Tatapannya hangat dan lembut, ku fikir dia mencintaiku, nyatanya tidak, ada wanita lain dihati suamiku, wanita yang merupakan cinta pertamanya, wanita yang dia kagumi sejak remaja yang tidak bisa dia miliki.
Entahlah aku ini dianggap apa, mungkin dijadikan sebagai pelampiasan rasa sakit hatinya, atau untuk memberitahu wanita itu kalau dia juga bisa menikah dan melanjutkan hidup meskipun bukan dengan wanita itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aenyn unyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SEBAIKNYA KITA BERCERAI
Tari masih memejamkan matanya, meresapi semua kesedihan yang selama ini dia alami selama bersama dengan Budi.
"Aku tidak ingin membuat kamu lebih menderita dengan sikapku, aku juga bukannya laki-laki yang tidak punya hati Tari, aku merasa bersalah saat aku selalu memperlakukanmu dengan tidak adil selama ini, oleh karna itu, menurutku, alangkah baiknya kalau kita mengakhiri pernikahan ini."
Tari membuka matanya, sedikit memiringkan kepalanya menoleh ke arah Budi yang berdiri disampingnya, sungguh dadanya semakin sesak mendengar kata yang tidak pernah ingin dia dengarkan, dia baru saja siuman setelah bertarung antara hidup dan mati, dan saat dia membuka mata, hatinyalah yang dibuat sekarat.
"Kita memang sejak awal tidak cocok Tari, akulah yang egois memaksakan keinginanku, kamu gak perlu khawatir dengan keluarga kita, aku yang akan mengurus semuanya."
Tari masih lemah, bahkan untuk bicara saja suaranya tidak bisa keluar, hanya air matanya yang masih deras merembas dari kedua sudut matanya, tangannya terulur menyentuh perutnya, bayinya ternyata adalah anak yang kuat, bayi itu ternyata mampu bertahan ditengah kondisinya yang tidak stabil.
"Nakk, ayahmu mencampakkan kita." batinnya perih.
Budi memang merasa bersalah dengan apa yang dia lakukan selama ini, hanya saja, mungkin karna tidak adanya cinta sehingga dia sama sekali tidak tersentuh saat Tari menangis, tatapannya teralih pada tangan Tari yang mengusap perutnya.
"Dan mengenai bayi itu."
"Bayi itu kamu bilang mas, ini juga bayimu, tidak bisakah kamu bilang ini adalah bayi kita mas." batin Tari semakin perih mendengar ucapan Budi.
"Aku akan bertanggung jawab, kamu jangan khawatir Tari."
Tari hanya bisa memejamkan matanya, rasanya dia tidak sanggup menghadapi cobaan seberat ini, "Gusti, kenapa engkau memberikan cobaan seberat ini kepada hambamu ini, engkau tahu gusti kalau hambamu ini tidak sanggup menghadapinya."
Tari kemudian teringat satu hal yang membuatnya tidak boleh menyerah, "Bayiku, dia membutuhkanku, aku adalah ibunya, dia hanya punya aku, ayahnya bahkan tidak peduli kepadanya, kalau aku menyerah, bagaimana dengan dia, aku harus kuat, aku harus kuat demi bayiku."
"Aku akan menunggumu pulih Tari, barulah aku memproses percaraian kita, aku yakin, keluarga kita akan paham bahwa ini adalah jalan yang terbaik untuk kita." ucap Budi karna tahu Tari tidak akan mengatakan apa-apa dikarenakan kondisinya yang masih lemah.
*******
"Budi, kamu itu kenapa malah disini sieh, ayok sana ke rumah sakit, anak ini ya, bukannya jagain Tari malah datang kesini." tegur umi Warsih saat melihat kedatangan putranya menjelang malam.
"Tari dijaga sama keluarganya umi, aku disuruh pulang saja untuk istirahat."
"Ya seharusnya kamu donk yang jaga Tari dirumah sakit meskipun mertuamu menyuruh kamu pulang, bagaimana sieh, kamukan suaminya Tari, Tari lebih membutuhkan kamu disana." omel umi Warsih.
"Iya umi, tapi kedatanganku kesini ada sesuatu yang ingin aku sampaikan pada umi dan abi."
"Mau bicara apa, penting banget ya sampai ninggalin Tari sendirian."
"Gak sendirian umi." ralat Budi, "Kan sudah aku bilang ada keluarganya disana yang jagain dia."
