Anshela atau biasa dipanggil Shela, anak bungsu dari empat bersaudara. Lahir sebagai anak perempuan satu-satunya tidak menjadikan Shela di sayang oleh keluarganya, dia malah diperlakukan sebaliknya. Kematian ibunya karena melahirkannya membuat ayah serta tiga kakak laki-lakinya menganggap Shela sebagai penyebabnya, kerap kali ia disebut sebagai anak pembawa sial. Tumbuh dari keluarga yang kurang kasih sayang membuatnya menjadi gadis yang arogan, sombong dan suka semena-mena. Semua itu semata hanya untuk menceritakan perhatian ayah dan kakak-kakaknya. Namun, hal itu justru semakin membuat keluarganya membencinya. Suatu kejadian membuatnya hampir meregang nyawa, namun beruntung Tuhan masih memberi Shela kesempatan untuk hidup. Saat bangun dari tidur panjangnya, Shela tak menemukan satu pun keluarganya, yang ia lihat pertama kali hanya mbok Inah, asisten rumah tangga yang selalu setia merawatnya. Sejak saat itu,Shela sadar jika apapun yang ia lakukan tidak akan pernah dipedulikan. Shela b
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27
Shela berjalan santai menuju ke depan rumahnya, dengan wajah dinginnya dia terus melangkah mengabaikan tatapan kakaknya yang sudah terlihat seperti harimau yang siap memangsa.
"Bagus! Pulang sekolah bukannya balik, malah keluyuran ke rumah cowok pula! Jual diri sama temen sekolah juga Lo? Dibayar berapa?" Ujar kakaknya tentu dengan nada merendahkan.
Dengan sebelah alis terangkat Shela menatap kakaknya dengan wajah tidak peduli. Dalam hati Shela bertanya-tanya kenapa bisa kakaknya tau kalau dia sempat mampir ke rumah seseorang dulu? Tiba-tiba ia mengingat satu sosok yang sebelumnya bertemu dengannya di depan ruang kesenian.
"Ketua geng kesayangan lo itu ngadu?" Shela mengumpat dalam nada tinggi, menggigil karena geram. "Apa maksudnya laki-laki menjengkelkan itu selalu membawa-bawa nama ku pada kakak ku, hah? Apakah dia senang melihat saya diomeli terus-menerus?"
"Kalau memang iya, kenapa?" Suara Dika terdengar sinis, memotong setiap kata dengan nada hina. "Lo itu, harusnya malu jadi perempuan! Berani-beraninya mendekati ketua geng, hei, sadarlah bahwa kelakuan lo itu sudah kelewatan!"
Shela tersenyum sinis, matanya menyala penuh tantangan. "Suka-suka gue, siapa pun yang mau gue dekati, itu bukan urusan lo! Dan kalau lo mau cap gue cewek murahan sekalipun, toh gue tak peduli!" serunya lantas berbalik, melangkah mantap memasuki rumahnya. Dika mendesis kesal, urat-urat tangannya tegang dan mengerut. Ia tak bisa menahan rasa frustasinya melihat Shela begitu menghiraukannya. Dengan langkah gontai penuh kekecewaan, dia mengikuti langkah adiknya itu masuk ke dalam rumah, hatinya diliputi kemarahan yang mendidih.
"Tunggu! Gue belum selesai ngomong. Gak sopan banget si Lo!"teriak Dika, sambil berusaha menahan lengan Shela.
Namun, dengan tegas Shela menepis tangan kakaknya. "Apa lagi sih yang lo di mau, hah? Bosan gue dengar Omelan lo yang gak ada habis itu! Dengar baik-baik, gue muak dengan semua teriakan dan omelan lo yang tak berkesudahan itu! Sudah gue bilang berkali-kali, lo bukan siapa-siapa gue. Jadi, berhenti mencampuri hidup gue, mengerti?" Dengan nada tinggi, ia menambahkan, "Dan satu lagi, beritahu ketua geng lo yang menyebalkan itu, berhenti berlagak akrab dengan gue, menjijikkan!"
Shela lalu berbalik, langkahnya cepat menuju kamar. Dengan keras, ia membanting pintu kamar, seolah ingin menutup semua kekacauan di luar sana. Di balik pintu itu, amarahnya masih berkobar. Tak ada satupun hari tenang baginya di rumah ini. Meskipun Shela telah berubah, berusaha tidak lagi menyusahkan dan bersikap dewasa seperti yang dulu mereka harapkan, setiap tindakannya tetap salah di mata kakak-kakaknya, menjadikan hari-harinya layaknya berjalan di atas lahar panas yang tak pernah padam.
Tuhan, Shela cuma mau hidup tenang di rumah ini.
Shela tidak langsung membersihkan dirinya, dia memilih untuk merebahkan tubuhnya di kasur. Ia menatap langit-langit kamarnya, rasanya ia begitu lelah menjalani hidup ini. Tak ada kebahagiaan, bahkan dia bertanya-tanya kapan terakhir kali dia merasa bahagia? Padahal Shela sudah hidup sesuai apa yang dia mau, tapi tetap ia merasa hidupnya hampa seperti ada sesuatu yang kosong dalam dirinya. Entah apa itu, yang jelas Shela butuh hal itu dalam hidupnya.
Shela menghela napasnya lalu ia bangkit menuju ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian dengan pakaian rumahan, Shela turun ke bawah berniat membeli cemilan di mini market dekat rumahnya untuk menemani dia belajar nanti malam.
Ketika Shela akan keluar rumah, dia berpapasan dengan Anggara yang baru saja pulang bekerja. Ia hanya melirik sebentar kakaknya lalu melangkah begitu saja tanpa menyapa.
"Mau kemana kamu? Ini udah sore Shela," tanya kakaknya.
