Cerita di dalam novel ini, menceritakan tentang lanjutan dari "Cinta Di Dalam Perjodohan 2". Cerita tentang kisah cinta Reza dan Melda, juga tentang kebahagian keluarga Permana, dengan hadirnya buah hati Faris dan Aleta yang sudah di nanti-nantikan. Kebahagian keluarga Permana bertambah sempurna, dengan hadirnya malaikat kecil keturunan Faris.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riska, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27. Ketulusan Seorang Ibu Pengganti.
Malam semakin larut namun mata tajam itu belum juga bisa untuk terpejam. Bayangan jelita yang selalu ada di dalam pikirannya, membuatnya tidak bisa untuk menikmati alam mimpinya. Cinta yang selalu bersemi di dalam hati laki-laki tampan itu, tidak pernah luntur sedikitpun, walau terpisah oleh luasnya samudra antara dua negara.
Dengan posisi terlentang di atas tempat tidur, Reza menatap ke arah loteng dengan tatapan sendunya, mengenang kekasih hatinya yang sedang menanggung beban hidup yang berat tanpa ada kehadirannya. Kata-kata yang Melda ucapkan sebelum perpisahan mereka, menjadi sebuah beban yang membuat dia merasa sangat gelisah di malam itu.
Sedangkan Melda yang sedang terkapar di atas tempat tidur RS, sudah tersadar di tengah malam tanpa ada yang mengetahuinya. Di samping tempat tidurnya ada Papa Fahri dan Mama Alira yang sedang terlelap. Melihat kedua orang tua pengganti untuknya itu, hati Melda menjadi tidak tega untuk mengatakan yang sebenarnya, tentang apa yang di lakukan oleh Farel.
Melda jadi serba salah, dia tidak tahu harus bagaimana menghadapi semua itu. Ingin sekali dia menceritakan semuanya. Tapi dia tidak mau merusak nama baik keluarganya, kalau berita tentang gagalnya pernikahan antara dia dan Farel tersebar di luar sana.
Apa yang terjadi di dalam keluarga Permana, selalu menjadi berita yang heboh di kalangan masyarakat, bahkan kalangan pejabat juga pengusaha. Dan menurut pemikiran Melda, kalau sampai ada yang tahu pernikahannya dengan Farel gagal karena perselingkuhan yang di lakukan oleh Farel, itu akan sangat mencoreng nama baik keluarganya.
Dengan terpaksa Melda memutuskan untuk menyimpan semua itu, demi menjaga nama baik keluarganya. Apalagi dia tidak ingin menghinati kesepakatan yang sudah di buat oleh kedua orang tuanya, walaupun semua itu akan membuatnya semakin menderita.
Di tengah malam yang begitu senyap, Melda yang sangat tersiksa juga terbebani dengan semua masalah dalam hidupnya, hanya bisa menangis dalam diam. Air mata mengalir membasahi wajahnya yang terlihat pucat, tanpa bisa mengeluh dan berbagi apa yang ada di dalam hatinya. Dan di saat dia ingin bergerak untuk mengambil segelas air yang ada di atas meja, tepat di samping tempat tidurnya, dia langsung terdiam dengan wajah yang terlihat bingung juga kaget, karena dia merasakan ada sesuatu yang aneh.
Dengan mata terbuka lebar dan penuh kekhawatiran, Melda mencoba untuk meraba kakinya yang dia rasakan seperti mati rasa. Dan betapa kagetnya gadis malang itu, di saat dia tidak merasakan apa-apa pada kakinya yang dia sentuh. Air mata yang sudah berderai semakin meluncur membasahi wajahnya. Melda hanya bisa menangis tanpa bersuara di atas tempat tidur meratapi nasib buruk yang menimpanya.
Betapa perih hati gadis malang itu, di saat mengetahui kalau dia sudah tidak sempurna lagi. Suara tangis yang berusaha dia tahan sejak tadi, akhirnya keluar dari mulutnya yang dia tutupi dengan kedua tangannya. Dan itu membuat Papa Fahri juga Mama Alira yang sedang terlelap di samping tempat tidurnya jadi terbangun.
"Sayang kamu kenapa..?" Tanya Mama Alira dengan tampang kagetnya, sambil mendekap Melda ke dalam pelukannya.
"Mel,, kamu kenapa sayang? Apa ada yang sakit? " Tanya Papa Fahri penuh perhatian, sambil mengusap-usap kepala Melda.
"kakiku mati rasa Pa.. Hiks,,, hiks,,, hiks. " Melda berkata-kata sambil menangis dalam pelukan Mama Alira.
"Kamu yang sabar ya sayang! Mama dan Papa tidak akan membiarkanmu seperti ini. Kita akan berusaha menyembuhkan kakimu." Kata Mama Alira sambil mengusap-usap kepala Melda dengan berlinang air mata.
Mama Alira sangat sedih melihat keadaan Melda, yang harus menanggung beban seberat itu. Dengan penuh kasih sayang, Mama Alira mendekap tubuh yang rapuh itu sambil terus memberinya semangat.
"Kamu ngga usah takut sayang! Mama akan selalu ada untukmu. Kamu adalah putri Mama dan Papa. Kita tidak akan membiarkanmu menanggung semua ini sendirian." Ujar Mama Alira sambil mengecup kepala Melda berulang-ulang.
Melihat ketulusan istrinya kepada keponakannya, yang sudah dia angkat sebagai anak, membuat Papa Fahri begitu bangga memiliki wanita cantik itu. Mama Alira bukan hanya cantik, tapi dia juga memiliki segudang kasih sayang. Dan itulah yang membuat Papa Fahri si kutub utara itu jadi luluh, dan tidak bisa untuk berpaling darinya.
Dalam pelukan Mama Alira, Melda terus menerus menangis. Dia sangat merindukan sosok kedua orang tuanya, yang sudah pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya. Selain itu dia juga sangat merindukan laki-laki yang sangat dia cintai. Ingin sekali dia memeluk tubuh kekar itu dan mengadu semua yang sedang dia rasakan saat itu.
Walaupun kasih sayang Papa Fahri juga Mama Alira begitu besar padanya, namun Melda tidak berani untuk mengeluarkan keluh kesahnya kepada mereka. Yang dia butuhkan saat itu hanyalah kehadiran Reza, laki-laki yang sangat dia cintai. Karena hanya kepada Reza lah, dia bisa menumpahkan semua beban hidupnya yang begitu berat.
Meskipun sudah terpisah jauh tanpa ada kabar berita, namun cinta Melda masih tetap sama. Dia tidak pernah bisa melupakan cinta pertamanya itu walau hanya sesat. Setelah kepergian Reza, Melda melewati hari-harinya dengan bayangan Reza yang selalu lekat dalam ingatannya. Hanya air mata yang selalu menjdi saksi bisu, jikala rasa rindu kepada Reza datang menghampirinya.