Kenneth memutuskan untuk mengasuh Keyra ketika gadis kecil itu ditinggal wafat ayahnya.
Seiring waktu, Keyra pun tumbuh dewasa, kebersamaannya dengan Kenneth ternyata memiliki arti yang special bagi Keyra dewasa.
Kenneth sang duda mapan itupun menyayangi Keyra dengan sepenuh hatinya.
Yuk simak perjalanan romantis mereka🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YuKa Fortuna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 27. Susu Favorit Om Ken
27
Sore itu langit cerah, dan kolam renang di belakang rumah Oetama memantulkan warna biru yang menenangkan. Airnya tenang, nyaris tanpa riak, seolah menunggu untuk disentuh.
Keyra sudah lebih dulu berdiri di tepi kolam, merapikan rambutnya ke belakang. Ia menoleh ketika mendengar langkah kaki mendekat.
“Kamu udah siap?” tanya Ken sambil melepaskan kausnya hingga tersisa celama pendek saja.
Keyra mengangguk. “Aku udah jarang berenang nggak kayak waktu masih SMP dulu. Jadi jangan ngetawain aku kalo aku cepat lelah.”
Ken tersenyum. “Tidak akan. Kita santai saja.”
Mereka masuk ke air hampir bersamaan. Suhu kolam terasa menyegarkan, membuat Keyra refleks menarik napas, lalu tertawa kecil. Ken berenang di sisinya, menjaga jarak yang nyaman, cukup dekat untuk berjaga, cukup longgar untuk memberi ruang.
Mereka berenang perlahan menyusuri kolam, tidak terburu-buru. Sesekali Ken berhenti untuk menyesuaikan tempo dengan Keyra.
“Napasku cepat habis,” kata Keyra setelah beberapa putaran. “Ternyata stamina-ku benar-benar turun.”
“Itu wajar,” jawab Ken. “Kamu terlalu sibuk dengan jadwal kuliah dan lupa merawat kesehatan tubuhmu sendiri.”
Keyra mendengus kecil. “Kedengaran seperti nasihat.”
Ken tertawa. “Karena memang itu.”
Mereka berhenti di sisi kolam. Keyra memegang bibir kolam, mencoba mengatur napas. Bahunya naik turun, dan wajahnya sedikit memerah karena lelah.
“Aku istirahat sebentar,” ujarnya.
Ken mengangguk. Ia mendekat dan membantu Keyra naik ke tepi kolam. Gerakannya sigap namun hati-hati, memastikan Keyra berdiri dengan stabil. Air menetes dari rambut dan lengannya, membentuk garis-garis kecil di lantai.
Keyra duduk di tepi kolam, meregangkan kaki. “Betisku rasanya kaku.”
Ken masih berdiri di dalam air, di sisi Keyra. “Om bantu sedikit. Kalau tidak nyaman, bilang.”
Ia mulai memijit betis Keyra dengan tekanan ringan dan teratur, tidak terburu-buru, tidak berlebihan. Gerakannya seperti seseorang yang terbiasa menjaga, bukan menuntut. Keyra menghela napas panjang, rasa pegal perlahan mereda.
“Begini enak,” katanya lirih. “Aku jarang merasakan tubuhku benar-benar rileks.”
“Karena kamu jarang istirahat,” jawab Ken. “Kadang kita perlu jeda.”
Keyra menatap permukaan air yang berkilau. Angin membawa aroma taman yang segar. Rumah terasa sunyi namun tenang, tertata, seolah memberi mereka ruang untuk sekedar ada.
“Makasih ya, Om,” ucap Keyra setelah beberapa saat.
Ken menghentikan pijatan, menatap Keyra penih arti. “Kapan pun kamu butuh, Om akan selalu ada.”
Pijatan itupun berubah menjadi usapan. Naik ke paha mulus Keyra yang tanpa penutup.
Kepala Keyra terpatah ke belakang. Tangannya mencengkeram pundak kekar Ken.
