NovelToon NovelToon
Bola Kuning

Bola Kuning

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:812
Nilai: 5
Nama Author: Paffpel

Kisah tentang para remaja yang membawa luka masing-masing.
Mereka bergerak dan berubah seperti bola kuning, bisa menjadi hijau, menuju kebaikan, atau merah, menuju arah yang lebih gelap.
Mungkin inilah perjalanan mencari jati diri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Paffpel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

Pagi itu, Arpa sedang berjalan menuju sekolahnya, tapi kali ini sendirian, tanpa Juan. Walaupun Arpa sedikit merasa kesepian tanpa Juan, tapi Arpa menikmati angin yang berhembus kepadanya.

Arpa pun hampir sampai di sekolahnya. Langkah Arpa menjadi pelan dan dia menyipitkan matanya. di dekat gerbang sekolah, samar-samar dia melihat Rian.

Arpa berlari ke arah Rian. “Woi, Yan,” kata Arpa sambil melambaikan tangannya.

Rian menengok ke arah Arpa. “Oi, Rap.”

Rian melirik-lirik sekitar Arpa. Dia memiringkan kepalanya. “Jun mana?”

“Tadi gua ke rumahnya, tapi dia sakit, nggak masuk sekolah dulu katanya,” jawab Arpa.

Kepala Rian terangkat sedikit. “Ohh gitu, yaudah ayo masuk.”

Arpa dan Rian pun masuk ke dalam sekolah, saat berjalan di lorong sekolah, Arpa dan Rian mendengar keributan di depan mereka. Saat mendekat, ternyata itu Depa yang sedang mengancam anggota Punch Group.

Arpa menghampiri Depa. Dia menyentuh bahu Depa. “Dep, kenapa?”

Depa mendorong anggota PG itu, dan dia pergi. “Ayo ke kelas.”

Arpa dan Rian menghampiri Depa dan berjalan di sampingnya. “Semenjak si Aran udah bukan lagi ketua PG, anggota PG makin banyak yang menggila, mereka mukulin orang dan malakin orang, pokoknya mereka ngerasa bebas gara-gara si Aran bukan ketua lagi.”

Alis Arpa naik dan mulutnya terbuka. Tapi tatapannya langsung serius. “Kita harus ngendaliin mereka.”

Rian natap Arpa. “Caranya, Rap?”

“Kita berpencar, kita keliling, setiap mereka ngelakuin sesuatu yang buruk, langsung hajar,” kata Arpa.

Arpa nyenggol Depa. “Dep, biasanya kapan mereka mukulin atau malakin orang?”

Depa diam sebentar sambil megang dagunya. “Kayaknya jam istirahat.”

“Oke, berarti kita keliling di jam istirahat ya,” kata Arpa.

Mereka pun sampai di depan kelas. Arpa membuka pintu kelas. Mereka masuk dan berjalan menuju kursinya masing-masing.

Pelajaran berjalan seperti biasanya. Kali ini yang mengajar adalah bu Kila, wali kelas 10C, dia mengajar dengan lembut dan ramah, itu ngebuat banyak murid tertarik sama penjelasan yang diberikan bu Kila.

Pelajaran bu Kila pun selesai. Tapi dia melihat-lihat muridnya. Dia mencari-cari. Dia melihat Rian dan menunjuknya. “Rian! Nanti kamu bantuin ibu ya, jam istirahat ke ruang guru ya,” Bu kila senyum.

Rian melirik bu Kila dan memiringkan kepalanya. “Ngapain bu?”

“Udah nanti kesana aja ya,” kata bu Kila.

Rian pun mengangguk. Lalu bu Kila keluar dari kelas 10C.

Sedangkan di kelas 10B, gurunya nggak masuk, mereka jam kosong.

Mutia melirik-lirik Susi, dia ingin menghampiri Susi. Awalnya dia ragu, lama-lama tatapannya menguat. Mutia menarik napas dalam, bahunya ditegakkan.

Dia berdiri dan menghampiri Susi. Dia berdiri di depan Susi. Kepala Susi tersentak kecil. Dia melirik Mutia. “Kenapa?”

Mutia meremas jari-jarinya. “Susi, Arpa jatuh dari tangga itu bukan salah kamu, kamu jangan menyalahkan diri kamu sendiri, kita juga bisa temenan kok,” Mutia tersenyum.

Mata Susi membesar. Dia menurunkan pandangannya. “Kenapa lu baik sama gua?”

Mutia menyentuh bahu Susi. “Karena kamu baik,” Mutia tersenyum lebar.

Mulut Susi terbuka, matanya berkaca-kaca. Tapi dia melirik ke arah Kela. “Terus Kela gimana? Dia juga udah jadi lebih baik,” Susi natap Mutia.

Mulut Mutia terbuka sedikit, lalu dia senyum. “Tuh kan, kamu baik, kamu masih mikirin Kela. Tapi Susi, aku bukan malaikat baik hati yang bisa memaafkan dan membantu siapapun, aku manusia, Susi.”

Susi langsung terdiam seketika, dia tersenyum. “Iya, lu bener, lu…

manusia,” Susi menurunkan pandangannya.

Susi langsung mengangkat kepalanya. “Kalau kamu beneran mau, kita bisa temenan,” Susi senyum.

Mata Mutia langsung berbinar. Dia tersenyum lebar.

Talita yang menonton dari jauh ikut tersenyum.

Kembali lagi ke kelas 10C, kali ini pelajaran matematika. Banyak murid yang garuk-garuk kepala. Ada yang nyoba pahamin, ada yang nggak peduli, ada juga yang menguap terus-menerus.

