NovelToon NovelToon
Cinta Selamanya

Cinta Selamanya

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Perjodohan / Romantis / Fantasi / Cinta Murni / Mengubah Takdir
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: eloranaya

Raisa tidak menyangka bahwa hidup akan membawanya ke keadaan bagaimana seorang perempuan yang menjalin pernikahan bukan atas dasar cinta. Dia tidak mengharapkan bahwa malam ulang tahun yang seharusnya dia habiskan dengan orang rumah itu menyeretnya ke masa depan jauh dari bayangannya. Belum selesai dengan hidup miliknya yang dia rasa seperti tidak mendapat bahagia, malah kini jiwa Raisa menempati tubuh perempuan yang ternyata menikah tanpa mendapatkan cinta dari sang suami. Jiwanya menempati raga Alya, seorang perempuan modis yang menikah dengan Ardan yang dikenal berparas tampan. Ternyata cantiknya itu tidak mampu membuat Ardan mencintainya.

Mendapati kenyataan itu Raisa berpikir untuk membantu tubuh dari orang yang dia tempati agar mendapatkan cinta dari suaminya. Setidaknya nanti hal itu akan menjadi bentuk terima kasih kepada Alya. Berharap itu tidak menjadi boomerang untuk dirinya. Melalui tubuh itu Raisa menjadi tahu bahwa ada rahasia lain yang dimiliki oleh Ardan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eloranaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

27. Langit Malam

Motor yang dikendarai Devan berhenti tidak jauh dari mall tempat Raisa pergi sebelumnya. Devan ditemani Raisa memasuki restoran dengan sistem buffet. Di tangan Raisa menggenggam satu piring kosong sementara Devan yang juga memegang bentuk piring sama telah mengambil nasi merah, sayur, dan daging.

Devan menepuk bahu Raisa dengan telunjuknya.

"Ambil aja, dikit doang nggak papa," ujar Devan. Raisa yang mendengarnya terangguk meski sempat diselingi embusan sebal yang dia buat-buat. Memang ngeyel banget, pria itu tetap menyodorkan piring padanya meski sudah dikasih tahu jika Raisa sudah kenyang.

Walau begitu pada ujungnya Raisa tetap mengisi piring dengan sayur sawi putih, suwiran daging ayam, dan sepotong telur rebus.

Seusai memilih makanannya, mereka berdua lantas mencari tempat duduk kosong dan menemukan satu pasang meja kursi yang berhadapan di tengah resto.

Baru saja duduk Devan langsung berucap, "Maaf ya, jangan marah."

"Marah." Raisa berucap ketus.

"Gue minta maaf beneran." Melihat sendiri bagaimana nada suara dan ekspresi lelaki itu berhasil membuat tawa Raisa pecah.

"Al, gue minta maaf beneran, jangan bikin gue takut. Makanannya nggak usah dimakan nggak papa kok. Di-maaf-in kan gue?"

"Gak, ah." Raisa terkekeh kemudian meralat perkataannya sendiri, "Iya-iya, okei. Gue maafin, soalnya rasa masakan di sini enak," ujarnya seusai mengunyah sayur yang dia ambil tanpa menunggu Devan.

"Okey, deh. Thanks ya."

Selebihnya mereka berdua sibuk menghabiskan makan di piring masing-masing. Sesekali juga lelaki itu mananyai Raisa apakah mau nambah makanan lain, apabila iya Devan siap mengambilkan. Dan tentu saja tawaran itu kontan ditolak Raisa.

Tepat di sendokan terakhir Raisa yang tadinya fokus makan menatap piring, lantas mengangkat kepala ketika menyadari pergerakan yang dibuat Devan. Lelaki itu yang ditatap tersenyum ke arahnya.

"Gue ngajak lo bicara berdua buat ngomongin ini, sih, Al." Devan menggeser sebuah kotak yang baru saja dia letakkan di atas meja, mendekat pada Raisa. Senyumnya lebar sejak mengatakannya. "Gue sebenernya mau ngasih tadi secara langsung, tapi tabiat temen lo udah bisa ditebak pasti ujungnya ngecengin kita." Raisa memperhatikan pergerakan Devan yang mulai membuka kotak di atas meja. Sebuah ponsel berwarna abu dengan merk yang sama seperti yang diberi Ardan terpampang nyata.

