Larasati , seorang gadis desa yang lugu dan sederhana, harus menghadapi takdir pahit ketika sepupunya, Gea, kabur di hari pernikahannya dengan seorang pria kaya bernama Nathan karena hamil dengan lelaki lain.
Orang tua Gea, yang merasa posisi perusahaan mereka terancam bangkrut jika pernikahan ini sampai gagal dan membuat keluarga Pratama malu, memaksa Laras, keponakannya untuk menggantikan posisi Gea sebagai pengantin.
Nathan, yang merasa tertipu dan marah, terpaksa menerima pernikahan itu demi menjaga nama baik keluarganya, meskipun hatinya dipenuhi kebencian pada Laras yang dianggap sebagai biak kerok yang menyebabkan Gea kabur di hari pernikahan mereka.
Intrik dan persaingan dalam perebutan kekuasaan di keluarga Pratama menyeret Laras kedalam pusaran kekacauan yang tiada henti.
Akankah Laras bisa menanggung semua ini?
Menjalani pernikahan tanpa cinta dengan suami yang hatinya masih terpatri nama orang lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon julieta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PANIK
Laras menggeliat, meregangkan seluruh otot tubuhnya yang terasa kaku. Entah sudah berapa lama dia tertidur, perutnya kini sudah mulai keroncongan, membuat kedua kakinya pun terulur turun dari atas ranjang meski kedua mata masih belum sepenuhnya terbuka.
Dengan mata setengah tertutup Laras berjalan menuju kearah dapur, membuka kulkas dan berharap ada makanan yang bisa dia gunakan untuk menganjal perutnya yang sudah berteriak keras minta diisi.
Begitu kulkas dibuka, udara dingin yang menerpa wajah langsung membuat kedua matanya terbuka sempurna.
Melihat betapa lengkap isi didalam frezer, kedua mata Laras pun langsung melotot sempurna.
“Ini?!”, batinnya terkejut melihat ada banyak ice cream dan Frozen food disana.
Laras yang curiga pun segera membuka pintu bawah kulkas, dan begitu terbuka kedua matanya kembali melotot syok melihat jika bukan hanya aneka minuman dan beberapa macam kue kesukaannya yang memang lebih enak di sajikan dalam kondisi dingin, juga ada aneka macam sayuran yang sudah di tempatkan diwadah tertutup yang tersusun rapi didalam rak kulkas.
Dengan ekspresi syok dan bingung, Laras segera menutup pintu kulkas dan mengamati kondisi dapur, berusaha menelisiki setiap bagian sudut ruangan tersebut dengan cermat.
Meski sekilas posisi, tata letak dan warna cat dinding serta pernak-pernik yang ada disana sama dengan dapur kecil miliknya, tapi ada beberapa hal yang berbeda, membuat Laras pun melangkah keluar dapur untuk berkeliling.
Tempat asing dengan aura yang familiar membuat kening laras berkerut sangat dalam.
Ini bukanlah tempat tinggalnya, tetapi semua hal yang ada didalam sini, model sofa, aneka hiasan dinding, rak pembatas, warna cat tembok dan tata letak rumah, sama dengan rumah yang dia tinggali saat ini.
Meski ukurannya tak sama tapi desain tata letak dan semuanya,sekilas terlihat sama sehingga dia sempat mengira jika sudah berada di rumahnya sendiri tadi.
Hanya orang terdekatnya lah yang tahu seleranya dan juga posisi rumah yang ditempatinya saat ini.
Kilasan ingatannya mengenai kejadian semalam kembali terputar, membuat alarm bahaya dalam diri Laras pun berbunyi nyaring, dan gadis cantik itupun buru-buru menelisik pakaian yang dikenakannya.
Melihat jika pakaian yang dia kenakan masih lengkap dan rapi serta tak ada tanda-tanda yang mengarah ke pelecehan, Laraspun baru bisa bernafas dengan lega.
Namun kelegaan itu hanya sebentar sebelum dia teringat akan Zein, pasien yang harusnya dia rawat saat ini.
"Aku harus segera menghubungi Zein agar dia tak cemas dan segera keluar dari sini", guman Laras sambil merogoh saku celananya yang kosong melompong.
Bukan hanya ponselnya saja yang raib, tapi juga dompetnya tak ada, membuat Laras pun segera mencari pintu keluar, berusaha untuk kabur.
Duug! Duug! Duug!
Laras yang berusaha mendobrak pintu yang terkunci itu beberapa kali, namun usahanya sama sekali tak membuahkan hasil.
Diapun segera berlari menuju kearah jendela, begitu menyadari jika semua jendela dalam tempat tersebut merupakan jendela mati yang tak bisa dibuka, badan Laras langsung limbung seketika.
Laras berusaha menggapai kursi yang ada didekatnya,duduk sejenak sambil menenangkan diri.