Bel istirahat pun berbunyi. Rian nyenggol Arpa. “Rap, lu berdua aja sama si Depa. Gua di panggil bu Kila.”

Arpa ngangguk. Rian pun pergi ke ruang guru. Sedangkan Arpa, dia menghampiri Depa.

Arpa nyenggol Depa. “Dep, ayo.”

Depa terdiam sebentar, dia natap fokus meja. “Gua kepikiran ide.”

Arpa memiringkan kepalanya. “Ide apa?”

Depa ngeliat Arpa. “Gimana kalau kita kumpulin aja semua anggota PG? Terus kita hajar semuanya, lebih simpel kan? Dan nanti mereka juga bakal takut sama kita.”

Mata Arpa berbinar. “Itu ide bagus! Ayo kita kumpulin mereka,” Arpa senyum

Tiba-tiba Arpa terdiam, senyumnya memudar. “Tapi… waktu itu kan kita udah hajar mereka semua, dan mereka tetep aja nggak takut.”

Depa mukul pelan Arpa. “Waktu itu cuman setengah doang, makanya mereka nggak takut.”

“ohh gitu, tapi gimana cara ngumpulin mereka?” tanya Arpa.

Depa nyengir. “Kita sebarin kabar, yang bisa ngalahin kita berdua bakal jadi pemimpin PG.”

Arpa nyengir sambil nepuk pelan bahu Depa. “Ide bagus! Ayo.”

Arpa dan Depa pun keliling mencari-cari anggota PG. Mereka mengumumkan siapapun yang bisa mengalahkan mereka, bakal jadi pemimpin, nggak peduli mereka rame-rame.

Kabar itu pun terdengar oleh seluruh anggota PG. Mereka langsung berkumpul rame-rame, nyamperin Arpa dan Depa.

Arpa dan Depa udah nunggu di belakang sekolah.

Dan akhirnya mereka pun datang, mereka berdiri di depan Arpa dan Depa. Nggak pake basa-basi, mereka langsung berlari ke arah Arpa dan Depa.

Arpa dan Depa pun bersiap-siap. Mereka pun bertarung. Mereka berdua kewalahan karena jumlah anggota PG terlalu banyak, Mereka jatuh-bangun beberapa kali. Tapi pada akhirnya, Arpa dan Depa berdiri paling akhir. Menandakan kemenangan mereka.

Arpa dan Depa ngos-ngosan, mereka saling menatap. Terus tiba-tiba ketawa.

“Hahaha, berantakan banget lu, Dep,” Arpa mukul pelan Depa.

“Hahaha, lu juga kali,” Depa mendorong pelan Arpa.

Perlahan-lahan tawa mereka berhenti, mereka duduk di bawah pohon. Keringat mereka berjatuhan. “Ngomong-ngomong kok nggak ada guru ya?” tanya Arpa.

Depa menggelengkan kepalanya. “Nggak tau dah, guru-guru di sini emang pada nggak peduli gitu.”

“Ohh gitu ya,” kata Arpa.

Depa menatap langit dengan lembut. “Tapi gua bener-bener ngerasa cocok sama lu, apapun yang kita lakukan, rasanya seru,” Depa nengok ke Arpa sambil senyum.

Mulut Arpa terbuka, dia tersenyum. Dia merangkul Depa. “Bisa aja lu.”

“Mulai sekarang, apapun yang lu lakuin, gua bakal ikut, jadi… ajak gua kalau ada apa-apa ya,” Depa nyengir.

Mereka mungkin akan lebih dekat, sangat dekat. Karena mereka, sama-sama jujur dengan cara mereka sendiri.

Arpa yang selalu jujur dengan dirinya sendiri, tapi selalu menyembunyikannya dari orang lain. Bukan karena dia tidak jujur, dia hanya… terlalu baik.

Depa yang jujur apa adanya, mungkin itu akan menyakitkan bagi orang lain. Bukan karena dia kejam, tapi karena dia hanya ingin benar-benar jujur.

Mereka saling mengerti, tanpa perlu menjelaskan apapun.

1
cacelia_chan~
Arpa lari pagi, lupa pamit, lupa pintu… paket lengkap 😭
Mike_Shrye ❀∂я⒋ⷨ͢⚤
hayoloh lupa kan jadinya....
Alyaaa_Lryyy.
org pendiam klw mrh gk main2 yah , pliss klian shabtan aj🤗
Greta Ela🦋🌺
Yeayy jadi Arpa, Juan, dan Rian🤭
Greta Ela🦋🌺
Wahh Rian udah baik kah?🤭
Greta Ela🦋🌺
Awas nanti sakit
Queen Naom
kasihan Rian🥺
Tina
Ada rasa bombay dan haru di bab ini 😊
Tina
kayak bocil malah asik maen, lupa tujuan awal 🤣
Tina
patahin jarinya rap 😆
Greta Ela🦋🌺
Lah, jadi Rian ini anak broken home?😭
Greta Ela🦋🌺
Lah, gimana sih Rian, gak jelas amat
Greta Ela🦋🌺
Iya bener yang kamu lakuin ini Arpa. Jangan mau diam terus kalau dihina. Sekeali tonjok juga udah bagut itu
Queen Naom
arpa jangan baper ya😄
Queen Naom
beliau ini terlalu jujur
Queen Naom
kalau di real life udah di katain pacaran tuh🤣
Queen Naom
kasihan arpa🤣
Alexander BoniSamudra
ajak pelukan bang👍
Alexander BoniSamudra
ternyata di semua sekolah sama aja
Alexander BoniSamudra
Parah si susi mah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!