"Hmmm, iyo weess, kamu sebaiknya duduk dulu gieh, umi panggilin abi dulu." umi Warsih meninggalkan putranya, baru beberapa langkah dia kembali berbalik, "Kamu sudah makan, mau umi siapin dulu."
"Enggak usah umi, tadi aku sudah makan saat dalam perjalanan."
Umi Warsih mengangguk dan kembali melanjutkan langkahnya untuk memanggil suaminya.
Budi duduk tidak tenang seolah-olah disofa itu bertebaran paku-paku tak kasat mata, dia gelisah, namun tekadnya sudah bulat, dia harus memberitahukan akan hal ini kepada orang tuanya.
3 menit berlalu, abi sholeh keluar, begitu didekat putranya itu, dia langsung menodong Budi dengan pertanyaan, "Kamu ngapain disini Budi, bukannya dirumah sakit nemenin Tari."
"Ada keluarganya yang nemenin bi."
Abi sholeh duduk, menatap Budi dengan raut kesal, "Ya meskipun ada keluarganya, tapikan kamu suaminya, kamulah yang memiliki tanggung jawab untuk menjaga Tari."
Budi diam, tidak tahu harus menjawab apa.
"Kamu kenapa malah diam, kamu enggak datang kemari karna kangenkan sama abi."
"Ehh gak bi." Budi gelagapan, dia semakin tegang.
"Cepat katakan apa keperluanmu, dan setelah itu langsung balik ke rumah sakit, besok abi dan umimu juga akan kesana lagi menjenguk Tari."
Untuk sesaat Budi masih diam, laki-laki itu mengumpulkan keberaniannya untuk mengungkap apa yang dia pendam selama ini.
Setelah dirasa dia cukup berani, Budi memberanikan diri menatap sang abi, wajah abinya tegas dan berwibawa.
"Sebelumnya aku minta maaf abi, aku harap abi, umi dan semuanya maklum akan keputusanku ini." Budi memulai dengan permintaan maaf.
Abi Sholeh mengerutkan kening bingung, sedikitpun dia tidak bisa menerka apa yang akan dikatakan oleh Budi, namun meskipun begitu, dia tidak bertanya, dia membiarkan Budi melanjutkan ucapannya.
"Aku dan Tari akan bercerai bi." akhirnya ucapan itu keluar juga, dan Budi bisa merasakan dadanya plong setelah mengeluarkan apa yang menjadi ganjalan dibenaknya.
"Cerai." wajah teduh dan berwibawa abi sholeh sedikit mengeras, "Jangan main-main kamu Budi, kamu fikir usia abi ini bisa diajak bercanda hahh."
"Aku serius abi, mana mungkin hal sebesar ini aku buat bercandaan, lagian mana mungkin juga aku bercandain abi, abi adalah orang yang aku hormati."
"Dan kata kamu barusan, kamu salah ngomongkan."
Budi menggeleng, "Enggak abi, aku serius, aku dan Tari sejak awal memang tidak cocok, dan kami sebaiknya bercerai saja daripada aku tertekan."
"Cerai cerai cerai." ulang abi sholeh beberapakali, "Kenapa kamu bisa berfikiran untuk cerai, abi telah memilihkan wanita terbaik untukmu, bahkan Tari lebih memilih untuk menerima lamaranmu disaat banyak laki-laki yang mengantri untuk melamarnya, kamu tidak lagi mabukkan." abi sholeh menatap putranya curiga.
"Putramu tidak lagi mabuk abi, aku tidak pernah dan tidak akan pernah menyentuh minuman haram itu, karna Allah membenci seorang pemabuk."
"Terusss." tanpa sadar, suara abi sholeh meninggi, "Kenapa kamu ingin bercerai, bukankah itu juga adalah perbuatan yang dibenci oleh Allah."
Umi Warsih yang berfikir kalau pembicaraan itu tidak boleh didengar memilih tinggal dikamar, namun dia bergegas melangkah keluar saat mendengar suara suaminya yang menembus sampai kamar.
"Ada apa sieh bi, kok teriak-teriak segala, ntar tetangga denger lho, kan malu." protes umi Warsih, dia masih belum melihat dengan jelas ketegangan yang terjadi antara suami dan putranya.
*****
hati& pikiran mu ke orang Lain...
giliran sudah menikah dengan Fitri
hati mu ke Tari...
penyesalan selalu datang belakangan an
lanjut Thor ceritanya di tunggu updatenya