"Terima kasih ya, tapi maaf gue nggak bisa nerima," kata Raisa terus terang.

"Kenapa?"

Raisa merogoh tas selempangnya, mengeluarkan ponsel baru dari Ardan. "Gue udah punya," jawabnya.

Devan sempat memandang barang yang dikeluarkan Raisa tersebut sebelum cengengesan kecil. "Telat, nih, gue ceritanya?" Dia mengetuk-ketuk pelan kotak putih di atas meja. "Kalau kayak gini gimana ya enaknya? Apa lo simpen dulu aja, Al? Siapa tahu nanti lo butuh."

Mendengarnya Raisa menggeleng. "Lo simpen sendiri aja. Maaf gue beneran nggak bisa nerima pemberian lo ini."

"Terus sekarang gimana kalau sekarang tukeran nomor telepon? Boleh?"

****************

Udara malam dingin menusuk kulit. Meskipun telah mengenakan dua lapis pakaian, yaitu cardigan dan baby tee dinginnya malam kali ini tidak mampu tersamarkan. Terlebih lagi, cuaca yang tidak mendukung keduanya. Baru saja lima belas menit meninggalkan tempat mereka makan guyuran hujan memaksa Devan meminggirkan motornya pada ruko yang tutup agar dia dan Raisa tidak kebahasan oleh air langit tersebut.

Devan berdiri di sisi Raisa yang berjalan maju sampai hampir mencapai tepi jalan. Tangan gadis itu terjulur keluar, membiarkan tersentuh dengan air hujan.

"Deres banget nggak memungkinkan kalau mau nerobos." Dia bergumam sendiri dan disetujui oleh Devan. Lalu dia tetap berdiri di tempatnya dengan kedua tangan terlipat depan dada.

"Dingin ya, Al? Maaf ya gara-gara gue ngajak lo keluar misah dari temen-temen lo jadi bikin lo kejebak hujan."

Raisa menoleh, dia melemparkan senyum ramah. "Santai aja kali, Van. Setidaknya ada hal bagus yang gue dapet. Yaitu resto murah tapi rasa makannya semantep itu, padahal yang gue ambil oseng sawi."

Devan sedikit melega saat Raisa menanggapinya dengan cara seperti itu. Dia berujar sungguh-sungguh, "Sama-sama, nanti kalau lo mau rekomendasi makanan murah tapi tetep juara rasanya bisa tanya ke gue. Kapan pun gue siap bikin list-nya buat lo."

Raisa hanya mengangkat jempol sebagai balasan.

Berikutnya hanya diam yang menelan. Mereka berdua sibuk mengamati hujan yang airnya berkejaran turun dari atas, tampiasnya terkena ke mereka. Beberapa kali juga Devan mundur ke belakang karena air telah mengenai dia sampai sedikit basah, kemudian balik lagi untuk menemani Raisa yang tidak berpindah dari tempatnya. Dan ditunggu begitu lama, bukannya berhenti, guyuran air kian menderas.

Devan berdeham untuk membersihkan tenggorokannya lantas melirik Raisa, perempuan itu sibuk mengorek isi dalam sling bag. "Al, gue jadi inget deh kemarin abis lihat reels Instagram." Raisa seketika menoleh, "Katanya kosa kata di bahasa Indonesia itu miskin dan gue setuju banget. Soalnya cantik, imut, lucu, mempesona itu bisa disingkatin jadi satu kata, yaitu kamu."

Diam.

Kunciran yang hendak ditarik Raisa untuk mengikat rambut terpental ke pinggir jalan.

Mereka berdua tertawa kencang bahkan Devan sampai ikut terpingkal sembari memegangi perutnya. "Maaf kalau cringe. Soalnya lo diem aja jadi bingung gue harus ngapain."