Shela terus melanjutkan langkahnya tanpa menanggapi pertanyaan kakaknya, ia malas berinteraksi dengan para kakaknya.
"Shela!" Panggil Anggara setengah berteriak.
"Kalau gue tanya, jawab! Kebiasaan lo ya, gak sopan santun yang lebih tua."
Shela masih mengabaikan kakaknya, biarlah dia berteriak semaunya yang pasti Shela malas menanggapi kakaknya itu.
Anggara mengelus dadanya melihat sifat adiknya itu. Perubahan pada Shela membuatnya kewalahan, sifat dingin dan pembangkangnya benar-benar sulit untuk dilawan. Ia jadi rindu Shela yang manja dan selalu menganggunya, jika diberi pilihan dia ingin Shela yang dulu yang menyebalkan tapi menurut,dari pada Shela yang sekarang, dingin dan tidak tersentuh.
Shela berjalan di sepanjang jalan perumahannya, sambil berjalan sesekali dia menendang kerikil yang dia lewati. Setelah merasakan diboncengi sepeda oleh Dion,rasanya ia jadi ingin membeli sepeda. Terakhir kali ia bermain roda dua itu pada saat dia masih sekolah dasar. Mungkin ia akan mencari pekerja paruh waktu lagi dan menabung untuk membeli sepeda.
Begitu sampai di minimarket ia segera masuk dan memilih beberapa cemilan, setelah membayar total belanjaannya, dia keluar dan memilih untuk langsung pulang.
Di tengah gemuruh kota yang mulai menggelap, sebuah mobil mewah tiba-tiba menghadang langkah Shela. Dia mengenali mobil tersebut; seringkali terpampang di depan sekolah dan rumahnya. Shela berusaha untuk tetap berjalan, melangkah dengan kepalanya tegak meski ketakutan mulai merayapi. "Lepas!" suaranya terdengar tegas, berusaha menyembunyikan guncangan di dalam dada saat Marvin mendekat dan menahan tangannya dengan cekalan yang mengancam. "Masuk! Biar gue anterin lo sampai rumah," tawar Marvin, suaranya halus namun membawa intimidasi.
"Ogah!" jawab Shela tegas, berusaha melepaskan diri dari cekalan yang menghunjam erat pada pergelangan tangannya. Namun, usahanya seperti bertemu tembok; Marvin begitu kuat hingga membuatnya terasa tak berdaya. "Shela, lo jangan sok jual mahal sama gue. Gue tahu perubahan itu hanya untuk menarik perhatian gue, kan? Memang lo cukup berhasil, tapi sayangnya lo tidak se-menarik Flora," ujar Marvin dengan nada merendahkan yang menusuk lurus ke hati Shela.
Ketegangan membungkus udara sekitar mereka. Shela merasakan irama jantungnya berdetak lebih cepat, seakan ingin melarikan diri dari rasa sakit dan ketakutan yang semakin menjalar. Pada saat itu, di tengah malam yang semakin pekat, dunianya seolah menyempit, hanya berputar di sekitar kata-kata meremehkan Marvin yang membakar semangat untuk membebaskan diri. Shela tahu, ia harus mencari cara untuk meloloskan diri dari cengkraman yang mencoba menenggelamkannya ke dalam ketidakberdayaan.
Shela yang semula berontak kini terdiam saat mendengar ucapan Marvin yang terasa menusuk hatinya. "Gue jual mahal sama lo?! Mimpi! Gue nggak perlu sok jual mahal sama lo karena gue memang nggak tertarik sama lelaki serendah lo. Gue heran kenapa cewek secantik dan sepinter Flora bisa tahan pacaran dengan lelaki menyebalkan seperti lo!"
"Jangan banyak alasan, Shela. Gue tahu betapa lo dulunya tergila-gila sama gue. Jadi jelas ini semua hanya kamuflase," balas Marvin dengan nada mengejek.
"Ya, memang dulu gue tergila-gila sama lo, tapi sekarang gue udah benar-benar waras! Gue udah nggak akan mungkin menyukai lelaki seperti lo lagi!"
"Jangan berbohong, Shela. Kalau memang lo masih suka, katakan saja. Mungkin gue bisa berubah dan menjadi lebih baik dari sebelumnya."
"Jangan mimpi! Gak akan pernah!" teriak Shela sambil berjuang keras melepaskan diri dari genggaman tangan Marvin yang kuat. Marvin, bagaimanapun, tak bergeming, matanya tajam menyelidik setiap pergerakan Shela dengan sengaja menahan tangannya lebih erat.
Marvin bertahan memegang erat lengan Shela, namun gadis itu tak mau menyerah begitu saja. Dengan segala kekuatannya, Shela menendang kakinya dengan keras sehingga Marvin meringis kesakitan dan akhirnya melepaskan cengkeramannya.
"Lemah! Lo pikir dengan kekuatan lemah lo itu bisa membuatku tertarik? Pfft, jangan mimpi ! Dengar baik-baik, Marvin," suaranya meninggi, penuh kejengkelan, "jangan pernah lagi mendekat atau mengganggu hidup gue lagi. Kalau bisa jangan pernah muncul lagi dihadapan gue. Kalau sampai lo masih ganggu gue,gue pastiin akan merusak citra Lo sebagai ketua geng!"
Marvin terdiam, mencoba menelan pil pahit ancaman itu. Shela dengan tatapan tajam dan langkah gagah melanjutkan perjalanannya, hatinya geram dan bergumam dalam hati, "Kapan aku bisa terbebas dari parasit-parasit yang mengganggu hidupku ini?" Dengan langkah yang semakin mantap, dia berjanji dalam hati untuk tak lagi membiarkan siapa pun mengendalikan takdirnya.