia dibiarkan hidup. Bukan karena sisa-sisa cinta masa kecil, bukan karena rasa iba, melainkan karena dirinya adalah kunci fisik untuk membuka kotak pandora yang bisa menghancurkan atau menyelamatkan Verona.
"Kau membawaku kembali hanya untuk menjadi alat pembuka brankas?" Elena berdiri, menatap Matteo dengan kebencian yang berkobar. "Semua sandiwara ini, penangkapan di jembatan, penahanan di sayap utara... itu semua hanya agar kau bisa mendapatkan daftar hitam itu?"
Matteo tidak membantah. Pria itu justru mendekat, memperpendek jarak hingga Elena bisa merasakan embusan napasnya yang hangat di kening. "Aku membutuhkan daftar itu untuk membersihkan namaku sendiri, Elena. Ayahku... dia tidak mati karena kecelakaan. Dia dibunuh oleh orang-orang yang namanya tercatat dalam Gema Verona. Kita memiliki musuh yang sama, meskipun kau terlalu buta oleh dendam untuk melihatnya."
Suasana di dalam sel itu menjadi sunyi senyap. Hanya terdengar suara tetesan air yang jatuh dari langit-langit, menciptakan irama yang monoton. Elena menoleh kembali ke arah ibunya. Marcella tampak sangat lelah, kepalanya bersandar pada dinding batu yang dingin.
"Bantu dia, Elena," bisik Marcella lirih. "Bukan untuk Matteo, tapi untuk mengakhiri siklus darah ini. Jika daftar itu jatuh ke tangan yang salah, Verona akan terbakar dalam api perang saudara yang tidak akan pernah padam."
Elena memejamkan mata. Ia merasa terjebak di antara dua tebing yang sangat tinggi. Di satu sisi ada ibunya yang menderita, dan di sisi lain ada pria yang ia benci namun kini menjadi satu-satunya sekutu yang ia miliki.
"Apa rencanamu?" tanya Elena akhirnya, suaranya terdengar menyerah namun tetap tegas.
Matteo memberikan kode kepada penjaga di luar untuk membawa nampan makanan yang lebih layak daripada biasanya. "Malam ini, kau akan kembali ke kamarmu. Besok, saat perayaan Sagra di San Zeno, perhatian seluruh kota akan teralihkan. Saat itulah kita akan masuk ke perpustakaan pusat."
Pria itu kemudian berbalik untuk pergi, namun langkahnya terhenti di ambang pintu. Tanpa menoleh, ia berkata, "Jangan mencoba melakukan hal bodoh, Elena. Penjaga di pintu masuk lorong ini telah diganti dengan orang-orang pilihanku. Tapi jika ibuku mencium bau pengkhianatan, aku tidak bisa menjamin keselamatan siapa pun."
Setelah Matteo pergi, Elena kembali memeluk ibunya. Pelukan itu terasa rapuh, seolah Marcella bisa hancur kapan saja. Di dalam kegelapan sel itu, Elena bersumpah. Ia tidak peduli pada Gema Verona atau kekuasaan Matteo. Ia hanya ingin membawa ibunya pergi dari tempat terkutuk ini, meskipun ia harus membakar seluruh Palazzo Valenti untuk melakukannya.
Di langit Verona, bintang-bintang tersembunyi di balik awan tebal, seolah-olah semesta sedang menahan napas menantikan fajar yang akan membawa pengkhianatan baru.