Tidak ada yang salah, termasuk bertemu dan menikah dengan pria itu, pria asal Busan-Korea, yang hidupnya terlalu pas-pasan. Pernah mendapatkan cinta yang penuh dari pria itu sebelum akhirnya memudar lalu kandas.
Gagal di pernikahan pertama, Anjani kembali menjalani pernikahan kedua, dengan seorang pengacara kontroversial di negeri yang sama. Bukan hanya harta dan kedudukan tinggi yang menaunginya, Anjani berharap, ada kekuatan cinta menghampar 'tak terbatas untuknya, menggantikan yang lebur di kegagalan lalu, dia tidak ingin kandas kedua kali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Magisna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Yang Katanya 'Tak Tahan Karena Rindu
“Aku merindukanmu, sangat merindukanmu."
Anjani bahkan tak sempat melengkapi satu potong kata dari mulutnya saat membuka pintu. Jeong langsung menyambarnya dengan pelukan dan kata-kata semi mendalam.
Luluh diam dan menerima meski cukup terkejut.
Jeong ... begitulah lelaki itu membuatnya.
Anjani sadar benar dia dipaksa, tapi dia tidak pernah merasa terpaksa saat membalas. Hanya selalu ada keraguan di awal, selebih dari itu semua hanya perasaan 'boleh dan tidak apa-apa'.
Bisa begitu hanya dengan sedikit tingkah atau kata-kata Jeong yang sederhana dan kadang sedikit nyeleneh.
.....
Di ketinggian, bulan sabit pucat bersinar bagai cakar keperakan. Malam ini tenang, tapi juga misterius.
Di rumah atap itu, sepasang kaki berdiri rapat saling berhadap, mendalami alunan bisu seolah dunia hanya dihuni oleh berdua.
Begitu sampai beberapa saat.
"Maaf, aku tak bisa menahan diri saat melihatmu." Seraya mengucapkan itu, Jeong melepas pelukannyaーmendorong pundak Anjani dengan telapak tangan, perlahan, hingga jarak terbentuk seperlu dirinya.
Kalah tinggi 22 senti, Anjani mendongak menatap wajah yang tetap bersinar di bawah cahaya remang lampu kuningnya. Ada kebingungan, isi kepalanya mendadak seperti narasi kacau, terlebih saat mata Jeong berbicara pasal kepenatan yang tertumpuk selama seminggu karena kesibukannya. Alternatif yang terlalu blak-blakkan.
"Kau nampak lelah, ayo masuk dan beristirahat." Keputusan lahir dari nurani.
Seisi hatinya mendadak berbunga, hanya dengan kalimat sesederhana itu, Jeong sudah tersenyum lebar, merasa senang. "Itu penawaran bagus, tentu saja aku 'tak akan menolak."
Sudah tidak terkejut lagi, Anjani cukup tersenyum, berbalik badan untuk kemudian memimpin langkah, masuk ke dalam rumah.
Sikapnya memang belum luwes dan nampak kaku, belum terbiasa karena hubungan yang diawali kesan mendadak. Tapi Jeong sama sekali tidak mempermasalahkan. Segitu sudah sangat bagus dibanding ditolak dengan tampikan kasar atau sikap dingin yang tanpa rasa. Dia mengekor di belakang, menutup pintu lalu melepas sepatu.
"Duduklah, aku buatkan sesuatu untuk kau minum," kata Anjani, berbalik badan untuk menuju dapur.
"Ramyun!" Jeong berseru, menyela apa yang akan dilakukan Anjani.
Wanita itu kembali membalik badan. "Ramyun?"
"Ya," jawab Jeong, dengan cengiran kaku. "Kurasa ... aku ingin makan itu. Kau punya stok di lemari dapurmu, 'kan?"
Sekian saat Anjani diam, bukan terkejut, hanya sedang berpikir sedikit saja tentang permintaan itu. Mungkin terlalu aneh. "Ah, ya. Aku punya. Tunggulah."
"Hmm."
Beberapa waktu kemudian isi mangkok berisi ramyun sudah habis tidak bersisa.
Anjani tak percaya melihat itu. "Kenapa tak mampir ke restoran atau kedai untuk makan?"
"Apa? Kenapa?”
"Kau lapar dan kelelahan, seharusnya kau makan di jalan sebelum sampai kemari. Aku bukan perhitungan masalah ramyun yang baru kau habiskan itu, hanya tidak mengerti saja. Bagaimana kalau kau pingsan di jalanan! Bukankah itu lebih buruk?!"
Kalimat panjang dengan nada yang cukup naik, membuat Jeong setengah terperangah, namun dalam lima detik saja, wajahnya mengalami perubahan raut. Senang karena merasa dikhawatirkan. Itu menambah satu poin perhatian dari Anjani.
"Anjani akuー"
"Atau jangan bilang kau tak punya uang?!"
Jeong terempas lagi, kesenangannya turun satu tanjakan. "Uang?"
"Ya!" Pikiran Anjani jadi hanya searah sekarangーbisa jadi Jeong tak punya uang. “Apa pekerjaanmu tidak berjalan baik? Kau tidak dibayar? Atau kauー"
"Tidak sempat!" pungkas Jeong cepat, demi menahan perluasan asumsi wanita itu.