Ken tak tinggal diam, melihat suguhan leher jenjang dan mulus, Ken menjatuhkan ciuman disana. Antara rasa dahaga, lega, syukur dan hasrat yang berbaur menjadi satu, perlahan mengubah ritme santai menjadi agak binal.
Keyra membiarkan Ken menurunkan cup bra-nya sedikit hingga aset kembarnya berebutan melompat keluar.
"Om suka banget bentuknya, tidak terlalu kecil tapi juga tidak terlalu besar." Komentar Ken membuat wajah gadisnya bersemu merah.
Ken menggenggam dua benda itu dengan kedua tangan, meremas perlahan, membuat Keyra mendesah tak tahan. Memainkan puting mungil kemerahan hingga Keyra menghimpit-himpitkan pahanya karena menahan gejolak.
Lalu, seperti yang diharapkan Keyra, Ken mulai menghisap benda itu secara bergantian. Lembut, namun rakus.
"Oooommm..." Keyra melenguh panjang ketika daging miliknya ditarik oleh Ken di dalam mulutnya.
Tidak hanya nikmat, namun area intim Keyra juga ikut nyut-nyutan hingga mengeluarkan sesuatu pertanda ia menikmati kehiatan panas Ken.
Bukan hanya Keyra. Ken juga merasakan hal yang sama, miliknya tegang, menonjol di balik celana.
Di dalam air kolam, tonggak besar dan panjang milik Ken terayun mencari tempat persembunyian yang nyaman.
Setelah sekian purnama ia tak menemukan peraduan, hingga saat ini masih bisa menahan.
Meskipun ia sangat ingin, namun masih belum tega mengambil kegadisan Keyra. Entah mengapa.
Keyra menyadari sesuatu di momen panas itu, kebersamaan mereka tidak selalu harus penuh kata atau emosi yang menggebu. Kadang, cukup berbagi sentuhan dan belaian, dan saling menjaga ritme.
Dan sore itu, di tepi kolam yang tenang, mereka menemukan jeda
tempat untuk bernapas,
tempat untuk merasa utuh.
**
“Jadi… Om yakin mau nemenin aku sampai ke dalam?” tanya Keyra sambil merapikan tas selempangnya.
Ken melirik jam di pergelangan tangannya. “Om tidak keberatan. Katanya ingin ditemani.”
Keyra tersenyum puas. “Iya, Om. Nggak apa-apa kan?.”
"Tentu, Sweetheart, apa sih yang tidak untuk kamu." Sahut Ken sungguh membuat tenang hati Keyra.
Mereka melangkah masuk ke area kampus. Suasana pagi cukup ramai, mahasiswa berlalu-lalang, sebagian duduk di taman, sebagian lagi bergerombol sambil membawa kopi. Namun langkah Ken dan Keyra perlahan mengubah irama sekitar.
Keyra menyadarinya lebih dulu.
Tatapan-tatapan itu muncul satu per satu.
Awalnya sekilas.
Lalu lebih lama.
Lalu berbisik.
“Eh… itu siapa?”
“Dosen baru, ya?”
“Bukan deh. Dosen nggak mungkin setampan itu.”
“Serius, dia ikut siapa?”
Ken berjalan tenang, sama sekali tidak menyadari hiruk-pikuk kecil yang mengiringi langkahnya. Posturnya tegap, bahunya rileks, langkahnya mantap, seperti seseorang yang tidak perlu membuktikan apa pun pada dunia.
Keyra menoleh ke arahnya. “Om Ken.”
“Hm?”
“Om sadar nggak… semua orang ngeliatin Om dari tadi?”
Ken menoleh sekilas ke sekitar, lalu mengangkat bahu. “Mungkin karena aku orang baru.”
“Orang baru yang terlalu mencolok,” balas Keyra sambil menahan senyum.
Seorang mahasiswi berhenti berjalan, nyaris menabrak temannya sendiri karena terlalu lama menoleh. Yang lain pura-pura membuka ponsel sambil sesekali melirik. Bahkan beberapa mahasiswa laki-laki ikut menoleh, bukan iri, melainkan heran.
“Mister, maaf,” sapa seorang mahasiswi dengan suara sedikit gugup, “Anda dosen tamu?”