"Nggak kok, nggak. Malah lucu." Raisa berusaha mengontrol tawanya. "Muka lo lagi serius gitu, nggak expect aja kalau kalimat yang bakal lo keluarin adalah itu." Masih tertawa, Raisa seketika tersadar kalau kuncirannya terlepas jauh. Dia buru-buru menyelamatkan meski tahu pasti sudah basah terkena air.

"EH?!" Devan ikut terkejut mendapati Raisa yang langsung menerjang hujan dan mencari benda kecil tersebut.

Warna hitam kuncir berpadu dengan malam dan aspal membuatnya sedikit susah ditemukan. Tapi tak butuh waktu lama benda kecil itu terlihat oleh netranya, bertepatan dengan Raisa yang menunduk ingin mengambil kuncir sebuah cahaya menyala-nyala dari sebelah kirinya.

Sebuah mobil tampak melaju kencang. Menciptakan reaksi kejut dari Raisa. Tubuhnya seketika menegang kaku. Pikirannya seolah memerintahkan untuk segera menghindar tetapi tubuhnya masih enggan bergerak. Kelebatan demi kelebatan keping memori menjajah kepalanya, memutar ulang peristiwa dia dihantam mobil di kehidupannya yang dulu.

Dia berteriak, tetapi belum sampai terdengar tubuhnya sudah terhuyung kembali ke area ruko. Devan menariknya ke situ.

Raisa yang tampak syok mengerjap. Devan dengan napas masih memburu sigap berdiri hendak menyusul si pengendara, menyumpah-serapahi mobil yang lewat tanpa aba-aba tersebut.

"Bego banget nyetirnya, tolol!!"

Setelah puas dia kembali ke dekat Raisa. Memerika kondisi perempuan itu yang melihat nanar, mengikuti pergerakan mobil barusan. Pupil gadis itu membesar ketika menyadari ada sesuatu yang aneh dari mobil tersebut. Bibirnya bergetar, tampak begitu pucat. Sebelum dia berucap tanpa suara yang tak mampu terbaca oleh Devan sekalipun, "Ardan?"

"Al? Lo nggak papa?" Suara lembut dari Devan terdengar, lelaki itu terlihat panik setengah mati melihat Raisa yang bergetar dan sepucat susu. "Nyari apa? Biar gue cariin." Raisa masih mengatupkan bibirnya. "Dingin banget ya? Al?" Tanpa perlu dijawab, Devan sigap melepas jaket yang dikenakan dan membungkus Raisa yang pakaiannya basah. Kedua tangan lelaki itu saling menggosok, setelah dirasa cukup hangat dia menggunakannya untuk melingkupi telapak Raisa. Berulang-kali.

"Van, anter gue pulang sekarang." Sejurus kemudian Raisa berucap.

"Tapi masih hujan deras. Nanti aja ya nunggu sedikit reda."

Raisa menatap Devan dengan tatapan yang tak mampu terurai oleh lelaki itu. "Tolong anterin gue pulang sekarang."

"Okey, tapi sebentar ya gue beli jas hujan dulu."

"Anterin gue balik rumah sekarang, Van." Nada suara Raisa sedikit meninggi. Tersirat akan kefrustasian. Sedangkan Devan yang menyadari itu ingin bertanya tetapi dia tahan, takut jika yang dia tanyakan bukanlah sesuatu yang tidak ingin Raisa dengar.

"Okey, sebentar. Gue pesenin taxi online biar lo nggak kehujanan."

"Lo mau anterin gue balik atau enggak? Tinggal jawab. Kalau nggak, gue bisa pulang sendiri sekarang." Dia menarik diri menjauh dari lelaki itu. Devan dengan pasrah mengangguk dan menarik lengan Raisa yang hampir kembali hujan-hujanan.

"Iya, gue anterin sekarang. Tanpa harus pergi beli jas hujan dulu ataupun pesen taxi."

...****************...

1
fianci🍎
Pusing kepala baca cerita ini, tapi tetap seru. Teruslah menulis, author!
Perla_Rose384
Gak sabar nunggu kelanjutannya thor, semoga cepat update ya 😊
Eirlys
Bikin saya penasaran terus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!