NovelToon NovelToon
Penantang : Dari Sekolah

Penantang : Dari Sekolah

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Action / Duniahiburan / Fantasi
Popularitas:751
Nilai: 5
Nama Author: Xdit

Rio Mahadipa adalah Korban bully di sekolahnya semasa dia Berada di sekolah menengah, tetapi saat dia tidur dirinya mendapati ada yang aneh dengan tubuh nya berupa sebuah berkat lalu dia berusaha membalas dendam nya kepada orang yang membully nya sejak kecil

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xdit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pencarian

Hari sudah menjelang sore ketika jam sekolah berakhir. Langit mulai berubah warna, dari biru terang menjadi jingga pucat. Para murid berhamburan keluar gerbang sekolah, ada yang tertawa, ada yang mengeluh lelah.

Satu per satu mereka berpencar menuju rumah masing-masing. Rio berjalan santai menyusuri trotoar, tasnya menggantung di bahu. Namun langkahnya terasa sedikit lebih berat, karena ada seseorang yang masih mengikutinya dari belakang.

"Hey Beri tau aku.., bagaimana caranya." Kris berbicara dengan wajah datar dan suara dingin, tanpa basa-basi sedikit pun.

Ia berjalan sejajar dengan Rio, tubuhnya sedikit lebih tinggi. Rambutnya terbelah di tengah dan jatuh sedikit ke depan, memberi kesan kaku dan serius. Tatapannya lurus ke depan, pertanyaannya adalah sesuatu yang wajib dijawab sekarang juga.

Rio menoleh ke arah Kris sambil tetap berjalan. Ia melihat ekspresi Kris yang tidak berubah sama sekali, membuatnya sedikit canggung. Rio mengangkat bahunya kecil, lalu menghela napas pendek.

"Bagaimana ya...,aku juga tidak terlalu mengerti tentang hal tersebut.."

suaranya jujur, tanpa dibuat-buat. Ia memang tidak sepenuhnya paham dengan apa yang terjadi, dan tidak ingin berbohong.

"Hey aku juga ingin tahu caranya.." Suara itu datang dari belakang.

Liam berjalan mendekat dengan langkah malas, matanya setengah tertutup seperti biasa. Ia menguap kecil sambil menggaruk lehernya, topik ini hanya seperti sesuatu yang kebetulan menarik perhatiannya.

"Liam..ya.." gumam Rio pelan. sudah menduga ini akan jadi ribet.

Rio berhenti berjalan sejenak. Ia menatap ke depan, lalu menutup mata sebentar seperti orang yang menyerah pada keadaan.

Setelah itu, ia mengeluarkan ponselnya dari saku dan menyalakannya. Jemarinya bergerak cepat mencari kontak.

"hey..apa aku bisa ke taman sekarang?..."

Nada suaranya lebih pelan, jelas sedang menelpon seseorang. Kris dan Liam saling melirik, tapi tidak bertanya apa-apa.

Setelah menutup panggilan, mereka kembali berjalan. Rio memperlambat langkahnya sedikit dan mendekati Kris. Senyum tipis menjengkelkan muncul di wajahnya, senyum yang biasanya berarti ada ide mendadak.

"Kau penasaran kan dengan caranya?. Ayo lakukan di rumah mu."

"Baik...ayo." jawab Kris singkat, tanpa perubahan ekspresi.

Liam hanya mengangkat alisnya, lalu ikut berjalan di belakang mereka berdua.

Beberapa langkah kemudian, Rio menepuk pundak Kris pelan. Gerakannya santai, seolah keputusan ini bukan hal besar. "Kita mampir ke taman sebentar.."

"Ya.. terserah kau saja..." jawab Kris dengan nada dingin, nyaris tanpa emosi.

Lalu Mereka berjalan santai sambil mengobrol ringan, langkah kaki mereka menyatu dengan suasana sore yang mulai tenang. Lampu jalan belum menyala, tapi cahaya matahari sudah mulai redup.

Dari kejauhan, taman tujuan mereka sudah terlihat, hanya berjarak puluhan meter lagi. Rio sempat berpikir semuanya akan berjalan biasa saja. Terlalu biasa, bahkan.

Namun tiba-tiba, langkah mereka terhenti.

Seseorang berbadan besar berdiri tepat di depan mereka, menutupi jalan seperti tembok hidup. Rambutnya pendek. Pria itu mengenakan pakaian formal lengkap yang terlihat terlalu ketat untuk tubuhnya.

Badannya besar, jauh lebih besar dari ukuran orang dewasa normal. Kehadirannya langsung membuat udara di sekitar terasa berat. Mata Kris, Rio, dan Liam melebar hampir bersamaan, refleks tubuh mereka langsung tegang.

Liam, yang terlihat paling tidak sabar dan ingin cepat sampai tujuan, melangkah maju tanpa ragu. Ia berdiri sedikit di depan Rio dan Kris, lalu berbicara dengan nada sopan yang dipaksakan.

"Mohon Biarkan kami lewat, paman...,kami Hanya ingin bermain bersama kok.."

Pria besar itu tidak menjawab. Ia justru melangkah satu langkah ke depan, jaraknya kini semakin dekat. Bayangannya menutup cahaya sore yang jatuh ke wajah mereka bertiga. Rio refleks menoleh ke Liam, suaranya sedikit meninggi karena panik.

"Hey Liam..kau tidak mengucapkan kata yang salah kan?."

Liam menoleh cepat ke Rio dengan wajah kesal.

"Tentu saja tidak!, Sepertinya aku sudah benar mengucapkannya..."

Liam kembali menatap ke depan. Pria itu kini berdiri tepat di hadapannya, benar-benar menutupi pandangan mereka. Senyum muncul di wajah pria tersebut, senyum yang terlalu lebar dan terasa tidak nyaman.

"Wahh... ternyata anak jaman sekarang sopan² ya.."

Kris yang berdiri di samping Rio menelan ludah keras.

"Glupp!-..., Matilah kita.."

Pria itu tersenyum lebih jelas sekarang.

"Panggil aku paman Ravel."

Ia melangkah lebih dekat lagi, jaraknya membuat Rio refleks memalingkan wajah, berpura-pura tidak memperhatikan.

"Paman Ravel yang baik sedang mencari seorang anak..Jadi apakah kalian bisa memberi tahu jika paman menanyakannya?."

Mendengar kalimat itu, jantung Rio berdetak lebih cepat. Ada sesuatu yang langsung terhubung di kepalanya. Sosok besar, pakaian formal, cara bicara yang aneh.

"Seseorang anak?!, Menurut informasi yang di berikan Rivaldo,dia bilang dia sedang di cari kan?. jadi Kemungkinan besar Ravel ini mencari Rivaldo." Begitu pikir Rio

1
DANA SUPRIYA
kasihan Rio, sabar ya walaupun sabar itu membuat hati kesal
lyks kazzapari
ya saya bantu dg like dan hadiah 😄
Rdt: wah makasih banyak,aku jadi ngerepotin kamu jadinya 😅
total 1 replies
Hans_Sejin13
jangan lupa bantu saya kak
Rdt: oke ,udah ku bantu
total 1 replies
Rdt
peak
Anisa Febriana272
Mampir, jangan lupa mampir juga ya.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!