Ken tersenyum sopan. “Bukan. Saya hanya menemani.”
“Oh…” gadis itu terlihat kecewa sekaligus lega. “Kirain dosen.”
“Mungkin dosen untuk Nona Oetama saja.” jawab Ken ringan sambil mengusap kepala Keyra.
Gadis itu tertawa kecil sebelum berjalan pergi dengan wajah memerah.
Keyra berhenti sejenak. “Lihat? Bahkan yang nggak berniat pun jadi berniat.”
Ken meliriknya. “Kamu terdengar tidak suka.”
Keyra mendengus kecil. “Aku cuma nggak terbiasa aja kalo banyak saingan.”
"Saingan gimana?" Tanya Ken.
"Saingan buat dapetin hati Om lah." Jawab Keyra agak ketus.
"Hey, Om sudah jadi milik kamu sejak lama, dan akan selalu begitu." Ucap Ken sambil mencolek hidung Keyra.
Gadis itu tersipu, wajahnya bersemu merah.
Mereka duduk di bangku taman dekat fakultas Keyra. Tak sampai semenit, dua mahasiswi lain lewat, berpura-pura mencari tempat duduk, padahal jelas ingin berada lebih dekat dengan si bule tampan dan gagah itu.
“Cuacanya panas, ya,” kata salah satunya sambil melirik Ken.
“Lumayan,” jawab Ken ramah, lalu kembali fokus pada Keyra.
Keyra menyilangkan kaki dan mencondongkan badan sedikit ke arahnya. “Om sengaja, ya?”
“Sengaja apa?”
“Kelihatan… seperti ini.”
Ia menggerakkan tangan, seolah menggambarkan aura Ken.
Ken tertawa kecil. “Om hanya berpakaian seperti biasa.”
Dan memang benar. Kemeja rapi tanpa usaha berlebihan, celana gelap yang pas, sepatu bersih, dan jam klasik di pergelangan tangan. Rambutnya disisir sederhana. Wajahnya menunjukkan kematangan, rahang tegas, sorot mata tenang, ekspresi seseorang yang sudah melewati banyak hal dan berdamai dengannya.
“Masalahnya,” kata Keyra pelan, “ usia empat puluh tahun nggak semuanya terlihat semenarik ini.”
Ken mengangkat alis. “Itu pujian atau kritik?”
“Peringatan,” jawab Keyra cepat.
Ken terkekeh. “Untuk siapa?”
“Untuk semua yang melirik.”
Seorang dosen perempuan lewat dan sempat berhenti. “Maaf,” katanya ramah, “Anda wali mahasiswa?”
Ken berdiri sopan. “Bisa dikatakan begitu.”
“Oh,” senyum wanita itu melebar. “Tapi terlalu muda untuk jadi wali.”
Keyra memalingkan wajah, menahan senyum sekaligus cemburu.
“Udah cukup,” katanya akhirnya. “Kalo Om terus di sini, aku bisa kehilangan konsentrasi… dan reputasiku.”
Ken berdiri dan merapikan kemejanya. “Baik. Om menunggu di luar aja.”
Keyra menatapnya sejenak sebelum melangkah pergi.
“Makasih ya, Om. Aku nggak lama kok.”
Ken tersenyum, tenang, hangat, dan tetap tak menyadari sepenuhnya bahwa kehadirannya barusan telah menjadi topik pembicaraan satu kampus.
Dan Keyra tahu, hari itu bukan hanya ia yang kembali ke kelas dengan hati berdebar,
kampus itu juga baru saja mengenal seorang pria yang terlalu mudah mencuri perhatian,
hanya dengan menjadi dirinya sendiri.
.
YuKa/ 191225
beh gila ya Rafael sama rayya,,dia melakukan hal itu sama Rayya tp yg dia sebut nama key , sakit banget pasti nya tuh Rayya tp kek nya dia perduli ya Krn merasa dia lah yg terpilih..
Enak ya ? Nikmat ya ?
Puas gak ?
Ngga dooong hihi , deudeuin klo basa sundana mah 😂