“Tidak sempat?"
"Iya. Tidak ada hubungannya dengan uang. Upah jasaku besar, aku bisa membeli apa pun bahkan hingga makanan yang paling mahal di seluruh Seoul. Hanya saja ... aku benar-benar tak sempat. Umm ... maksudku lebih tepatnya ... aku sudah tak sabar ingin segera menemuimu." Finishーjelas.
Sekarang giliran, Anjani yang dibuat teredam, tatapannya diam dan terkunci di mata lelaki itu. Begitu beku sampai beberapa saat.
Namun detik kemudian, ekspresi itu hilang, berganti dengan pulasan yang membuat Jeong mengernyit keningーsenyuman mencibir.
“Kau bicara pasal upah yang banyak dan ketidaksabaran untuk segera menemuiku karena rindu ... bagus! Itu luar biasa, Kim Jeong! Tapi ... jika itu fakta, seharusnya kau berpikir dua kali untuk datang kemari tanpa membawa apa pun sebagai hadiah untukku!"
JLEB!
Skak ditambah mat, Jeong mati kutu, dong!
“Uhh, itu ... aku ...."
"Sudahlah. Lupakan. Sebaiknya kau beristirahat."
Diempas lagi, kalah lagi. Sebagai gentleman yang sohor di lingkarannya, Jeong justru dibanting harga oleh wanita yang biasa saja, sekaligus wanita yang mati-matian dia inginkan.
Saat Anjani berlalu ke dapur untuk membereskan wadah, dia menatapnya seraya memikirkan kata-kata panjang Anjani, lalu tersenyum konyol. “Aku jadi merasa seperti pria miskin yang bahkan tidak sanggup membeli sekotak makanan.”
Karena tidak kuasa membawa rindu yang sangat berat, ketololan itu terjadi.
"Sial."
Menyesal pun 'tak ada guna.
Namun dari kekonyolan ini dia jadi banyak belajar; seorang gentleman, tidak boleh rusuh, sekuat apa pun rindu itu menekan seluruh dopamin, tetap harus elegan.
"Anjani ... ke depannya, jangankan oleh-oleh kecil, apa pun yang kau inginkan, meski harus mencari ke seluruh penjuru dunia ... akan aku berikan untukmu. Tapi aku tahu ... kau bukan jenis wanita yang menyusahkan hanya demi gemerlap."
Habis kata-kata hatinya itu, Anjani datang, namun melewatinya untuk masuk ke kamar.
Jeong memandang bingung. Dan kebingungan itu terjawab saat Anjani membawa selimut dan satu alas tidur dalam dekapan. "Bisa kau berdiri dulu?"
"Ah ... ya." Lekas Jeong menurut, bangkit lalu menyisi, mencoba untuk membantu tapi Anjani tidak membutuhkannya.
"Aku akan tidur di sini, kau boleh menempati kamarku."
Kata-kata itu sedang dicerna Jeong sekarang. Ditatapnya hamparan alas tidur juga selimut di yang sudah digelar dihadapannya.
"Jadi maksudmu ... malam ini ... aku boleh menginap?"
"Ini sudah lewat tengah malam, kau juga kelihatan lelah, jadi ...." Saat mencuatkan mata menatap lelaki itu, tiba-tiba Anjani merasa ada yang salah. "Jadi ... untuk malam ini ... kuizinkan ... kau menginap."
Padahal sesaat lalu dia merasa yakin dengan keputusannya, tapi saat menatap mata lelaki itu, semua jadi terpecah, sayang tak bisa menarik kembali kata-katanya. "Lagipula ...." Ragu di jeda kalimat itu, sampai menelan ludah.
"Lagipula?" Jeong meminta lanjutannya. Entah kapan munculnya, sorot matanya tersirat tatapan jahil.
"Lagipula ... bukankah kita ... akan menikah?" Segera membuang wajah setelah itu.
Melebar senyuman di bibir Jeong, merasa mendapat undian tidak terduga. "Hmm ... benar." Satu langkah dia mendekati wanita itu. "Lalu?" tanyanya meminta lanjutan. Jurus menggoda sedang dia lancarkan.
Bola mata Anjani bergulir acak, gagap dan mendadak kacau sendiri. "Ja-jadi kurasa ... tidak masalah ka-kalau kita ...."
Jeong terus mendekat dan dirinya terus melangkah mundur.
"Kalau kita apa?"
"Kalau kita ... membiarkan satu sama lain untuk saling ...."
DUK!
Habis sudah, punggung Anjani sudah membentur dinding. Matanya melebar dengan jantung sudah tak normal lagi.
"Saling?"
"S-sa-saling ... me-mengenal dekat.''
Kacau, benar-benar.
Satu telapak tangan Jeong menempel di dinding, tepat di sisi kepala Anjani, lainnya naik mencubit dagu wanita itu agar dua wajah saling berhadap.
"Sekarang sudah sangat dekat, lalu ... bagaimana?"
DZIIIING... 🤜🥴💨
Selamat jingkat buat Author!