Perlahan,dia kembali mengamati keadaan sekitarnya,berusaha mencari petunjuk dimana dia saat ini.
Jika melihat pemandangan diluar jendela, Laras menduga jika dia berada di dalam sebuah apartemen yang setidaknya berada dilantai lima, jika melihat ke bawah dimana jalan raya padat merayap tak jauh didepan bangunan tersebut yang sayangnya masih belum bisa Laras ketahui posisinya.
Setelah merasa sedikit tenang, Laraspun kembali berjalan untuk melihat apakah ada orang lain selain dirinya ditempat ini.
Setiap kamar yang ada Laras masuki dan setiap sudut ruangan gadis itu jelajahi, tapi tanda-tanda adanya kehadiran orang lain di tempat itu, nihil.
Merasa jika dia hanyalah satu-satunya orang yang ada ditempat tersebut, Laras merasa sedikit lega setidaknya tak ada orang yang akan menjadi ancaman baginya, untuk sementara waktu.
Krucuk...
Perut Laras yang kembali berbunyi membuat gadis itu pun segera pergi menuju dapur, mencari makanan untuk mengganjal perutnya.
Sambil makan, otak Laras terus berpikir keras mengenai apa yang telah terjadi dan siapa yang telah membawanya ke tempat asing ini.
Jika dilihat dari kondisinya saat ini, sepertinya orang yang menculiknya semalam tak berniat menyiksanya.
Buktinya, tak ada tanda-tanda kekerasan ataupun pelecehan di tubuhnya, sehingga dia semakin binggung kenapa orang ini berniat menculiknya.
Apa ini ada kaitannya dengan kasus yang tengah menjerat pakdhenya?
Atau ini ada kaitannya dengan perebutan kekuasaan di keluarga Pratama?
Semakin dipikir, semakin membuat kepala Laras pening hingga gadis itu pun memutuskan untuk kembali menjelajahi seluruh ruangan yang belum dia jamah demi mendapatkan sedikit petunjuk begitu semua makanan yang ada di piringnya telah masuk kedalam perut.
Setelah mengelilingi apartemen mewah tersebut, melihat tak ada satupun petunjuk dan jejak yang di tinggalkan oleh si pemilik tempat, membuat Laras hanya bisa pasrah menunggu hingga ada seseorang yang akan datang untuk melihat kondisinya.
Jika dia memang benar-benar di culik oleh seseorang, pasti mereka akan datang untuk melihat kondisinya, sehingga Laras pun sudah menyiapkan diri untuk hal tersebut sebelum dia masuk kedalam kamar kembali.
Tak lupa Laras membawa sebuah pisau dapur dan juga merica bubuk yang dia temukan didapur yang nantinya akan dia pergunakan sebagai senjata jika ada seseorang yang masuk dan mengecek kondisinya didalam kamar.
Ketika Laras tengah menyiapkan diri untuk menghadapi orang yang sudah menculiknya, justru Nathan sebagai orang yang telah menculik Laras tengah berada di sebuah kamar dalam kondisi terkapar tak berdaya.
Wajahnya babak belur setelah dihajar oleh Gerry yang tak menyangka jika anaknya tersebut menderita penyakit mental yang parah seperti itu.
Gerry yang awalnya hanya ingin menjenguk Zein dan juga bertemu dengan Laras yang dia ketahui tengah menjaga pria muda tersebut tak menyangka jika dia menemukan salah satu anak buah tengah membius Laras dan membawanya pergi.
Tak ingin anaknya membuat masalah di waktu yang urgent seperti ini, maka Gerry pun segera bertindak.
Dia datang mengunjungi apartemen yang dipergunakan oleh Nathan untuk membawa Laras dan langsung menyeret putra sulungnya itu keluar dari tempat tersebut sebelum anak buah Thomas dan keluarga Diandra menyadari keterlibatan Nathan dalam kasus menghilangnya Laras.
Untungnya, apartemen mewah itu dibeli bukan atas nama Nathan sehingga Gerry lebih mudah untuk membersihkan jejak kejahatan yang dibuat oleh putra sulungnya itu.
Dengan akun anonim, Gerry memberikan kabar kepada keluarga Diandra mengenai keberadaan Laras.
Laras yang berdiri dibalik pintu sambil memegang pisau begitu mendengar suara keras pintu yang di dobrak dari luar, seketika melepaskan senjata tajam tersebut begitu melihat Harlan masuk kedalam kamar diikuti oleh Fransisco dan para pengawalnya Denga wajah panik.
"Kakak sepupu!", teriak Laras yang langsung menghambur kedalam pelukan Harlan yang langsung merasa lega melihat jika Laras dalam kondisi baik-baik saja.
thanks teh 💪😍
thanks teh
😍💪